Blog EntryKetika Rasa Itu DicabutMay 7, '08 12:24 AM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Saya tidak sedang membicarakan rasa yang dikecap di lidah, atau rasa nikmat yang dirasa ketika otot-otot tubuh yang pegal dipijat dengan lihai.  Saya membicarakan semua rasa yang bisa kita rasakan.  Rasa manis, pahit, asam, panas, dingin, pegal, lega, senang, sedih, marah, terharu, sayang, benci, semangat, dan sebagainya.  Bagaimana jika semua rasa itu perlahan-lahan menghilang, dan kita menjadi makhluk yang mati rasa, tak ubahnya seonggok batu di pinggir jalan?

Ini bukan spekulasi sufistik, bukan pula perandai-andaian yang tanpa juntrungan.  Pada kenyataannya, memang ada manusia yang secara bertahap kehilangan sensitifitas rasanya, meskipun (setahu saya) belum ada yang benar-benar mati rasa sebelum mati beneran.

Kita ingat kaum jahiliyah pada jaman Rasulullah saw. yang telah kehilangan rasa sayang kepada anak-anak perempuannya.  Hal ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui progres selama ratusan tahun.  Sepeninggal Nabi Ibrahim as. dan Nabi Isma’il as., warga Mekkah mulai ‘bereksperimen’ dengan agamanya sendiri.  Mulai dari membuat berhala, kemudian thawaf keliling Ka’bah dengan bertelanjang bulat, sampai akhirnya muncullah tradisi yang aneh bin ajaib, salah satunya adalah membantai anak perempuannya sendiri.  Untungnya, kehilangan rasa adalah proses yang reversible, sebagaimana yang nampak dalam diri ‘Umar bin Khattab ra.  Beliau yang dulunya adalah lelaki yang keras seperti batu karang mampu ‘disulap’ menjadi pribadi yang lembut dan begitu takut kepada Allah.  Tentunya kelembutan beliau tidak lantas mengurangi kekokohan karakternya.

Kita juga ingat bagaimana bangsa Romawi mencapai puncak kejayaannya, lantas pelan-pelan mulai kehilangan sensitifitasnya.  Kepada para budak dan tawanannya, mereka menciptakan cara-cara penuh kreasi untuk ‘memperindah’ kegiatan pembunuhan dan penyiksaan.  Ada yang diadu dengan hewan buas, ada juga yang disuruh berkelahi melawan gladiator dengan persenjataan yang tak berimbang.  Mereka bahkan mendesain Colosseum yang panggungnya dibuat dari lantai kayu yang ditaburi pasir di atasnya untuk menyerap darah dari korban-korbannya.  Sungguh ironis, betapa mereka mengerahkan begitu banyak kehebatan intelektualnya untuk mendesain tempat yang nyaman untuk nafsu barbarik rakyatnya.

Jika rakyat telah kehilangan rasa, lebih-lebih lagi para bangsawan dan pembesarnya.  Mereka bersusah payah menciptakan berbagai cara untuk menghibur diri, sehingga hiburan pun menjadi kabur maknanya.  Mulai dari tari-tarian erotis, selir-selir yang jumlahnya sulit dihitung, mabuk-mabukan sepanjang malam, pesta-pesta seks di istana dan vila-vila peristirahatan, termasuk pula seks dengan sesama jenis, anak-anak kecil, dan binatang.  Semua itu mereka lakukan demi untuk merasakan nikmat yang makin lama semakin sulit mereka rasakan.

Jika Rasulullah saw. bisa merasa berbahagia hanya dengan berkumpul bersama para sahabatnya atau mencium mesra anak-anaknya, maka tengoklah betapa banyak manusia yang menemukan kesulitan untuk merasakan nikmat pada derajat yang sama.  Jika dahulu para sahabat mendapatkan istirahat yang sangat cukup dan nikmat dengan shalat dua raka’at, maka para penerusnya di jaman sekarang tidak merasa cukup dengan istirahat tidur siang satu jam, ditambah makan siang, ditambah korupsi waktu sekian menit untuk sekedar mengisap rokok, dan setelah itu pun kembali pada kerjanya semula dengan pikiran yang penuh dengan khayalan macam-macam.

Bukan Romawi saja yang pernah merasa jenuh dalam kejumawaannya, sebelum akhirnya terjerumus dalam lembah ‘mati rasa’.  Kekhalifahan Islam bahkan pernah mencapai puncak kejayaan yang tidak dikenal oleh peradaban lainnya, dan kemudian jatuh berantakan karena jenuh berada di puncak.  Ketika Perang Salib berkecamuk, bangsa Eropa masih bertempur dengan pakaian biasa, sementara orang Islam sudah berbaju besi.  Mereka masih menggunakan panah, kita sudah menggunakan ketapel raksasa.  Mereka menggunakan pedang dan tombak, kita menghantam dengan meriam.  Menang mudah.  Daratan Eropa tidak seluruhnya dikuasai Islam hanya karena kekhalifahan Islam tidak merasa tertarik dengan tanah Eropa yang tak subur.  Pada masa kekhalifahan Harun ar-Rasyid, Romawi bahkan membayar upeti tahunan demi menjaga stabilitas politik luar negerinya.

Pada saat itu, kekayaan melimpah di negeri Islam.  Tidak ada daerah yang miskin.  Seorang pujangga yang mampu membuat syair yang bagus di hadapan Khalifah bisa pulang dengan uang ribuan dirham.  Seorang insinyur yang handal dijamin takkan lapar hingga tujuh turunan.  Khwarizmi, sebuah daerah di Asia Tengah, bisa menyuplai sedemikian banyak ilmuwan Islam yang terkemuka.  Ketika bangsa Eropa masih jarang mandi, di sana telah lahir al-Biruni yang mampu menghitung diameter Bumi dengan selisih hanya enam belas mil dari perhitungan modern.  Sementara bangsa Eropa sedang berusaha bangkit dari keterbelakangannya, al-Biruni telah membuat buku astronomi setebal tidak kurang dari seribu lima ratus halaman. 

Kini, Khwarizmi lebih dikenal sebagai wilayah yang termasuk dalam negeri Uzbekistan.  Daerah yang dulunya merupakan tanah kelahiran para ilmuwan besar Muslim kini menjadi negeri yang sangat miskin.  Demikianlah peradaban Islam yang telah jenuh dalam kebesarannya lantas perlahan-lahan kehilangan motivasi.  Mereka merasa dirinya telah berada di puncak, lantas memutuskan untuk live for the moment.  Seperti Romawi, mereka pun asyik menikmati hidup.  Lupa dengan dakwah, lalai dengan amar ma’ruf nahi munkar.  Lihatlah kini bagaimana raja-raja Arab hidup di istana-istana megahnya, sementara wilayah Palestina semakin mengkerut dari hari ke hari!  Ukhuwah-kah yang nampak, atau kemunafikan?

Bagaimana jika semua rasa ini perlahan-lahan hilang, dan kita menjadi makhluk yang mati rasa?  Bagaimana jika kita semua kembali pada kejahilan bangsa Romawi yang habis-habisan mencari rasa nikmat, hingga tenggelam dalam petualangan mesumnya?

Ini bukan perandai-andaian tanpa tujuan.  Kita memang mulai kehilangan rasa.  Paling tidak, rasa nikmatlah yang mulai lenyap.  Hal-hal yang dulu terasa nikmat kini mulai terasa biasa oleh sebagian orang.  Hal-hal yang dianggap sakral kini dianggap remeh.  Hal-hal yang semestinya dinikmati dengan penuh cinta dan khidmat kini terbenam dalam industri hiburan yang didominasi oleh seks, seks dan seks.

Simaklah jawaban Bunga Citra Lestari tentang adegan ciuman yang dilakoninya dalam film baru-baru ini : “Ciuman sama siapa aja sama kali yeee...!”

Duhai, sungguh kasihan...

wassalaamu’alaikum wr. wb.


27 CommentsChronological   Reverse   Threaded
fighter495 wrote on May 7
Yaattta... pertama!!!

Sugooooooooooiiiiii :D
dbye wrote on May 7
TFS yah mas,
iya yah,aku juga merasa rasa itu seakan makin lama makin berkurang saja ???
lollytadiah wrote on May 7
sepertinya harus belajar lagi menghaluskan hati kita agar lebih peka terhadap rasa.......
TFS.
allaboutandrie wrote on May 7, edited on May 7
akmal said
Ini bukan perandai-andaian tanpa tujuan. Kita memang mulai kehilangan rasa. Paling tidak, rasa nikmatlah yang mulai lenyap. Hal-hal yang dulu terasa nikmat kini mulai terasa biasa oleh sebagian orang. Hal-hal yang dianggap sakral kini dianggap remeh. Hal-hal yang semestinya dinikmati dengan penuh cinta dan khidmat kini terbenam dalam industri hiburan yang didominasi oleh seks, seks dan seks.
Simaklah jawaban Bunga Citra Lestari tentang adegan ciuman yang dilakoninya dalam film baru-baru ini : “Ciuman sama siapa aja sama kali yeee...!”
Duhai, sungguh kasihan...
memang, kasian sekali ya mas.. sekarang industri film diindonesia sepertinya sudah tidak bermutu.. apalagi sinetron2 di TV..
Hmm, mau jadi apa bangsa kita nantinya??? Subhanallah..
tantodikdik wrote on May 7
Semua rasa itu hilang, tak lebih karena wahn(takutnya pada mati dan terlalu cinta pada dunia.)
Terima kasih, Kang.. :)
sebuahrisalah wrote on May 7
gimana ya.....
lbh banyak amal dulu deh
makasih
nafi12 wrote on May 7
TFS Mas...
Harus segera berbenah... agar lebih peka, lebih lembut perasaannya, agar rasa2 itu menguat kembali...
sijey wrote on May 7
kalo Citra Jaya sih masih bermesraan sama istri aja ^_^ .. thanks mal
brandorange wrote on May 7
ada masukan bung Akmal buat menjaga agar tdk mati rasa ? thx
mylathief wrote on May 7
tfs
zulfigitu wrote on May 7
andai rasa itu hilang...
sepertinya rasa ngeri akan neraka juga akan hilang Pak...
bahkan rasa nikmat akan keindahan surga bisa jadi juga amat khayal....

Subhanallah, indahnya 'perasaan'
kopiradix wrote on May 7
Persepsi tentang "rasa" itu memang tidak sama dalam pikiran dan perasaan setiap orang, tergantung yang mana yang terus menerus di-"rangsang". TFS mas
bestifyna04 wrote on May 7, edited on May 7
akmal said
industri hiburan yang didominasi oleh seks, seks dan seks.
Selamatkan adik, anak, ponakan qt dari tayangan yang tidak mendidik....
tolak pornografi dan pornoaksi!!!!

he....he.... ga nyambung yak?
arvenda wrote on May 7
Uhm.. Ktika knikmatan bgitu mudah didapat, sensitif rasa (syukur) akan semakin tumpul. Nikmat berlimpah = miskin syukur, rumus yg jelek :D

Ya Allah.. tolonglah kami untuk snantiasa bersyukur pada-Mu, untuk slalu mengingati-Mu. Tolonglah kami untuk meningkatkan kualitas penghambaan kami kepada-Mu. Amien..
temanygbaik wrote on May 7
Kalau pendukung pro kebebasan senantiasa mencari kepuasan berekspresi, kemerdekaan tanpa syarat dalam seni semata-mata karena mereka sudah merasa kehilangan kenikmatan (mati rasa), yang mereka butuhkan adalah sensasi dan fantasi yang berbungkus seni sehingga LSF menjadi batu sandungan dalam berkreaasi tanpa batas
kaknung wrote on May 7
Tepat sekali pak Akmal.....memang sudah banyak yang hilang rasa, termasuk rasa malu....pakaian sudah begitu terbuka (baca= obral aurat) masih ngaku pakaian sportif....padahal baru pulang umroh :(
hafidztio wrote on May 7
nice..thanks alot..can i share it to others?
banyumili wrote on May 7
terima kasih tausiahnya Akmal...
diyansanty wrote on May 8
astahgjfirullah jadi muhasabah lagi...jazakallah uda...
yudimuslim wrote on May 8
bener om..:d
yudi sekarang seolah sangat merindukan berkumpul ama mereka2 yang sholeh..keadaan sekarang semakin membuat yudi "mati rasa"
annidalucu wrote on May 8
akmal said
Jika Rasulullah saw. bisa merasa berbahagia hanya dengan berkumpul bersama para sahabatnya atau mencium mesra anak-anaknya, maka tengoklah betapa banyak manusia yang menemukan kesulitan untuk merasakan nikmat pada derajat yang sama. Jika dahulu para sahabat mendapatkan istirahat yang sangat cukup dan nikmat dengan shalat dua raka’at, maka para penerusnya di jaman sekarang tidak merasa cukup dengan istirahat tidur siang satu jam, ditambah makan siang, ditambah korupsi waktu sekian menit untuk sekedar mengisap rokok, dan setelah itu pun kembali pada kerjanya semula dengan pikiran yang penuh dengan khayalan macam-macam
ga bisa membendung airmata waktu baca paragraf ini

jazzakallah khairan katsiiroo ya akhi...
nsyachila wrote on May 8
sungguh tulisan yg sangat bagus buat di jadikan renungan, apakah saya sudah mati rasa ? ..astaghfirullah hal adzim...
dhy88 wrote on May 9
rasanya.. saya juga sudah mulai kehilangan rasa...

bagaimana agar bs segera mengembalikannya??
dhy88 wrote on May 9
rasanya.. saya juga sudah mulai kehilangan rasa...

bagaimana agar bs segera mengembalikannya??
dhy88 wrote on May 9
rasanya.. saya juga sudah mulai kehilangan rasa...

bagaimana agar bs segera mengembalikannya??
dhy88 wrote on May 9
rasanya.. saya juga sudah mulai kehilangan rasa...

bagaimana agar bs segera mengembalikannya??
derni wrote on May 12
Ijin link ke milis yach :-)
Biar bisa jadi renungan yang lain,
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help