
assalaamu'alaikum wr. wb.
Salah satu kebahagiaan terbesar yang saya rasakan minggu-minggu ini adalah karena para petinggi Hamas dan Fatah telah berjabat tangan dan menemukan kata sepakat dalam pengelolaan negeri Palestina yang kita cintai. Perundingan dilaksanakan di kota Makkah
al-Mukarromah, dan konon di depan Ka'bah. Kalau pun bukan di depan Ka'bah, saya yakin Muslim mana pun (kecuali yang sudah terjangkit virus 'Sepilis') pasti merasakan 'kehadiran' Masjidil Haram ketika menginjakkan kaki di kota Makkah.
Agak sedikit menyesakkan dada mengingat hari-hari kemarin ketika sesama Muslim saling menumpahkan darah. Kedua belah pihak menginginkan kemerdekaan, namun banyak diantara mereka yang tidak paham bahwa kaum Zionis dan sekutu-sekutunya tengah mempermainkan mereka. Persis seperti AS dahulu memberi senjata pada Usamah bin Ladin, kemudian balik menyerangnya ketika ia sudah tidak dibutuhkan lagi. Demikian juga yang terjadi pada kedua bersaudara ini. Zionis memilih salah satu yang lebih disukainya, kemudian memberinya uang dan senjata, kemudian mereka disuruh saling 'bertukar peluru'. Hasil akhirnya kita sudah bisa prediksi : yang tersisa akan dilumat pula, persis seperti saudaranya.
Tragedi terus berulang. Apa yang terjadi antara Hamas dan Fatah sama persis seperti ketika syetan mengadu domba Habil dan Qabil. Ketika seorang saudara tergeletak tak bernyawa, apalah yang tersisa selain penyesalan yang dalamnya bagai sumur tak berdasar? Hilanglah semua mimpi-mimpi kejayaan, hilanglah semua ambisi akan dominasi, dan hilanglah kebanggaan sebagai pemenang, karena pemenang sesungguhnya adalah syetan.
Jika Hamas dan Fatah saling tikam, siapakah yang mendapat predikat 'lebih baik'? Tidak ada yang lebih baik! Yang ada hanyalah pihak lain yang lebih lihai memanfaatkan situasi. Sementara kedua bersaudara saling serang, tinggallah Masjidil Aqsha tanpa penjagaan. Hamas dan Fatah sama-sama bersumpah mati demi menjaga Masjidil Aqsha. Malangnya, waktu mereka habis justru dalam keadaan lupa padanya. Akan tetapi, kaum Zionis dengan buldozer-buldozernya selalu ingat jalan yang benar menuju dinding-dindingnya.
Sangat memalukan, bahwa para pemimpin umat yang sungguh-sungguh besar dan perkasa ini mesti diseret dahulu ke hadapan Masjidil Haram barulah mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Saya tidak tahu apa lagi yang musti dilakukan pada seorang Muslim (jika memang ia masih Muslim) agar bertaubat jika ia tidak kunjung sadar di hadapan Ka'bah. Bagi saya, itu adalah cara yang terakhir yang mesti dilakukan.
Bagaimana pun, saya bersyukur 'cara terakhir' itu dilakukan juga. Barangkali cara terakhir pun bisa menjadi cara paling efektif untuk saat ini. Saya bertanya-tanya, kira-kira apa salahnya jika kita biayai para pemimpin partai dan organisasi Islam di dunia ini untuk berkumpul bersama di hadapan Ka'bah, atau setidaknya sebagian di antara mereka yang tengah terlibat dalam pertikaian. Mengapa para pemimpin Irak yang sedang 'asyik bertengkar' itu tidak dipertemukan saja di depan Ka'bah? Mengapa para ulama di Indonesia tidak diundang saja untuk ramah-tamah di depan Ka'bah? Mengapa para ulama yang 'saling sikut' karena politik itu tidak dikumpulkan saja di Masjidil Haram? Mengapa 'ulama-ulama' yang saling mengkafirkan itu tidak kita 'seret' saja ke depan Ka'bah?
Saya yakin, jika memang masih ada sedikit saja iman di dalam hatinya, mereka akan memilih untuk tidak terlalu memusingkan perbedaan yang ada saat ini. Saya yakin mereka akan menemukan cara lain yang lebih baik untuk menghabiskan waktu daripada sekedar saling bunuh antara sesama Muslim. Saya yakin pandangan mereka akan segera jernih, jika mereka masih bisa merasakan 'getaran keberadaan' Masjidil Haram.
Di Indonesia pun kita bisa merasakan 'getaran' itu. Barangkali ada saudara-saudara kita yang sulit merasakannya dari jarak jauh. Apa salahnya membawa mereka lebih dekat, agar mereka bisa lebih merasa?
wassalaamu'alaikum wr. wb.