assalaamu’alaikum wr. wb.
Sepanjang yang saya tahu, kreatifitas adalah kemampuan kita untuk memanfaatkan apa yang kita miliki. Seseorang disebut kreatif jika ia mampu memanfaatkan resource yang minim untuk mendapatkan hasil yang baik. Dengan demikian, kreatifitas selalu diukur dari sumber daya yang digunakan sejak awal.
Tingkat kreatifitas masing-masing orang tak bisa diukur hanya dengan melihat hasil akhirnya. Sebagai contoh, pegawai di kantor yang kerjanya sehari-hari adalah meng-input data tidak sama kreatifitasnya dengan pegawai lain yang membuat program khusus untuk menyederhanakan kerjanya dalam meng-input data. Demikian juga anak orang kaya yang mendirikan perusahaan masih kalah hebat dengan anak petani sederhana yang mencetak prestasi serupa. Kondisi awalnya berbeda, maka penilaian akhirnya pun harus beda.
Setelah Buruan Cium Gue (BCG), barangkali baru film ML saja yang sanggup menghebohkan industri perfilman tanah air dengan isu pornografi dan pornoaksi. Sebenarnya antara BCG dan ML masih banyak film lain yang juga bisa dijerat dengan masalah yang sama, misalnya Suster Ngesot yang banyak mengekspos Nia Ramadhani dan Donita dalam pakaian serba minim, atau film XL yang menampilkan aktris pendatang baru yang nyaris tak pernah berpakaian sopan dalam film tersebut.
Eksploitasi unsur-unsur seks adalah sebuah ironi. Di satu sisi, para pembuat film bersembunyi di belakang ‘kebebasan berekspresi’ dan ‘kreatifitas seni yang tanpa batas’. Konsep kebebasan itu sendiri adalah sebuah ironi, karena di dunia ini tak pernah ada kebebasan yang sebenar-benarnya bebas. Jika semua orang merasa dirinya benar-benar bebas, maka dunia ini akan diliputi kekacauan. Tidak perlu kuliah filsafat untuk memahami hal ini.
Ironi terbesarnya adalah bagaimana unsur-unsur seks dieksploitasi untuk hal-hal yang tak ada hubungannya, bahkan sampai mengabaikan tingkat kewajaran dalam film itu sendiri. Dari perspektif seni perfilman, hal ini adalah bunuh diri. Hal paling penting dari sebuah film telah dicabut sepenuhnya, yaitu melibatkan penonton ke dalam cerita, antara lain dengan menyajikan tontonan yang realistis. Yang terjadi kini adalah melibatkan fantasi kotor penonton tanpa perlu susah-susah memikirkan kewajarannya.
Suster Ngesot adalah contoh yang baik. Film ini sejatinya bergenre horor-thriller. Sudah barang tentu suasana yang ingin dibangun dalam kisah tersebut adalah suasana seram, mencekam, membuat jantung berdegup dan hati yang bertanya-tanya penuh kewaspadaan. Pemandangan yang serba gelap dan lokasi cerita di sebuah gedung rumah sakit tua sudah cukup mendukung untuk keperluan tersebut. Sayangnya, masalah justru datang dari para pemeran utama.
Pemilihan Nia Ramadhani dan Donita sebagai pemeran karakter sentral dalam film ini adalah sebuah blunder luar biasa. Ini bukan semata-mata salah proses casting-nya, melainkan memang kesalahan konsep yang luar biasa secara keseluruhan, mulai dari penyutradaraan, penulisan skenario, tata rias, dan sebagainya. Jika kita masih mempedulikan aspek kewajaran cerita, kita akan langsung bertanya : Apa iya penampilan para perawat di negeri ini dalam kesehariannya memang sesuai dengan film Suster Ngesot? Pada kenyataannya, penampilan kedua karakter perawat ini lebih mirip para mahasiswi kaya yang rajin beredar di mal-mal daripada perawat yang membaktikan hidupnya dengan menolong orang.
Bagaimana pun, film Suster Ngesot agaknya cukup menikmati banyak keuntungan. Pada kenyataannya anak muda membanjiri bioskop untuk menonton film-film semacam ini, meskipun tanpa sikap kritis sama sekali terhadap aspek-aspek vital dalam film, atau barangkali mereka memang tidak datang untuk menikmati film, melainkan hanya untuk berduaan dengan pacar. Salah satu daya tarik film ini barangkali justru berasal dari Nia dan Donita yang sebenarnya telah menjadikan film ini tak bernilai sama sekali. Dengan kata lain, para pembuat film telah dengan sengaja mengeksploitasi sensualitas para aktrisnya agar filmnya laku ditonton.
Film BCG dan ML kurang lebih sama saja. Meskipun berlindung di balik nama ‘kreatifitas seni’, pada dasarnya yang mereka buat sama sekali tidak kreatif. Memanfaatkan hawa nafsu manusia adalah suatu perilaku primitif yang sangat tidak kreatif, dan jauh dari modern. Jangankan para aktris yang berpakaian minim, bergaya seronok dan didukung oleh make-up dan pencahayaan yang canggih; pelacur dan banci buruk rupa di tengah kota pun masih laku dicari orang!
Kalau mau mengeksploitasi hawa nafsu manusia, maka pintu untuk mencari uang memang terbuka lebar. Anda bisa pilih profesi, mulai dari PSK sampai bandar narkoba, dari penari telanjang sampai penyelundup minuman keras, dari penjual VCD porno sampai pemainnya sekalian! Tidak ada nilai kreatifitasnya sama sekali. Hawa nafsu memang diciptakan sebagai ujian yang sangat berat bagi manusia. Memanipulasi kecenderungan manusia untuk memuaskan hawa nafsunya secara berlebihan adalah urusan yang sangat mudah dan tidak memerlukan kecerdasan yang tinggi. Tingkat kesulitan mendekati nol, dan dengan demikian, kreatifitasnya pun nyaris nol.
Tidak heran industri perfilman Indonesia masih ‘belum naik level’, meskipun produktivitasnya cukup tinggi. Kita masih harus menunggu beberapa tahun atau dekade lagi hingga para pekerja seni di negeri ini benar-benar menjunjung tinggi kreatifitas dan intelektualitas, tanpa harus 'potong kompas' dengan mengeksploitasi hawa nafsu.
wassalaamu’alaikum wr. wb.