Blog EntryAl-Qur'an Dalam Hidup KitaJul 9, '05 7:09 AM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Dengan menyebut nama Allah, Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim.  Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.  Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim.  Penguasa di Hari Akhir.  Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.  Tunjukilah kami pada jalan yang lurus.  (Yaitu) jalan orang-orang yang Engkau beri rahmat, dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan orang-orang yang tersesat.  Q.S. Al-Fatihah [1] : 1 – 7

Al-Qur’an diawali dengan penyebutan nama Allah dengan dua sifat-Nya yang amat menonjol, yaitu Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim (biasa diterjemahkan sebagai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang).  Setelah itu, kita memuji Allah dengan segala pujian yang hanya pantas bagi-Nya, karena Dia-lah Rabb bagi seluruh alam yang memiliki sifat-sifat yang mulia.  Allah jugalah Sang Penguasa Hari Akhir, yaitu hari ketika setiap manusia menghadap Rabb-nya untuk mempertanggungjawabkan hidupnya di dunia.  Karena itu, pantaslah kiranya jika kita berikrar bahwa hanya kepada Allah-lah kita menyembah dan memohon pertolongan.  Jika Allah tidak memberikan petunjuk kepada kita, niscaya sesatlah kita semua.  Kita amat takut akan murka-Nya dan tidak ingin Allah membiarkan kita tersesat tak tentu arah.

Para pecinta Al-Qur’an akan segera menemukan jawaban konkret dari permohonannya itu.  Jika kita melanjutkan bacaan, maka seolah-olah Allah membimbing lidah kita untuk mengajukan permohonan yang benar pada-Nya, kemudian segera memberikan jawaban yang kita butuhkan.  Permohonan tersebut tercakup dengan manis di dalam surah Al-Fatihah, dan jawaban yang muncul kemudian pun benar-benar mencukupi segala kebutuhan kita.

Alif Laam Miim.  (Itulah) Al-Kitab yang tiada keraguan di dalamnya, (sebagai) petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.  Q.S. Al-Baqarah [2] : 1 – 2

Setelah kita menyebut nama Allah, memuji-Nya, memohon kasih sayang-Nya, berikrar sebagai hamba-Nya karena Dia-lah Sang Penguasa Hari Akhir, kemudian memohon petunjuk pada jalan yang lurus, maka Allah segera menginformasikan petunjuk yang kita minta-minta itu.  Sebuah petunjuk yang serba lengkap dan tidak akan menyesatkan jika kita benar-benar berhati-hati mencermati dan mengikutinya.  Petunjuk itu adalah Al-Qur’an itu sendiri.

Jangankan kekeliruan, bahkan keraguan pun tidak pantas disandingkan dengan Al-Qur’an.  Berulangkali kaum orientalis berusaha mempertanyakan kebenaran Al-Qur’an, tapi toh selalu gagal.  Oleh karena itu, tidaklah wajar jika seorang Muslim punya setitik pun keraguan terhadapnya.  Kalau ada ayat-ayat tertentu yang belum dipahami, barangkali itu karena pengetahuan kita yang terbatas.

Al-Qur’an adalah petunjuk.  Sederhana saja.  Tidak ada keterangan tambahan.  Artinya, petunjuk tentang segala hal terangkum di dalam Al-Qur’an.  Tidak ada hal yang terlewatkan di dalam Al-Qur’an.  Allah menyampaikan wahyu-Nya yang senantiasa relevan hingga akhir jaman, meskipun peradaban manusia terus berkembang.  Tidaklah wajar jika Al-Qur’an dianggap tidak relevan seiring kemajuan jaman.  Manusialah yang berubah, sedangkan Allah Maha Kokoh kekuasaan-Nya.  Kemajuan manusia tidak pernah lepas dari kendali Allah.  Kalau ada yang berpikir bahwa Allah gagal ‘memprediksikan’ kemajuan manusia, maka logikanya perlu dipertanyakan.  Bahkan istilah ‘prediksi’ pun tidak tepat, karena Allah yang memiliki kekuasaan tak terbatas pastilah Maha Mengetahui tentang segala hal, sehingga tidak memerlukan prediksi apa pun.

Bagaimana pun, Al-Qur’an hanya bisa menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang sangat berhati-hati dalam tindakannya, karena khawatir akan melakukan hal-hal yang tidak diridhai Allah.  Dengan kata lain, di tangan orang-orang yang meremehkan aturan Islam atau orang-orang yang memperlakukan Al-Qur’an sesuai hawa nafsunya saja, bisa dipastikan Al-Qur’an tidak akan berfungsi secara penuh, atau bahkan tidak berfungsi sama sekali.  Hanya orang-orang yang memiliki kerendahan diri di hadapan Allah saja yang bisa memperoleh manfaat dari Al-Qur’an.  Kerendahdirian ini tergambar dengan baik di dalam surah sebelumnya, yaitu Al-Fatihah.  Demikianlah sikap mental seorang manusia yang bertaqwa.

Maka, sebelum menuai manfaat dari Al-Qur’an, ada sikap mental tertentu yang harus kita miliki terlebih dahulu.  Orang atheis yang enggan tunduk pada Allah tidak akan mendapatkan manfaat dari Al-Qur’an, demikian pula orang yang lebih suka menuruti hawa nafsunya dan tidak khawatir akan datangnya Hari Akhir.  Dengan Al-Fatihah, Allah tidak hanya membimbing lidah kita, namun juga mempersiapkan jiwa kita agar siap menerima petunjuk dari-Nya.

Sebuah petunjuk tidak selalu disajikan secara terperinci dan lengkap, namun pastilah mencukupi.  Di jalan tol jagorawi, dari Bogor menuju Jakarta misalnya, ada papan petunjuk "Cibubur 1 km".  Artinya, pintu tol ke daerah Cibubur tinggal 1 km lagi dari papan petunjuk itu.  Namun petunjuk itu tidak menjelaskan berapa banyak pohon yang ada di sisi jalan sebelum sampai pada pintu tol tersebut, atau bagaimana kondisi alam di sekitar pintu tol Cibubur.

Demikian pula halnya dengan Al-Qur’an.  Petunjuk dalam Al-Qur’an sangatlah lengkap dan bisa diaplikasikan dalam segala hal dan urusan manusia.  Sungguh mengherankan sikap sebagian manusia yang menganggap rokok itu halal hanya karena masalah ini tidak pernah disebut-sebut di dalam Al-Qur’an.  Memang kata "rokok" tidak ada sama sekali di dalam Al-Qur’an, namun bukan berarti tidak ada tuntunannya sama sekali.  Nyatanya, di dalam Al-Qur’an dengan mudah dapat kita temui larangan untuk berbuat kerusakan di muka bumi (bukankah rokok merusak lingkungan?), menyakiti orang lain dengan zalim (bukankah perokok pasif sangat dirugikan?), dan larangan melakukan perbuatan yang sia-sia (rokok bukan hanya sia-sia, bahkan merugikan dan tak ada untungnya!).

Al-Qur’an tidak perlu bicara panjang lebar tentang segala sesuatunya.  Dengan kata-kata yang ringkas, Allah menyampaikan prinsip-prinsip yang harus dipegang oleh manusia dalam segala urusannya.  Kalau sekiranya Al-Qur’an harus berbicara detil mengenai segala urusan, maka ketebalannya akan menjadi 1000 kali dari semula, bahkan lebih.  Al-Qur’an tidak pernah bicara panjang lebar, namun selalu cukup.

Namun, Al-Qur’an tidak sama dengan buku installation guide atau troubleshooting yang kita dapatkan ketika membeli peralatan elektronik dan komputer.  Jika kita mengalami masalah karena dibuat kesal oleh teman, misalnya, maka kita tidak bisa mencari-cari jawabannya dengan melihat ke ‘daftar isi’.  Jawabannya tersebar di seluruh Al-Qur’an, dan saling berhubungan dengan tuntunan-tuntunan yang lainnya.

Jika kita bicara tentang etika berteman, misalnya, maka kita pun akan bersinggungan dengan masalah mengatur prasangka di dalam hati, semangat berbuat baik pada sesama, kemampuan mengidentifikasi sifat-sifat teman, bagaimana mempererat silaturahmi, dakwah, dan sebagainya.  Menjelaskan tuntunan-tuntunan Allah secara tematis sangatlah tidak sederhana, dan itulah tugas para ulama yang memiliki kemampuan di bidang itu.

Agar kita bisa segera menemukan jawaban dari seluruh masalah kita, maka tidak ada jalan lain, kita harus berusaha menghapalkannya.  Hal ini dilakukan agar Al-Qur’an tidak pernah lepas dari benak kita.  Ketika kita menyaksikan suatu fenomena, dengan segera akal kita mengasosiasikannya dengan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’an.  Ketika kita mengalami suatu masalah, maka kita akan segera ingat dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai masalah tersebut.  Demikianlah cara kita mencari petunjuk di dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah petunjuk yang mencukupi segala kebutuhan kita.  Tidak sepantasnya kita meletakkannya begitu saja di rak dan tidak mengacuhkannya.  Kita perlu meluangkan waktu khusus untuk membaca, menghapalkan dan mencermati ayat-ayat Al-Qur’an.  Al-Qur’an adalah petunjuk hidup yang relevan hingga akhir jaman, namun disajikan hanya dalam 30 juz dan 114 surah.  Semua petunjuk diringkas ke dalam sebuah Kitab, sehingga ada ayat-ayat yang mudah dipahami (eksplisit) dan ada juga yang perlu pemikiran lebih dalam (implisit).  Artinya, meskipun Al-Qur'an itu lengkap, namun tidak selalu mudah untuk dicerna.  Oleh karena itu, simaklah dengan baik!

Seberapa akrabkah Anda dengan Al-Qur’an?

wassalaamu’alaikum wr. wb.



Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help