Blog EntrySyariat Islam : Antara Fakta dan OpiniJan 24, '05 10:23 PM
for everyone
assalaamu'alaikum wr. wb.

Salah satu kesulitan terbesar dalam berargumen yang sehat, ilmiah dan memuaskan disebabkan karena sulitnya mengidentifikasi mana yang fakta dan mana yang opini. Debat tidak akan pernah selesai kalau kita cuma saling melontar opini, karena opini ada sebanyak jumlah manusia di muka bumi. Sebaliknya, kita mesti belajar pada para ilmuwan dan ahli di bidang sains yang dalam perdebatan-perdebatannya cenderung lebih suka kepada fakta daripada opini. Alhasil, perdebatan-perdebatan mereka biasanya berakhir dengan baik, kebenaran teridentifikasi, and no hard feeling...

Susahnya, yang menguasai dunia adalah para politikus, para ahli di bidang bercuap-cuap dan jago merangkai kata. Tidak ada tempat tersisa untuk para ahli ilmu alam yang akan mengajarkan kita untuk berbicara terus terang, tanpa tendensi khusus, tanpa hidden agenda, dan tanpa kata-kata bersayap.

Bagi sebagian orang, susah sekali untuk membedakan mana yang opini dan mana yang fakta. Kalau ada 1 orang yang bilang "A", maka kemungkinan besar akan ada orang lain yang bilang "A" tanpa mengecek kebenarannya. Padahal, "A" bisa jadi "B", karena memang cuma opini, dan siapa pun berhak punya opini berbeda.

Berendam di sungai ketika subuh di daerah Puncak biasanya dianggap sebagai pekerjaan yang akan mengakibatkan badan kita kedinginan. Bagi orang Jakarta yang biasa dengan udara panas mungkin memang demikian, tapi belum tentu bagi orang lain. Bagi orang-orang yang tinggal di daerah itu, barangkali mandi di sungai subuh-subuh itu biasa saja. Barangkali nenek-nenek pun bisa demikian. Apalagi bagi orang Eskimo, barangkali air yang kita bilang "dingin" cuma dibilang "sejuk" oleh mereka.

Itulah relativitas. Karena susahnya menyamakan opini semua orang, muncullah matematika. Para ahli menyederhanakan semuanya dalam angka. Angka saja tidak cukup, karena cuma menggambarkan kuantitasnya saja, lalu muncullah satuan. Kita tidak akan beres berdebat tentang air yang "dingin" atau "sejuk", karena itu tergantung pada siapa yang mengatakannya. Dengan adanya satuan Celcius, maka kita tidak perlu berdebat kusir. Tinggal taruh termometer, lalu kita dapatkan suhu air itu sekian derajat Celcius. Tidak ada yang berdebat lagi, karena satuan itu sudah disepakati.

Perdebatan tentang rokok, minuman keras dan narkoba pun tidak bisa selesai-selesai karena kita gagal mengidentifikasi fakta dan opini. Sebagian orang suka mengkonsumsi rokok, minuman keras dan narkoba, sebagian lagi tidak. Tapi "suka" dan "tidak suka" itu cuma opini, dan sampai kiamat pun perdebatan ini tidak akan selesai. Kalau saja kita berbicara dengan fakta, maka perdebatan ini tidak akan terlalu panjang. Rokok jelas merugikan, bukan hanya perokok, tapi orang-orang di sekitarnya juga. Ia hanya menebar penyakit. Tidak perlu susah-susah untuk mengambil kesimpulan bahwa rokok mesti dilarang. Demikian juga halnya dengan minuman keras (penyebab kecelakaan lalu lintas nomor satu di negara-negara maju) dan narkoba (apa perlu argumen soal yang satu ini?).

Kalau saja kita mau bicara fakta, sudah pasti ketiga barang haram itu sudah dilarang sejak dulu-dulu. Tidak pernah ada untungnya mengkonsumsinya. Kalau pun ada, maka kerugiannya jauh lebih besar. Memang industri rokok telah menghidupi banyak orang, tapi cobalah lihat ke jalanan. Orang-orang yang tidak punya uang menghabiskan pendapatannya dalam jumlah besar untuk rokok, bukan untuk beli makan untuk anak-istri. Akhirnya mereka semakin miskin. Apa gunanya rokok bagi kita?

Perdebatan tentang Syariat Islam pun berkembang menjadi debat kusir yang tidak ada gunanya. Banyak orang menentangnya hanya karena mendengar nama "Islam"-nya saja. Jika demikian, kenapa kita tidak menentang hukum yang sekarang kita gunakan? Hukum yang kita gunakan sekarang ini adalah warisan Belanda, warisan bangsa-bangsa Eropa yang selalu dipengaruhi oleh putusan Gereja. Kenapa kita harus tunduk pada hukum Gereja?

Perdebatan soal Syariat Islam tidak pernah menyentuh isinya, namun hanya berkutat pada kulitnya saja. Syariat Islam dikatakan pasti akan merusak keharmonisan umat beragama, tapi apa buktinya? Apakah orang-orang yang bicara itu sudah mempelajari Syariat Islam secara keseluruhan? Saya yakin tidak.

Sebagian orang mengenal Syariat Islam sebatas "kalau mencuri, potong tangannya". Padahal untuk memotong tangan seorang pencuri, tentu butuh bukti-bukti, saksi, peradilan, hakim, dan ada juga hal-hal lainnya. Misalnya jika seorang buruh pabrik mencuri, namun alasannya karena pengelola pabrik itu belum membayar upahnya selama sebulan, maka hukum potong tangan tidak akan dilaksanakan. Sebaliknya, pengelola pabrik-lah yang bersalah.

Sebagian orang lagi mengatakan bahwa Arab Saudi yang menjalankan Syariat Islam pun sampai sekarang tidak maju-maju. Mereka maju karena memiliki cadangan minyak, itu saja. Ini pun opini yang keblinger. Arab Saudi tidak menjalankan Syariat Islam. Sistem kerajaan tidak pernah ada dalam ajaran Islam. Dalam Islam, pemimpin harus dipilih berdasarkan kemampuan, bukan keturunan. Apa yang dilakukan oleh Arab Saudi adalah pelanggaran terhadap ajaran Islam, dan karenanya, kita tidak boleh menjadikan Arab Saudi sebagai parameter keberhasilan Syariat Islam.

Ada juga yang mengkritik kebijakan "hukuman pancung bagi mereka yang membunuh orang lain". Banyak yang bilang bahwa kebijakan ini tidak manusiawi. Mereka yang berkata demikian biasanya bukanlah anggota keluarga korban yang mengalaminya. Bagaimana pun, kita tidak bisa mengharapkan para keluarga korban akan memaafkan si pembunuh, kecuali bila ia telah menerima hukuman yang setimpal. Jika si pembunuh telah dihukum mati, maka bisa dipastikan anggota keluarga korban tidak akan memendam dendam.

Lalu ada yang membahas masalah hukum pancung. Katanya pancung itu kejam, karena banyak darahnya. Mereka kira banyaknya darah berbanding lurus dengan kekejamannya. Padahal, kalau dipancung, ia hanya akan menderita sepersekian detik sebelum mati. Hukuman mati dengan regu tembak bahkan bisa memakan waktu 7 menit sejak ditembakkannya peluru hingga tewasnya si terhukum. Hukuman kursi listrik juga memakan waktu sekitar setengah sampai satu menit. Hukuman kamar gas bisa bermenit-menit, karena ia bisa saja menahan napasnya dulu, sebelum akhirnya menghirup gas tersebut. Demikian juga hukum gantung. Dari sisi si terhukum, tidak ada hukuman yang lebih baik daripada hukum pancung. Sayang, fakta ini tidak diperhatikan oleh orang-orang yang terlalu sibuk dengan opininya masing-masing.

Jadi, alasan apa lagi yang akan kita kemukakan untuk menolak Syariat Islam? Saya harap fakta, bukan opini....

wassalaamu'alaikum wr. wb.

Comment deleted at the request of the thread owner.
Comment deleted at the request of the thread owner.
badruttamamgaffas wrote on Jul 8
Salam ukhuwah, Dukungan untuk Perjuangan Syariah di Bumi Nusantara

Syariat Islam harus diperjuangkan secara konstitusional agar menjadi hukum positif dan siap untuk diterapkan, Kita harus senantiasa optimis dan mendukung perjuangan ini ...Hukum Belanda saja bisa begitu lama diterima di negeri ini apalagi Hukum Allah dalam tertuang dalam Syariat-Syariat -NYA...Wallahu A'lam
akmal wrote on Jul 9
Salam ukhuwah, Dukungan untuk Perjuangan Syariah di Bumi Nusantara

Syariat Islam harus diperjuangkan secara konstitusional agar menjadi hukum positif dan siap untuk diterapkan, Kita harus senantiasa optimis dan mendukung perjuangan ini ...Hukum Belanda saja bisa begitu lama diterima di negeri ini apalagi Hukum Allah dalam tertuang dalam Syariat-Syariat -NYA...Wallahu A'lam
Allaahu akbar !!!
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help