Blog EntryRemember The SpidersFeb 15, '07 9:21 PM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Kalau sedang punya niat baik, ada saja halangannya. Ada 1001 ‘skenario’ yang seolah sengaja dibangun (dan sepertinya memang disengaja) untuk mempersulit keinginan kita untuk berbuat baik. Teman saya bilang bahwa dosa itu ‘gampangnya minta ampun’, tapi taubat itu ‘godaannya minta ampun’.

Kadang-kadang susah juga memelihara kesabaran ketika tengah diuji. Kita ingin diperlakukan seperti siswa sekolah ; belajar dulu sekian lama, barulah diuji. Akan tetapi takdir tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Ada kalanya ujian justru datang pada hari pertama ketika kita memutuskan untuk memperbaiki diri.

Dalam kondisi yang ekstrem, hal-hal semacam ini membuat manusia berputus asa, bahkan membuatnya merasa ingin bunuh diri saja. “Percuma saja selama ini saya menjadi orang baik!”, “Apa gunanya saya beribadah selama ini?”, dan berbagai suara lainnya yang muncul di dalam kepala. Manusia sering tergoda untuk berpikir bahwa ‘perniagaan’ dengan Allah adalah suatu perniagaan yang amat tidak seimbang dan merugikan.

Saya pribadi sangat setuju bahwa perniagaan dengan Allah memang sangat tidak seimbang. Bayangkan, hanya dengan berbuat baik selama hidup sekian tahun saja kita bisa mendapatkan kapling di surga untuk waktu yang tak terbatas. Perdagangan yang ‘adil’ adalah ketika pembeli puas dan penjual mendapat untung. Jika mendapat tempat di surga, kita jelas-jelas beruntung. Akan tetapi, apakah keuntungan yang didapatkan Allah SWT dari semua perbuatan baik kita di dunia? Ya, perniagaan ini memang tidak seimbang. Tapi sama sekali tidak merugikan.

Hari Senin kemarin (12/02) adalah hari yang cukup spesial bagi saya dan istri. Sejak hari itu kami berkomitmen untuk melaksanakan ibadah shaum sunnah Senin-Kamis. Ibadah yang biasa-biasa saja, namun terasa amat manis jika diniatkan untuk dilakukan bersama dan dipelihara bersama pula. Kalau melakukannya sendirian terasa berat, maka jika dilakukan berdua insya Allah akan membantu kami saling menguatkan.

Shaum-nya sendiri sama sekali tidak berat. Saya pribadi tidak merasa ada perbedaan pada kondisi fisik saya antara shaum dan tidak. Saya sudah melaksanakan shaum sejak TK kelas nol kecil, dan sejak kelas satu SD tidak pernah lagi shaum setengah hari, kecuali kalau memang sakit (dan itu adalah kondisi yang sangat langka). Jadi, shaum itu masalah mudah. Akan tetapi, niat melaksanakannya di luar Ramadhan tidak segampang kedengarannya.

Godaannya lebih tidak gampang lagi. Pada hari pertama ketika ibadah sunnah bersama ini ditetapkan, ada sekian banyak hal yang benar-benar dirancang Tuhan untuk ‘menggelitik’ iman saya.

Sesampainya di kantor, saya menyadari bahwa ada baut yang hilang dari bodi motor saya. Bukan baut yang penting, dan sama sekali tidak berbahaya, tapi rasanya kesal juga kalau harus kehilangan baut seperti itu, sedangkan motor saya belum lagi berusia dua bulan.

Masalah masih akan berlipat ganda. Di kantor, komputer saya tidak bisa menyala. Entah apa yang salah dengan CPU-nya. Sudah diutak-atik oleh banyak orang (yang pengetahuannya tentang komputer cukup lumayan), masih belum ada juga pemecahannya. Bagaimana pun, saya tidak bisa membawanya ke tempat servis komputer hari itu juga karena banyak pekerjaan.

Banyak pekerjaan! Mengapa selalu banyak pekerjaan ketika kita sedang dirundung masalah teknis? Para klien menelpon karena mereka baru saja mengirimkan e-mail berisikan request yang sifatnya urgent dan harus selesai hari ini juga. Komputer saya memang penting, tapi permintaan klien lebih penting lagi. Maka saya pun menggunakan komputer orang lain untuk sementara dan membuka e-mail dari sana.

Apa dinyana, internet pun tidak bisa! Setelah dicoba ke berbagai komputer, tetap saja tidak bisa masuk ke jaringan internet. Ingin rasanya marah-marah kepada penyedia layanan jasa internet itu, tapi klien juga sudah marah-marah. Lagipula, saya kan sedang shaum! Marah-marah pun harus menunggu.

Maka saya pun memacu motor menuju warnet untuk mengambil e-mail dari klien. Keluar dari warnet, angin mendung menggantung. Saya pun memacu motor kembali ke kantor (yang jaraknya cukup jauh dari warnet). Saya praktis berpacu dengan awan. Setiap kali gerimis turun, saya memacu motor lebih cepat lagi. Alhamdulillaah, saya berhasil ‘melarikan diri’ dari hujan dan tiba di kantor sekitar dua menit sebelum hujan deras turun.

Selesai? Belum! Sekitar pukul lima, tepat ketika saya hampir pulang, ada telpon lagi dari klien. Ada e-mail lagi yang harus diterima. Maka lagi-lagi saya pun melesat ke warnet, dan baru tiba kembali di kantor sekitar Maghrib. Tadinya saya berniat berbuka di rumah bersama istri, apa boleh buat terpaksa berbuka di kantor dengan teh manis panas (thank God for a cup of tea!).  Dengan sandal jepit, karena sandal yang tadi pagi saya kenakan (yang baru berusia sebulan) tercabik-cabik oleh ban mobil yang berputar keras karena jalanan licin.  Ah, saya tidak mau membicarakannya!

Setelah shalat Maghrib, barulah saya pulang dalam keadaan kacau-balau. Saya menghindari jalan yang ramai karena takut emosi akan meledak. Ketika mengendarai motor (atau praktis semua kendaraan bermotor), sekedar disalip pun bisa membuat hati panas. Karena itu, saya memilih jalan yang agak memutar, gelap dan sepi.

Saya teringat pada lima ayat yang menurut Lin, sepupu saya, adalah favoritnya.

  1. Alif laam miim.
  2. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?
  3. Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.
  4. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Sangatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu!
  5. Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
(Q.S. Al-Ankabut [29] : 1 – 5)

Memang berat menerima kenyataan bahwa Allah memberikan sekian banyak ujian pada kita tepat ketika kita hendak berbuat baik. Dari satu sisi kenyataan ini memang pahit sekali. Akan tetapi saya memutuskan untuk tidak mengeluh. Mengapa? Karena ujian pada ‘hari pertama’ ini adalah bukti bahwa Allah menganggap serius usaha saya!

Ya, kalau memang Allah tidak menganggap ibadah saya ini serius, maka tidak perlu ada ujian. Dengan ujian seberat ini, saya cukup merasa berbesar hati karena Allah tidak menganggap shaum sunnah saya ini main-main. Manusia diuji menurut kapasitasnya masing-masing. Rasulullah saw. diuji dengan kapasitasnya sebagai Rasul, sedangkan saya cukup beruntung karena hanya diuji dengan kapasitas saya sendiri. Semakin berat ujiannya, maka semakin tinggilah penilaian yang bisa kita dapatkan. Kalau kita mampu melihatnya dari perspektif yang benar, ujian pun bisa berubah menjadi pujian. Pujian apa lagi yang lebih kita harapkan daripada pujian dari Allah?

Hari pertama shaum sunnah Senin-Kamis kemarin memang amat berat. Meski demikian, saya menganggapnya sepadan dengan pengorbanannya. Segala luka di hati terobati jika saya terus-menerus mengingatkan diri bahwa Allah SWT tidak melihat ibadah saya dengan ‘sebelah mata’.

Jika lain kali hal semacam ini terjadi pada Anda, maka camkanlah nasihat saya : remember the spiders! Spiders? Ya, ingat-ingatlah lima ayat pertama dalam ‘surah laba-laba’. Insya Allah hatimu akan tentram di tengah kecamuk hidup yang tak menentu ini.

wassalaamu’alaikum wr. wb.


22 CommentsChronological   Reverse   Threaded
maryamilyas wrote on Feb 15, '07
akmal said
Jika lain kali hal semacam ini terjadi pada Anda, maka camkanlah nasihat saya : remember the spiders!
Duly noted. Thanks for the reminder!
wib711 wrote on Feb 15, '07
fyuh.... boss besar ternyata bisa esmosi juga ya.. :D
alghozi wrote on Feb 15, '07
wah..motor baru neehh :D
ianaja wrote on Feb 15, '07
sabar, da. diskon di sini masih ada, kok. :D
simplyndah wrote on Feb 15, '07
master kemana aja, i need u
*mo minta tolong :d
inimona wrote on Feb 16, '07
akmal said

assalaamu’alaikum wr. wb.

Kalau sedang punya niat baik, ada saja halangannya. Ada1001 ‘skenario’ yang seolah sengaja dibangun (dan sepertinya memang disengaja)untuk mempersulit keinginan kita untuk berbuat baik. Teman saya bilang bahwa dosa itu ‘gampangnyaminta ampun’, tapi taubat itu ‘godaannya minta ampun’.

Kadang-kadang susah juga memelihara kesabaran ketikatengah diuji. Kita ingin diperlakukanseperti siswa sekolah ; belajar dulu sekian lama, barulah diuji. Akan tetapi takdir tidak selalu berjalansesuai keinginan kita. Ada kalanya ujian justru datang pada haripertama ketika kita memutuskan untuk memperbaiki diri.

Dalam kondisi yang ekstrem, hal-hal semacam ini membuatmanusia berputus asa, bahkan membuatnya merasa ingin bunuh diri saja. “Percuma saja selama ini saya menjadi orangbaik!”, “Apa gunanya saya beribadah selama ini?”, dan berbagai suara lainnyayang muncul di dalam kepala. Manusiasering tergoda untuk berpikir bahwa ‘perniagaan’ dengan Allah adalah suatuperniagaan yang amat tidak seimbang dan merugikan.

Saya pribadi sangat setuju bahwa perniagaan dengan Allahmemang sangat tidak seimbang. Bayangkan,hanya dengan berbuat baik selama hidup sekian tahun saja kita bisa mendapatkankapling di surga untuk waktu yang tak terbatas. Perdagangan yang ‘adil’ adalah ketika pembeli puas dan penjual mendapatuntung. Jika mendapat tempat di surga,kita jelas-jelas beruntung. Akan tetapi,apakah keuntungan yang didapatkan Allah SWT dari semua perbuatan baik kita didunia? Ya, perniagaan ini memang tidakseimbang. Tapi sama sekali tidakmerugikan.

Hari Senin kemarin (12/02) adalah hari yang cukup spesialbagi saya dan istri. Sejak hari itu kamiberkomitmen untuk melaksanakan ibadah shaum sunnah Senin-Kamis. Ibadah yang biasa-biasa saja, namun terasaamat manis jika diniatkan untuk dilakukan bersama dan dipelihara bersamapula. Kalau melakukannya sendirianterasa berat, maka jika dilakukan berdua insya Allah akan membantu kamisaling menguatkan.

Shaum-nya sendiri sama sekali tidak berat. Saya pribadi tidak merasa ada perbedaan padakondisi fisik saya antara shaum dan tidak. Saya sudah melaksanakan shaum sejak TKkelas nol kecil, dan sejak kelas satu SD tidak pernah lagi shaumsetengah hari, kecuali kalau memang sakit (dan itu adalah kondisi yang sangatlangka). Jadi, shaum itu masalahmudah. Akan tetapi, niat melaksanakannyadi luar Ramadhan tidak segampang kedengarannya.

Godaannya lebih tidak gampang lagi. Pada hari pertama ketika ibadah sunnahbersama ini ditetapkan, ada sekian banyak hal yang benar-benar dirancang Tuhanuntuk ‘menggelitik’ iman saya.

Sesampainya di kantor, saya menyadari bahwa ada baut yanghilang dari bodi motor saya. Bukan bautyang penting, dan sama sekali tidak berbahaya, tapi rasanya kesal juga kalauharus kehilangan baut seperti itu, sedangkan motor saya belum lagi berusia duabulan.

Masalah masih akan berlipat ganda. Di kantor, komputer saya tidak bisamenyala. Entah apa yang salah denganCPU-nya. Sudah diutak-atik oleh banyakorang (yang pengetahuannya tentang komputer cukup lumayan), masih belum adajuga pemecahannya. Bagaimana pun, sayatidak bisa membawanya ke tempat servis komputer hari itu juga karena banyakpekerjaan.

Banyak pekerjaan! Mengapa selalu banyak pekerjaan ketika kita sedang dirundung masalahteknis? Paraklien menelpon karena mereka baru saja mengirimkan e-mail berisikan requestyang sifatnya urgent dan harus selesai hari ini juga. Komputer saya memang penting, tapi permintaanklien lebih penting lagi. Maka saya punmenggunakan komputer orang lain untuk sementara dan membuka e-mail dari sana.

Apa dinyana, internet pun tidak bisa! Setelah dicoba ke berbagai komputer, tetapsaja tidak bisa masuk ke jaringan internet. Ingin rasanya marah-marah kepada penyedia layanan jasa internet itu,tapi klien juga sudah marah-marah. Lagipula, saya kansedang shaum! Marah-marah punharus menunggu.

Maka saya pun memacu motor menuju warnet untuk mengambile-mail dari klien. Keluar dari warnet,angin mendung menggantung. Saya punmemacu motor kembali ke kantor (yang jaraknya cukup jauh dari warnet). Saya praktis berpacu dengan awan. Setiap kali gerimis turun, saya memacu motorlebih cepat lagi. Alhamdulillaah,saya berhasil ‘melarikan diri’ dari hujan dan tiba di kantor sekitar dua menitsebelum hujan deras turun.

Selesai? Belum! Sekitar pukul lima, tepat ketika sayahampir pulang, ada telpon lagi dari klien. Adae-mail lagi yang harus diterima. Makalagi-lagi saya pun melesat ke warnet, dan baru tiba kembali di kantor sekitarMaghrib. Tadinya saya berniat berbuka dirumah bersama istri, apa boleh buat terpaksa berbuka di kantor dengan teh manispanas (thank God for a cup of tea!).  Dengan sandal jepit, karena sandal yang tadi pagi saya kenakan (yang baru berusia sebulan) tercabik-cabik oleh ban mobil yang berputar keras karena jalanan licin.  Ah, saya tidak mau membicarakannya!

Setelah shalat Maghrib, barulah saya pulang dalam keadaankacau-balau. Saya menghindari jalan yangramai karena takut emosi akan meledak. Ketika mengendarai motor (atau praktis semua kendaraan bermotor),sekedar disalip pun bisa membuat hati panas. Karena itu, saya memilih jalan yang agak memutar, gelap dan sepi.

Saya teringat pada limaayat yang menurut Lin, sepupu saya, adalah favoritnya.

  1. Alif laam miim.
  2. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkanhanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?
  3. Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelummereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahuiorang-orang yang dusta.
  4. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itumengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Sangatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu!
  5. Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, makasesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
(Q.S. Al-Ankabut [29] : 1 – 5)

Memang berat menerima kenyataan bahwa Allah memberikansekian banyak ujian pada kita tepat ketika kita hendak berbuat baik. Dari satu sisi kenyataan ini memang pahitsekali. Akan tetapi saya memutuskanuntuk tidak mengeluh. Mengapa? Karena ujian pada ‘hari pertama’ ini adalahbukti bahwa Allah menganggap serius usaha saya!

Ya, kalau memang Allah tidak menganggap ibadah saya iniserius, maka tidak perlu ada ujian. Dengan ujian seberat ini, saya cukup merasa berbesar hati karena Allahtidak menganggap shaum sunnah saya ini main-main. Manusia diuji menurut kapasitasnya masing-masing. Rasulullah saw. diuji dengan kapasitasnyasebagai Rasul, sedangkan saya cukup beruntung karena hanya diuji dengan kapasitas saya sendiri. Semakin berat ujiannya, maka semakin tinggilahpenilaian yang bisa kita dapatkan. Kalaukita mampu melihatnya dari perspektif yang benar, ujian pun bisa berubahmenjadi pujian. Pujian apa lagi yanglebih kita harapkan daripada pujian dari Allah?

Hari pertama shaum sunnah Senin-Kamis kemarinmemang amat berat. Meski demikian, sayamenganggapnya sepadan dengan pengorbanannya. Segala luka di hati terobati jika saya terus-menerus mengingatkan diribahwa Allah SWT tidak melihat ibadah saya dengan ‘sebelah mata’.

Jika lain kali hal semacam ini terjadi pada Anda, makacamkanlah nasihat saya : remember the spiders! Spiders? Ya, ingat-ingatlah limaayat pertama dalam ‘surah laba-laba’. InsyaAllah hatimu akan tentram di tengah kecamuk hidup yang tak menentu ini.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

ngena banget...
dalemmmmm
zanza07 wrote on Feb 16, '07
Pengen juga nih konsist shaum senin kamis....
Patnernya nyari sambil jalan...tul ndak Pak??!! hehee :P
lrscafe wrote on Feb 16, '07, edited on Feb 16, '07
Alhamdulillah, saya juga melaksanakan shaum Senin-Kamis. Minggu ini lagi bolong sih. Tapi minggu2 kemarin udah melaksanakannya :)

Mengenai ujian, kadang saya suka berpikiran bahwa Allah begitu perhatiannya pada kita bahwa apakah kita masih mengingat-Nya di saat-saat kita sibuk. Mungkin di saat sibuk kita bisa melupakan hal2 yang lain, dan di saat sibuk itu komputer, motor, atau alat2 pendukung kesibukan kita dibuat tak berfungsi sehingga kita mengeluh, "Ya Allah, kenapa ya komputernya rusak," atau "Masya Allah, kenapa lagi sih ni motor". Memang, sebagai manusia biasa, pada umumnya kita mengingat Allah hanya pada saat-saat susah. Tapi pada saat semuanya berjalan normal dan lancar mungkin ini mungkin loh banyak dari kita lupa sama Allah. Maka dari itu saya suka menganggap, hal2 yang membuat sesuatu tidak berjalan normal itu sebagai perhatian dari Allah, supaya kita mengingat-Nya selalu...

Btw, surah laba-laba nya menarik juga untuk disharing .. :)
akmal wrote on Feb 16, '07
Duly noted. Thanks for the reminder!
mudah2an kita gak lupa lagi setelah ini... :)
akmal wrote on Feb 16, '07
wib711 said
fyuh.... boss besar ternyata bisa esmosi juga ya.. :D
yoi donks bos kan jg manusia... kekeke :p
akmal wrote on Feb 16, '07
alghozi said
wah..motor baru neehh :D
hohohohoho :p
akmal wrote on Feb 16, '07
ianaja said
sabar, da. diskon di sini masih ada, kok. :D
wah buka2 rahasia aja nih...
katalognya mana atuh??? :p
akmal wrote on Feb 16, '07
master kemana aja, i need u
*mo minta tolong :d
ada apa ada apa ada apakah...? :p
akmal wrote on Feb 16, '07
inimona said
dalemmmmm
jlebbbbb...!!! :p
akmal wrote on Feb 16, '07
zanza07 said
Patnernya nyari sambil jalan...tul ndak Pak??!! hehee :P
hohoho asal jgn nyari sambil latihan aikido aja hohoho :p
akmal wrote on Feb 16, '07
lrscafe said
Alhamdulillah, saya juga melaksanakan shaum Senin-Kamis. Minggu ini lagi bolong sih. Tapi minggu2 kemarin udah melaksanakannya :)

Mengenai ujian, kadang saya suka berpikiran bahwa Allah begitu perhatiannya pada kita bahwa apakah kita masih mengingat-Nya di saat-saat kita sibuk. Mungkin di saat sibuk kita bisa melupakan hal2 yang lain, dan di saat sibuk itu komputer, motor, atau alat2 pendukung kesibukan kita dibuat tak berfungsi sehingga kita mengeluh, "Ya Allah, kenapa ya komputernya rusak," atau "Masya Allah, kenapa lagi sih ni motor". Memang, sebagai manusia biasa, pada umumnya kita mengingat Allah hanya pada saat-saat susah. Tapi pada saat semuanya berjalan normal dan lancar mungkin ini mungkin loh banyak dari kita lupa sama Allah. Maka dari itu saya suka menganggap, hal2 yang membuat sesuatu tidak berjalan normal itu sebagai perhatian dari Allah, supaya kita mengingat-Nya selalu...

Btw, surah laba-laba nya menarik juga untuk disharing .. :)
pemikiran yg bagus bos... :)
farranasir wrote on Feb 16, '07
hmm, nice
ianaja wrote on Feb 16, '07
akmal said
wah buka2 rahasia aja nih...
katalognya mana atuh??? :p
uda nggak OL sih kemarin.
buka link http://ianaja.multiply.com/links/item/18 aja, ya?
myrosa wrote on Feb 16, '07
wah dik akmal juga bisa sewot thoh....

namanya juga hidup, selalu ada masalah kan, kalo gak ada masalah tandanya udah gak idup lagi....

masalah dalam pekerjaan mah biasaaaaa....:D
zanza07 wrote on Feb 16, '07
akmal said
hohoho asal jgn nyari sambil latihan aikido aja hohoho :p
Hahahaaahhhaaa..... :D
mang napa Pak? haram yah?? (takut mode on)
peaceman wrote on Feb 18, '07
salut boss, ... krn apa yang saya alami tidak jauh berbeda ... hanya saja memang butuh siasat jitu agar ibadah sunnah bisa ajeg dan 'nendang' ... oops ... gak sakit kan? ga sengaja lho 'nendang' nya ... hehehe
akmal wrote on Feb 18, '07
zanza07 said
Hahahaaahhhaaa..... :D
mang napa Pak? haram yah?? (takut mode on)
latihan beladiri sambil cari jodoh mah gak konsen atuh... kekekek :D
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help