
assalaamu'alaikum wr. wb.
Pukul setengah dua pagi buta, kami dikejutkan oleh dering telepon. Tentu saja bukan kebiasaan kami menerima telepon sepagi itu. Pikiran saya refleks mengira-ngira sebanyak-banyaknya kemungkinan. Apa berita yang begitu penting untuk dikabarkan selarut itu? Tidak bisakah menunggu, setidaknya sampai Subuh? Episode 'penjemputan' Jendral Ahmad Yani di film G-30-S/PKI yang membuat nyaris semua orang seusia saya mengalami trauma terbayang dalam waktu sepersekian detik saja. Untung hanya telepon, bukan Cakrabirawa.
Spontan istri saya terbangun, dan saya pun langsung bangkit dari tempat tidur. Saya bergegas membuka pintu, namun karena masih belum 'sepenuhnya sadar', memutar kunci pun menjadi pekerjaan yang cukup menyulitkan. Sambil berusaha membuka pintu, sekian banyak kemungkinan muncul di dalam kepala.
- Apakah Emak baik-baik saja?
- Apakah keluarga di kampuang mengalami musibah?
Dua kemungkinan itulah yang mendominasi pikiran saya.
Ketika saya akhirnya berhasil membuka pintu dan berjalan menuju pesawat telepon, rupanya Mama sudah mendahului saya. Karena saya berada di lantai dua, maka saya hanya bisa menguping saja pembicaraan di bawah.
"Halo?"
"Halo?"
"Halo?"
"Halo?"
"Halo?"
"Halo, ini siapa?"
Dan begitulah terus sampai beberapa menit lamanya. Sepertinya Mama sedang bicara sendiri. Siapa pun yang ada di seberang sana, ia tidak memberi jawaban apa pun. Ia hanya diam tak bersuara. Entah mengapa ia tidak mau bicara, karena Mama jelas-jelas mendengar suara orang ramai di sana. Kalau ia tidak mendengar suara Mama, maka semestinya ia juga berbicara.
Mama menutup telpon itu setelah beberapa lama tidak ada perkembangan berarti. Kami pun kembali ke peraduan dengan benak yang penuh tanda tanya. Siapa tadi itu? Di mana ia berada? Apa tujuannya menelpon kami? Kalau memang iseng, apakah ia memang mengetahui nomor telpon kami, atau ia hanya memutar nomor secara acak saja?
Terbangun dengan cara seperti tadi membuat jantung saya berdetak cukup cepat, dan adrenalin mengalir deras. Dalam keadaan begini, tidak mudah untuk kembali pada keadaan santai agar akhirnya bisa tidur nyenyak lagi. Kami pun menyalakan TV. Beruntung, ada Apollo 13. Akting Tom Hanks mampu menghibur kami saat itu.
Ketika Apollo 13 baru saja melewati masa-masa kritisnya, yaitu ketika Jim Lovell (karakter yang diperankan oleh Tom Hanks) dkk. mengemudikan pesawatnya secara manual mendekati Bumi, telpon di rumah berdering kembali. Kali ini saya sudah sangat siap. Saya bertindak lebih cepat daripada Mama. Saya langsung mengangkat telpon dan menjawab bukan dengan tanda tanya, melainkan dengan tanda seru.
"Halo!"
"Halo!"
"Halo!"
"Halo!"
"Halo, ini siapa sih!"
"
Nggak ada
kerjaan ya?"
"Woi!"
"
Kampring!"
Sungguh-sangat-sangat-memuakkan. Saya tahu di sana ada yang sedang mendengarkan. Saya mendengar jelas sebuah rekaman suara, entah radio, kaset, atau televisi, atau barangkali juga layar tancap ; berbicara dalam bahasa Jawa. Apakah penganut ajaran
Darmogandul akhirnya sakit hati dan mencoba meneror saya?
Pembantu kami, Warsini, akhirnya dibangunkan juga sekedar untuk mencoba bicara padanya. Sudah jelas orang itu berdarah Jawa, karena ia sedang mendengarkan siaran bahasa Jawa. Tapi ia tidak mau menjawab kata-kata Warsini juga. Yang jelas, kata Warsini, suara di belakangnya itu adalah semacam siaran 'dakwah' dalam bahasa Jawa Tengah.
Telpon misterius itu berulang kembali beberapa kali, setiap sejam. Sampai akhirnya Mama bosan dan memutus saja saluran telpon agar kami semua bisa tidur nyenyak. Tapi tentu saja, tak ada yang bisa tidur nyenyak jika sudah dibangunkan sejam sekali.
Paginya, Mama bilang ada baiknya juga saya membentak dan memaki-maki si penelpon misterius itu. Karena di jaman edan ini, ada juga penjahat yang menelpon tengah malam untuk menghipnotis, sementara hipnotis hanya bisa dilakukan pada orang yang mau dikendalikan. Mudah-mudahan dengan 'kebrutalan' saya, dia sudah keburu jatuh mental. Tapi kalau memang sudah jatuh mental, mengapa harus menelpon berulang-ulang?
Mama bilang, sebenarnya pada saat telpon pertama itu ia sempat bicara. Suaranya seperti anak kecil. Ketika ditanya, "Ini siapa?", ia malah bertanya balik, "
Sopo iki?". Dengan gaya yang kurang ajar, ia terus balik bertanya. Herannya, ia tidak berani menjawab setelah saya bentak pada telponnya yang kedua kali.
Fakta yang kita ketahui hanyalah bahwa suara di latar belakang itu adalah siaran dakwah dalam bahasa Jawa Tengah. Karena itu, kemungkinan besar pelakunya berdarah Jawa pula. Perihal siapa dia, atau apa sebabnya ia menelpon, semuanya masih tanda tanya besar. Kalau bisa meminta informasi ke Telkom (lewat Polisi, misalnya) untuk mendapatkan nomor telpon dan alamat si pelaku,
insya Allaah saya akan kejar dia. Namun terpikir juga betapa menyedihkannya hidup seseorang (apalagi jika memang ia masih anak kecil) yang menelpon orang tak dikenal di pagi buta hanya karena tidak ada pekerjaan yang lebih baik. Kadang-kadang, saya kasihan juga padanya.
Tapi bagaimana pun, rasa kesal lebih sering mendominasi. Dasar
kampring!wassalaamu'alaikum wr. wb.