assalaamu’alaikum wr. wb.
Dalam era informasi ini, reputasi
itu penting sekali. Kesalahan fatal yang
diperbuat manusia di masa lalu tidak bisa begitu saja ‘dimaafkan’ oleh pers
dan, jika memungkinkan, bisa diungkit kembali pada waktu yang ‘tepat’.
Bahkan dalam level yang lebih
dalam lagi, respon kita terhadap ucapan manusia tergantung pada siapa
pengucapnya. Ini terjadi karena
kalimat-kalimat bikinan manusia selalu bisa dipelintir dan dibuat beragam
interpretasinya. Hanya kalimat-kalimat Allah
sajalah yang tetap tegar dan tidak bisa dipermainkan seenaknya.
Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dalam
bukunya, “Fikih Prioritas”, menjelaskan bahwa mengumpulkan dana untuk
memerdekakan negeri-negeri Muslim (misalnya Palestina atau Chechnya)
adalah lebih utama daripada berhaji.
Pasalnya, pergi berhaji adalah ibadah yang bisa ditunda, sedangkan
menyelamatkan nyawa saudara seiman sulit ditunda-tunda. Sedikit terlambat, akan ada nyawa yang
melayang. Adapun haji tidaklah mengapa
ditunda barang setahun-dua. Kalaupun
ajal menjemput sebelum akhirnya berhasil melaksanakan ibadah haji (karena
biayanya dipakai untuk membelikan senjata bagi warga Palestina), maka Allah SWT
Maha Tahu akan niat baiknya.
Di sisi lain, ada pula pihak lain
yang menganggap bahwa ibadah haji adalah suatu perbuatan sia-sia dari segi
finansial. Karena banyak buang-buang
uang, maka muncullah sebuah ‘fatwa’ : buat saja sebuah Ka’bah di negeri kita
masing-masing, maka penghematan besar-besaran akan segera terjadi!
Baik Yusuf al-Qaradhawi maupun
‘ulama ajaib’ di atas sama-sama memberi saran untuk mengesampingkan ibadah
haji, namun dimensi dan alasannya sama sekali berbeda. Reputasi keduanya tidak dapat
diperbandingkan, karena amat bertolak belakang.
Yang satu memiliki hujjah dalam fatwanya, sedangkan yang satunya
lagi entah dapat wangsit dari kuburan mana.
Ada ulama yang berkata, “urus
dulu urusan dalam negeri, baru urusi negeri orang lain.” Ini sesuai dengan suatu kaidah dalam Islam,
dimana kita seharusnya membenahi urusan-urusan yang terdekat dengan kita
terlebih dahulu, baru mengurusi yang jauh-jauh.
Akan tetapi ketika aktifis liberalis mengucapkannya – tepat ketika umat
Islam Indonesia tengah dimobilisasi besar-besaran untuk menyumbang dana bagi
Palestina dan Libanon tempo hari – maka ucapan tadi tidak akan terdengar
sebagai nasihat, melainkan sebagai hasutan.
Ucapannya memang sama, namun kita
pantas untuk curiga bahwa maknanya memang berbeda. Jika ulama di atas mengatakan demikian dengan
pertimbangan prioritas dalam beramal, maka aktifis liberalis mengucapkan
kalimat yang sama dengan tujuan untuk memecah-belah umat Islam sedunia.
Jika ulama-ulama yang kita kenal
kesalehannya berbicara dengan menyebut kosa kata semacam ‘pluralitas’ dan
‘toleransi’, maka yang terbayang dalam benak kita adalah kesempurnaan Islam
sebagai rahmatan lil ‘aalamiin yang mampu memimpin dunia dengan
adil. Akan tetapi, jika kosa kata yang
sama digunakan oleh Ulil Abshar Abdalla dan antek-anteknya, maka kita yakin
bahwa mereka sedang mengampanyekan paham ‘persamaan agama’ dan ‘ketidakcocokan
syariat Islam dalam memelihara kedamaian’.
Sekali lagi : kosa katanya mungkin sama, namun kesan yang ditimbulkannya
jauh berbeda. Ini karena para
pengucapnya memiliki reputasi yang berbeda-beda.
Kalau seorang preman datang
kepada Anda dan minta ‘uang keamanan’, maka Anda tahu persis bahwa yang pihak
yang mengancam keamanan sebenarnya adalah dia sendiri. Namun jika yang datang adalah satpam komplek
dengan kuitansi yang jelas dan sikap yang santun, maka itu disebut ‘uang
ronda’. Kalau akal Anda masih sehat,
Anda tidak akan menolak membayar uang ronda, bukan?
Jika Ustadz Fauzil Adhim
mengatakan bahwa istri harus taat pada suami, maka kita akan terus mendengarkan
dengan seksama. Kita bisa mengira-ngira
bahwa sang ustadz akan segera menjelaskan bahwa seorang kepala keluarga
semestinya tidak dilawan dengan ‘kekerasan’.
Jika istrinya mampu bersikap arif dan lembut dalam menanggapi masalah,
maka situasi dalam rumah tangga akan tetap kondusif.
Di sisi lain, ketika Ahmad Dhani
berkata hal yang sama (yaitu bahwa istri harus taat pada suami) di depan kamera
televisi atau ketika diwawancara di berbagai media massa, maka yang terbayang
adalah : arogansi. Saya sudah berulang
kali menyaksikan betapa orang-orang merasa muak dengan kata-kata Ahmad Dhani
yang semacam itu dan lebih memilih membalik halaman atau mengganti saluran
televisi daripada harus membaca atau mendengarkan ucapan seperti itu lagi.
Persoalannya, Ustadz Fauzil Adhim
memiliki reputasi sebagai orang yang penuh kelembutan, sedangkan Ahmad Dhani
memiliki reputasi sebagai lelaki yang arogan.
Akibat reputasi yang telah terbangun ini, maka orang-orang pun
menanggapi kata-kata mereka dengan cara yang berbeda. Kedengarannya sangat subjektif, tapi apakah
subjektifitas itu 100 % salah?
Saya ingat selama tiga tahun di
SMA dulu, hanya sekali saja saya datang terlambat ke sekolah. Hal itu terjadi karena saya harus pulang
kembali ke rumah untuk mengambil tugas yang terlupa. Ketika saya menghadap guru piket, sudah ada
beberapa wajah ‘reguler’. Artinya,
beberapa di antara mereka memang langganan terlambat datang ke sekolah.
Apa dinyana, saya disuruh
langsung ke kelas, sedangkan para ‘langganan’ tadi tetap diceramahi hingga jam
pelajaran kedua oleh guru piket. Saya
pun bertanya dengan polos, “Kok saya nggak ditahan di ruang guru,
Pak?” Ternyata jawaban yang saya peroleh
adalah, “Ah, kamu ‘kan nggak pernah terlambat. Kalau mereka mah emang udah langganan,
kagak boleh dikasih hati!”
Jadi saudara-saudara, reputasi
itu penting. Kalau sering datang
terlambat ke sekolah, guru piket tiak akan percaya pada alasan apa pun yang
kita kemukakan. Kalau sering merusak
kepercayaan, jangan salahkan orang kalau tidak lagi percaya. Dan jangan lupa, Anda juga tidak bisa
menyalahkan manusia karena telah bersikap subjektif.
wassalaamu’alaikum wr. wb.