Blog EntryReputasi Itu PentingFeb 18, '07 10:58 PM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Dalam era informasi ini, reputasi itu penting sekali. Kesalahan fatal yang diperbuat manusia di masa lalu tidak bisa begitu saja ‘dimaafkan’ oleh pers dan, jika memungkinkan, bisa diungkit kembali pada waktu yang ‘tepat’.

Bahkan dalam level yang lebih dalam lagi, respon kita terhadap ucapan manusia tergantung pada siapa pengucapnya. Ini terjadi karena kalimat-kalimat bikinan manusia selalu bisa dipelintir dan dibuat beragam interpretasinya. Hanya kalimat-kalimat Allah sajalah yang tetap tegar dan tidak bisa dipermainkan seenaknya.

Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dalam bukunya, “Fikih Prioritas”, menjelaskan bahwa mengumpulkan dana untuk memerdekakan negeri-negeri Muslim (misalnya Palestina atau Chechnya) adalah lebih utama daripada berhaji. Pasalnya, pergi berhaji adalah ibadah yang bisa ditunda, sedangkan menyelamatkan nyawa saudara seiman sulit ditunda-tunda. Sedikit terlambat, akan ada nyawa yang melayang. Adapun haji tidaklah mengapa ditunda barang setahun-dua. Kalaupun ajal menjemput sebelum akhirnya berhasil melaksanakan ibadah haji (karena biayanya dipakai untuk membelikan senjata bagi warga Palestina), maka Allah SWT Maha Tahu akan niat baiknya.

Di sisi lain, ada pula pihak lain yang menganggap bahwa ibadah haji adalah suatu perbuatan sia-sia dari segi finansial. Karena banyak buang-buang uang, maka muncullah sebuah ‘fatwa’ : buat saja sebuah Ka’bah di negeri kita masing-masing, maka penghematan besar-besaran akan segera terjadi!

Baik Yusuf al-Qaradhawi maupun ‘ulama ajaib’ di atas sama-sama memberi saran untuk mengesampingkan ibadah haji, namun dimensi dan alasannya sama sekali berbeda. Reputasi keduanya tidak dapat diperbandingkan, karena amat bertolak belakang. Yang satu memiliki hujjah dalam fatwanya, sedangkan yang satunya lagi entah dapat wangsit dari kuburan mana.

Ada ulama yang berkata, “urus dulu urusan dalam negeri, baru urusi negeri orang lain.” Ini sesuai dengan suatu kaidah dalam Islam, dimana kita seharusnya membenahi urusan-urusan yang terdekat dengan kita terlebih dahulu, baru mengurusi yang jauh-jauh. Akan tetapi ketika aktifis liberalis mengucapkannya – tepat ketika umat Islam Indonesia tengah dimobilisasi besar-besaran untuk menyumbang dana bagi Palestina dan Libanon tempo hari – maka ucapan tadi tidak akan terdengar sebagai nasihat, melainkan sebagai hasutan.

Ucapannya memang sama, namun kita pantas untuk curiga bahwa maknanya memang berbeda. Jika ulama di atas mengatakan demikian dengan pertimbangan prioritas dalam beramal, maka aktifis liberalis mengucapkan kalimat yang sama dengan tujuan untuk memecah-belah umat Islam sedunia.

Jika ulama-ulama yang kita kenal kesalehannya berbicara dengan menyebut kosa kata semacam ‘pluralitas’ dan ‘toleransi’, maka yang terbayang dalam benak kita adalah kesempurnaan Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin yang mampu memimpin dunia dengan adil. Akan tetapi, jika kosa kata yang sama digunakan oleh Ulil Abshar Abdalla dan antek-anteknya, maka kita yakin bahwa mereka sedang mengampanyekan paham ‘persamaan agama’ dan ‘ketidakcocokan syariat Islam dalam memelihara kedamaian’. Sekali lagi : kosa katanya mungkin sama, namun kesan yang ditimbulkannya jauh berbeda. Ini karena para pengucapnya memiliki reputasi yang berbeda-beda.

Kalau seorang preman datang kepada Anda dan minta ‘uang keamanan’, maka Anda tahu persis bahwa yang pihak yang mengancam keamanan sebenarnya adalah dia sendiri. Namun jika yang datang adalah satpam komplek dengan kuitansi yang jelas dan sikap yang santun, maka itu disebut ‘uang ronda’. Kalau akal Anda masih sehat, Anda tidak akan menolak membayar uang ronda, bukan?

Jika Ustadz Fauzil Adhim mengatakan bahwa istri harus taat pada suami, maka kita akan terus mendengarkan dengan seksama. Kita bisa mengira-ngira bahwa sang ustadz akan segera menjelaskan bahwa seorang kepala keluarga semestinya tidak dilawan dengan ‘kekerasan’. Jika istrinya mampu bersikap arif dan lembut dalam menanggapi masalah, maka situasi dalam rumah tangga akan tetap kondusif.

Di sisi lain, ketika Ahmad Dhani berkata hal yang sama (yaitu bahwa istri harus taat pada suami) di depan kamera televisi atau ketika diwawancara di berbagai media massa, maka yang terbayang adalah : arogansi. Saya sudah berulang kali menyaksikan betapa orang-orang merasa muak dengan kata-kata Ahmad Dhani yang semacam itu dan lebih memilih membalik halaman atau mengganti saluran televisi daripada harus membaca atau mendengarkan ucapan seperti itu lagi.

Persoalannya, Ustadz Fauzil Adhim memiliki reputasi sebagai orang yang penuh kelembutan, sedangkan Ahmad Dhani memiliki reputasi sebagai lelaki yang arogan. Akibat reputasi yang telah terbangun ini, maka orang-orang pun menanggapi kata-kata mereka dengan cara yang berbeda. Kedengarannya sangat subjektif, tapi apakah subjektifitas itu 100 % salah?

Saya ingat selama tiga tahun di SMA dulu, hanya sekali saja saya datang terlambat ke sekolah. Hal itu terjadi karena saya harus pulang kembali ke rumah untuk mengambil tugas yang terlupa. Ketika saya menghadap guru piket, sudah ada beberapa wajah ‘reguler’. Artinya, beberapa di antara mereka memang langganan terlambat datang ke sekolah.

Apa dinyana, saya disuruh langsung ke kelas, sedangkan para ‘langganan’ tadi tetap diceramahi hingga jam pelajaran kedua oleh guru piket. Saya pun bertanya dengan polos, “Kok saya nggak ditahan di ruang guru, Pak?” Ternyata jawaban yang saya peroleh adalah, “Ah, kamu ‘kan nggak pernah terlambat. Kalau mereka mah emang udah langganan, kagak boleh dikasih hati!”

Jadi saudara-saudara, reputasi itu penting. Kalau sering datang terlambat ke sekolah, guru piket tiak akan percaya pada alasan apa pun yang kita kemukakan. Kalau sering merusak kepercayaan, jangan salahkan orang kalau tidak lagi percaya. Dan jangan lupa, Anda juga tidak bisa menyalahkan manusia karena telah bersikap subjektif.

wassalaamu’alaikum wr. wb.


27 CommentsChronological   Reverse   Threaded
peduli wrote on Feb 18, '07
Hhhhmmmm, sedang merenung, reputasi saya selama ini apa ya ? Hikss :((
alghozi wrote on Feb 18, '07
akmal said
wajah ‘reguler’. Artinya, beberapa di antara mereka memang langganan terlambat datang ke sekolah.
hehe.. jd inget nih sma doeloe.. sampe akrab sama guru piket.. :))
akmal wrote on Feb 18, '07
peduli said
Hhhhmmmm, sedang merenung, reputasi saya selama ini apa ya ? Hikss :((
reputasi mbak Kosi : biker handal!!! kekekek :p
hasyimcbt wrote on Feb 18, '07
aduh sumpee.... ane gak bisa nahan ketawa liat gambarnya :)) gambar itu bisa di analogikan sama uda gak :P
hamasahputri wrote on Feb 19, '07
Bener, Mal. Inget pepatah : Membangun n mempertahankan reputasi, jauh lebih sulit daripada membangun gedung bertingkat. So, jangan pernah remehkan reputasi diri ;-)
yudimuslim wrote on Feb 19, '07
bagus banget sebagai bahan bercermin...
kata At tirmidzi jika yang bicara adalah hati maka yang dengar adalah hati
dan jika yang bicara itu mulut yang dengar adalah kuping..
sekarang ana dah ngerti maksudnya..thx akhi
kucingkumeong wrote on Feb 19, '07
ho oh...
fetryz wrote on Feb 19, '07
*langsung ngaca*

diaz2000 wrote on Feb 19, '07
Thank atas sharingnya, artikel yang sangat menarik. Reputasi itu memang sangat penting mas!
akmal wrote on Feb 19, '07
aduh sumpee.... ane gak bisa nahan ketawa liat gambarnya :)) gambar itu bisa di analogikan sama uda gak :P
ya jelas nggak lah... saya kan gak selangsing itu lagi... kekekeke :D
akmal wrote on Feb 19, '07
Bener, Mal. Inget pepatah : Membangun n mempertahankan reputasi, jauh lebih sulit daripada membangun gedung bertingkat. So, jangan pernah remehkan reputasi diri ;-)
tul tul seperti itulah bahayanya... :)
akmal wrote on Feb 19, '07
bagus banget sebagai bahan bercermin...
kata At tirmidzi jika yang bicara adalah hati maka yang dengar adalah hati
dan jika yang bicara itu mulut yang dengar adalah kuping..
sekarang ana dah ngerti maksudnya..thx akhi
wah bagus tuh kata2nya At-Tirmidzi... :)
akmal wrote on Feb 19, '07
ho oh...
halah bos kucing ini jarang2 mampir sekalinya nongol tanggapannya "ho oh..." :D
akmal wrote on Feb 19, '07
fetryz said
*langsung ngaca*

jgn ngaca di sembarang tempat ya... misalnya di kaca spion mobil org lain, geto... :p
akmal wrote on Feb 19, '07
Thank atas sharingnya, artikel yang sangat menarik. Reputasi itu memang sangat penting mas!
glad u like it.... :)
peaceman wrote on Feb 19, '07
another point well said by the boss ... !
`:,-}
reipras94 wrote on Feb 19, '07
intinya mendapatkan reputasi/kepercayaan itu sulit apalagi mempertahankannya.......
peradaban wrote on Feb 19, '07, edited on Feb 19, '07
Ketika kami ke Singapura, mengantar siswa/i SMP Islam Terpadu Istiqamah dan SMP Nasional KPS Balikpapan ada hal yang menarik, siswa yang terlambat tetap memiliki hak untuk mendapatkan pelajaran, tetapi di tempat khusus di ruang terbuka dengan guru pembimbing...

mereka tidak kehilangan kesempatan mendapat ilmu, tapi dengan sempat dilihat banyak orang, biasanya tidak terjadi wajah reguler tuh

sebab kalau terlambat tidak boleh sekolah, yang malas malah keenakan, memang itu yang dicari ...
ladymotts wrote on Feb 19, '07
sama tuh waktu aku SD dulu...
klo lupa bikin peer dengan polosnya melaporkan diri ke guru kelas
pas pelajarannya, anak2 lain yang juga ga buat peer dihukum berdiri depan kelas, sedangkan aku diperbolehkan duduk lagi karena reputasi anak rajin yang (saat itu masih) menempel..
akmal wrote on Feb 19, '07
another point well said by the boss ... !
`:,-}
who's the boss...? hehehe jadi inget Tony Danza... :p
akmal wrote on Feb 19, '07
intinya mendapatkan reputasi/kepercayaan itu sulit apalagi mempertahankannya.......
tul sekali bos... :D
akmal wrote on Feb 19, '07
Ketika kami ke Singapura, mengantar siswa/i SMP Islam Terpadu Istiqamah dan SMP Nasional KPS Balikpapan ada hal yang menarik, siswa yang terlambat tetap memiliki hak untuk mendapatkan pelajaran, tetapi di tempat khusus di ruang terbuka dengan guru pembimbing...

mereka tidak kehilangan kesempatan mendapat ilmu, tapi dengan sempat dilihat banyak orang, biasanya tidak terjadi wajah reguler tuh

sebab kalau terlambat tidak boleh sekolah, yang malas malah keenakan, memang itu yang dicari ...
wah, bentuk hukuman yg sangat mendidik... :)

di Indonesia boro2 ada kelas khusus, wong ruangan kelas aja banyak yg kurang kok... :D
akmal wrote on Feb 19, '07
sama tuh waktu aku SD dulu...
klo lupa bikin peer dengan polosnya melaporkan diri ke guru kelas
pas pelajarannya, anak2 lain yang juga ga buat peer dihukum berdiri depan kelas, sedangkan aku diperbolehkan duduk lagi karena reputasi anak rajin yang (saat itu masih) menempel..
hehehe begitulah... :D
zanza07 wrote on Feb 19, '07
Reputasiku dimata anda apa Pak Akmalakmal?? ;P
akmal wrote on Feb 19, '07
zanza07 said
Reputasiku dimata anda apa Pak Akmalakmal?? ;P
uke yg baik... kekekekeke :D
zanza07 wrote on Feb 19, '07
akmal said
uke yg baik... kekekekeke :D
Asyemik....kapan patnerannyee...??
OK kalo gt...."sampe ktemu di matras!"...:P
akmal wrote on Feb 20, '07
zanza07 said
Asyemik....kapan patnerannyee...??
OK kalo gt...."sampe ktemu di matras!"...:P
gile bener dah blum apa2 dah ditantangin... :p
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help