
assalaamu'alaikum wr. wb.
Mungkin banyak yang masih kurang menyadari betapa kita hidup di negeri yang sedang dilanda melankoli. Bukan hanya karena warganya yang cenderung melankolis, namun juga karena memang ada pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja menyebarkan virus 'mendayu-dayu' ini. Akibatnya, kita melihat begitu banyak manusia yang sudah terlalu mati untuk dibilang hidup, namun juga masih terlampau hidup untuk diklaim sebagai jenazah. Merekalah orang-orang yang hidup dalam dunianya sendiri ; dalam kungkungan dinding-dinding ratapan yang diciptakannya sendiri, sekedar untuk menikmati tikaman demi tikaman siksaan yang dirancangnya khusus untuk dirinya sendiri. Jangan tanya kenapa, karena saya juga masih meraba-raba. Yang jelas, batas antara pedih dan nikmat itu nampaknya (bagi sebagian orang) memang sedikit.
Konon, menangis itu memang membuat kecanduan. Menangis itu memang seringkali membuat lega, jika dilakukan ketika kita meminta maaf dengan penuh penyesalan kepada orang yang teramat kita cintai, atau ketika dengan penuh kerendahan diri memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa. Anda bisa melihat sendiri kelapangan hati yang terpancar dari mata mereka yang rutin menangis di akhir malam bersama Rabb-nya. Jika rasa pedih dalam hati membuat jiwa terhubung dengan Sang Ilah, maka kenikmatanlah yang akan datang. Akan tetapi jika tangisan semata-mata muncul atas nama pedih, maka kepedihan pulalah yang akan datang dan datang lagi. Sayangnya, jenis yang terakhir ini banyak dipraktekkan oleh manusia.
Istilah 'curhat' muncul belum begitu lama, dan nampaknya masih akan terus dipakai oleh kaum remaja yang biasanya paling gamang menghadapi hidup dan segala perubahan dalam dirinya. Jika dahulu hanya ada orang tua, saudara, guru dan teman, maka kini muncul pula rasa tertarik pada lawan jenis, dan tiba-tiba muncul serangkaian perasaan terluka yang tidak mudah terhapus. Maka kaum remaja pun merasa perlu mencurahkan isi hati mereka pada orang yang dipercayanya. Banyak yang menyangka hal ini akan memberikan solusi, namun nampaknya curhat malah semakin mengurung mereka dalam dunia melankolinya sendiri.
Pasalnya, curhat tidaklah ekivalen dengan 'diskusi' atau 'meminta nasihat'. Manusia terbiasa memilih-milih tempat curhatnya sedemikian rupa sehingga ia bisa mendapatkan jawaban yang ingin didengarnya. Tidak ada yang mau disalahkan dalam curhat. Mereka hanya butuh telinga yang mau mendengar dan mendengar, sehingga ia bisa mendapatkan rasa nyaman dan mampu memaklumi dirinya sendiri. Sudah bukan rahasia lagi bahwa manusia memang jauh lebih mahir dalam meminta dimaklumi daripada memaklumi orang lain. Kalau sudah begini, manusia pun larut dalam emosinya sendiri, dan terpenjara dalam dunia yang diciptakannya sendiri.
Orang yang sudah terpenjara, wawasannya tidak akan jauh dari dinding-dinding yang mengurungnya. Mereka yang mengurung dirinya sendiri dalam kemalangan merasa bahwa seisi dunia ini tercipta dari serangkaian kenaasan ; sebuah reaksi berantai dari satu musibah ke musibah lainnya. Matanya sudah tidak lagi mampu menjangkau keindahan di dunia, dan segalanya menjadi hilang rasa, kecuali sakit dan sakit saja.
Barangkali semua orang boleh merasa berhak untuk larut dalam kepedihannya sendiri, atau merasa bahwa hidupnya memang terlalu berat untuk dijalani. Akan tetapi, siapakah dia yang berani berkata bahwa hidup manusia hanya untuknya sendiri? Di dunia ini masih banyak sekali hal yang lebih penting daripada menuruti kesedihan sendiri, namun banyak yang gagal menyadarinya.
Jika dulu Indonesia dikenal sebagai produsen lagu-lagu cengeng, maka nyalakanlah TV, dan Anda tidak akan kesulitan menemukan evolusi berikutnya dari kecengengan masyarakat. Sinetron produksi dalam negeri tidak pernah bisa menjual lebih daripada sekedar eksploitasi kecengengan itu sendiri. Tokoh-tokohnya dirancang sedemikian rupa dengan karakter yang teramat lemah, mudah goyah, gampang panik, sering bingung, cenderung pasrah, dan lembek seperti agar-agar. 'Ketabahan' dalam kosa kata perfilman Indonesia adalah kemampuan diri untuk menerima segala gangguan orang lain dan bersabar dalam menunggu campur tangan takdir untuk memperbaiki keadaan. Ketabahan adalah melankoli dan kepasifan. Begitulah yang diajarkan kepada para pemirsa.
Lebih memprihatinkan lagi jika melihat trend jaman sekarang, ketika televisi berusaha merebut pemirsa kelas remaja. Mereka dicekoki oleh film-film bermutu rendah yang menggambarkan intrik-intrik perebutan lawan jenis (baca : pacar) di sekolah yang berlangsung sedemikian sengit dan kejamnya. Sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah sekolah itu memang tidak ada esensinya selain untuk mencari pasangan untuk bersama-sama mendekati zina. Akhirnya, hidup kaum remaja jaman sekarang pun semakin mendekati 'realita' versi sinetron : begitu berat dan menyedihkan.
Belilah koran, dan saksikanlah sendiri bentuk-bentuk kegoyahan jiwa dimana-mana! Ada yang bunuh diri karena tak tahan hidup miskin, ada yang minum obat nyamuk lantaran dipecat, ada yang gantung diri karena putus cinta, ada yang menembak kepala sendiri karena tidak masuk akademi yang didamba-dambakannya. Sebenarnya ada jutaan manusia di dunia ini yang pernah mengalami pemecatan, putus cinta, atau gagal masuk sekolah impian. Akan tetapi, hanya mereka yang cengeng sajalah yang tidak mampu melihat ke luar 'dinding penjaranya' sendiri.
Sedikit saja yang menyadari bahwa negeri ini benar-benar telah terguncang oleh kecengengan penduduknya. Sebenarnya sekarang ini sama sekali bukan waktu yang tepat untuk mengeluh. Musibah dan bencana alam bukanlah pertanda bahwa bangsa ini mutlak dikutuk, melainkan bisa pula ditafsirkan sebagai titik awal dari sebuah kebangkitan.
Banyak yang bilang : "Negeri tetangga maju karena alamnya keras, sedangkan negeri kita tertinggal karena alamnya terlalu ramah." Sekarang, alam sudah semakin rajin 'mengamuk'. Apa lagi yang ditunggu? Sekaranglah saatnya untuk maju! Sekaranglah waktu yang tepat untuk meninggalkan segala kebiasaan
jahil di masa lalu! Sekaranglah waktunya untuk optimis dan terus optimis.
Sejujurnya, saya sudah amat lelah dengan semua pesimisme!
wassalaamu'alaikum wr. wb.