Blog EntryCara Mereka Menghentikan PerdebatanMar 21, '07 3:57 AM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Salah satu modus operandi yang sering digunakan oleh kaum provokator pada umat Islam adalah dengan menghentikan segala perdebatan yang merugikan dirinya sendiri dengan berbagai alasan. Pada dasarnya inilah bentuk pelarian yang mereka gunakan agar perdebatan segera berhenti, lantaran mereka sendiri sudah kehabisan argumen untuk dikemukakan.

Apa kata seorang liberalis ketika mengomentari artikel Adian Husaini yang berjudul “Mengajak Jalaluddin Rakhmat Bertobat”? Komentarnya sederhana saja, kira-kira begini : “Memangnya Adian Husaini itu sudah merasa lebih saleh daripada Kang Jalal, kok bisa-bisanya dia mengajak bertaubat?” Komentar yang amat sederhana, jelas motifnya, dan begitu ringan bobot keilmiahannya.

Pertama, ia bahkan tidak merasa perlu mengomentari isi dari artikel tersebut. Dalam artikel tersebut Adian Husaini menggarisbawahi dengan jelas betapa Jalaluddin Rakhmat telah menggunakan kata-kata ulama lain sebagai pembenaran bagi konsep ‘pluralisme’-nya. Parahnya lagi, telah dibuktikan pula secara ilmiah bahwa kata-kata ulama yang disitir itu ternyata sama sekali tidak bermakna seperti yang dikatakan oleh Kang Jalal. Hal ini persis sama seperti modus operandi Nurcholis Madjid yang seringkali mengutip kata-kata yang menurutnya berasal dari Ibnu Taimiyah, padahal tidak demikian adanya. Sama pula seperti uraian Ahmad Syafii Maarif yang mengatakan bahwa Hamka dalam Tafsir al-Azharnya membenarkan paham ‘persamaan agama’, padahal siapa pun yang membaca bagian pendahuluan dari tafsir tersebut akan menyadari bahwa Hamka sama sekali tidak berpendapat demikian. Dari sini, pembelaan terhadap Jalaluddin Rakhmat hanyalah klaim emosional belaka yang tidak pantas dibawa ke dalam sebuah forum ilmiah. Kalau ada hukuman penjara untuk sikap tidak ilmiah, maka orang yang mengajukan argumen sekonyol ini harus dihukum seumur hidup.

Kedua, mengajak bertaubat sama sekali tidak ada hubungannya dengan perbedaan tingkat kesalehan antara orang yang mengajak dan yang diajak. Selain karena kesalehan pribadi itu sebenarnya tidak diketahui oleh siapa pun selain Allah SWT, sejarah pun telah membuktikan bahwa prinsip yang demikian itu tidak pernah dibenarkan dalam Islam. Abu Bakar ra. ketika diangkat menjadi khalifah berpesan agar rakyatnya segera mengoreksinya (atau menyerunya agar bertaubat) jika ia memerintahkan sesuatu yang melanggar aturan Allah. Umar ra. tidak malu-malu mengakui kesalahannya ketika dikoreksi oleh seorang ibu yang sudah renta. Padahal, Abu Bakar ra. dan Umar ra. adalah dua dari sepuluh sahabat Rasulullah saw. yang paling utama dan dijamin masuk surga. Sebenarnya manusia itu adalah tempatnya lupa. Bisa jadi seorang ulama terlupa akan suatu hal yang sebenarnya amat kecil. Jika ada tukang becak yang menasihati seorang ulama, apakah tukang becak itu akan dianggap kurang ajar? Tentu saja tidak! Hanya orang-orang yang akalnya sudah terjangkiti oleh virus feodalisme saja yang berpikir seperti demikian.

Inilah salah satu cara mereka untuk menghentikan perdebatan. Mereka tidak mau orang-orang melihat kelemahan mereka, oleh karenanya mereka langsung membelokkan perdebatan. Tidak pernah sekalipun – dalam kesempatan apa pun – saya pernah mendengar Adian Husaini mengaku lebih saleh daripada Jalaluddin Rakhmat. Meski demikian, hal itu tidak membuat ajakannya untuk bertaubat menjadi lebih tidak valid, bukan? Akan tetapi, sebagian orang lantas membelokkan masalah seolah-olah pihak yang menyeru kepada taubat adalah pihak yang arogan. Padahal yang arogan sebenarnya adalah mereka yang tidak mau mengakui kesalahannya sendiri, meskipun sudah terbukti dengan amat jelas dan ilmiah.

Salah satu metode tipikal lainnya yang mereka gunakan untuk menghentikan perdebatan adalah dengan mengatakan : “Mengapa Anda merasa sebagai representasi Islam yang sesungguhnya?” Marilah kita berpikir jernih barang sejenak untuk menimbang bobot argumen semacam ini.

Pada hakikatnya perdebatan antarulama tidak pernah memunculkan kata-kata semacam, “Kalau mau tahu Islam yang sebenarnya, ikutilah saya!”, atau “Sayalah yang benar, lain tidak!” Ucapan-ucapan semacam ini hanya lahir dari pemikiran yang rahbaniyyah (kerahiban), bukan rabbaniyyah. Padahal, Islam tidak mengenal konsep kerahiban.

Kebenaran bukanlah milik siapa-siapa selain Allah SWT. Ketika Newton menemukan gaya gravitasi, apakah ia dianggap telah dengan sangat kurang ajarnya mengklaim hak atas keberadaan gravitasi tersebut? Tentu tidak! Newton hanyalah seorang ilmuwan yang menghabiskan waktunya dalam keasyikan mengamati hukum-hukum yang telah digariskan oleh Allah. Pada suatu hari yang amat berbahagia, ia berhasil mengenali sebuah fenomena yang sudah ada sejak dahulu kala, yaitu gravitasi. Akan tetapi, gravitasi bukanlah miliknya, dan tidak akan pernah menjadi milik siapa pun selain Allah.

Umat Islam dibekali dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Masing-masing kita diperintahkan untuk berkhidmat mempelajari keduanya. Dalam perkembangannya, para ulama pun berbeda pendapat dalam memahami dalil-dalil tersebut. Jika seorang ulama mengemukakan suatu pendapat berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits, apakah ia akan disebut sebagai manusia yang lancang dan mengklaim kebenaran sebagai miliknya sendiri? Sudut pandang semacam inilah yang mesti diubah. Orang yang lancang adalah mereka yang mengabaikan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Justru kerendahan hati di hadapan Allah-lah yang membuat para ulama selalu ‘kembali’ pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kesombongan sejatilah yang membuat sebagian manusia merasa tidak memerlukan keduanya.

Ketika mereka berusaha menghentikan perdebatan dengan cara-cara murahan seperti di atas, maka yakinlah bahwa mereka memang sudah benar-benar terdesak. Bersikaplah santai dan tenang, namun jangan berhenti mendesak!

wassalaamu’alaikum wr. wb.


12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
jackreed wrote on Mar 21, '07
Ada juga cara menghentikan diskusi dan dialog (bukan debat) semacam ini:
"Kalian salah, kalian murtad, pergi dari sini, kalau tidak rumah-rumah dan bangunan-bangunan ibadah kalian kami hancurkan, kami bakar."
Ya, sayangnya hal seperti itu masih banyak terjadi.
delfii wrote on Mar 21, '07
akmal said
Bisa jadi seorang ulama terlupa akan suatu hal yang sebenarnya amat kecil. Jika ada tukang becak yang menasihati seorang ulama, apakah tukang becak itu akan dianggap kurang ajar? Tentu saja tidak!
menanggapi tulisan di atas, saya teringat akan sebuah hadits Rasulullah: "Perhatikanlah apa yang ia sampaikan, jangan perhatikan siapa yang menyampaikannya." hadits ini mengisyaratkan bahwa sebuah nasihat yang baik, sudah sepatutnya didengarkan, tidak penting apakah orang yang menyampaikannya tua, muda, sebaya, pengusaha, orang-orang yang berpengaruh, pedagang, petani, ataupun tukang becak seperti yang disebutkan di atas.
indrayogi wrote on Mar 21, '07
delfii said
saya teringat akan sebuah hadits Rasulullah: "Perhatikanlah apa yang ia sampaikan, jangan perhatikan siapa yang menyampaikannya."
Undzur maa qaala wala tandzur man qaala ? sejauh yang saya tahu, ungkapan ini bukan hadits tetapi perkataan dari sahabat Ali RA....maaf intermezo sedikit :)
wahyu25 wrote on Mar 21, '07, edited on Mar 21, '07
Ada juga cara menghentikan diskusi dan dialog (bukan debat) semacam ini:
"Kalian salah, kalian murtad, pergi dari sini, kalau tidak rumah-rumah dan bangunan-bangunan ibadah kalian kami hancurkan, kami bakar."
Ya, sayangnya hal seperti itu masih banyak terjadi.
Yakin pernah ikut diskusi semacam itu ?
Gak boleh bohong yaaaaa
delfii wrote on Mar 22, '07
Undzur maa qaala wala tandzur man qaala ? sejauh yang saya tahu, ungkapan ini bukan hadits tetapi perkataan dari sahabat Ali RA....maaf intermezo sedikit :)
oh ya, syukran intermezonya
akmal wrote on Mar 22, '07
Ada juga cara menghentikan diskusi dan dialog (bukan debat) semacam ini:
"Kalian salah, kalian murtad, pergi dari sini, kalau tidak rumah-rumah dan bangunan-bangunan ibadah kalian kami hancurkan, kami bakar."
Ya, sayangnya hal seperti itu masih banyak terjadi.
kalaupun ada, herannya yg kena getahnya justru yg ga terlibat... lucu aja ngeliat Jusuf Kalla dulu ngasi cap ekstremis pada Sayyid Quthb dan Hasan al-Banna sampe ada niatan ngelarang buku2nya, padahal kedua tokoh itu kagak ada ekstrem2nya sama sekali... selanjutnya ada 2 keanehan :

1. anti sama Hasan al-Banna dan Sayyid Quthb tapi bungkam sejuta bahasa ketika Yusuf al-Qaradhawi mampir, padahal beliau kan hasil tarbiyah mrk juga... :)

2. kalo sampe pemikiran2 Hasan al-Banna dan Sayyid Quthb dilarang beredar, maka saya yakin Islamic Book Fair 2007 kemarin bakal sepiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii hahahaha
akmal wrote on Mar 22, '07
delfii said
menanggapi tulisan di atas, saya teringat akan sebuah hadits Rasulullah: "Perhatikanlah apa yang ia sampaikan, jangan perhatikan siapa yang menyampaikannya." hadits ini mengisyaratkan bahwa sebuah nasihat yang baik, sudah sepatutnya didengarkan, tidak penting apakah orang yang menyampaikannya tua, muda, sebaya, pengusaha, orang-orang yang berpengaruh, pedagang, petani, ataupun tukang becak seperti yang disebutkan di atas.
saya kurang sepakat dgn kata2 itu, krn tergantung konteksnya... kalo kita punya waktu ada baiknya mendengarkan kata2 semua orang, mencernanya, lalu mengambil yg baik2nya... tapi seringkali hal itu cuma menghabiskan waktu saja... misalnya ada ceramah yg dibawakan oleh Ulil Abshar Abdalla, apakah saya mesti mendengarkan? tergantung... kalo ada waktu atau memang sengaja ingin menyelami pola pikirnya, gak ada salahnya... tapi secara umum sih masih banyak hal lain yg lebih konstruktif daripada mendengarkan kata2 Ulil... jadi kemungkinan besar saya akan ngeloyor saja pergi tanpa perlu pusing dia berkata benar atau tidak... :)
delfii wrote on Mar 22, '07
akmal said
saya kurang sepakat dgn kata2 itu, krn tergantung konteksnya... kalo kita punya waktu ada baiknya mendengarkan kata2 semua orang, mencernanya, lalu mengambil yg baik2nya... tapi seringkali hal itu cuma menghabiskan waktu saja... misalnya ada ceramah yg dibawakan oleh Ulil Abshar Abdalla, apakah saya mesti mendengarkan? tergantung... kalo ada waktu atau memang sengaja ingin menyelami pola pikirnya, gak ada salahnya... tapi secara umum sih masih banyak hal lain yg lebih konstruktif daripada mendengarkan kata2 Ulil... jadi kemungkinan besar saya akan ngeloyor saja pergi tanpa perlu pusing dia berkata benar atau tidak... :)
Lha, ini kan konteksnya jika ada nasihat pendek. Contoh kecil, ketika di perjalanan, tanpa sengaja kita menjatuhkan sampah, lalu ada yang mengingatkan. Kita ga tau kan siapa yang mengingatkan (orang baik-baik atau tidak). Siapa suruh dengerin ceramah Ulil Abshar Abdalla? he3x
akmal wrote on Mar 24, '07
delfii said
Lha, ini kan konteksnya jika ada nasihat pendek. Contoh kecil, ketika di perjalanan, tanpa sengaja kita menjatuhkan sampah, lalu ada yang mengingatkan. Kita ga tau kan siapa yang mengingatkan (orang baik-baik atau tidak). Siapa suruh dengerin ceramah Ulil Abshar Abdalla? he3x
nah betul, makanya tergantung konteks.... :)
testlah wrote on Mar 29, '07, edited on Mar 29, '07
gmn dg menghentikan perdebatan di :

http://rony.dgworks.net/2006/06/22/jogja-bangkit-alat-anti-gempa/
testlah wrote on Mar 29, '07
OOT : Gmn kabar kang yudi wahyudin ya kang akmal ? K'Yudi WASDAL

akmal wrote on Mar 29, '07
testlah said
OOT : Gmn kabar kang yudi wahyudin ya kang akmal ? K'Yudi WASDAL

ente siapa ya...?
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help