Blog EntryAnother Twisted Logic by Syafii MaarifApr 29, '08 4:28 AM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

 

Terus terang saya tidak paham mengapa Republika harus terus mempertahankan Syafii Maarif sebagai narasumbernya di kolom Resonansi.  Reputasinya sudah begitu tercemar, sehingga saya pribadi sangat meragukan kapabilitasnya secara akademis.  ‘Dosa’ pertamanya adalah memotong-motong penafsiran Buya Hamka terhadap Q.S. Al-Baqarah [2] : 62, yang sudah sangat sering saya bahas di blog ini.  Kemudian, ia pun secara serampangan bicara soal Ali Ghufron, yang di kemudian hari mempermalukannya melalui sebuah artikel di surat kabar yang sama.  Sekarang, lagi-lagi ia mengambil langkah kontroversial dengan membela Ahmadiyah secara membabi-buta.

 

Catatan pertama yang saya buat adalah bahwa artikel Syafii Maarif yang membela Ahmadiyah ini nyaris bertepatan dengan wawancara Majalah Tempo dengan Amien Rais yang juga mendukung eksistensi Ahmadiyah.  Jadi, ada dua mantan Ketua PP Muhammadiyah yang berpendapat bahwa Ahmadiyah seharusnya dibiarkan hidup tenang.  Agaknya perlu dicatat pula (sebelum ada fitnah) bahwa mendukung pembubaran Ahmadiyah - atau setidaknya mendukung dikeluarkannya jamaah Ahmadiyah dari golongan Muslim - tidaklah sama dengan mendukung kekerasan terhadap jamaah itu dan aset-asetnya.

 

Tentu tidak semua tokoh penting Muhammadiyah sepakat dengan Syafii Maarif dan Amien Rais.  Buya Hamka – tokoh Muhammadiyah yang jauh lebih kharismatik daripada kedua juniornya ini – bersikap sangat tegas terhadap Ahmadiyah ; yaitu bahwa Ghulam Ahmad adalah pembohong, dan ajaran Ahmadiyah berada di luar ajaran Islam.  Akan tetapi, tentu saja, Buya Hamka yang berkepribadian lembut itu tak pernah memprovokasi masyarakat untuk bertindak kejam kepada siapa pun.

 

Track record Syafii Maarif sebagai sebuah akademisi rupanya tidak membantunya untuk memilih argumen yang segar dan fresh from the oven.  Argumennya mudah ditebak ; tidak ada paksaan dalam beragama, bagiku agamaku bagimu agamamu, dan semacamnya.  Dalilnya dari Al-Qur’an, namun pemakaiannya tidak mengindahkan Sunnah barang secuil pun.  Memang benar tidak ada paksaan dalam beragama (laa ikraaha fid-diin), tapi tidak ada kebebasan untuk mengacak-acak ajaran Islam.  Rasulullah saw. tak pernah meruntuhkan Gereja maupun Sinagog, karena Nasrani dan Yahudi adalah agama di luar Islam.  Akan tetapi, berhala-berhala yang ada di sekitar Ka’bah dihancurkan tanpa ampun, dan segala ajaran yang disebut-sebut sebagai warisan Nabi Ibrahim as. padahal penuh khurafat dinyatakan terlarang selamanya.  Dari sini kita dapat mengambil pelajaran dengan jelas bahwa umat Non-Muslim dapat hidup damai dengan umat Islam, namun jangan coba-coba mengaku Islam jika aqidah-nya meleset jauh dari ajaran Rasulullah saw.

 

Simaklah dua paragraf Syafii Maarif di bawah ini :

 

Sepanjang sejarah Islam selama sekian abad, umat yang percaya kepada kemunculan pembaru bukan barang baru, tetapi hanya sebagian tokoh yang memercayainya. Dengan pernyataan ini, posisi saya tentang Ahmadiyah sudah sangat gamblang. Memang dalam beberapa hadis dikatakan tentang akan turunnya nabi Isa sebelum kiamat. Dan katanya, Ghulam Ahmadlah orangnya.

 

Saya sungguh berharap agar hadis-hadis serupa ini diteliti kembali, sebab implikasinya sangat dahsyat. Maksud saya, jika Isa masih harus turun kembali, berarti misi Muhammad gagal. Saya tidak percaya bahwa nabi Isa masih hidup, karena dia adalah manusia biasa yang atas dirinya berlaku sepenuhnya hukum alam: lahir, dewasa, tua, dan mati. Tetapi, Alquran membantah bahwa kematian nabi Isa karena disalib. Masalah ini biarlah tidak diperdebatkan panjang-panjang, sebab saudara-saudara Kristen kita memercayai bahwa Isa mati di kayu salib. Kita tidak perlu memasuki teologi mereka.

 

Pertama, dikatakan bahwa diskusi tentang kedatangan seorang pembaharu adalah cerita lama, dan hanya sebagian tokoh yang mempercayainya.  Kalimat ini sangat misleading, karena perdebatan tentang Ghulam Ahmad sama sekali tidak menyentuh masalah statusnya sebagai seorang pembaharu.  Ghulam Ahmad nyata-nyata mengakui dirinya sebagai seorang Nabi, dan bukan pembaharu.  Memang ada yang menyebutnya sebagai pembaharu, namun sikap kritis harus diterapkan di sini : memangnya pembaharuan apa yang telah dilakukan oleh Ghulam Ahmad?  Apakah mengeruk dana dari hasil ‘hubungan mesra’ dengan Inggris untuk keperluan pembuatan saluran TV-nya itu disebut sebagai ‘pembaharuan’?  Ataukah fatwa anti-jihad ala Ghulam Ahmad itu juga pantas disebut sebagai ‘pembaharuan’?

 

Kedua, Syafii Maarif menyatakan bahwa pendapatnya tentang Ahmadiyah sudah sangat gamblang, padahal sama sekali tidak.  Paragraf berikutnya bahkan semakin membuat pendapatnya semakin tidak jelas, sebagaimana yang akan kita bahas di bawah ini.

 

Ketiga, Syafii Maarif dengan sangat gegabah mengatakan bahwa “jika Isa (tanpa merasa perlu menyebut gelar ‘alaihissalaam-nya) masih harus turun kembali, berarti misi Muhammad (tanpa gelar shallallaahu ‘alaihi wa sallam, atau setidaknya singkatan “saw.”) gagal”.  Ungkapan ini sangat menyedihkan jika harus muncul dari seorang akademisi.  Banyak ulama yang berdebat tentang kedatangan Nabi ‘Isa as. di akhir jaman, namun tak ada yang berpendapat bahwa kedatangan beliau adalah bukti dari kegagalan dakwah Rasulullah saw.  Jika demikian, apakah kedatangan Rasulullah saw. merupakan bukti dari kegagalan Nabi ‘Isa as.?  Dan apakah diutusnya Nabi ‘Isa as. adalah bukti dari kegagalan Nabi Zakaria as. dan Nabi Yahya as.?  Pemikiran semacam ini tak pernah ada dalam benak para ulama sejak dahulu kala, meskipun mereka berbeda pendapat soal kedatangan Nabi ‘Isa as. di akhir jaman.

 

Lagipula, apakah Syafii Maarif memahami misi dakwah Rasulullah saw. yang sebenarnya, sehingga bisa memberi penilaian atas tingkat keberhasilannya?  Jika yang disebut ‘berhasil’ adalah meng-Islam-kan semua penduduk Bumi, maka pendapat ini sangat lemah, karena banyak sekali dalil yang menyebutkan bahwa di akhir jaman akan ada saja yang kafir terhadap Allah SWT.

 

Keempat, Syafii Maarif mengatakan bahwa dirinya tidak percaya bahwa Nabi ‘Isa as. masih hidup, karena beliau adalah manusia yang terbatas oleh hukum-hukum alam.  Pernyataan ini sangat berbahaya.  Memang ada ulama yang memperdebatkan status Nabi ‘Isa as. ; apakah beliau diangkat ke sisi Allah secara fisik dan ruhani, ataukah beliau meninggal secara wajar dan diangkat ruhnya ke sisi Allah.  Akan tetapi, tidak ada yang berani berpikir bahwa Allah SWT tidak sanggup melawan hukum-hukum alam ciptaan-Nya sendiri.  Kalau Allah berkehendak membiarkan Nabi ‘Isa as. tetap hidup dan melawan ‘hukum alam’, apa hak manusia untuk menggugatnya?  Pandangannya ini sangat mirip dengan Nasr Hamid Abu Zayd – Bapak Hermeneutika di dunia Islam yang telah divonis murtad oleh dua ribu orang ulama Mesir – yang mengatakan bahwa perbuatan Tuhan pun harus tunduk pada hukum alam.  Na’uudzubillaah!

 

Kelima, Syafii Maarif menyebutkan bahwa Al-Qur’an membantah pendapat yang mengatakan bahwa Nabi ‘Isa as. mati disalib.  Kemudian, ia menyarankan agar masalah ini tak perlu diperpanjang karena orang-orang Kristen berpendapat bahwa Nabi ‘Isa as. mati disalib, dilengkapi dengan ‘petuah’ agar kita tidak memasuki teologi umat Kristen.

 

Pernyataan sebab-akibatnya pun sudah membingungkan.  Umat Islam tak perlu ragu mengatakan bahwa Nabi ‘Isa as. tidak mati disalib hanya lantaran umat Kristen berpendapat sebaliknya.  Mengapa prinsip laa ikraaha fid-diin dan lakum diinukum wa liyadiin tidak diberlakukan di sini?

 

‘Petuah’ agar kita tidak memasuki teologi umat Kristen pun sangat mengherankan, karena sejak awal pembicaraan umat Islam mengenai Nabi ‘Isa as. yang tidak mati disalib sama sekali tak pernah dimaksudkan untuk memasuki wilayah teologi mereka.  Diskusi antara sesama Muslim seharusnya tidak membuat kuping umat lain panas, karena memang tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka.  Jika pola pikir ‘Islam malu-malu’ ini diterapkan, maka nanti kita tak boleh lagi membicarakan mengenai konsep Tauhidullah demi menenggang rasa umat Kristen yang memegang teguh ajaran Trinitas.  Tidak boleh lagi menganjurkan nikah agar umat Budha tidak merasa canggung untuk menjadi biarawan.  Tidak boleh mengharamkan berhala agar umat Hindu tidak tersinggung.  Tidak boleh menentang Israel agar umat Yahudi tenang hatinya.  Inikah toleransi yang ada dalam benak Syafii Maarif?

 

Kepada saudara-saudaraku yang bekerja untuk surat kabar Republika, mohon sampaikan pertanyaan saya : Buat apa mempertahankan Syafii Maarif?  Buatlah saya paham.  Please!

 

wassalaamu’alaikum wr. wb.


40 CommentsChronological   Reverse   Threaded
yudimuslim wrote on Apr 29
dan hebatnya lagi dia mengaku mantan dari "muhammadiyah" hehehehe
vi3nzz wrote on Apr 29
Pendapat Syafi'i ini mungkin maunya terlihat cerdas dan moderat, tapi malah menjungkirbalikkan predikatnya sebagai ulama.
Sampai berkerut alis saya membacanya, sambil batin..."ulama macam apa dia?"..

*istighfar*

(argumen antum ini sebaiknya langsung dikirim saja ke republika)
achfan wrote on Apr 29
hmmm.......masih tabayyun dulu......
bukan langganan republika masalahnya
hehehehe.......
tapi memang opininya nyerempet2 ke pemikiran JIL.....bukan mau sudzhan....tapi apakah dia juga anggota JIL yah ?
prajuritkecil wrote on Apr 29
gue kirimin ke alamat email wartawan republika ya mal... gimana..?
atau nt kirim sendiri
akmal wrote on Apr 29
dan hebatnya lagi dia mengaku mantan dari "muhammadiyah" hehehehe
masak sih mengaku mantan muhammadiyah? baru denger tuh...
akmal wrote on Apr 29
vi3nzz said
Pendapat Syafi'i ini mungkin maunya terlihat cerdas dan moderat, tapi malah menjungkirbalikkan predikatnya sebagai ulama.
Sampai berkerut alis saya membacanya, sambil batin..."ulama macam apa dia?"..

*istighfar*

(argumen antum ini sebaiknya langsung dikirim saja ke republika)
masih mencari 'salurannya' mbak... :)
akmal wrote on Apr 29
achfan said
hmmm.......masih tabayyun dulu......
bukan langganan republika masalahnya
hehehehe.......
tapi memang opininya nyerempet2 ke pemikiran JIL.....bukan mau sudzhan....tapi apakah dia juga anggota JIL yah ?
cek aja link-link yg ada di artikel ini bos...

anggota JIL secara resmi sih nggak, tapi pemikirannya dah hampir setali tiga uang tuh... :D
akmal wrote on Apr 29
gue kirimin ke alamat email wartawan republika ya mal... gimana..?
atau nt kirim sendiri
kirimin aja mbak, biar heboh... :p
karitasurya wrote on Apr 29
akmal said
Kepada saudara-saudaraku yang bekerja untuk surat kabar Republika, mohon sampaikan pertanyaan saya : Buat apa mempertahankan Syafii Maarif? Buatlah saya paham. Please!
Pertanyaannya idem juga.....
vi3nzz wrote on Apr 29
Baiknya mungkin kita juga masukkin opini ini sebagai thread di berbagai milis.
Sebagai ajakan untuk mewaspadai pendapat nyeleneh, hatta dari tokoh yang dinilai berbasis agama dalam afiliasinya.
Gimana bung akmal ? boleh saya fwd...?
catatankecil wrote on Apr 29
Dalem kajiannya, Bro. Heran. Makan apa sih?
Sampe bisa menganalisa sekeren ini?
Hihihi. Ngiri euy. ^_^
sudjanamihardja wrote on Apr 29

sungguh saya tak kaget lagi atau menganggap satu ke-aneh-an kalau ada:

yang mengatakan ada lagi nabi setelah rasulu-llah muhammad SAW,
yang mengatakan semua agama sama saja,
yang mengatakan quran perlu di "selaraskan" dengan masa dan jaman,
yang mengatakan ahadits bukan landasan dan dasar yang kokoh dalam ajaran islam,
yang mengatakan bahwa ..... etc.

kenapa?

kerna:
seorang abu lahab yang mengenal dengan baik siapa rasulu-llah muhammad SAW, ya wong keponakannya sendiri khan?
seorang abu lahab yang mengerti arti la ilah illa-lLah, tiada seorang ilah yang patut di sembah selain Allah.
seorang abu lahab yang bersumpah didepan abu dzar,
akan kebenaran islam,
akan kebenaran kerasulan keponakannya,
akan kebenaran ayat2 yang diturunkan Allah kepada keponakannya, sehingga sering bersembunyi2 mendengarkan bacaan ayat2 tersebut di tengah2 malam.
tapi... menolak itu semua hanya kerna:
"saya ini pamannya!"
kesombongan, arogan, takabur.

sebaliknya dari islam yang bermana:
menyerahkan diri, merendahkan diri.
demi ilahi diri ini tiada.

akmal wrote on Apr 29
vi3nzz said
Baiknya mungkin kita juga masukkin opini ini sebagai thread di berbagai milis.
Sebagai ajakan untuk mewaspadai pendapat nyeleneh, hatta dari tokoh yang dinilai berbasis agama dalam afiliasinya.
Gimana bung akmal ? boleh saya fwd...?
sejak awal tulisan2 di blog ini memang dimaksudkan utk diforward mbak hehehe... :D
akmal wrote on Apr 29
Dalem kajiannya, Bro. Heran. Makan apa sih?
Sampe bisa menganalisa sekeren ini?
Hihihi. Ngiri euy. ^_^
makan artikel2nya Syafii Maarif... kekekekeke :D
akmal wrote on Apr 29

sungguh saya tak kaget lagi atau menganggap satu ke-aneh-an kalau ada:

yang mengatakan ada lagi nabi setelah rasulu-llah muhammad SAW,
yang mengatakan semua agama sama saja,
yang mengatakan quran perlu di "selaraskan" dengan masa dan jaman,
yang mengatakan ahadits bukan landasan dan dasar yang kokoh dalam ajaran islam,
yang mengatakan bahwa ..... etc.

kenapa?

kerna:
seorang abu lahab yang mengenal dengan baik siapa rasulu-llah muhammad SAW, ya wong keponakannya sendiri khan?
seorang abu lahab yang mengerti arti la ilah illa-lLah, tiada seorang ilah yang patut di sembah selain Allah.
seorang abu lahab yang bersumpah didepan abu dzar,
akan kebenaran islam,
akan kebenaran kerasulan keponakannya,
akan kebenaran ayat2 yang diturunkan Allah kepada keponakannya, sehingga sering bersembunyi2 mendengarkan bacaan ayat2 tersebut di tengah2 malam.
tapi... menolak itu semua hanya kerna:
"saya ini pamannya!"
kesombongan, arogan, takabur.

sebaliknya dari islam yang bermana:
menyerahkan diri, merendahkan diri.
demi ilahi diri ini tiada.

na'uudzubillaah... semoga kita tidak meniru-niru Abu Lahab dalam kekeraskepalaannya.... aamiin... :)
ekakurnia wrote on Apr 29
akmal said
cek aja link-link yg ada di artikel ini bos...

anggota JIL secara resmi sih nggak, tapi pemikirannya dah hampir setali tiga uang tuh... :D
klo masih ada Buya Hamka, mungkin beliau akan memarahi Syaiful Ma'rif atas pemikirannya.
sagalainfo wrote on Apr 29
ya..sepakat ahmadiyah boleh hidup bebas di Indonesia..ASAAALLL......Back to basic quran dan hadist...buang jauh jauh kitab tadzkirohnya.....dan sudahi anggapan mirza ghulam ahmad adalah nabi dan rosul...Insya allah aman....awalnya memang ini agama alat kapitalis inggris untuk emmecah belah umat islam di india.....mungkin pak syafii dan pak amien gak mau keliatan tidak demokratis....demokratis keblinger...
Tapi aku juga Gak setuju...tindakan anarkis..umat...keliatan brangasan....sasaran empuk media...untuk melihat feedback yang negatif dan menimbulkan image buruk...Syukron...
akmal wrote on Apr 29
klo masih ada Buya Hamka, mungkin beliau akan memarahi Syaiful Ma'rif atas pemikirannya.
bukan dimarahi bos, tapi ditokok...

*silakan tanya arti ditokok pada urang awak yo...* :D
sudjanamihardja wrote on Apr 29
ya..sepakat ahmadiyah boleh hidup bebas di Indonesia..ASAAALLL......Back to basic quran dan hadist...buang jauh jauh kitab tadzkirohnya.....dan sudahi anggapan mirza ghulam ahmad adalah nabi dan rosul...Insya allah aman....awalnya memang ini agama alat kapitalis inggris untuk emmecah belah umat islam di india.....mungkin pak syafii dan pak amien gak mau keliatan tidak demokratis....demokratis keblinger...
Tapi aku juga Gak setuju...tindakan anarkis..umat...keliatan brangasan....sasaran empuk media...untuk melihat feedback yang negatif dan menimbulkan image buruk...Syukron...

seandainya mereka menerima dasar dan landasan islam adalah quran dan sunnah rasulu-llah SAW, maka apalah artinya ahmadiyah?
apalah maxud dan tujuan dengan anam ahmadiyah?

cukup islam azza lach, iyya toch?
akmal wrote on Apr 29
ya..sepakat ahmadiyah boleh hidup bebas di Indonesia..ASAAALLL......Back to basic quran dan hadist...buang jauh jauh kitab tadzkirohnya.....dan sudahi anggapan mirza ghulam ahmad adalah nabi dan rosul...Insya allah aman....awalnya memang ini agama alat kapitalis inggris untuk emmecah belah umat islam di india.....mungkin pak syafii dan pak amien gak mau keliatan tidak demokratis....demokratis keblinger...
Tapi aku juga Gak setuju...tindakan anarkis..umat...keliatan brangasan....sasaran empuk media...untuk melihat feedback yang negatif dan menimbulkan image buruk...Syukron...
kalo kembali ke Quran dan hadits, membuang tadzkiroh, menolak Ghulam Ahmad, ya berarti gak perlu pake nama Ahmadiyah toh... kekeke :D
yudimuslim wrote on Apr 29
akmal said
masak sih mengaku mantan muhammadiyah? baru denger tuh...
mkasudnya kak.. "muhammadiyah" = pengikut muhammad..:D
kopralbowo wrote on Apr 29
bentar nie,,,, agak berat ... tapi interest...
ntar gue komen nya yaa .. hehe
yudimuslim wrote on Apr 29
akmal said
*silakan tanya arti ditokok pada urang awak yo...* :D
ciee yang urang awak..:D

ditokok itu bukannya dijitak kak..:D
petreli wrote on Apr 29
yah, media indonesia... ga ada yg netral kan? ato kalo ada pun jarang banget...
kan dikendalikan oleh orang2 tertentu media di negara ini, rahasia umum lah :(
pitra13 wrote on Apr 29, edited on Apr 29
hmmm.. pendapat yang aneh...
seperti yang kehilangan keyakinan...
atau cari aman dibalik kata "demokratis"...
yennys wrote on Apr 29
saya sepenuhnya setuju dengan pendapat akmal, memang harus teliti dalam bermain kata apalagi berupa tulisan yang akan banyak dibaca orang. Saat membaca artikel syafii ini , saya pribadi pun sempat berfikir apa yang mau dicapainya, belum lagi jika artikel tsb dibaca dan diterima tanpa dikritisi .....
akmal wrote on Apr 29
bentar nie,,,, agak berat ... tapi interest...
ntar gue komen nya yaa .. hehe
komen sekarang!!! :D
akmal wrote on Apr 29
petreli said
yah, media indonesia... ga ada yg netral kan? ato kalo ada pun jarang banget...
kan dikendalikan oleh orang2 tertentu media di negara ini, rahasia umum lah :(
tapi Republika masih ada harapan lah... dikiiiiiit... :D
akmal wrote on Apr 29
pitra13 said
hmmm.. pendapat yang aneh...
seperti yang kehilangan keyakinan...
atau cari aman dibalik kata "demokratis"...
tanya aja langsung sama orangnya bos... dia emang kehilangan keyakinan atau cari aman? :D
akmal wrote on Apr 29
yennys said
saya sepenuhnya setuju dengan pendapat akmal, memang harus teliti dalam bermain kata apalagi berupa tulisan yang akan banyak dibaca orang. Saat membaca artikel syafii ini , saya pribadi pun sempat berfikir apa yang mau dicapainya, belum lagi jika artikel tsb dibaca dan diterima tanpa dikritisi .....
prinsip Muhammadiyah kan anti-taqlid, jadi mestinya para generasi muda Muhammadiyah nih yg duluan memprotes sesepuhnya yg satu ini... :)
sufehmi wrote on Apr 29
Ya, beginilah kalau pemikir cuma berani mengikuti opini populer, dan tidak mampu / mau lagi berpikir kritis.

"Membela" Ahmadiyyah = Politically Correct, karena (pick one) [#] politically correct [#] membela yang "tertindas" [#] membela kebebasan beragama [#] dst

Padahal substansi masalahnya sama sekali bukan satupun dari poin-poin itu.
Melainkan fakta bahwa Ahmadiyyah telah membajak agama Islam.

Ini pada tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu ?
He he... :)

Keblinger semua, saya juga kecewa berat dengan Amien Rais (padahal dulu saya coblos dia)
sufehmi wrote on Apr 29
lha "politically correct" nya redundant, hihihi... ketahuan ngetiknya buru-buru :)
pitra13 wrote on Apr 30
akmal said
tanya aja langsung sama orangnya bos..
pengennya begitu... :)
setuju sama yang comment diatas, memang ada pengaburan substansi masalah yang sebenarnya...
wisnuhuhu wrote on Apr 30
di majalah gua,bapak tua yg satu ini pengisi tetap sebuah kolom.heheh.tapi ngga pernah gua baca x)
anpratomo wrote on Apr 30
sufehmi said
Keblinger semua, saya juga kecewa berat dengan Amien Rais (padahal dulu saya coblos dia)
Hehehe ini Hari ya? :D (temen SMA yang gak kulupa nama belakangnya).
Kalo kecewa, next time coblos yang lain aja, yang lebih bisa dipercaya.. :)
Salam buat Helen dan anak2.

P.S. Maaf Mal ada yang numpang reunian di sini :)
tantodikdik wrote on May 1
Cepet banget berubah, ya?
Sayang sekali. :-(
Kang, saya copy, ya... :-)
maydays wrote on May 3
wew, mas akmaaal, kok ana nginvite ga pernah keterima seeeeh.......?
maydays wrote on May 3
akmal said
edua, Syafii Maarif menyatakan bahwa pendapatnya tentang Ahmadiyah sudah sangat gamblang, padahal sama sekali tidak.  Paragraf berikutnya bahkan semakin membuat pendapatnya semakin tidak jelas, sebagaimana yang akan kita bahas di bawah ini.  
betulLLL, yang bagian ini yang ana ga paham di republik[mimpi]a kemarin, letak sikapnya dimana seh...?




sekali lagi, accept dunk invite-anku......!
maydays wrote on May 3
akmal said
Amien Rais yang juga mendukung eksistensi Ahmadiyah. 
Mas nama asliku m. amin rOis juga lhooo.....:D:D:D:P



btw kasih tau dunk artikel2 amin rAis yang terkini, khususnya yang berkaitan dengan pemikiran dan tanggapan2 beliau tentang masalah islam terkini.....
maturnuwun.......!
ariomuhammad wrote on May 7
hmm... Subhanallah...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help