Blog EntryNikmat TauhidMar 6, '07 11:45 PM
for everyone


assalaamu’alaikum wr. wb.

Jika Anda sering mendengarkan ceramah-ceramah agama, baik di majlis taklim, khutbah Jum’at, tabligh akbar, atau barangkali semacam kuliah subuh di televisi, maka kemungkinan besar Anda sudah akrab dengan istilah ‘nikmat iman’. Biasanya seorang penceramah akan mengajak kita untuk bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita, terutama sekali nikmat iman. Tentu saja yang dimaksud adalah iman yang sesuai dengan standar Islam, bukan agama lain. Dan karena karakter ajaran Islam adalah Tauhid, maka kiranya bolehlah saya menyebutnya dengan ungkapan yang saya anggap lebih tepat, yaitu ‘nikmat Tauhid’.

Jika Anda membaca kisah Nabi Yusuf as. dengan dua orang rekannya di penjara, maka Anda akan menemukan suatu hal menarik ketika keduanya mengkonsultasikan masalah mimpinya kepada beliau. Nabi Yusuf as. tidak serta merta memberikan apa yang mereka minta (yaitu takwil mimpinya), melainkan justru mendakwahkan ajaran Tauhidnya dengan penjelasan yang relatif panjang lebar.

Pada ayat ke-38 dalam surah Yusuf, dijelaskan bahwa Nabi Yusuf as. mengikuti agama Tauhidnya Nabi Ibrahim as., Nabi Ishaq as. dan Nabi Ya’qub as., dan karenanya, tidaklah pantas bagi mereka untuk menyekutukan sesuatu pun dengan Allah SWT. Menariknya lagi, Nabi Yusuf as. menyebut hal itu (yaitu keteguhan terhadap ajaran Tauhid) sebagai ‘karunia kepada seluruh manusia’, dengan catatan ‘tidak semua manusia bersyukur’. Ayat ke-39 menggambarkan sebuah retorika yang diajukan Nabi Yusuf as. kepada kedua rekannya itu : manakah yang lebih baik, ‘tuhan-tuhan’ yang bermacam-macam itu, ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?

Episode dalam hidup Nabi Yusuf as. ini lagi-lagi membuat kita sadar bahwa iman yang benar (yaitu yang berpegang teguh pada Tauhid) adalah benar-benar nikmat, dari segala segi yang dimungkinkan. Tauhid itu nikmat. Sekarang pertanyaannya : apa nikmatnya?

Tauhid adalah suatu prinsip yang harus dikukuhkan dalam hati seseorang sebelum ia bisa disebut sebagai Muslim. Paling tidak, ia harus mengucapkan ikrar syahadatain, dalam artian sebuah janji untuk berusaha sebaik mungkin melenyapkan semua ketergantungan pada ilah-ilah selain Allah SWT. Jika hati dan akalnya membenarkan bahwa hanya Allah-lah ilah-nya, maka ia sudah bisa dikatakan sebagai Muslim. Andaikata dalam beberapa hal ia masih memiliki ketergantungan pada selain Allah, namun hatinya tetap membenarkan prinsip Tauhid, maka itu adalah indikasi ketidaksempurnaan imannya. Akan tetapi, mereka tetap tidak boleh begitu saja dianggap kafir.

Kembali pada pertanyaan semula : apakah yang begitu nikmat dari Tauhid?

Jika kita kembalikan pada makna istilahnya, ilah memiliki makna yang cukup mendalam, mencakup “yang paling dicintai”, “yang paling ditakuti”, “tempat menaruh harapan”, “yang ditaati”, dan sebagainya. Maka ilah tidak selalu disandingkan pada Allah. Justru di situlah masalah sebenarnya. Jika kita bisa menjadikan Allah sebagai satu-satunya ilah, barulah iman kita bisa dikatakan ‘sempurna’.

Musibah demi musibah datang kepada kita, salah satunya untuk menyadarkan kita perihal kekonyolan ilah-ilah selain Allah SWT. Apa gunanya mobil superkencang jika kota digenangi air setinggi dada seperti di Jakarta tempo hari? Apa manfaatnya rumah mewah jika kita dipaksa untuk mengungsi jauh-jauh? Apa indahnya uang jika kita harus menyelamatkan nyawa? Apa hebatnya uang banyak di rekening bank jika semua mesin ATM tergenang?

Ketergantungan adalah suatu hal yang tidak menyenangkan, jika ia dialamatkan pada hal-hal yang memiliki keterbatasan. Ketergantungan pada narkoba berarti tidak bisa hidup tenang tanpanya. Ketergantungan pada uang artinya tidak mampu bertahan hidup tanpa kekayaan. Ketergantungan pada kekasih artinya tidak ingin hidup lagi tanpa kehadirannya. Akan tetapi, Islam menawarkan sebuah ‘ketergantungan’ pada Dia yang tidak memiliki keterbatasan, tidak memiliki kekurangan, tidak egois dan tidak kikir.

Tauhid itu nikmat. Kemerdekaan dari segala ketergantungan selain kepada Allah SWT adalah nikmat yang sebenar-benarnya. Kemerdekaan inilah yang menyebabkan orang-orang yang beriman menjadi umat yang tidak cengeng, tidak suka meminta-minta, dan tidak suka merepotkan orang lain. Kehilangan apa pun, bahkan nyawa sekalipun, tidaklah masalah, asalkan jangan sampai kehilangan ridha Allah.

Sifat sabar, tabah, tawadhu’, qana’ah, semuanya berawal dari sini. Dengan Tauhid, segalanya akan terasa nikmat. Hidup kita tidak memiliki standar ganda. Kita tidak bingung dalam menentukan mana yang harus dipilih. Jika memang menjunjung tinggi Tauhid, maka standar kebenaran yang kita gunakan telah kokoh, tidak lagi dipusingkan dengan selera pribadi, pendapat orang lain, keinginan mayoritas, kebiasaan / adat, bahkan juga mazhab (karena para pemimpin Mazhab pun tidak pernah mengklaim dirinya sebagai representasi Islam yang bersih dari kesalahan).

Dengan Tauhid yang sejati, maka kita telah membebaskan hidup kita dari ego pribadi, perasaan rendah diri atau rasa takut karena merasa ‘berbeda’ dengan kebanyakan orang, dan berbagai bentuk ketergantungan lainnya. Itulah sebabnya Ibnu Taimiyah menganggap penjara sebagai ‘tempat menyendiri bersama Allah’, dan Anis Matta menjelaskan bahwa semua kesusahan di dunia akan terasa ringan jika diletakkan di dalam ‘surga’ di hati kita.

‘Surga’ itulah yang bernama Tauhid. Adakah ia di hatimu?

wassalaamu’alaikum wr. wb.


17 CommentsChronological   Reverse   Threaded
jampang wrote on Mar 7, '07
insya Allah, ada tauhid di hatiku
wandaruni wrote on Mar 7, '07
tjiyeeeeeeh... hetsot baru nih yeeeee... :p
wandaruni wrote on Mar 7, '07
maap.. riplai-annya nggak penting... :D
karitasurya wrote on Mar 7, '07
Insya Allah kan kujaga 'surga' itu sepenuh hati *_*
vijamal wrote on Mar 7, '07
terimakasih ya postingannya...
akmal wrote on Mar 7, '07
jampang said
insya Allah, ada tauhid di hatiku
siiip... :D
akmal wrote on Mar 7, '07
tjiyeeeeeeh... hetsot baru nih yeeeee... :p
yoi donks... :D
akmal wrote on Mar 7, '07
maap.. riplai-annya nggak penting... :D
Neta geto lhoooo.... kekekeke :D
akmal wrote on Mar 7, '07
Insya Allah kan kujaga 'surga' itu sepenuh hati *_*
semangad!!! :D
akmal wrote on Mar 7, '07
vijamal said
terimakasih ya postingannya...
no problemo mbak... :D
f2rrel wrote on Mar 7, '07
akmal said
‘Surga’ itulah yang bernama Tauhid. Adakah ia di hatimu?
Semoga di hati ini dan semua umat muslim tertanam kuat. Amien
anibowo wrote on Mar 7, '07
setuju dgn tauhid, semuanya terasa nikmat
susah, senang....akan disikapi dgn positif
akmal wrote on Mar 7, '07
f2rrel said
Semoga di hati ini dan semua umat muslim tertanam kuat. Amien
aaamiiiin.... :)
akmal wrote on Mar 7, '07
anibowo said
setuju dgn tauhid, semuanya terasa nikmat
susah, senang....akan disikapi dgn positif
setuju bangeud... :D
arvenda wrote on Mar 7, '07
stuju lagi deh! :">
akmal wrote on Mar 7, '07
arvenda said
stuju lagi deh! :">
hus! ikut2an ajah! :p
shirotsuya wrote on Mar 7, '07
Hmm... saudaraku, hati-hati lho...dengan kalimat semacam ini. Mirip dengan kata "insya ALlah aku beriman", "atau insya Allah aku dekat dengan Allah". Sebenarnya siapa sih yang membutuhkan iman, tauhid dan maiiyatullah-Nya? Kita sendiri kan?
Allah membuka kesempatan kepada kita, apakah mau beriman atau tidak. Ingat kan surah Asy Syams yang salah satu ayatnya berbunyi "fa'al hamaha fujuuroha wa taqwaha". Nah, setiap kita diberi dua pilihan itu, kalan fujur ataukah jalan taqwa. Jadi, yang akan memilih ya kita sendiri.
Maka menurut saya, lebih baik kita berkata seperti ini (seperti yang dikatakan oleh salah satu Imam Mazhab, yakni Imam Syafi'i rahimahullah, atau Ibnul Qoyyim Al Jauziyah .... saya lupa) :
"aku selalu dekat dengan-Mu ya Allah", "aku selalu mencintai-Mu ya Allah", dst.
Mohon maaf kalau ada kekeliruan, sekaligus minta koreksinya. :)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help