assalaamu’alaikum wr. wb.
Kalau sedang punya niat baik, ada saja halangannya. Ada
1001 ‘skenario’ yang seolah sengaja dibangun (dan sepertinya memang disengaja)
untuk mempersulit keinginan kita untuk berbuat baik. Teman saya bilang bahwa dosa itu ‘gampangnya
minta ampun’, tapi taubat itu ‘godaannya minta ampun’.
Kadang-kadang susah juga memelihara kesabaran ketika
tengah diuji. Kita ingin diperlakukan
seperti siswa sekolah ; belajar dulu sekian lama, barulah diuji. Akan tetapi takdir tidak selalu berjalan
sesuai keinginan kita. Ada kalanya ujian justru datang pada hari
pertama ketika kita memutuskan untuk memperbaiki diri.
Dalam kondisi yang ekstrem, hal-hal semacam ini membuat
manusia berputus asa, bahkan membuatnya merasa ingin bunuh diri saja. “Percuma saja selama ini saya menjadi orang
baik!”, “Apa gunanya saya beribadah selama ini?”, dan berbagai suara lainnya
yang muncul di dalam kepala. Manusia
sering tergoda untuk berpikir bahwa ‘perniagaan’ dengan Allah adalah suatu
perniagaan yang amat tidak seimbang dan merugikan.
Saya pribadi sangat setuju bahwa perniagaan dengan Allah
memang sangat tidak seimbang. Bayangkan,
hanya dengan berbuat baik selama hidup sekian tahun saja kita bisa mendapatkan
kapling di surga untuk waktu yang tak terbatas.
Perdagangan yang ‘adil’ adalah ketika pembeli puas dan penjual mendapat
untung. Jika mendapat tempat di surga,
kita jelas-jelas beruntung. Akan tetapi,
apakah keuntungan yang didapatkan Allah SWT dari semua perbuatan baik kita di
dunia? Ya, perniagaan ini memang tidak
seimbang. Tapi sama sekali tidak
merugikan.
Hari Senin kemarin (12/02) adalah hari yang cukup spesial
bagi saya dan istri. Sejak hari itu kami
berkomitmen untuk melaksanakan ibadah shaum sunnah Senin-Kamis. Ibadah yang biasa-biasa saja, namun terasa
amat manis jika diniatkan untuk dilakukan bersama dan dipelihara bersama
pula. Kalau melakukannya sendirian
terasa berat, maka jika dilakukan berdua insya Allah akan membantu kami
saling menguatkan.
Shaum-nya sendiri sama sekali tidak berat. Saya pribadi tidak merasa ada perbedaan pada
kondisi fisik saya antara shaum dan tidak. Saya sudah melaksanakan shaum sejak TK
kelas nol kecil, dan sejak kelas satu SD tidak pernah lagi shaum
setengah hari, kecuali kalau memang sakit (dan itu adalah kondisi yang sangat
langka). Jadi, shaum itu masalah
mudah. Akan tetapi, niat melaksanakannya
di luar Ramadhan tidak segampang kedengarannya.
Godaannya lebih tidak gampang lagi. Pada hari pertama ketika ibadah sunnah
bersama ini ditetapkan, ada sekian banyak hal yang benar-benar dirancang Tuhan
untuk ‘menggelitik’ iman saya.
Sesampainya di kantor, saya menyadari bahwa ada baut yang
hilang dari bodi motor saya. Bukan baut
yang penting, dan sama sekali tidak berbahaya, tapi rasanya kesal juga kalau
harus kehilangan baut seperti itu, sedangkan motor saya belum lagi berusia dua
bulan.
Masalah masih akan berlipat ganda. Di kantor, komputer saya tidak bisa
menyala. Entah apa yang salah dengan
CPU-nya. Sudah diutak-atik oleh banyak
orang (yang pengetahuannya tentang komputer cukup lumayan), masih belum ada
juga pemecahannya. Bagaimana pun, saya
tidak bisa membawanya ke tempat servis komputer hari itu juga karena banyak
pekerjaan.
Banyak pekerjaan!
Mengapa selalu banyak pekerjaan ketika kita sedang dirundung masalah
teknis? Para
klien menelpon karena mereka baru saja mengirimkan e-mail berisikan request
yang sifatnya urgent dan harus selesai hari ini juga. Komputer saya memang penting, tapi permintaan
klien lebih penting lagi. Maka saya pun
menggunakan komputer orang lain untuk sementara dan membuka e-mail dari sana.
Apa dinyana, internet pun tidak bisa! Setelah dicoba ke berbagai komputer, tetap
saja tidak bisa masuk ke jaringan internet.
Ingin rasanya marah-marah kepada penyedia layanan jasa internet itu,
tapi klien juga sudah marah-marah.
Lagipula, saya ‘kan
sedang shaum! Marah-marah pun
harus menunggu.
Maka saya pun memacu motor menuju warnet untuk mengambil
e-mail dari klien. Keluar dari warnet,
angin mendung menggantung. Saya pun
memacu motor kembali ke kantor (yang jaraknya cukup jauh dari warnet). Saya praktis berpacu dengan awan. Setiap kali gerimis turun, saya memacu motor
lebih cepat lagi. Alhamdulillaah,
saya berhasil ‘melarikan diri’ dari hujan dan tiba di kantor sekitar dua menit
sebelum hujan deras turun.
Selesai?
Belum! Sekitar pukul lima, tepat ketika saya
hampir pulang, ada telpon lagi dari klien.
Ada
e-mail lagi yang harus diterima. Maka
lagi-lagi saya pun melesat ke warnet, dan baru tiba kembali di kantor sekitar
Maghrib. Tadinya saya berniat berbuka di
rumah bersama istri, apa boleh buat terpaksa berbuka di kantor dengan teh manis
panas (thank God for a cup of tea!). Dengan sandal jepit, karena sandal yang tadi pagi saya kenakan (yang baru berusia sebulan) tercabik-cabik oleh ban mobil yang berputar keras karena jalanan licin. Ah, saya tidak mau membicarakannya!
Setelah shalat Maghrib, barulah saya pulang dalam keadaan
kacau-balau. Saya menghindari jalan yang
ramai karena takut emosi akan meledak.
Ketika mengendarai motor (atau praktis semua kendaraan bermotor),
sekedar disalip pun bisa membuat hati panas.
Karena itu, saya memilih jalan yang agak memutar, gelap dan sepi.
Saya teringat pada lima
ayat yang menurut Lin, sepupu saya, adalah favoritnya.
- Alif laam miim.
- Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan
hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?
- Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum
mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui
orang-orang yang dusta.
- Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu
mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Sangatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu!
- Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka
sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
(Q.S. Al-Ankabut [29] : 1 – 5)
Memang berat menerima kenyataan bahwa Allah memberikan
sekian banyak ujian pada kita tepat ketika kita hendak berbuat baik. Dari satu sisi kenyataan ini memang pahit
sekali. Akan tetapi saya memutuskan
untuk tidak mengeluh. Mengapa? Karena ujian pada ‘hari pertama’ ini adalah
bukti bahwa Allah menganggap serius usaha saya!
Ya, kalau memang Allah tidak menganggap ibadah saya ini
serius, maka tidak perlu ada ujian.
Dengan ujian seberat ini, saya cukup merasa berbesar hati karena Allah
tidak menganggap shaum sunnah saya ini main-main. Manusia diuji menurut kapasitasnya masing-masing. Rasulullah saw. diuji dengan kapasitasnya
sebagai Rasul, sedangkan saya cukup beruntung karena hanya diuji dengan kapasitas saya sendiri. Semakin berat ujiannya, maka semakin tinggilah
penilaian yang bisa kita dapatkan. Kalau
kita mampu melihatnya dari perspektif yang benar, ujian pun bisa berubah
menjadi pujian. Pujian apa lagi yang
lebih kita harapkan daripada pujian dari Allah?
Hari pertama shaum sunnah Senin-Kamis kemarin
memang amat berat. Meski demikian, saya
menganggapnya sepadan dengan pengorbanannya.
Segala luka di hati terobati jika saya terus-menerus mengingatkan diri
bahwa Allah SWT tidak melihat ibadah saya dengan ‘sebelah mata’.
Jika lain kali hal semacam ini terjadi pada Anda, maka
camkanlah nasihat saya : remember the spiders! Spiders?
Ya, ingat-ingatlah lima
ayat pertama dalam ‘surah laba-laba’. Insya
Allah hatimu akan tentram di tengah kecamuk hidup yang tak menentu ini.
wassalaamu’alaikum wr. wb.