Blog EntryTeliti Dalam MenafsirkanFeb 27, '07 11:09 PM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Menafsirkan sesuatu adalah mendefinisikan dengan benar sesuatu yang diamati sebagaimana apa adanya, tepat, tidak ditambah-tambah atau dikurang-kurangi. Ini bukan pekerjaan sederhana, dan jelas membutuhkan ketelitian yang amat prima. Kejelian pengamatan adalah kunci dari segalanya. Jika kita gagal mengamati suatu masalah secara komprehensif, maka kita pun akan gagal menemukan solusi yang paling tepat untuk masalah tersebut.

“Adakah orang yang takut pada ketinggian?”

Ada! Tentu saja ada! Banyak orang yang fobia pada ketinggian!”

“Yakin?”

“Seratus persen yakin!”

“Jadi yang ditakutinya adalah ketinggian?”

“Tentu saja!”

“Apakah orang itu takut pada semua ketinggian? Katakanlah ia berdiri di atas sebuah kursi ; apakah ia juga akan merasa takut?”

“Tentu saja tidak!”

“Mengapa?”

“Karena tidak ada orang yang akan mati kalau jatuh dari sebuah kursi.”

“Lalu mengapa burung camar tidak takut dengan ketinggian tebing di pantai?”

“Tentu saja karena ia bisa mengepakkan sayapnya untuk terbang, jadi kalaupun ia jatuh dari tebing, ia tidak akan mati menghantam karang!”

“Jadi kesimpulannya, orang-orang itu fobia karena ketinggian atau karena merasa dirinya tidak mampu mendarat dengan baik jika jatuh dari suatu batas ketinggian tertentu?”

Andaikata kita memiliki sayap atau kemampuan anti-gravitasi, atau tulang kaki yang sangat kuat, maka kita tidak akan takut melompat dari lantai empat sebuah gedung. Kita merasa takut bukan karena ketinggian, melainkan karena membayangkan apa yang akan terjadi jika kita terjatuh dari ketinggian tersebut.

Perbedaan pada penafsiran semacam ini menciptakan konsekuensi yang amat serius. Kalau kita mencap seseorang fobia pada ketinggian, maka selamanya ia akan merasa takut. Seumur hidupnya ia tidak akan naik ke puncak gedung pencakar langit, atau naik ke puncak Monas, atau naik pesawat. Akan tetapi jika masalahnya adalah pikiran yang membayangkan macam-macam hal, maka ada berbagai langkah yang bisa diambil untuk mengalihkan pikiran tersebut.

Edward de Bono dalam bukunya, “How to Have a Beautiful Mind” memberikan sebuah contoh kasus perbandingan antara jumlah narapidana di Eropa dan AS. Jumlah narapidana di Eropa adalah 89 sampai 120 orang dari setiap 100.000 penduduk, sedangkan di AS sebanyak 750 dari 100.000 penduduk (lebih dari enam kali lipat jumlah di Eropa!). Data ini saja masih terlalu mentah untuk dicarikan penafsirannya. Ada banyak kemungkinan penafsiran (jika kita hanya menggunakan data ini saja), misalnya :

  • Penduduk Eropa lebih taat hukum daripada di AS.
  • Para polisi di AS lebih lihai dalam menangkap para penjahat.
  • Ada lebih banyak jenis kejahatan dengan ancaman hukuman penjara di AS.
  • Narapidana di AS cenderung mendapatkan hukuman lebih lama daripada di Eropa.
  • Kebanyakan kasus-kasus kriminal di AS diselesaikan dengan plea bargaining (mengaku bersalah dan setuju untuk bekerja sama agar hukumannya diperingan), sehingga banyak pelanggar hukum yang masuk penjara.

Ada banyak kemungkinan yang masuk akal dari suatu masalah, dan tugas para penafsir adalah menemukan sebanyak mungkin data untuk membantunya membuat penafsiran yang paling tepat. Jika kita menutup mata terhadap kemungkinan-kemungkinan ini, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk melihat banyak fakta yang menakjubkan.

Ada orang yang berpendapat bahwa Nabi Yusuf as. tidak memiliki keberanian, sehingga beliau membiarkan dirinya dijebloskan ke dalam penjara, meskipun semua orang tahu dirinya tak bersalah. Rupanya ‘si penafsir’ yang satu ini lupa bahwa status Nabi Yusuf as. saat itu adalah budak yang berasal dari negeri seberang (Kana’an), berhadapan dengan istri seorang pembesar Mesir beserta perempuan-perempuan terhormat di kotanya. Andaikata Nabi Yusuf as. memberikan perlawanan keras saat itu, maka besar kemungkinan beliau tidak akan sempat berdakwah, karena nyawanya akan langsung melayang. Dengan mempertimbangkan situasinya saat itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa membiarkan dirinya dijebloskan ke dalam penjara adalah sebuah langkah paling taktis yang bisa dipilihnya.

Ketika saya menceritakan kisah Nabi Yusuf as. di Pondok, ada yang bertanya, “Mengapa Nabi Yusuf as. tidak melawan ketika saudara-saudaranya melemparkannya ke dasar sumur?” Saya menjawabnya dengan serangkaian pertanyaan : “Apakah Nabi Ilyas as. memiliki istri? Apakah Nabi Idris as. suka makan kurma? Apakah Nabi Yahya as. janggutnya lebat? Apakah Nabi Sulaiman as. suka lari pagi? Apakah Nabi ‘Isa as. rajin membaca? Apakah Nabi Adam as. suka membacakan cerita pada anak-anaknya menjelang tidur?” Semua pertanyaan itu dijawab dengan mantap : “Tidak tahu!”

Rasa ingin tahunya sama sekali tidak salah, bahkan patut dipuji. Ia hanya lupa bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk hidup lengkap bagi manusia yang di-compress ke dalam serangkaian bacaan yang singkat dan padat. Tidak ada tempat untuk detil-detil yang tak banyak bermanfaat. Dikisahkan bahwa Nabi Yusuf as. dijebloskan ke dasar sumur oleh saudara-saudaranya, tapi tak dijelaskan apakah beliau memberikan perlawanan atau pasrah saja. Tidak diceritakan apakah beliau sempat melayangkan beberapa pukulan, atau berapa pukulan yang diterimanya sebelum akhirnya berhasil dilumpuhkan. Tidak dijelaskan apakah beliau dimasukkan sumur dalam keadaan terikat atau tidak. Fakta yang paling penting adalah : saudara-saudaranya memasukkannya ke dalam sumur. Al-Qur’an menyisihkan fakta-fakta yang tidak relevan dan menyisakan yang paling bermanfaat untuk kita.

Menafsirkan sebuah masalah bukanlah suatu pekerjaan yang gampang. Meski demikian, kita memiliki alat latihan yang paling baik, yaitu Al-Qur’an. Jika kita merasa bosan membaca Al-Qur’an, atau menganggap Al-Qur’an hanyalah kitab puisi tanpa isi, maka pastilah ada yang salah dengan kejelian pengamatan kita.

wassalaamu’alaikum wr. wb.


zanza07 wrote on Feb 28, '07
Iyah butul..butul...!!
masalahnya kita jarang mengkaji Al Qur'an
wahyu25 wrote on Feb 28, '07, edited on Feb 28, '07
hayo ustadz, mana serial kajian al qurannya .. ?
akmal wrote on Feb 28, '07
zanza07 said
Iyah butul..butul...!!
masalahnya kita jarang mengkaji Al Qur'an
salah siapa coba? hehehe :D
akmal wrote on Feb 28, '07
wahyu25 said
hayo ustadz, mana serial kajian al qurannya .. ?
lho yg ustadz kan ente bos... hehehe :D
sriprativil wrote on Mar 1, '07
XDXDXDXD..jadi inget pernah ada pertanyaan lucu waktu kajian dulu...

tapi lupa lagi....hem...ntar deh, inget2 dulu
akmal wrote on Mar 1, '07
XDXDXDXD..jadi inget pernah ada pertanyaan lucu waktu kajian dulu...

tapi lupa lagi....hem...ntar deh, inget2 dulu
halah!
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help