assalaamu’alaikum wr. wb.
Manusia selalu berhasil menemukan istilah-istilah yang manis untuk
hal-hal yang bejat. Memang fitrah
manusia itu tidak menyukai keburukan, namun pengamatan manusia rupanya mudah
tertipu, sehingga sampah yang dibungkus rapi pun akan nampak seperti kado yang
menyenangkan. Inilah salah satu modus
operandi Iblis dan kader-kader andalannya, yaitu membuat manusia bingung dan
ragu akibat melihat ‘kemasan’ dosa yang seringkali nampak indah. Bahasa adalah salah satu alat yang bisa
digunakan untuk ‘mengemas’ dosa secara apik.
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu
musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin,
sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan
yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya
mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka
ada-adakan.” (Q.S. Al-An’aam [6]
: 112)
Film dewasa adalah film yang didalamnya menyajikan
adegan-adegan seks. Istilah yang
sebenarnya mereka butuhkan adalah ‘film mesum’, ‘film jorok’, atau ‘film
amoral’, namun mereka memilih untuk menyamarkan kebejatan tersebut dan
menggunakan istilah yang jauh lebih sedap didengar. Dengan demikian, film-film semacam ini
bukannya diberantas, namun justru ditetapkan sebagai film yang hanya boleh
dikonsumsi oleh orang-orang yang usianya di atas 17 atau 21 tahun. Padahal justru mereka yang sudah dewasa
itulah yang sangat rentan terhadap godaan syahwat yang ditimbulkan oleh
film-film semacam itu.
Istilah ‘pelacur’ pun berevolusi sedemikian rupa sehingga
lama-kelamaan semakin hilanglah konotasi jeleknya. Semua orang bisa berkata bahwa pelacuran itu
selalu dianggap buruk oleh manusia, namun perubahan istilah menunjukkan
sebaliknya. Perhatikanlah bagaimana
‘pelacur’ berubah menjadi wanita tuna susila (seolah ‘pelacuran’ bisa
dianalogikan dengan kecacatan, bukan kebejatan), pramunikmat
(‘menyejajarkan’ pelacur dengan pramugari, pramuwisma, dan pramuniaga?), pekerja
seks komersil (apakah ‘pelacur’ sudah menjadi profesi?), atau bahkan kupu-kupu
malam (apa salahnya kupu-kupu sehingga disamakan dengan pelacur?).
Islam sudah menyediakan solusi yang membuat jera untuk
masalah perzinaan. Akan tetapi, apa
boleh buat, manusianya sendiri yang gemar berzina. Para pelacur
dan germo tidak disuruh bertaubat atau diberi hukuman, namun malah dikumpulkan
dalam satu area yang disebut lokalisasi.
Sebuah istilah yang amat ‘netral’ untuk sebuah area yang penuh dengan
kenistaan.
Manusia yang tinggal bersama tanpa ikatan nikah awalnya
disebut dengan istilah ‘kumpul kebo’ yang jelas-jelas konotasinya negatif. Sekarang, manusia mengembangkan
istilah-istilah baru sebagai penggantinya, misalnya hidup bersama (living
together), atau partner domestik (domestic partnership).
Seks, yang awalnya adalah hubungan yang hanya boleh
dilakukan oleh suami-istri yang didasari oleh cinta, sekarang justru dibalikkan
logikanya dengan istilah make love. Jadi, jika tadinya urutannya adalah cinta
dulu baru seks, kini berubah menjadi seks untuk menciptakan rasa cinta. Dan karena definisi seks berubah menjadi alat
untuk menciptakan rasa cinta, maka ia pun dianggap halal untuk dilakukan
sebelum nikah. Cerdas, bukan?
Jika Anda tanyakan kepada mereka, “Bagaimana cara paling
ampuh untuk mencegah penyebaran HIV?”, kemungkinan besar mereka akan menjawab :
“Setia pada pasangan!” Terdengar
manis? Ya, tentu saja, jika kita tidak
teliti pada kata-katanya. Sebenarnya
pasangan macam apa yang harus kita berikan kesetiaan kita padanya? Pasangan suami-istri, atau jangan-jangan
pacar pun boleh? Dengan demikian,
bergonta-ganti pacar pun tak masalah, asalkan selalu setia dengan pacarnya yang
sekarang, begitu? Mengapa mereka tidak
mempergunakan istilah yang lebih tepat, yaitu “setia pada aturan agama”?
Jika Anda bertanya pada George W. Bush tentang agresi ke
Irak, maka jawabannya adalah ‘pre-emptive strike’, alias
mendahului serangan dengan serangan.
Jika demikian, bolehkah Korea Utara melempar nuklir ke Pentagon dalam
rangka ‘mendahului serangan dengan serangan’?
Tentu saja tidak, karena istilah bikinan Bush itu hanya dipergunakannya
untuk kepentingannya sendiri, tidak untuk orang lain.
Istilah ‘fanatik’ dieksploitasi habis-habisan oleh
orang-orang liberal untuk mendiskreditkan pihak-pihak yang menentangnya. Padahal, mereka sendiri fanatik kepada
Nurcholis Madjid (yang beberapa kali ketahuan telah berbohong atas nama Ibnu
Taimiyah), Ulil Abshar Abdalla (yang terang-terangan menolak sebagian isi
Al-Qur’an dengan alasannya sendiri), Gus Dur (perlukah tokoh yang satu ini saya
komentari lagi?), atau Jalaluddin Rakhmat (yang telah membelokkan kata-kata
Rasyid Ridha dan kebohongan ini dibongkar oleh Adian Husaini). Bahkan JIL, organisasi mereka, telah terbukti
melakukan kebohongan publik. Maka
mengapa mereka masih betah dengan ideologi dan organisasi semacam itu? Tentu saja karena mereka fanatik!
Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah juga pernah
menggarisbawahi perubahan makna pada istilah-istilah ini. Menurutnya, sungguh aneh bagaimana
orang-orang sekuler berkata bahwa dirinya berpikir dengan ‘akal yang bebas’,
semantara kata “akal” dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “’aql”
bahasa Arab yang artinya adalah “ikatan”.
“Akal” dan “kebebasan” adalah dua hal yang bertolak belakang, karena
justru akal manusialah yang membuatnya tidak bisa seenaknya berbuat.
Ada
pula kata “korban” yang diserap dari kata “qurban” dalam bahasa
Arab. Makna awalnya adalah “mendekatkan
diri”. Seorang Muslim bolehlah disebut
‘telah berkorban’ jika ia memberikan sebagian rizkinya kepada orang lain,
karena perbuatan itu telah mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Akan tetapi, penggunaan istilah ‘korban
narkoba’ sangatlah tidak tepat, karena narkoba tidak pernah membuat manusia
menjadi lebih dekat dengan Allah. Sang
Ustadz sendiri lebih merasa nyaman jika orang yang mati atau hidupnya susah
karena narkoba diberi sebutan ‘mangsa narkoba’.
Begitulah perang istilah yang terjadi diantara kita. Bahaya yang ditimbulkannya tidak radikal,
melainkan justru sangat halus. Akan
tetapi, perubahan yang sangat lembut inilah yang justru lebih mampu menyesatkan
manusia, karena banyak yang tidak sadar bahwa dirinya telah sesat. Sedikit demi sedikit, Iblis dan
prajurit-prajuritnya menggeser pemahaman umat manusia sehingga yang bejat itu
nampak lezat, sedangkan kebaikan itu nampak begitu sulit.
wassalaamu’alaikum wr. wb.