Blog EntryThe REAL Fantastic FourMar 10, '07 12:47 AM
for everyone
assalaamu'alaikum wr. wb.

Ketika saya berusia 12 atau 13 tahun, Mak Etek memberi saya hadiah ultah berupa buku "Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah". Sampai sekarang buku itu masih saya simpan, dan merupakan koleksi buku Islam pertama milik saya pribadi. Buku itu adalah turning point pertama dalam hidup saya, yang selanjutnya membuat saya merasa begitu haus untuk menggali pemahaman keislaman lebih jauh.

Saya ingat empat sahabat yang pertama dikisahkan. Keempatnya menempati ruang khusus dalam hati dan ingatan saya. Biarlah saya membaginya barang sedikit.

* * * * * * *

Mush'ab bin Umair ra.
Kalau ada lelaki parlente, paling ganteng, paling trendi, paling bagus penampilannya, dan paling digilai oleh kaum perempuan sekota Mekkah, lantas ia mau bergabung dalam jamaah Rasulullah saw. dengan resiko melarat, maka kisah itu pastilah pantas untuk dicatat dalam sejarah. Ya, begitulah Mush'ab ra. Ia lelaki yang berasal dari keluarga yang makmur dan terpandang, namun kemudian jatuh cinta pada ajaran Rasulullah saw. yang akan segera menikmati embargo habis-habisan.

Selain ketabahannya dalam menghadapi ibunda yang begitu gigih dalam mengembalikannya pada kekafiran, hal menarik lainnya adalah mengenai 'penaklukan' Mush'ab ra. atas Yatsrib. Rasulullah saw. mengirim beliau ke kota itu untuk menyebarkan dakwah. Sedemikian hebatnya dakwah Mush'ab ra., sampai-sampai kota itu kemudian berganti nama menjadi Madinaturrasuul (secara harfiah berarti "Kotanya Rasul"), yang biasa dikenal dengan sebutan 'Madinah'. Ketika Rasulullah saw. menginjakkan kaki di kota itu, sudah begitu banyak Muslim yang siap mati demi Islam. Prestasi sedahsyat ini tidak lain adalah hasil dari tangan dinginnya Mush'ab bin Umair ra.

Ketika Mush'ab ra. menemui syahidnya dalam keadaan memegang teguh amanah Rasulullah saw. untuk menjaga panji Islam, ia bahkan tidak mendapatkan kain kafan yang cukup. Jika wajahnya ditutupi, maka kakinya terbuka. Jika kakinya ditutupi, maka wajahnya terbuka. Meski demikian, tidak ada jenazah yang lebih mulia daripada jenazah seorang syuhada.

Salman al-Farisi
Nama 'al-Farisi' menunjukkan asal-muasalnya, yaitu dari negeri Persia. Awalnya ia adalah penganut agama Majusi yang taat, namun kemudian mengagumi agamanya orang-orang Nasrani. Karena keinginannya yang begitu kuat untuk menemukan agama yang benar, ia pergi meninggalkan rumah untuk ikut bersama seorang Rahib. Sebelum Rahib itu meninggal, ia memberi saran pada Salman untuk pergi menemui Rahib yang lain. Begitulah seterusnya Salman ra. berpindah dari satu Rahib ke Rahib lainnya, hingga akhirnya ia menemui seorang Rahib yang saat sakaratul maut-nya berkata bahwa kedatangan Nabi terakhir sudah sangat dekat. Ia memberitahukan tiga ciri dari sang Nabi itu, yaitu :
  1. Tidak mau memakan sedekah.
  2. Mau memakan hadiah.
  3. Memiliki cap kenabian di pundaknya.
Kemudian Salman ra. diperdaya oleh seseorang dan dijual sebagai budak dan tinggal di Madinah. Ketika ia mendengar seseorang bernama Muhammad saw. datang dan mengaku sebagai Nabi, ia pun segera mengecek kebenarannya. Setelah diperiksa, beliau memang tidak mau memakan sedekah, namun mau menerima hadiah untuk dirinya. Ketika akhirnya Salman ra. berhasil melihat cap kenabian, ia pun langsung tersungkur dan memeluk kaki Rasulullah saw. sambil menangis.

Salman al-Farisi dikenal sebagai salah satu sahabat Rasulullah saw. yang paling cerdas. Semua orang mengakui kecemerlangan ilmunya, sampai-sampai para sahabat selevel Umar bin Khattab ra. dan Abu Bakar ra. juga sering meminta pendapatnya.

Abu Dzar al-Ghifari ra.
Nama 'al-Ghifari' semestinya berkonotasi negatif, karena suku Bani Ghifar dikenal sebagai suku penjahat, pencuri, penculik, dan gemar mengacau. Akan tetapi, dari kabilah itulah lahir seorang sahabat Rasulullah saw. yang diakui keutamaannya. Dialah Abu Dzar ra.

Siapa sangka dari Bani Ghifar, suku yang dikenal karena sifat barbarnya, Islam justru memperoleh kekuatan yang amat besar? Segera setelah Abu Dzar ra. menyatakan keislamannya, ia langsung melancarkan dakwah di kabilahnya sendiri. Dalam waktu singkat, datanglah rombongan Bani Ghifar kepada Rasulullah saw. untuk menyatakan bai'at.

Abu Dzar ra. dikenal sebagai orang yang 'keras'. Ia tidak pernah sudi menyembunyikan keislamannya, bahkan di masa ketika Rasulullah saw. masih berdakwah sembunyi-sembunyi. Akibatnya, ia seringkali menjadi sasaran pengeroyokan oleh kaum musyrikin Mekkah yang merasa tidak nyaman mendengar berhala-berhalanya dicela.

Bilal bin Rabah ra.
Orang yang mengaku hanyalah seorang hamba Allah yang dahulunya adalah budak Habsyi (Ethiopia) ini sama sekali bukan manusia biasa. Umar ra. menyebut Abu Bakar ra. sebagai "pemimpin kita yang telah memerdekakan pemimpin kita", karena Abu Bakar ra.-lah yang dahulu memerdekakan Bilal ra. dari kehidupannya sebagai budak. Jika Umar ra. pun mengakui kepemimpinan Bilal ra., perlukah kita mempertanyakan lagi kualitas dirinya?

Bagaimana kata Rasulullah saw. tentang Bilal ra.? Sebuah kalimat sederhana cukup untuk menjelaskannya : "Ia masih di sini, sedangkan suara terompahnya sudah terdengar di surga."

Ia adalah budak yang dulunya disiksa dengan amat sadisnya oleh sang majikan karena ketahuan mengikuti agamanya Rasulullah saw. Saking beratnya siksaan itu, sampai-sampai mereka yang menyiksa pun sudah merasa bosan menyiksanya. Ketika disiksa, ia hanya berkata-kata lirih : "Ahad... Ahad... Allaahu ahad..." Siapa sangka ucapan itu akan menjadi yel-yel umat Islam ketika Perang Badar berkecamuk?

Bilal ra. dikenal sebagai muadzin pertama dalam sejarah Islam. Ia tetap menjadi hingga Rasulullah saw. wafat. Setelah itu, ia hanya sekali melantunkan adzan, yaitu ketika Umar ra. (saat itu menjabat Khalifah) datang khusus untuk memintanya menjadi muadzin. Ketika Bilal ra. mengumandangkan adzan saat itu, semua yang pernah berjuang bersama Rasulullah saw. menangis, dan yang paling keras tangisannya adalah Umar ra.

* * * * * * *

Keempat tokoh di atas ini adalah teladan yang amat baik bagi umat Islam. Tanpa mengecilkan arti para sahabat Rasulullah saw. yang lainnya, perlu saya garisbawahi di sini bahwa masing-masing mereka menjadi perlambang dari empat sifat penting yang harus kita teladani, yaitu :
  1. Mush'ab bin Umair ra. adalah lambang dari totalitas komitmen terhadap agama.
  2. Salman al-Farisi ra. adalah lambang dari kegigihan dalam mencari kebenaran.
  3. Abu Dzar al-Ghifari ra. adalah lambang dari kegagahberanian di jalan yang benar.
  4. Bilal bin Rabah ra. adalah lambang dari kerendahan hati seorang hamba.
Semoga kita bisa menyimpan kenangan tentang mereka dalam hati kita yang terdalam.

wassalaamu'alaikum wr. wb.

11 CommentsChronological   Reverse   Threaded
wirdayanti wrote on Mar 10, '07
Semoga kita bisa menyimpan kenangan tentang mereka dalam hati kita yang terdalam.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aminn.....
caksafa wrote on Mar 10, '07
akmal said
Semoga kita bisa menyimpan kenangan tentang mereka dalam hati kita yang terdalam.
amin... Ya Rabb!!!
ianaja wrote on Mar 10, '07
yup, they are the real fantastic four.
mizakisakina wrote on Mar 10, '07
Salman al farisi dan abu Dzar al ghifari suka ketukar karakternya sama saya...
himma wrote on Mar 10, '07
aku juga suka banget dg buku itu dan sejak mbaca buku itu jadi semangat utk mbaca buku yg lain.
sbara wrote on Mar 10, '07
akmal said
Semoga kita bisa menyimpan kenangan tentang mereka dalam hati kita yang terdalam.
Amiin...Amiin...
arvenda wrote on Mar 10, '07
dari kecil 4 favoriteku ya 4 khulafaur-rasyidin itu, karakter yg jauh berbeda tapi saling melengkapi dan bersatu.. subhanallah..
*jd pengen baca2 lg kisah para sahabat, thx bro!
akmal wrote on Mar 12, '07
arvenda said
dari kecil 4 favoriteku ya 4 khulafaur-rasyidin itu, karakter yg jauh berbeda tapi saling melengkapi dan bersatu.. subhanallah..
*jd pengen baca2 lg kisah para sahabat, thx bro!
kalo khulafaurrasyidin udah terlalu beken... :D
sariazmita wrote on Mar 12, '07
Amiiin
nugrahas wrote on Sep 4, '07
antara kita dan mereka seperti ayam dan sapi. segemuk2 ayam nggak akan lebih besar dari sekurus2 sapi. salam
akmal wrote on Sep 4, '07
antara kita dan mereka seperti ayam dan sapi. segemuk2 ayam nggak akan lebih besar dari sekurus2 sapi. salam
wow, analogi yang lucu, unik, but nevertheless, true... :D
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help