
assalaamu’alaikum wr. wb.
Jika Anda sering mendengarkan
ceramah-ceramah agama, baik di majlis taklim, khutbah Jum’at, tabligh akbar,
atau barangkali semacam kuliah subuh di televisi, maka kemungkinan besar Anda
sudah akrab dengan istilah ‘nikmat iman’.
Biasanya seorang penceramah akan mengajak kita untuk bersyukur kepada
Allah SWT atas segala nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita, terutama
sekali nikmat iman. Tentu saja yang
dimaksud adalah iman yang sesuai dengan standar Islam, bukan agama lain. Dan karena karakter ajaran Islam adalah
Tauhid, maka kiranya bolehlah saya menyebutnya dengan ungkapan yang saya anggap
lebih tepat, yaitu ‘nikmat Tauhid’.
Jika Anda membaca kisah Nabi
Yusuf as. dengan dua orang rekannya di penjara, maka Anda akan menemukan suatu
hal menarik ketika keduanya mengkonsultasikan masalah mimpinya kepada beliau. Nabi Yusuf as. tidak serta merta memberikan
apa yang mereka minta (yaitu takwil mimpinya), melainkan justru mendakwahkan
ajaran Tauhidnya dengan penjelasan yang relatif panjang lebar.
Pada ayat ke-38 dalam surah
Yusuf, dijelaskan bahwa Nabi Yusuf as. mengikuti agama Tauhidnya Nabi Ibrahim
as., Nabi Ishaq as. dan Nabi Ya’qub as., dan karenanya, tidaklah pantas bagi
mereka untuk menyekutukan sesuatu pun dengan Allah SWT. Menariknya lagi, Nabi Yusuf as. menyebut hal
itu (yaitu keteguhan terhadap ajaran Tauhid) sebagai ‘karunia kepada seluruh
manusia’, dengan catatan ‘tidak semua manusia bersyukur’. Ayat ke-39 menggambarkan sebuah retorika yang
diajukan Nabi Yusuf as. kepada kedua rekannya itu : manakah yang lebih baik,
‘tuhan-tuhan’ yang bermacam-macam itu, ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha
Perkasa?
Episode dalam hidup Nabi Yusuf
as. ini lagi-lagi membuat kita sadar bahwa iman yang benar (yaitu yang berpegang
teguh pada Tauhid) adalah benar-benar nikmat, dari segala segi yang
dimungkinkan. Tauhid itu nikmat. Sekarang pertanyaannya : apa nikmatnya?
Tauhid adalah suatu prinsip yang
harus dikukuhkan dalam hati seseorang sebelum ia bisa disebut sebagai Muslim. Paling tidak, ia harus mengucapkan ikrar syahadatain, dalam artian sebuah janji
untuk berusaha sebaik mungkin melenyapkan semua ketergantungan pada ilah-ilah selain Allah SWT. Jika hati dan akalnya membenarkan bahwa hanya
Allah-lah ilah-nya, maka ia sudah
bisa dikatakan sebagai Muslim. Andaikata
dalam beberapa hal ia masih memiliki ketergantungan pada selain Allah, namun
hatinya tetap membenarkan prinsip Tauhid, maka itu adalah indikasi
ketidaksempurnaan imannya. Akan tetapi,
mereka tetap tidak boleh begitu saja dianggap kafir.
Kembali pada pertanyaan semula :
apakah yang begitu nikmat dari Tauhid?
Jika kita kembalikan pada makna
istilahnya, ilah memiliki makna yang
cukup mendalam, mencakup “yang paling dicintai”, “yang paling ditakuti”,
“tempat menaruh harapan”, “yang ditaati”, dan sebagainya. Maka ilah
tidak selalu disandingkan pada Allah.
Justru di situlah masalah sebenarnya.
Jika kita bisa menjadikan Allah sebagai satu-satunya ilah, barulah iman kita bisa dikatakan
‘sempurna’.
Musibah demi musibah datang
kepada kita, salah satunya untuk menyadarkan kita perihal kekonyolan ilah-ilah selain Allah SWT. Apa gunanya mobil superkencang jika kota digenangi air setinggi dada seperti di Jakarta tempo hari? Apa manfaatnya rumah mewah jika kita dipaksa
untuk mengungsi jauh-jauh? Apa indahnya
uang jika kita harus menyelamatkan nyawa?
Apa hebatnya uang banyak di rekening bank jika semua mesin ATM
tergenang?
Ketergantungan adalah suatu hal
yang tidak menyenangkan, jika ia dialamatkan pada hal-hal yang memiliki
keterbatasan. Ketergantungan pada
narkoba berarti tidak bisa hidup tenang tanpanya. Ketergantungan pada uang artinya tidak mampu
bertahan hidup tanpa kekayaan.
Ketergantungan pada kekasih artinya tidak ingin hidup lagi tanpa
kehadirannya. Akan tetapi, Islam
menawarkan sebuah ‘ketergantungan’ pada Dia yang tidak memiliki keterbatasan,
tidak memiliki kekurangan, tidak egois dan tidak kikir.
Tauhid itu nikmat. Kemerdekaan dari segala ketergantungan selain
kepada Allah SWT adalah nikmat yang sebenar-benarnya. Kemerdekaan inilah yang menyebabkan
orang-orang yang beriman menjadi umat yang tidak cengeng, tidak suka
meminta-minta, dan tidak suka merepotkan orang lain. Kehilangan apa pun, bahkan nyawa sekalipun,
tidaklah masalah, asalkan jangan sampai kehilangan ridha Allah.
Sifat sabar, tabah, tawadhu’, qana’ah, semuanya berawal dari sini. Dengan Tauhid, segalanya akan terasa
nikmat. Hidup kita tidak memiliki
standar ganda. Kita tidak bingung dalam
menentukan mana yang harus dipilih. Jika
memang menjunjung tinggi Tauhid, maka standar kebenaran yang kita gunakan telah
kokoh, tidak lagi dipusingkan dengan selera pribadi, pendapat orang lain,
keinginan mayoritas, kebiasaan / adat, bahkan juga mazhab (karena para pemimpin
Mazhab pun tidak pernah mengklaim dirinya sebagai representasi Islam yang
bersih dari kesalahan).
Dengan Tauhid yang sejati, maka
kita telah membebaskan hidup kita dari ego pribadi, perasaan rendah diri atau
rasa takut karena merasa ‘berbeda’ dengan kebanyakan orang, dan berbagai bentuk
ketergantungan lainnya. Itulah sebabnya
Ibnu Taimiyah menganggap penjara sebagai ‘tempat menyendiri bersama Allah’, dan
Anis Matta menjelaskan bahwa semua kesusahan di dunia akan terasa ringan jika
diletakkan di dalam ‘surga’ di hati kita.
‘Surga’ itulah yang bernama
Tauhid. Adakah ia di hatimu?
wassalaamu’alaikum wr. wb.