assalaamu’alaikum wr. wb.
Menjadi anak yang baik itu tidak sesederhana membalikkan
telapak tangan. Saya tidak ingin
menyebutnya ‘susah’, karena khawatir akan menanamkan sugesti negatif dalam
benak para pembaca artikel ini, namun rasanya juga tidak tepat jika
mengatakannya sebagai pekerjaan yang gampang.
Sampai detik ini pun saya masih meraba-raba bagaimana cara terbaik
memposisikan diri sebagai anak.
‘Birrul walidain’ (berbakti kepada orang tua)
adalah bab yang tak mungkin dipisahkan dari agama Islam. Itulah salah satu ajaran fundamental dalam
agama Islam (apakah dengan demikian setiap Muslim yang amat berbakti pada orang
tua juga layak untuk disebut ‘fundamentalis’?).
Ajaran ini ditegaskan oleh Rasulullah saw. berulang kali, dan
digarisbawahi pula di dalam Al-Qur’an dalam banyak ayat.
Cukuplah kisah Mush’ab bin Umair ra. sebagai gambaran
pentingnya berbakti kepada orang tua.
Ketika Mush’ab bin Umair ra. – saat itu adalah pemuda paling parlente,
ganteng, cerdas, dan digemari oleh kaum perempuan Mekkah – memutuskan untuk
mengikuti ajaran Muhammad saw. dengan resiko melarat, maka tampillah sang
ibunda sebagai penentang yang paling gigih.
Tidak hanya menentang, ia bahkan tega memenjarakan anaknya sendiri agar
ia kembali ke agama nenek moyangnya.
Mush’ab ra. paham betul bahwa berbakti kepada orang tua
adalah suatu prinsip yang mesti ditegakkan.
Oleh karena itu, beliau tidak membuang imannya, namun juga tidak
memberikan perlawanan terhadap ibunya.
Beliau membiarkan dirinya dikurung dan menjalankan ibadahnya dengan
tenang di dalam kurungan itu.
Suatu hari, ibunya yang sudah lelah memaksanya untuk
murtad menemuinya dan mengatakan akan bunuh diri saja jika Mush’ab ra. masih
keras kepala. Mush’ab ra. – meski
demikian cintanya pada ibunya – menegaskan bahwa jika sang ibunda memiliki
seratus nyawa, dan seratus nyawa itu melayang satu per satu, maka ia akan tetap
pada keimanannya. Jika ibunya keras
kepala, maka anaknya yang satu ini malah lebih keras kepala lagi.
Satu pelajaran penting dapat kita tarik dari kisah Mush’ab
ra. dan ibunya. Salah satu masalah
terbesar yang dialami seorang anak (dan setiap anak) dalam hubungannya
dengan orang tuanya muncul karena ibu-bapaknya adalah juga manusia. Mereka 100% manusia, bukan makhluk yang
bersih dari kekurangan. Seorang ayah
bukanlah pahlawan serbabisa (meskipun kita mengharapkannya demikian), sementara
seorang ibu bukanlah malaikat yang serbalembut (meskipun kita mengharapkannya
demikian). Seorang ayah hanyalah seorang
lelaki biasa, dan ibu hanyalah perempuan biasa. Mereka memiliki kekurangan, baik kecil dan
besar, baik yang sudah mendarah daging atau yang muncul sewaktu-waktu saja
akibat khilaf.
Kasus Mush’ab ra. adalah kasus yang amat ekstrem, di mana
orang tua (bahkan ibunda, yang semestinya kita hormati tiga kali lebih banyak
daripada ayah) memiliki ‘kekurangan’ yang amat parah (yaitu kekafiran), bahkan
memaksa anaknya untuk ikut terjerumus dalam kesesatan yang sama. Meski demikian, prinsip berbakti pada orang
tua tetap dijunjung tinggi.
Kita (baik yang sudah menjadi orang tua ataupun yang baru
berstatus ‘anak’ saja) harus menyadari bahwa menjadi anak yang baik itu cukup
rumit, karena keadaannya memang tidak sederhana. Di masyarakat kita berkembang paradigma bahwa
anak yang baik itu adalah yang menurut pada orang tua. Kita pun belajar untuk mengikuti segala
perintah orang tua demi mendapatkan gelar ‘anak baik’ tersebut.
Akan tetapi, ketika kita bertambah dewasa, setelah kita
mampu menilai baik-buruknya segala hal, kita akan menemukan bahwa ternyata
orang tua yang sering ‘memerintah’ kita itu ternyata hanya manusia biasa yang
sering keliru. Tidak semua perintahnya
benar dan pantas untuk dituruti. Salah
adalah salah, tidak peduli siapa yang memerintahkannya, termasuk juga orang
tua.
Saya ingat pernah melihat seorang anak SD di sebuah angkot
yang mengalami dilema akibat perbuatan ibunya.
Anak itu baru saja menandaskan minumannya dari sebuah kantung plastik,
dan ia bertanya pada ibunya kemana ia harus membuang sampahnya. Ia cemberut ketika ibunya menyuruhnya untuk
membuang saja sampahnya ke bawah jok angkot.
Ia menggeleng dan meremas plastik tadi, dan terus saja menyimpannya di
dalam tangannya yang kecil. Ia tahu
bahwa perintah ibunya tadi salah.
Barangkali gurunya di sekolah telah berhasil mendoktrinnya untuk
membuang sampah pada tempatnya.
Bagaimana pun, saya bisa melihat dengan jelas betapa hatinya tidak
nyaman melihat kenyataan bahwa ibunya telah menganjurkannya untuk membuang
sampah sembarangan. Terjadi konflik
nilai dalam batinnya. Sekolah
mengajarinya begini (dan ia sudah cukup cerdas untuk menyadari bahwa ajaran itu
benar), namun ibunya mengajarinya begitu.
Ini hanyalah sebuah contoh sederhana dari dilema yang dihadapi seorang
anak ketika mengetahui kenyataan bahwa orang tuanya memiliki banyak kelemahan.
Tapi itulah kenyataannya.
Kadang-kadang menjadi anak itu menyakitkan. Kita semua pernah mengalaminya, dan sudah
pasti memahaminya. Sayang, banyak yang
melupakan pengalaman masa kecilnya begitu saja ketika dirinya sudah menjadi
orang tua. Begitu banyak orang yang
mengulangi kesalahan orang tuanya sendiri.
Ia tidak suka dengan suatu perlakuan orang tuanya, namun ia melakukan
hal yang sama pada anaknya sendiri.
Kita tahu bahwa semua orang tua (yang normal) tidak
menginginkan keburukan apa pun pada anak-anaknya. Mereka hanya khilaf ketika berbuat salah pada
anak. Sayangnya, anak-anaknya itu kadang
kurang mampu memahami bahwa orang tuanya hanyalah manusia yang tidak bersih
dari kesalahan, namun mereka cukup mampu untuk merasakan sakit.
Banyak sekali contoh 'kesalahan' orang tua. Ada orang tua yang melarang putrinya berjilbab. Ada yang melarang anaknya aktif dalam dakwah. Ada yang memaksa anak-anaknya untuk terus berjibaku dengan pelajaran sekolah dan mengabaikan yang lain. Ada yang menjodohkan anaknya dengan orang yang tidak disukainya. Ada yang memaksa anaknya mengambil jurusan tertentu di perguruan tinggi. Inilah kenyataannya. Orang tua pun bisa, dan pasti pernah, berbuat salah.
Seorang teman pernah bertanya pada saya, “Mengapa ajaran
agama hanya menyuruh kita untuk berbuat baik pada orang tua, seolah-olah mereka
selalu benar?” Ia kemudian menyitir ayat
:
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik)
kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah
yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku
dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
(Q.S. Luqman [31] : 14)
Ibunda telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah. Kedua orang tua sudah
mengorbankan banyak hal demi anak-anaknya.
Lalu bagaimana jika kedua orang tua berbuat salah? Ya, justru itulah! Ayat di atas tidak menutup kemungkinan
tersebut. Jika orang tua berbuat salah
(dan pasti berbuat salah), maka anaknya pun mesti berusaha keras memberi
maaf. Ya, tentu saja mereka banyak
kekurangan, tapi bukankah pengorbanannya juga banyak?
Anak yang baik harus sering-sering memaafkan orang tuanya.
wassalaamu’alaikum wr. wb.