Blog EntrySeni Tanpa KreatifitasMay 15, '08 1:58 AM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

 

Sepanjang yang saya tahu, kreatifitas adalah kemampuan kita untuk memanfaatkan apa yang kita miliki.  Seseorang disebut kreatif jika ia mampu memanfaatkan resource yang minim untuk mendapatkan hasil yang baik.  Dengan demikian, kreatifitas selalu diukur dari sumber daya yang digunakan sejak awal.

 

Tingkat kreatifitas masing-masing orang tak bisa diukur hanya dengan melihat hasil akhirnya.  Sebagai contoh, pegawai di kantor yang kerjanya sehari-hari adalah meng-input data tidak sama kreatifitasnya dengan pegawai lain yang membuat program khusus untuk menyederhanakan kerjanya dalam meng-input data.  Demikian juga anak orang kaya yang mendirikan perusahaan masih kalah hebat dengan anak petani sederhana yang mencetak prestasi serupa.  Kondisi awalnya berbeda, maka penilaian akhirnya pun harus beda.

 

Setelah Buruan Cium Gue (BCG), barangkali baru film ML saja yang sanggup menghebohkan industri perfilman tanah air dengan isu pornografi dan pornoaksi.  Sebenarnya antara BCG dan ML masih banyak film lain yang juga bisa dijerat dengan masalah yang sama, misalnya Suster Ngesot yang banyak mengekspos Nia Ramadhani dan Donita dalam pakaian serba minim, atau film XL yang menampilkan aktris pendatang baru yang nyaris tak pernah berpakaian sopan dalam film tersebut.

 

Eksploitasi unsur-unsur seks adalah sebuah ironi.  Di satu sisi, para pembuat film bersembunyi di belakang ‘kebebasan berekspresi’ dan ‘kreatifitas seni yang tanpa batas’.  Konsep kebebasan itu sendiri adalah sebuah ironi, karena di dunia ini tak pernah ada kebebasan yang sebenar-benarnya bebas.  Jika semua orang merasa dirinya benar-benar bebas, maka dunia ini akan diliputi kekacauan.  Tidak perlu kuliah filsafat untuk memahami hal ini.

 

Ironi terbesarnya adalah bagaimana unsur-unsur seks dieksploitasi untuk hal-hal yang tak ada hubungannya, bahkan sampai mengabaikan tingkat kewajaran dalam film itu sendiri.  Dari perspektif seni perfilman, hal ini adalah bunuh diri.  Hal paling penting dari sebuah film telah dicabut sepenuhnya, yaitu melibatkan penonton ke dalam cerita, antara lain dengan menyajikan tontonan yang realistis.  Yang terjadi kini adalah melibatkan fantasi kotor penonton tanpa perlu susah-susah memikirkan kewajarannya.

 

Suster Ngesot adalah contoh yang baik.  Film ini sejatinya bergenre horor-thriller.  Sudah barang tentu suasana yang ingin dibangun dalam kisah tersebut adalah suasana seram, mencekam, membuat jantung berdegup dan hati yang bertanya-tanya penuh kewaspadaan.  Pemandangan yang serba gelap dan lokasi cerita di sebuah gedung rumah sakit tua sudah cukup mendukung untuk keperluan tersebut.  Sayangnya, masalah justru datang dari para pemeran utama.

 

Pemilihan Nia Ramadhani dan Donita sebagai pemeran karakter sentral dalam film ini adalah sebuah blunder luar biasa.  Ini bukan semata-mata salah proses casting­-nya, melainkan memang kesalahan konsep yang luar biasa secara keseluruhan, mulai dari penyutradaraan, penulisan skenario, tata rias, dan sebagainya.  Jika kita masih mempedulikan aspek kewajaran cerita, kita akan langsung bertanya : Apa iya penampilan para perawat di negeri ini dalam kesehariannya memang sesuai dengan film Suster Ngesot?  Pada kenyataannya, penampilan kedua karakter perawat ini lebih mirip para mahasiswi kaya yang rajin beredar di mal-mal daripada perawat yang membaktikan hidupnya dengan menolong orang.

 

Bagaimana pun, film Suster Ngesot agaknya cukup menikmati banyak keuntungan.  Pada kenyataannya anak muda membanjiri bioskop untuk menonton film-film semacam ini, meskipun tanpa sikap kritis sama sekali terhadap aspek-aspek vital dalam film, atau barangkali mereka memang tidak datang untuk menikmati film, melainkan hanya untuk berduaan dengan pacar.  Salah satu daya tarik film ini barangkali justru berasal dari Nia dan Donita yang sebenarnya telah menjadikan film ini tak bernilai sama sekali.  Dengan kata lain, para pembuat film telah dengan sengaja mengeksploitasi sensualitas para aktrisnya agar filmnya laku ditonton.

 

Film BCG dan ML kurang lebih sama saja.  Meskipun berlindung di balik nama ‘kreatifitas seni’, pada dasarnya yang mereka buat sama sekali tidak kreatif.  Memanfaatkan hawa nafsu manusia adalah suatu perilaku primitif yang sangat tidak kreatif, dan jauh dari modern.  Jangankan para aktris yang berpakaian minim, bergaya seronok dan didukung oleh make-up dan pencahayaan yang canggih; pelacur dan banci buruk rupa di tengah kota pun masih laku dicari orang! 

 

Kalau mau mengeksploitasi hawa nafsu manusia, maka pintu untuk mencari uang memang terbuka lebar.  Anda bisa pilih profesi, mulai dari PSK sampai bandar narkoba, dari penari telanjang sampai penyelundup minuman keras, dari penjual VCD porno sampai pemainnya sekalian!  Tidak ada nilai kreatifitasnya sama sekali.  Hawa nafsu memang diciptakan sebagai ujian yang sangat berat bagi manusia.  Memanipulasi kecenderungan manusia untuk memuaskan hawa nafsunya secara berlebihan adalah urusan yang sangat mudah dan tidak memerlukan kecerdasan yang tinggi.  Tingkat kesulitan mendekati nol, dan dengan demikian, kreatifitasnya pun nyaris nol.

 

Tidak heran industri perfilman Indonesia masih ‘belum naik level’, meskipun produktivitasnya cukup tinggi.  Kita masih harus menunggu beberapa tahun atau dekade lagi hingga para pekerja seni di negeri ini benar-benar menjunjung tinggi kreatifitas dan intelektualitas, tanpa harus 'potong kompas' dengan mengeksploitasi hawa nafsu.

 

wassalaamu’alaikum wr. wb.


13 CommentsChronological   Reverse   Threaded
nafi12 wrote on May 15
Ya begitulah kebanyakan produksi film di Indonesia....
*nunggu film Sang Murabbi aja ahh...pasti good..good...*
indra15 wrote on May 15
pembodohan atas nama kreatifitas yang sama sekali tidak kreatif
buat karya cuma sekadar untuk mencari popularitas & kekayaan, lagipula karya yang dibuat mirip satu sama lain... di mana sisi kreatifitasnya?
sakit jiwa...
indra15 wrote on May 15
karya yg seperti ini ada istilahnya... "kitsch"
kangbayu wrote on May 15
mal, nambahin dikit ya terkait paragraf pembuka

secara kontekstual, kreativitas itu lebih terkait pada "kemampuan menemukan solusi permasalahan dengan cara yang baru".

betul, kreativitas seringkali muncul karena keterbatasan (resource yang minim), sehingga pernyataan 'mampu memanfaatkan resource yang minim untuk mendapatkan hasil yang baik' adalah benar salahsatu trait dari kreativitas, tapi... pernyataan tersebut lebih menyorot mengenai efisiensi... bukan inti dari kreativitasnya itu sendiri.

ibaratnya "sambel" dan "pedas", true, pedas itu salahsatu karakter umum dari sambel... tapi bukan berarti tiap yang pedas itu sambel, atau tiap sambel pasti pedas =)

begitu juga kasusnya dengan "kreatif" dan "efisien"

wassalam
bestifyna04 wrote on May 15
akmal said
Apa iya penampilan para perawat di negeri ini dalam kesehariannya memang sesuai dengan film Suster Ngesot? Pada kenyataannya, penampilan kedua karakter perawat ini lebih mirip para mahasiswi kaya yang rajin beredar di mal-mal daripada perawat yang membaktikan hidupnya dengan menolong orang.
Walaupun ga menontoh film suster ngesot, kayaknya perawat di Indonesia ga kayak gtu deh.....

Setuju abis samo Da Akmal... Hidup Perawat!!! (alah lari kemana nih,,, he,,,he,,,,he,,,)
andridarmawan wrote on May 15
wih akmal berarti nonton semua film itu dong ya :-)
yudimuslim wrote on May 15
ketinggalan satu uda
"Kawin kontrak"
zulfigitu wrote on May 15
Emang masalah di Indonesia masih klise: kesulitan membedakan mana kreativitas mana yang kebablasan...

Diperingatkan pun juga ga kapok2.... alasannya macam2: kebebasan lah, kesulitan nyari format yg baik lah, dll...

*Bingung dg logika media di Indonesia....*
yusriye wrote on May 15
iya juga ya.. *manggut2*
myandy wrote on May 15
Balik lagi ke masa film 90an kayanya.....
bellaferta wrote on May 16
kasian anak anak muda yang penasaran dan nonton film2 macam begitu...jauh dari nilai pendidikan.
Zamannya udah sarat teknologi....bikin film begitu an."..APA KATA DUNIA......"
zoobent wrote on May 22
ada temenQ bilang "seni tu ga boleh ditahan" (kata lain dari kebebasan ekspresi). dan salah satunya dimanifestasiin lewat eksploitasi aurat berlebih...

gimana tuh???
abudaniel wrote on Jun 7
Assalamu'alaikum,
Sekarang para pembuat film, entah itu producer, apakah itu sutradara, penulis skenario, apalagi artisnya tidak pernah perduli dengan efek filmnya. Yang penting laku tonton, bukan layak tonton.
Wassalam,
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help