assalaamu’alaikum wr. wb.
Agama itu selayaknya dijadikan sebagai sebuah aturan hidup
yang tak boleh dilanggar sedikit pun.
Sungguh ajaib manusia yang mengaku percaya akan keberadaan Tuhan namun bersikap pilih-pilih menjalankan semua perintah-Nya.
Bagi orang-orang semacam ini, keimanan hanya sekedar ‘lip service’
belaka.
Akan lebih menakjubkan lagi kiranya jika kita mengamati
‘kreatifitas’ manusia dalam memanipulasi agama untuk kepentingannya
sendiri. Mereka mengambil mana-mana yang
sesuai dengan keinginannya, dan meninggalkan semua yang tidak diinginkannya. Gejala ini terjadi di mana-mana, dan
sebenarnya sama sekali bukan hal yang baru.
Mereka tidak ubahnya seperti umat Yahudi yang mendapati hukum rajam bagi
pezina di dalam Taurat, Kitab Sucinya sendiri, namun tidak mengaplikasikannya,
atau hanya memberlakukannya pada kalangan masyarakat kelas bawah saja. Alasannya sederhana saja : karena kaum elit
ingin bebas berzina.
Di Indonesia sudah terbukti bahwa kaum elit memang gemar
berzina. Direkam pula!
Ada
juga yang ketaatannya pada agama menuruti fungsi waktu. Ada
saatnya ia taat pada agama, ada pula temponya ia ingkar. Seolah-olah agama itu profesi ; ada jam
kerja, ada waktu cuti dan liburannya.
Semua tergantung mood pribadinya belaka. Kadang shalat, kadang dugem. Sekali waktu pergi umrah, lain kali pesta
narkoba. Saat Ramadhan pakai hijab,
masuk Syawal sudah berganti dengan bikini.
Sebenarnya sudah ada iman di dalam hatinya, namun ia masih belum rela
mengganti kebiasaan jahiliyah-nya dengan kebiasaan yang baru, yaitu
kebiasaan yang Islami.
Umat Islam, utamanya di Indonesia, nampaknya memang telah
sangat terbiasa dengan keimanan yang merupakan fungsi waktu. Ketika masuk bulan suci Ramadhan, rasanya
keberadaan night club, kedai minuman keras, pelacur, atau banci menjadi
begitu tidak menyenangkan. Bahkan
melihat orang yang seenaknya makan di jalan ketika kebanyakan orang
melaksanakan shaum pun sudah membuat mata terasa tak nyaman. Para artis
pun merespon logika yang digunakan di masyarakat ini dengan sangat baik. Kalau mau mendapat job melimpah di
bulan Ramadhan, mereka pun rela menutup semua auratnya dengan baik. Sayang, tak satupun dari kebiasaan baik ini
dilanjutkan sepeninggal Ramadhan.
Di kalangan tertentu, agama memang sangat efektif jika
digunakan sebagai kedok. Namanya kedok,
tentu fungsinya adalah untuk menutupi sesuatu.
Logika kedok adalah logika penipuan.
Ada fotomodel dari Australia yang kedapatan membawa narkoba di Indonesia. Bagaikan sulap, ketika menghadapi proses
peradilan, tiba-tiba saja ia tampil mengenakan kerudung. Meski kerudungnya tidak cukup sempurna untuk
disebut hijab, namun tak pelak semua orang langsung mengidentifikasinya
sebagai simbol keislaman. Seperti kita
ketahui bersama, kerudung itu langsung lepas dan tak pernah dipakai lagi
olehnya setelah proses peradilannya selesai.
Ada
penyanyi dangdut yang goyangannya sangat tidak pantas, namun ketika perilakunya
di atas panggung dikritisi dengan tajam, ia pun tampil di depan kamera
infotainment dengan air mata berurai, lengkap dengan pakaian yang menutupi
tubuhnya dengan sempurna dan kerudung.
Seolah-olah dirinyalah yang korban, dan para pengkritisinyalah yang
kejam. Memang pada akhirnya terbukti
bahwa simbol-simbol agama (meskipun saya tetap yakin bahwa agama Islam itu
sebenarnya bebas dari simbolisme) cukup efektif untuk mempengaruhi opini
masyarakat dan membelokkan inti permasalahan.
Ada
pula artis dangdut lainnya yang ketika rumah tangganya diterpa badai, ia
berkata dengan penuh lirih kesedihan : “Saya hanya bisa bersyukur atas segala
nikmat yang telah Allah limpahkan selama ini.
Saya anggap semua ini adalah ujian dari-Nya, dan merupakan jalan hidup
yang telah Allah tetapkan bagi saya.
Doakan saya ya, pemirsa!”
Fantastis!
Benar-benar akting kelas juara!
Ketika rumah tangganya normal kembali, ia pun kembali ke
panggung-panggung untuk memamerkan goyang pinggulnya yang sama sekali tidak
pantas. Dan, tentu saja, semua kalimat
indah yang pernah meluncur dari lidahnya itu tidak pernah terdengar lagi. Barangkali nanti kalau ia mengalami masalah
besar, maka ia akan mampu mengutip dengan fasih ayat-ayat Al-Qur’an. Entah kapan.
Di Indonesia, bahkan artis yang sudah tertangkap basah
melakukan perbuatan zina di depan kamera pun tidak merasa perlu untuk lari dari
kepungan mata masyarakat. Tidak ada yang
perlu dikhawatirkan, karena memang sudah tidak ada lagi rasa malu. Ia pun melangkah tegap dengan dagu terangkat,
seolah menantang siapa saja yang ada di depannya. Tentu saja manipulasi agama adalah bagian
yang tak terpisahkan dari strateginya.
Meski sudah terkenal sebagai pezina (yang nampaknya juga
sudah terlanjur lihai melakukannya di depan kamera), ia hanya perlu berusaha
sedikit saja untuk mengubah imej. Ia
mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, menengok korban bencana alam, memberi
santunan kesana-sini, dan tentunya tidak lupa juga mengenakan pakaian yang
nyaris sempurna menutupi aurat layaknya Muslimah sejati. Maka orang-orang awam pun terpengaruhi
opininya. Sangka mereka, sang artis
hanyalah korban belaka. Tapi orang-orang
kecil yang butuh santunan itu tidak tahu bahwa artis yang sama masih aktif
beraksi seronok di klub-klub malam, tempat segala kemaksiatan terjadi.
Ibarat pencuri, mereka berusaha menjadikan keagungan agama
sebagai miliknya sendiri. Dan segala
perbuatan mereka ini seolah luput saja dari penglihatan masyarakat, karena
masyarakat hanya menonton apa yang dijejalkan ke hadapannya oleh media massa.
Hail to the thieves !
wassalaamu’alaikum wr. wb.