Blog EntryPerang IstilahJan 16, '07 9:22 PM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Manusia selalu berhasil menemukan istilah-istilah yang manis untuk hal-hal yang bejat. Memang fitrah manusia itu tidak menyukai keburukan, namun pengamatan manusia rupanya mudah tertipu, sehingga sampah yang dibungkus rapi pun akan nampak seperti kado yang menyenangkan. Inilah salah satu modus operandi Iblis dan kader-kader andalannya, yaitu membuat manusia bingung dan ragu akibat melihat ‘kemasan’ dosa yang seringkali nampak indah. Bahasa adalah salah satu alat yang bisa digunakan untuk ‘mengemas’ dosa secara apik.

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Q.S. Al-An’aam [6] : 112)

Film dewasa adalah film yang didalamnya menyajikan adegan-adegan seks. Istilah yang sebenarnya mereka butuhkan adalah ‘film mesum’, ‘film jorok’, atau ‘film amoral’, namun mereka memilih untuk menyamarkan kebejatan tersebut dan menggunakan istilah yang jauh lebih sedap didengar. Dengan demikian, film-film semacam ini bukannya diberantas, namun justru ditetapkan sebagai film yang hanya boleh dikonsumsi oleh orang-orang yang usianya di atas 17 atau 21 tahun. Padahal justru mereka yang sudah dewasa itulah yang sangat rentan terhadap godaan syahwat yang ditimbulkan oleh film-film semacam itu.

Istilah ‘pelacur’ pun berevolusi sedemikian rupa sehingga lama-kelamaan semakin hilanglah konotasi jeleknya. Semua orang bisa berkata bahwa pelacuran itu selalu dianggap buruk oleh manusia, namun perubahan istilah menunjukkan sebaliknya. Perhatikanlah bagaimana ‘pelacur’ berubah menjadi wanita tuna susila (seolah ‘pelacuran’ bisa dianalogikan dengan kecacatan, bukan kebejatan), pramunikmat (‘menyejajarkan’ pelacur dengan pramugari, pramuwisma, dan pramuniaga?), pekerja seks komersil (apakah ‘pelacur’ sudah menjadi profesi?), atau bahkan kupu-kupu malam (apa salahnya kupu-kupu sehingga disamakan dengan pelacur?).

Islam sudah menyediakan solusi yang membuat jera untuk masalah perzinaan. Akan tetapi, apa boleh buat, manusianya sendiri yang gemar berzina. Para pelacur dan germo tidak disuruh bertaubat atau diberi hukuman, namun malah dikumpulkan dalam satu area yang disebut lokalisasi. Sebuah istilah yang amat ‘netral’ untuk sebuah area yang penuh dengan kenistaan.

Manusia yang tinggal bersama tanpa ikatan nikah awalnya disebut dengan istilah ‘kumpul kebo’ yang jelas-jelas konotasinya negatif. Sekarang, manusia mengembangkan istilah-istilah baru sebagai penggantinya, misalnya hidup bersama (living together), atau partner domestik (domestic partnership).

Seks, yang awalnya adalah hubungan yang hanya boleh dilakukan oleh suami-istri yang didasari oleh cinta, sekarang justru dibalikkan logikanya dengan istilah make love. Jadi, jika tadinya urutannya adalah cinta dulu baru seks, kini berubah menjadi seks untuk menciptakan rasa cinta. Dan karena definisi seks berubah menjadi alat untuk menciptakan rasa cinta, maka ia pun dianggap halal untuk dilakukan sebelum nikah. Cerdas, bukan?

Jika Anda tanyakan kepada mereka, “Bagaimana cara paling ampuh untuk mencegah penyebaran HIV?”, kemungkinan besar mereka akan menjawab : “Setia pada pasangan!” Terdengar manis? Ya, tentu saja, jika kita tidak teliti pada kata-katanya. Sebenarnya pasangan macam apa yang harus kita berikan kesetiaan kita padanya? Pasangan suami-istri, atau jangan-jangan pacar pun boleh? Dengan demikian, bergonta-ganti pacar pun tak masalah, asalkan selalu setia dengan pacarnya yang sekarang, begitu? Mengapa mereka tidak mempergunakan istilah yang lebih tepat, yaitu “setia pada aturan agama”?

Jika Anda bertanya pada George W. Bush tentang agresi ke Irak, maka jawabannya adalah ‘pre-emptive strike’, alias mendahului serangan dengan serangan. Jika demikian, bolehkah Korea Utara melempar nuklir ke Pentagon dalam rangka ‘mendahului serangan dengan serangan’? Tentu saja tidak, karena istilah bikinan Bush itu hanya dipergunakannya untuk kepentingannya sendiri, tidak untuk orang lain.

Istilah ‘fanatik’ dieksploitasi habis-habisan oleh orang-orang liberal untuk mendiskreditkan pihak-pihak yang menentangnya. Padahal, mereka sendiri fanatik kepada Nurcholis Madjid (yang beberapa kali ketahuan telah berbohong atas nama Ibnu Taimiyah), Ulil Abshar Abdalla (yang terang-terangan menolak sebagian isi Al-Qur’an dengan alasannya sendiri), Gus Dur (perlukah tokoh yang satu ini saya komentari lagi?), atau Jalaluddin Rakhmat (yang telah membelokkan kata-kata Rasyid Ridha dan kebohongan ini dibongkar oleh Adian Husaini). Bahkan JIL, organisasi mereka, telah terbukti melakukan kebohongan publik. Maka mengapa mereka masih betah dengan ideologi dan organisasi semacam itu? Tentu saja karena mereka fanatik!

Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah juga pernah menggarisbawahi perubahan makna pada istilah-istilah ini. Menurutnya, sungguh aneh bagaimana orang-orang sekuler berkata bahwa dirinya berpikir dengan ‘akal yang bebas’, semantara kata “akal” dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “’aql” bahasa Arab yang artinya adalah “ikatan”. “Akal” dan “kebebasan” adalah dua hal yang bertolak belakang, karena justru akal manusialah yang membuatnya tidak bisa seenaknya berbuat.

Ada pula kata “korban” yang diserap dari kata “qurban” dalam bahasa Arab. Makna awalnya adalah “mendekatkan diri”. Seorang Muslim bolehlah disebut ‘telah berkorban’ jika ia memberikan sebagian rizkinya kepada orang lain, karena perbuatan itu telah mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Akan tetapi, penggunaan istilah ‘korban narkoba’ sangatlah tidak tepat, karena narkoba tidak pernah membuat manusia menjadi lebih dekat dengan Allah. Sang Ustadz sendiri lebih merasa nyaman jika orang yang mati atau hidupnya susah karena narkoba diberi sebutan ‘mangsa narkoba’.

Begitulah perang istilah yang terjadi diantara kita. Bahaya yang ditimbulkannya tidak radikal, melainkan justru sangat halus. Akan tetapi, perubahan yang sangat lembut inilah yang justru lebih mampu menyesatkan manusia, karena banyak yang tidak sadar bahwa dirinya telah sesat. Sedikit demi sedikit, Iblis dan prajurit-prajuritnya menggeser pemahaman umat manusia sehingga yang bejat itu nampak lezat, sedangkan kebaikan itu nampak begitu sulit.

wassalaamu’alaikum wr. wb.


15 CommentsChronological   Reverse   Threaded
wandaruni wrote on Jan 16, '07
hmmmm..... menarik, bos...
*berpikir keras*
akmal wrote on Jan 16, '07
*berpikir keras*
*berpikir lunak*

:D
ianaja wrote on Jan 16, '07
mantabs....
akmal wrote on Jan 16, '07
ianaja said
mantabs....
bahasa arabnya apa tuh? kekekeke :D
sriprativil wrote on Jan 16, '07
weleh...kalo kesalahan waalaikum salam dari waalaikumusalam apa uda???

*sampe sekarang belom ada yang ngasih tau neh*
akmal wrote on Jan 16, '07
weleh...kalo kesalahan waalaikum salam dari waalaikumusalam apa uda???

*sampe sekarang belom ada yang ngasih tau neh*
tanya aja ama yg lebih ahli... kalo saya yg ngomong kagak bakal ada yg percaya lah...
sriprativil wrote on Jan 17, '07
uda....tiwiw percaya deh.....*sungguh*
rsarah wrote on Jan 17, '07
akmal said
Istilah ‘fanatik’ dieksploitasi habis-habisan oleh orang-orang liberal untuk mendiskreditkan pihak-pihak yang menentangnya. Padahal, mereka sendiri fanatik kepada Nurcholis Madjid (yang beberapa kali ketahuan telah berbohong atas nama Ibnu Taimiyah), Ulil Abshar Abdalla (yang terang-terangan menolak sebagian isi Al-Qur’an dengan alasannya sendiri), Gus Dur (perlukah tokoh yang satu ini saya komentari lagi?), atau Jalaluddin Rakhmat (yang telah membelokkan kata-kata Rasyid Ridha dan kebohongan ini dibongkar oleh Adian Husaini). Bahkan JIL, organisasi mereka, telah terbukti melakukan kebohongan publik. Maka mengapa mereka masih betah dengan ideologi dan organisasi semacam itu? Tentu saja karena mereka fanatik!
Empat jempol buat tulisan ini..!! he he. Mantab Pak Akmal.. Tapi, sayang..tetap saja mereka stubborn..
akmal wrote on Jan 17, '07
rsarah said
Empat jempol buat tulisan ini..!! he he. Mantab Pak Akmal.. Tapi, sayang..tetap saja mereka stubborn..
namanya jg orang fanatik mbak... :D
sanseff wrote on Jan 17, '07
Kalau ustadz saya bilang minyak babi cap onta, isinya haram dipromosikan secara halal, minyak onta cap babi, isinya halal, dibikin orang jadi takut, karena berbau radikal, ekstrim, dan pundamentalis
akmal wrote on Jan 17, '07
sanseff said
Kalau ustadz saya bilang minyak babi cap onta, isinya haram dipromosikan secara halal, minyak onta cap babi, isinya halal, dibikin orang jadi takut, karena berbau radikal, ekstrim, dan pundamentalis
hahaha tapi kayaknya orang Islam gak bakal bikin produk dgn cap babi deh.... :D
zanza07 wrote on Jan 19, '07
Lagi2........bikin saya nambah ilmu!
Matur tengkyu tararengkyu ya PAK!! :P
akmal wrote on Jan 21, '07
zanza07 said
Lagi2........bikin saya nambah ilmu!
Matur tengkyu tararengkyu ya PAK!! :P
no smoking, eh no problemo BU !!! :D
hanikorea wrote on Sep 28, '07
ha..ha..ha...saya bisa tertawa ngakak masalah "kupu-kupu"
apa salah kupu-kupu ya?
hanikorea wrote on Sep 28, '07
eit belum salam kenal ya....tulisan nya bagus bagus,baru nemu pas gogling...
salam kenal ya mas akmal....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help