assalaamu’alaikum wr. wb. Diberi judul ‘seputar’ karena memang isinya tidak berhubungan langsung dengan kasus Monas 1 Juni 2008 yang lalu. Artikel ini hanya berisi pemikiran-pemikiran ‘sampingan’ yang muncul ketika mengamati kasus bentrokan tersebut, yang rasanya amat sayang kalau tidak dituangkan dan disampaikan ke orang banyak. Intelektualitas Habib Rizieq Terus terang, pada awalnya saya termasuk orang yang meremehkan intelektualitas beliau. Kalau dipikir-pikir, hal-hal yang membuat saya meremehkan beliau muncul dari dua hal yang sangat mempengaruhi objektifitas, yaitu : (1) perbedaan yang sifatnya khilafiyah, dan (2) opini publik yang dibangun oleh media massa. Sebagai contoh untuk poin yang pertama, sadar atau tidak, kita telah dilatih untuk tidak respect pada orang yang selalu mengenakan sorban dan gamis seperti beliau. Reaksi pertama yang muncul dalam benak adalah, “Idih, memangnya wajib pake begituan?” Memang tidak wajib, tapi juga tidak ada yang boleh melarang. Di sini prasangka buruk kita sudah bergerak duluan. Hanya karena Habib Rizieq selalu bergamis dan bersorban, bukan berarti beliau mewajibkannya, bukan? Sementara Habib Rizieq tak pernah secara eksplisit mewajibkan gamis dan sorban, kita sudah lebih dulu menyalahkan gaya berpakaiannya. Masalah memakai gamis dan sorban tidak pernah menyentuh urusan aqidah. Karena itu, mana pun yang dipilih orang, tidak mesti mempengaruhi objektifitas kita dalam menilai seseorang. Kalau merasa tidak wajib mengikuti gaya berpakaian Habib Rizieq, maka kita pun harus paham bahwa beliau pun tidak wajib mengikuti gaya berpakaian kita. Poin kedua, yaitu mengenai opini yang dibangun oleh media massa, akan saya bahas secara terpisah. Sabar, ya! Citra Habib Rizieq di mata kita (termasuk saya juga dulu) adalah sebagai seorang ulama yang cenderung frontal, kadang ekstrem, dan kurang mampu mendidik anggotanya dengan benar. Sudah barang tentu tidak ada kesan inteleknya sama sekali. Tapi apa benar begitu? Pandangan saya berubah total ketika membaca tulisannya di surat kabar Republika. Pada tanggal 23 Mei 2008, Shamsir Ali, seorang pentolan dari Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), menulis sebuah pembelaan berjudul Ahmadiyah Menjawab. Artikel yang nilai keilmiahannya sangat rendah ini kemudian ditanggapi oleh Dr. Syamsuddin Arif tiga hari kemudian dengan artikelnya yang berjudul Solusi Masalah Ahmadiyah, dilanjutkan dengan artikel Habib Rizieq pada tanggal 29 Mei yang diberi judul Lima Perkara Tolak Ahmadiyah. Dr. Syamsuddin Arif adalah cendekiawan muda yang baru saja lulus kuliah dari ‘sarang orientalis’ di Jerman, namun telah menunjukkan komitmennya yang kuat terhadap Islam. Yang mengherankan justru artikel Habib Rizieq yang ternyata nilai keilmiahannya sangat tinggi dan bisa menandingi artikel Dr. Syamsuddin Arif. Selidik punya selidik, ternyata Habib Rizieq tidak hanya punya nama dalam dakwah praktisnya di FPI, melainkan juga dikenal luas di kalangan akademis. Beliau pun rupanya cukup dikenal sebagai cendekiawan Muslim yang keilmuannya diakui. Pada saat itulah saya insyaf akan subjektifitas saya yang telah dibangun oleh dua hal tadi. Astaghfirullaah... Diantara Dua Pilihan Kebejatan era globalisasi-informasi adalah karena informasi dibiarkan bergerak ‘liar’ dan tak terkendali. Siapa pun berhak jadi narasumber. Siapa pun sama di hadapan pers. Hal inilah yang bertentangan seratus persen dengan ajaran Islam. Ketika Allah dan Rasul-Nya menyatakan bahwa semua manusia dibedakan menurut ketaqwaannya, maka hal itu seharusnya juga berimbas pada urusan informasi seperti ini. Di jaman sekarang, banyak orang yang terlalu sombong untuk mempelajari ilmu-ilmu hadits. Berkat sugesti yang ditanamkan oleh musuh-musuh Islam, muncul kesan bahwa tradisi ilmiah tidak ada kaitannya dengan para ulama. Ulama hanya mengurusi urusan agama ; selain fiqih mereka tidak tahu apa-apa. Padahal ilmu ushul fiqih itu bukan main rumitnya. Ilmu hadits pun tidak sederhana sama sekali. Sekarang ini saya temukan banyak sekali orang yang asal bicara, “Ah, hadits ini nggak shahih!” hanya karena ia tidak sependapat dengan redaksinya. Padahal, Imam Bukhari sampai berkelana kesana kemari untuk melakukan jarh wa ta’dil. Belum tahu jarh wa ta’dil? Nah, itu pertanda Anda belum waktunya bicara soal keshahihan hadits. :) Kembali ke masalah kebebasan informasi, Islam telah memberikan koridor yang jelas untuk menerima informasi yang sampai ke telinga dan mata kita. Tuntunannya jelas : kalau ada berita dari orang fasik, harus diperiksa baik-baik terlebih dahulu. Jadi, jika kita mendengar berita dari si A, maka hal yang harus dilakukan adalah : (1) cek apakah si A ini orang fasik atau bukan, dan (2) jika fasik, maka beritanya harus diperiksa benar-benar. Perhatikanlah bahwa kewajiban untuk mengecek berita dari orang-orang fasik tidak berarti bahwa berita-berita dari orang-orang yang tidak fasik tidak perlu dicek. Hanya saja, orang-orang fasik mendapat ‘perhatian khusus’, karena mereka memang sangat patut untuk dicurigai. Prinsip ini tidak boleh dibenturkan dengan prinsip husnuzhzhan, tentu saja. Banyak yang mengeluh bahwa berita yang beredar sekarang ini – dalam kasus insiden Monas – sudah sangat simpang-siur, sehingga sulit sekali menentukan mana berita yang benar dan mana yang bohong belaka. Di sini kita perlu kembali pada tuntunan Al-Qur’an. Flowchart berpikirnya harus diawali dengan menilai kredibilitas sumber beritanya, baru menentukan sikap terhadap berita yang kita terima. Tidak boleh melangkah ke tahap kedua sebelum menyelesaikan tahap pertama. Untuk itu, kita harus menilai kedua belah pihak yang bersengketa, dalam hal ini adalah FPI dan AKKBB. Kita telah cukup mengenal pihak FPI, karena media massa terus-menerus menyoroti mereka. Bagaimana dengan AKKBB? Di balik nama itu terdapat nama-nama seperti Gus Dur, Syafii Maarif, Guntur Romli, Nong Darol Mahmada, Goenawan Mohammad, JIL, berbagai organisasi kristiani, Ahmadiyah, Budha, dan sebagainya. Sebagian nama ini sudah sangat sering dibahas di blog ini dalam kasus-kasus pemalsuan kebenaran dan pelecehan terhadap hal-hal fundamental dalam ajaran Islam. Belum lagi kasus kebohongan publik yang dilakukan oleh Koran Tempo terhadap Munarman yang dituduh mencekik anggota AKKBB. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ini, predikat fasik sudah pasti cocok, bahkan mungkin terlampaui oleh mereka. Di sisi lain, FPI yang selalu bersikap frontal, meskipun bisa dikritisi di sana-sini, namun tidak memiliki cacat dalam hal kejujuran. Saya ingat pribadi Umar bin Khattab ra. yang cenderung keras dan beberapa kali nyaris berbuat kesalahan karena sifat kerasnya tersebut, namun toh beliau termasuk sahabat paling utama di sisi Rasulullah saw. dan dijamin akan masuk surga. Dengan pertimbangan demikian, jelaslah bahwa meskipun berita versi FPI belum tentu benar, namun berita versi AKKBB (dan Koran Tempo yang sudah terbukti ketidakakuratannya) tidak boleh diterima atau dianggap shahih kecuali jika ia dikuatkan oleh berita dari pihak lainnya yang bisa kita jamin kredibilitasnya. Tanggung Jawab Media Massa Sampai dini hari tadi, saya belum melihat satu pun stasiun televisi yang mampu bersikap seimbang dalam menyikapi berita-berita dari kedua kubu (meskipun, seperti yang sudah saya jelaskan di atas, kedua kubu memang tidak seharusnya dianggap ‘setara’, karena satu pihak kredibilitasnya lebih rendah dari yang lain). Berita yang ada adalah pengulangan sejak hari Ahad, dan nyaris tak ada berita tentang ketidakakuratan berita Koran Tempo, dugaan adanya anggota AKKBB yang membawa pistol, dan penyelidikan terhadap provokasi-provokasi yang dilaporkan oleh FPI. Bahkan ironisnya, tadi pagi ada sebuah stasiun televisi swasta yang kembali menayangkan foto ‘Munarman mencekik’ tanpa penjelasan apa-apa, seolah membenarkan tuduhan Koran Tempo yang sudah terbukti keliru total itu. Salah seorang pembaca berita menyebutkan bahwa anggota FPI akhirnya menyerahkan diri kepada Polisi, namun dengan embel-embel “meski Polisi sebelumnya harus mengerahkan ratusan personelnya.” Penggalan yang terakhir ini menunjukkan seolah-olah FPI takkan tunduk pada Polisi kalau bukan karena kalah jumlah. Ini adalah tuduhan yang berlebihan, mengingat : (1) tidak ada bukti bahwa FPI akan melawan, bahkan barikade di depan kantor FPI telah ditinggalkan sejak Subuh, (2) Habib Rizieq pernah ditahan sebelumnya, dan beliau tak pernah melawan Polisi, dan (3) FPI sendiri sudah berjanji akan sukarela menyerahkan diri asal pemerintah membubarkan Ahmadiyah. Dalam pandangan saya, media massa jelas-jelas telah berpihak dan tidak netral lagi. Menuai Badai Dahulu sekali, orang tua saya mengajarkan saya bahwa emosi manusia adalah hal yang misterius dan sangat berbahaya. Oleh karena itu, kita tidak boleh bermain-main dengannya. Jika kita dengan sengaja menyinggung perasaan seseorang, maka jangan salahkan rumput yang bergoyang jika orang itu memberikan perlawanan secara fisik. Banyak kasus pembunuhan yang diawali dengan ejekan dan penghinaan. Tentu kita tidak membenarkan orang yang membunuh, namun pihak yang menghina pun sebenarnya hanya memetik apa yang telah ditanamnya sendiri. Sejauh ini, kita belum mendengar penyelidikan Polisi terhadap provokasi-provokasi yang konon telah dilontarkan oleh pihak AKKBB (menurut laporan FPI). Cukup menarik juga jika kita melihat betapa semua rekaman yang beredar hanya meliput proses ketika bentrokan telah terjadi. Apa benar semua orang menyalakan kameranya tepat ketika bentrokan terjadi? Mengapa tidak ada satu pun rekaman yang menunjukkan apa yang terjadi sebelum bentrokan terjadi? Sebab, jika memang benar AKKBB memprovokasi (konon dengan kata-kata seperti “laskar kafir”, bahkan ada pula Korlap AKKBB yang memaki dengan kata-kata “Islam anjing!” dalam keadaan penuh amarah), maka bentrokan tersebut harus dilihat dari dua arah yang berbeda. Tanpa harus membenarkan tindakan FPI, maka provokasi tersebut (jika memang benar ada provokasi) adalah sebab langsung terjadinya bentrokan. Jika kita melihat aturan Islam, maka kita dapati bahwa membela kehormatan adalah salah satu jalan menuju syahid. Artinya, orang yang mati ketika membela kehormatan dirinya bisa dianggap sebagai syuhada, apalagi jika membela kehormatan agamanya. Artinya lagi, kehormatan adalah suatu hal yang pantas untuk diperjuangkan dengan bertaruh nyawa sekalipun. Maka, jika ada yang menyebut “Islam anjing!” atau “Qur’an itu kitab suci paling porno”, atau menyebarkan fitnah bahwa kita telah mencekik orang tak bersalah, maka hal itu adalah alasan yang cukup valid untuk mengobarkan jihad. Oleh karena itu, penyelidikan harus segera dilaksanakan sampai tuntas agar duduk perkaranya menjadi jelas. Sayangnya, hal ini belum terlaksana. wassalaamu’alaikum wr. wb.  | pertamax... baca dulu ah.. |
 | Mal gue mulai dapet clue tentang tulisan-tulisan lo dari pengamatan di media. Emang kesannya judgmental sekali mayoritas media di sini, padahal kalo diperhatikan mereka hanya exaggerate dari bahan secuil dan menyimpulkan banyak cuil. Contoh yang paling ekstrim adalah footage gambar yang seuprit dan diulang-ulang di bagian tertentu untuk menimbulkan kesan dramatis dan heboh dari insiden Monas tersebut. Bagaimanapun, aktor provokasi atau dalang utamanya emang licik sekali seklaigus di beberapa segi berhasil dalam misinya. Tinggal opini penyeimbang kaya punya lo yang harusnya muncul ke permukaan juga.
Last but not least, Koran Tempo memang sampah Mal. Apart dari kasus-kasus kaya gini, mumpung mau Euro, gue juga nganggep mereka koran sensasi doank (tukang pajang headline kontroversial) berkaca dari teknik pemberitaan mereka selama Piala Dunia lalu. Gue bisa mengamati kredibilitas koran kalo ngeliat segmen olahraga karena gue kebetulan dari dulu familiar dengan banyak akses yang "sahih". Jadi kalo berita yang muncul di koran lokal Indonesia, selalu gue bandingin. And you know what, Koran Tempo adalah salah satu yang paling rendah kredibilitasnya dalam menyajikan akurasi fakta berita. Itu di olahraga, yang jelas-jelas bukan spesialiti mereka. Apalagi di politik kan yak, yang konon mereka piawai. Tentu lebih banyak kuasa buat memanipulasi dan nyari sensasi.
Regards |
 | Semua orang yang pernah ikut demonstrasi pasti tahu betapa berbahayanya provokasi. Terima kasih artikelnya mas, bagus sekali buat penyeimbangan informasi. |
 | baru ngeh ttg peristiwa ini setelah baca sana-sini.... *ketinggalan berita* Makasih Mas Akmal udah menginformasikan dan memberikan gambaran secara objektif.... Kirimin ke media lagi aja Mas, biar "seimbang".... ^_^ |
 | mal, bisa atur supaya suara2 dari pihak FPI plus rekaman2 peristiwanya bisa muncul ke publik juga? minimal di lingkup blogger? bisa saranin mereka punya website juga?
atau dah terlambat ya? |
 | sy 100% setuju sama tulisan ini |
 | kak..lantas apakah tindakan FPI bisa dibenarkan dalam kejadian monas? |
 | sayangnya hukum yang berlaku di dunia sekuler ini, kalau si A memprovokasi si B, kemudian si B melakukan tindakan fisik, yang disalahkan mesti si B :( liat aja kasusnya Zidane :( (ngelantur yah...... tapi intinya gitu deh) |
 | Si B jelas salah karena memakai tindakan fisik yang sudah tertulis bahwa hal itu dilarang. Sementara si A masih harus dibuktikan lagi sejauh mana kadar provokasinya. Kalo keterlaluan ya harus dihukum pula. Kalo ternyata si B itu emosian, cepet panas dan ngga bisa ngontrol diri?  |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 pertamax... baca dulu ah..  pertamax mahal bos... halah! :D |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 Mal gue mulai dapet clue tentang tulisan-tulisan lo dari pengamatan di media. Emang kesannya judgmental sekali mayoritas media di sini, padahal kalo diperhatikan mereka hanya exaggerate dari bahan secuil dan menyimpulkan banyak cuil. Contoh yang paling ekstrim adalah footage gambar yang seuprit dan diulang-ulang di bagian tertentu untuk menimbulkan kesan dramatis dan heboh dari insiden Monas tersebut. Bagaimanapun, aktor provokasi atau dalang utamanya emang licik sekali seklaigus di beberapa segi berhasil dalam misinya. Tinggal opini penyeimbang kaya punya lo yang harusnya muncul ke permukaan juga.
Last but not least, Koran Tempo memang sampah Mal. Apart dari kasus-kasus kaya gini, mumpung mau Euro, gue juga nganggep mereka koran sensasi doank (tukang pajang headline kontroversial) berkaca dari teknik pemberitaan mereka selama Piala Dunia lalu. Gue bisa mengamati kredibilitas koran kalo ngeliat segmen olahraga karena gue kebetulan dari dulu familiar dengan banyak akses yang "sahih". Jadi kalo berita yang muncul di koran lokal Indonesia, selalu gue bandingin. And you know what, Koran Tempo adalah salah satu yang paling rendah kredibilitasnya dalam menyajikan akurasi fakta berita. Itu di olahraga, yang jelas-jelas bukan spesialiti mereka. Apalagi di politik kan yak, yang konon mereka piawai. Tentu lebih banyak kuasa buat memanipulasi dan nyari sensasi.
Regards  terima kasih atas data penguatnya bos... :D
fans Pearl Jam memang harus selalu sensitif dengan pemberitaan yg berat sebelah... huehehehehe |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 Semua orang yang pernah ikut demonstrasi pasti tahu betapa berbahayanya provokasi. Terima kasih artikelnya mas, bagus sekali buat penyeimbangan informasi.  sim sim... :) |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 baru ngeh ttg peristiwa ini setelah baca sana-sini.... *ketinggalan berita* Makasih Mas Akmal udah menginformasikan dan memberikan gambaran secara objektif.... Kirimin ke media lagi aja Mas, biar "seimbang".... ^_^  medianya aja udah gak seimbang, mana mau mereka terima tulisan yg objektif? :) |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 mal, bisa atur supaya suara2 dari pihak FPI plus rekaman2 peristiwanya bisa muncul ke publik juga? minimal di lingkup blogger? bisa saranin mereka punya website juga?
atau dah terlambat ya?  terlambat kalau matahari udah terbit di barat bos... :D
Insya Allah blog ini saya baktikan utk membela Islam, bukan kasus FPI doank... yg penting semua berusaha... |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 sy 100% setuju sama tulisan ini  tambahin dikit lg donk...
*lho kok nawar?*
kekeke :p |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 kak..lantas apakah tindakan FPI bisa dibenarkan dalam kejadian monas?  sikap seorang Muslim yg baik dlm kasus2 seperti ini adalah menunggu kejelasan dari setiap sudut pandang sebelum menjatuhkan vonis... :) |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 sayangnya hukum yang berlaku di dunia sekuler ini, kalau si A memprovokasi si B, kemudian si B melakukan tindakan fisik, yang disalahkan mesti si B :( liat aja kasusnya Zidane :( (ngelantur yah...... tapi intinya gitu deh)  huehehe tragedi Piala Dunia terungkap kembali :) |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 Si B jelas salah karena memakai tindakan fisik yang sudah tertulis bahwa hal itu dilarang. Sementara si A masih harus dibuktikan lagi sejauh mana kadar provokasinya. Kalo keterlaluan ya harus dihukum pula. Kalo ternyata si B itu emosian, cepet panas dan ngga bisa ngontrol diri?  soal provokasi, menurut saya gini... bagaimana pun yg terbawa emosi itu salah, karena Rasulullah saw. melarang kita marah, apa pun alasannya... di sisi lain, memancing amarah orang lain itu ya enter at your own risk... masih bagus kalau amarah itu diekspresikan dengan satu tandukan, gimana kalau dengan sepuluh bacokan (sori hiperbolanya)?? memang akhirnya yg emosi akan ditahan, tapi tetep aja yg memprovokasi jadi korban... jadi, tanpa membenarkan org yg emosi, kita jg gak bisa membenarkan provokasi... pokoknya : at your own risk lah...
eh tapi saya bukan ngomongin kasus Zidane ya... :D |
 | nur80 wrote on Jun 4, '08 Ya....sy juga merasa kok se[ertinya ada indikasi pembelokan issue...tadi pagi aja pas liat berita laskar FPI ditahan....di breaking news salah satu TV swasta gambar yang diputar itu mulu, yang di jadiin angel ketika mereka rame-rame kumpul atau ada yang siap-siap bawa bambu and batu. Padahal breaking news hampir 10 menit, sedangkan gambar itu paling hanya 1 menit or bahkan 1/2 menit. Kok jadi kadar pemberitaan nggak seimbang lagi ya... |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 Ya....sy juga merasa kok se[ertinya ada indikasi pembelokan issue...tadi pagi aja pas liat berita laskar FPI ditahan....di breaking news salah satu TV swasta gambar yang diputar itu mulu, yang di jadiin angel ketika mereka rame-rame kumpul atau ada yang siap-siap bawa bambu and batu. Padahal breaking news hampir 10 menit, sedangkan gambar itu paling hanya 1 menit or bahkan 1/2 menit. Kok jadi kadar pemberitaan nggak seimbang lagi ya...  gambar itu harus dikritisi juga... FPI menyiapkan senjata utk menyambut polisi atau karena ada ancaman dari Garda Bangsa dan GP Anshor nih? |
 | duh makin jadi berhenti berharap sama media nasional... khususnya metro tv... hmmmm ko jadi gt...
tentang pemancingan emosi inget sama film sun go kong saat musuhnya siluman mimpi kalo ga salah, dimana siluman itu nyamar jadi manusia yang kemudian memancing sun go kong untuk membunuhnya. dan sun go kong pun dihukum gurunya berkali-kali hingga ia dipecat jadi muridnya. seolah-olah sang musuh itu dengan nada sinis mengancam... "Ayoo... ayo marahh!!!.... Bunuh Gw..!! biar semua liat bahwa lu memang radikal....!" |
 | dulu aku pernah wawancara beliau. demi mendapat informasi dati beliau, aku sampe bela-belain siang malam nungguin di rumahnya, eknal sama istri dan para pekerja yang ada di rumah itu. Setelah wawancara, kesimpulanku belau memang cerdas. Gak diragukan lagi.... tapi secara pribadi saya tetap kurang respect dengan strategi dakwahnya.... Ya, ini sih opini yang justru berdasar dari anggapunku bahwa beliau sangat cerdas... |
 | Jadi pengen nulis nie
Tentang kekerasan...
Melihat pemberitaan beberapa hari ini, begitu pula dengan reaksi dari Garda Bangsa yang mengerahkan aktifis2nya di beberapa daerah di Jawa serta opini beberapa tokoh masyarakat yang lain yang serentak menghendaki pembubaran FPI membuat berpikir untuk memaknai substansi kekerasan.
Paradigma masyarakat akan kekerasan begitu sensitif. Terutama semenjak jaman reformasi, apalagi tidak ada lagi rezim seperti halnya Soeharto. Melihat kekerasan sedikit saja, hati nurani masyarakat sudah tersentuh, terenyuh. Entah para pirsawan mengetahui seluk beluk permasalahan atau tidak, namun serta merta mereka bangkit untuk membela yang sedang dikerasi. Betul bukan?
Nampaknya metode2 fisik, lantang, keras mengalami pergeseran di masyarakat kita. Manusia menjadi begitu lemah, tak begitu paham akan nilai2 kebenaran yang harusnya diselidiki dan dipahami terlebih dahulu sebelum menilai Atau mungkin justru bangkit berbalik membalas kekerasan dengan kekerasan yang sama.
Salah atau pun benar, apapun, jikalau menggunakan kekerasan pastilah akan dicemooh oleh masyarakat. Nah, memangnya sudah sebegini lembeknya bapak2, ibu2 dan remaja2 kita saat ini? Seakan2 semua menganggap bahwa mempertahankan kebenaran tidak dibangun dengan darah dan air mata? Seakan2 yang benar adalah yang lemah lembut, penuh tawa dan bahagia, makmur? Apakah itu sekarang nilai2 yang benar? Kita seakan2 telah jauh dari cerita2 perjuangan dan pertempuran mempertahankan kemerdekaan dengan darah, air mata dan pengorbanan. Kita telah jauh dari cerita para Sahabat dan Nabi yang penuh perjuangan mental, fisik dan nyawa dalam memegang teguh Islam. Yang banyak adalah sinetron dan cerita cinta remaja tanpa harapan.
ini dulu ... |
 | coba si Abang buyung ada di Monas minggu kemarin yah....mulutnya yang bunyinya dah kaya tong rombeng itu kayaknya dah perlu disodok bambu tuh.....
(mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan) |
 | soal provokasi, menurut saya gini... bagaimana pun yg terbawa emosi itu salah, karena Rasulullah saw. melarang kita marah, apa pun alasannya... di sisi lain, memancing amarah orang lain itu ya enter at your own risk... masih bagus kalau amarah itu diekspresikan dengan satu tandukan, gimana kalau dengan sepuluh bacokan (sori hiperbolanya)?? memang akhirnya yg emosi akan ditahan, tapi tetep aja yg memprovokasi jadi korban... jadi, tanpa membenarkan org yg emosi, kita jg gak bisa membenarkan provokasi... pokoknya : at your own risk lah...
eh tapi saya bukan ngomongin kasus Zidane ya... :D  Kasus Zidane ternyata bisa dijadiin analogi Mal. Soal reaksi, nyambung juga ke komentar di bawah soal reaksi Garda Bangsa dengan kekerasan itu juga salah. Dalam hal ini, variabel A adalah FPI (yang memprovokasi) dan variabel B adalah Garda Bangsa. Karena ini reaksi berantai. |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 yudi setuju dengan sikap demikian. lantas bagaimana dengan sikap sebagai saudara yang lain yang mengatakan bahwa bila kita hanya diam kapan kita akan membela islam?
yudi bingung dalam menyikapi hal tersebut.  kejelasan ya harus dicari, bukannya malah diam toh... yg saya lakukan sekarang ini bukan diam kan? :) |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 duh makin jadi berhenti berharap sama media nasional... khususnya metro tv... hmmmm ko jadi gt...
tentang pemancingan emosi inget sama film sun go kong saat musuhnya siluman mimpi kalo ga salah, dimana siluman itu nyamar jadi manusia yang kemudian memancing sun go kong untuk membunuhnya. dan sun go kong pun dihukum gurunya berkali-kali hingga ia dipecat jadi muridnya. seolah-olah sang musuh itu dengan nada sinis mengancam... "Ayoo... ayo marahh!!!.... Bunuh Gw..!! biar semua liat bahwa lu memang radikal....!"  huehehe saya mah gak hapal deh cerita Sun Go Kong... kalo Songoku baru apal... :D |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 dulu aku pernah wawancara beliau. demi mendapat informasi dati beliau, aku sampe bela-belain siang malam nungguin di rumahnya, eknal sama istri dan para pekerja yang ada di rumah itu. Setelah wawancara, kesimpulanku belau memang cerdas. Gak diragukan lagi.... tapi secara pribadi saya tetap kurang respect dengan strategi dakwahnya.... Ya, ini sih opini yang justru berdasar dari anggapunku bahwa beliau sangat cerdas...  ya, setidaknya kita dapat gambaran lebih jelas daripada sekedar gambaran dirinya di televisi... :) |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 Jadi pengen nulis nie
Tentang kekerasan...
Melihat pemberitaan beberapa hari ini, begitu pula dengan reaksi dari Garda Bangsa yang mengerahkan aktifis2nya di beberapa daerah di Jawa serta opini beberapa tokoh masyarakat yang lain yang serentak menghendaki pembubaran FPI membuat berpikir untuk memaknai substansi kekerasan.
Paradigma masyarakat akan kekerasan begitu sensitif. Terutama semenjak jaman reformasi, apalagi tidak ada lagi rezim seperti halnya Soeharto. Melihat kekerasan sedikit saja, hati nurani masyarakat sudah tersentuh, terenyuh. Entah para pirsawan mengetahui seluk beluk permasalahan atau tidak, namun serta merta mereka bangkit untuk membela yang sedang dikerasi. Betul bukan?
Nampaknya metode2 fisik, lantang, keras mengalami pergeseran di masyarakat kita. Manusia menjadi begitu lemah, tak begitu paham akan nilai2 kebenaran yang harusnya diselidiki dan dipahami terlebih dahulu sebelum menilai Atau mungkin justru bangkit berbalik membalas kekerasan dengan kekerasan yang sama.
Salah atau pun benar, apapun, jikalau menggunakan kekerasan pastilah akan dicemooh oleh masyarakat. Nah, memangnya sudah sebegini lembeknya bapak2, ibu2 dan remaja2 kita saat ini? Seakan2 semua menganggap bahwa mempertahankan kebenaran tidak dibangun dengan darah dan air mata? Seakan2 yang benar adalah yang lemah lembut, penuh tawa dan bahagia, makmur? Apakah itu sekarang nilai2 yang benar? Kita seakan2 telah jauh dari cerita2 perjuangan dan pertempuran mempertahankan kemerdekaan dengan darah, air mata dan pengorbanan. Kita telah jauh dari cerita para Sahabat dan Nabi yang penuh perjuangan mental, fisik dan nyawa dalam memegang teguh Islam. Yang banyak adalah sinetron dan cerita cinta remaja tanpa harapan.
ini dulu ...  bener bos, kekerasan kadang memang ada tempatnya, dan memang ada alasan bagus utk melawan secara fisik, apalagi jika aqidah dihina... :) |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 coba si Abang buyung ada di Monas minggu kemarin yah....mulutnya yang bunyinya dah kaya tong rombeng itu kayaknya dah perlu disodok bambu tuh.....
(mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan)  wah saya sih gak tega jg kalo sampe digituin bos... :D
peace ah... |
 | akmal wrote on Jun 4, '08 Kasus Zidane ternyata bisa dijadiin analogi Mal. Soal reaksi, nyambung juga ke komentar di bawah soal reaksi Garda Bangsa dengan kekerasan itu juga salah. Dalam hal ini, variabel A adalah FPI (yang memprovokasi) dan variabel B adalah Garda Bangsa. Karena ini reaksi berantai.  nah itulah bahayanya bermain dgn emosi orang lain... :) |
 | kayanya kita perlu bikin TV, radio, kantor berita, dan koran yang Islami, artinya yang benar2 membela kepentingan umat, tetapi tentunya tetap obyektif .
Inget waktu perang teluk 1991, sumber berita selalu CNN, sehingga kita selalu melihat bahwa USA dkk adalah yang benar. Tapi pada perang teluk 2003, adanya al jazeera mampu membuta opini publik terbagi...bahkan CNN jadi kurang laku, terutama di negara2 mayoritas muslim.
the BIG question is, ada yang berani keluar modal untuk itu ???? |
 | tampaknya media2 memang benar2 menyudutkan FPI, dari beberapa media saya masih mendengar bahwa FPI ditangkap paksa.. padahal dari siaran langsung juga terlihat bahwa FPI dengan sukarela menyerahkan diri..
trakhir saya dengar FPI surabaya membubarkan diri setlah dikepung GP ansor.. hhfff jadi Islam yang terpecah belah.. astaghfirullah.. |
 | Pererat ukhuwah, agar ngga' rapuh 'n mudah diadu domba..... Konsentrasi Utama: SKB pembubaran ahmadiyah (yang telah jelas menodai dan menginjak-injak agama Islam). |
 | waiting 4 this article thank u master |
 | media udah jadi monster..masyarakat terasuki oleh opini media yg jelas2 ga objektif.. islam lagi yg disudutkan.. dan saya kira FPI selama ini melakukan tindakan yg benar smuanya ga ada yg membelot dari ajaran Islam..kalo masalah bentrokan itu harus diselidiki lebih dalam yg jelas ada provokasi.. dan media seperti menutup2i hal yg sebelumnya terjadi sebelum bentrokan.. |
 | wah gimana nih kalo FPI sampe di bubarin siapa nanti yang ngancurin maksiat2nya |
 | kalau ada berita sebaliknya dari AKKBB, sudah jelas siapa yang bohong kan ? track recod nya kan sudah jelas :) :) :) |
 | tulisan yg manarik, mas akmal... thanks udh share.. :D |
 | Ditunggu tulisan berikutnya Son.. |
 | Bang Akmal ...Ijin Yah buat dicopy ...Buat temen2. |
 | astaghfirullah..jadi merinding bacanya...uda syukron yah ..jadi bahan perenungan acis nih..gimana sih kita harus bersikap lagi sebagai muslim..apakah hanya diam saja ato bertindak.... |
 | Iya, bosen dengar berita yang sok bombastis, tapi kentara sekali tak berimbangnya. Emang dikira orang ga merasa kalo dibodohi. Kita ga akan bela FPI kalo mereka memang bersalah, silakan diadili tapi mana dong ulasan tentang AKKBB. FPI dicitrakan sesangar2nya, AKKBB masih gelap aja. Padahal kalo mereka mau memberitakan secara berimbang, mestinya akan dapat rating paling tinggi, wong beda sama yang lain, dinilai paling komprehensif laporannya. Tapi ya begitulah isi TV Indonesia, kalo masih mau mengkritisi ya silakan nonton, kalo dah eneg ya tinggal aja cari yang lain. |
 | yang diberitakan tu kan yg bnr2 terjadi dilapangankan biar masyasrakat yg nilai aja .tapi organisasi kaya FPI terus dibiarkan berbuat seenaknya sendr sok paling suci itu memang pantas DIBUBARKAN aja.tiap bulan romadhon pasti ada tindakan2 anarkir. |
 | akmal wrote on Jun 10, '08 yang diberitakan tu kan yg bnr2 terjadi dilapangankan biar masyasrakat yg nilai aja .tapi organisasi kaya FPI terus dibiarkan berbuat seenaknya sendr sok paling suci itu memang pantas DIBUBARKAN aja.tiap bulan romadhon pasti ada tindakan2 anarkir.  tindakan ngoceh seenaknya tanpa headshot dan blog yg ada isinya juga dianggap anarkis di sini bos... ente memang pantas dibubarkan :D |
 | mungkin kita lupa makna dari : Islam rahmatan lil'alamin ya?FPI jangan DIBUBARKAN!!! tapi masukkan aja nusa kambangan...sekalian yg punya blog ini tuk belajar disana biar belajar dzikir yg benaR BIAAR GAK MENGHUJAT ORANG TERUS...APA sebaiknya dibasmi aja orang2 kaya akmal dan kawan2nya itu biar islam indonesia bisa maju kalo gak ada orang2 kaya akmal dan kawan2nya OK>>>>>>>>>>..................... |
 | akmal wrote on Jun 17, '08 mungkin kita lupa makna dari : Islam rahmatan lil'alamin ya?FPI jangan DIBUBARKAN!!! tapi masukkan aja nusa kambangan...sekalian yg punya blog ini tuk belajar disana biar belajar dzikir yg benaR BIAAR GAK MENGHUJAT ORANG TERUS...APA sebaiknya dibasmi aja orang2 kaya akmal dan kawan2nya itu biar islam indonesia bisa maju kalo gak ada orang2 kaya akmal dan kawan2nya OK>>>>>>>>>>.....................  lempar reply sembunyi wajah... hahaha...
basmi saya kalau mampu mbak (mau dipanggil mas kok kelakuannya kebanci-bancian, dan banci kan gak suka dipanggil mas, ya kan?)... kalau ngerasa tulisan saya jelek, silakan bikin tulisan sendiri yg lebih bagus... dan kalau merasa wajah jelek, jgn malu2 pasang headshot, karena innallaaha laa yanzhuru ilaa ajsaamikum wa laa ilaa shuwarikum... ngerti gak? nggak ngerti yo wis... :D |
 | tulisan yang bagus... terima kasih |
 | gaplekan dan semoyo ???????? orang2 yg BODOH!!!!!!!!!!!! |
 | Ass.. kang Akmal.. saya newcomer di multiply tp slama ini jd pemerhati tulisan kang Akmal.. btw TOP BGT tulisannya.. keep up your good work kang.. ;-) |
 | akmal wrote on Jun 18, '08 Ass.. kang Akmal.. saya newcomer di multiply tp slama ini jd pemerhati tulisan kang Akmal.. btw TOP BGT tulisannya.. keep up your good work kang.. ;-)  mohon doanya ya... :) |
 | apa pun FPI JALAN NYA tetap salah |
| |