assalaamu’alaikum wr. wb.
Saya tidak sedang membicarakan rasa yang dikecap di lidah, atau rasa nikmat yang dirasa ketika otot-otot tubuh yang pegal dipijat dengan lihai. Saya membicarakan semua rasa yang bisa kita rasakan. Rasa manis, pahit, asam, panas, dingin, pegal, lega, senang, sedih, marah, terharu, sayang, benci, semangat, dan sebagainya. Bagaimana jika semua rasa itu perlahan-lahan menghilang, dan kita menjadi makhluk yang mati rasa, tak ubahnya seonggok batu di pinggir jalan?
Ini bukan spekulasi sufistik, bukan pula perandai-andaian yang tanpa juntrungan. Pada kenyataannya, memang ada manusia yang secara bertahap kehilangan sensitifitas rasanya, meskipun (setahu saya) belum ada yang benar-benar mati rasa sebelum mati beneran.
Kita ingat kaum jahiliyah pada jaman Rasulullah saw. yang telah kehilangan rasa sayang kepada anak-anak perempuannya. Hal ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui progres selama ratusan tahun. Sepeninggal Nabi Ibrahim as. dan Nabi Isma’il as., warga Mekkah mulai ‘bereksperimen’ dengan agamanya sendiri. Mulai dari membuat berhala, kemudian thawaf keliling Ka’bah dengan bertelanjang bulat, sampai akhirnya muncullah tradisi yang aneh bin ajaib, salah satunya adalah membantai anak perempuannya sendiri. Untungnya, kehilangan rasa adalah proses yang reversible, sebagaimana yang nampak dalam diri ‘Umar bin Khattab ra. Beliau yang dulunya adalah lelaki yang keras seperti batu karang mampu ‘disulap’ menjadi pribadi yang lembut dan begitu takut kepada Allah. Tentunya kelembutan beliau tidak lantas mengurangi kekokohan karakternya.
Kita juga ingat bagaimana bangsa Romawi mencapai puncak kejayaannya, lantas pelan-pelan mulai kehilangan sensitifitasnya. Kepada para budak dan tawanannya, mereka menciptakan cara-cara penuh kreasi untuk ‘memperindah’ kegiatan pembunuhan dan penyiksaan. Ada yang diadu dengan hewan buas, ada juga yang disuruh berkelahi melawan gladiator dengan persenjataan yang tak berimbang. Mereka bahkan mendesain Colosseum yang panggungnya dibuat dari lantai kayu yang ditaburi pasir di atasnya untuk menyerap darah dari korban-korbannya. Sungguh ironis, betapa mereka mengerahkan begitu banyak kehebatan intelektualnya untuk mendesain tempat yang nyaman untuk nafsu barbarik rakyatnya.
Jika rakyat telah kehilangan rasa, lebih-lebih lagi para bangsawan dan pembesarnya. Mereka bersusah payah menciptakan berbagai cara untuk menghibur diri, sehingga hiburan pun menjadi kabur maknanya. Mulai dari tari-tarian erotis, selir-selir yang jumlahnya sulit dihitung, mabuk-mabukan sepanjang malam, pesta-pesta seks di istana dan vila-vila peristirahatan, termasuk pula seks dengan sesama jenis, anak-anak kecil, dan binatang. Semua itu mereka lakukan demi untuk merasakan nikmat yang makin lama semakin sulit mereka rasakan.
Jika Rasulullah saw. bisa merasa berbahagia hanya dengan berkumpul bersama para sahabatnya atau mencium mesra anak-anaknya, maka tengoklah betapa banyak manusia yang menemukan kesulitan untuk merasakan nikmat pada derajat yang sama. Jika dahulu para sahabat mendapatkan istirahat yang sangat cukup dan nikmat dengan shalat dua raka’at, maka para penerusnya di jaman sekarang tidak merasa cukup dengan istirahat tidur siang satu jam, ditambah makan siang, ditambah korupsi waktu sekian menit untuk sekedar mengisap rokok, dan setelah itu pun kembali pada kerjanya semula dengan pikiran yang penuh dengan khayalan macam-macam.
Bukan Romawi saja yang pernah merasa jenuh dalam kejumawaannya, sebelum akhirnya terjerumus dalam lembah ‘mati rasa’. Kekhalifahan Islam bahkan pernah mencapai puncak kejayaan yang tidak dikenal oleh peradaban lainnya, dan kemudian jatuh berantakan karena jenuh berada di puncak. Ketika Perang Salib berkecamuk, bangsa Eropa masih bertempur dengan pakaian biasa, sementara orang Islam sudah berbaju besi. Mereka masih menggunakan panah, kita sudah menggunakan ketapel raksasa. Mereka menggunakan pedang dan tombak, kita menghantam dengan meriam. Menang mudah. Daratan Eropa tidak seluruhnya dikuasai Islam hanya karena kekhalifahan Islam tidak merasa tertarik dengan tanah Eropa yang tak subur. Pada masa kekhalifahan Harun ar-Rasyid, Romawi bahkan membayar upeti tahunan demi menjaga stabilitas politik luar negerinya.
Pada saat itu, kekayaan melimpah di negeri Islam. Tidak ada daerah yang miskin. Seorang pujangga yang mampu membuat syair yang bagus di hadapan Khalifah bisa pulang dengan uang ribuan dirham. Seorang insinyur yang handal dijamin takkan lapar hingga tujuh turunan. Khwarizmi, sebuah daerah di Asia Tengah, bisa menyuplai sedemikian banyak ilmuwan Islam yang terkemuka. Ketika bangsa Eropa masih jarang mandi, di sana telah lahir al-Biruni yang mampu menghitung diameter Bumi dengan selisih hanya enam belas mil dari perhitungan modern. Sementara bangsa Eropa sedang berusaha bangkit dari keterbelakangannya, al-Biruni telah membuat buku astronomi setebal tidak kurang dari seribu lima ratus halaman.
Kini, Khwarizmi lebih dikenal sebagai wilayah yang termasuk dalam negeri Uzbekistan. Daerah yang dulunya merupakan tanah kelahiran para ilmuwan besar Muslim kini menjadi negeri yang sangat miskin. Demikianlah peradaban Islam yang telah jenuh dalam kebesarannya lantas perlahan-lahan kehilangan motivasi. Mereka merasa dirinya telah berada di puncak, lantas memutuskan untuk live for the moment. Seperti Romawi, mereka pun asyik menikmati hidup. Lupa dengan dakwah, lalai dengan amar ma’ruf nahi munkar. Lihatlah kini bagaimana raja-raja Arab hidup di istana-istana megahnya, sementara wilayah Palestina semakin mengkerut dari hari ke hari! Ukhuwah-kah yang nampak, atau kemunafikan?
Bagaimana jika semua rasa ini perlahan-lahan hilang, dan kita menjadi makhluk yang mati rasa? Bagaimana jika kita semua kembali pada kejahilan bangsa Romawi yang habis-habisan mencari rasa nikmat, hingga tenggelam dalam petualangan mesumnya?
Ini bukan perandai-andaian tanpa tujuan. Kita memang mulai kehilangan rasa. Paling tidak, rasa nikmatlah yang mulai lenyap. Hal-hal yang dulu terasa nikmat kini mulai terasa biasa oleh sebagian orang. Hal-hal yang dianggap sakral kini dianggap remeh. Hal-hal yang semestinya dinikmati dengan penuh cinta dan khidmat kini terbenam dalam industri hiburan yang didominasi oleh seks, seks dan seks.
Simaklah jawaban Bunga Citra Lestari tentang adegan ciuman yang dilakoninya dalam film baru-baru ini : “Ciuman sama siapa aja sama kali yeee...!”
Duhai, sungguh kasihan...
wassalaamu’alaikum wr. wb.