assalaamu’alaikum wr. wb. Allaahu akbar!!! Entah berapa kali kami bertakbir malam itu. Kami, kontingen pendukung pembubaran Ahmadiyah, langsung bersepakat menggantikan tepuk tangan dengan takbir, segera setelah duduk di tribun. Walaupun sebelumnya tidak saling mengenal, kami dapat dengan mudah saling akrab. Kali ini, segala perbedaan dikesampingkan, karena kami punya musuh bersama, yaitu Ahmadiyah dan para pendukungnya. Seorang teman bertanya, “Gimana kalo kita ketemu orang-orang sepilis di sekitar studio ini? Antum mau ngapain?” “Ah, yang penting shalat Maghrib dulu. Ayo ke mushola. Nggak bakalan deh ketemu sama mereka di tempat shalat!” demikian seloroh saya yang kemudian segera diikuti dengan tawa terbahak-bahak teman saya itu. Kenyataannya, memang kami tidak bertemu dengan seorang pun diantara mereka. Mungkin mereka shalat di tempat lain, atau mungkin tidak shalat sama sekali. Sebagian diantara mereka sudah sangat berani membagi-bagi ajaran agama menjadi sisi esoteris dan eksoteris. Tidak ada yang aneh jika mereka menomorduakan atau menomorsejutakan ibadah shalat. Ketika kami beranjak menuju studio, saya sempat melihat Abdul Moqsith Ghozali yang sedang duduk sendirian di dekat mushola. Saya tidak melepaskan pandangan darinya, sekedar ingin melihat ia shalat atau tidak. Sayangnya, posisi tempat ia duduk tidak terlihat lagi dari studio. Apa boleh buat, rasa penasaran saya tidak akan terjawab sekarang. Dikorbankan? Kesan pertama saya pada kontingen pro-Ahmadiyah sangat tidak menyenangkan. Usman Hamid, aktifis Kontras yang juga membela Ahmadiyah, datang paling awal dan duduk di tribun sendirian. Saya puji keberaniannya, namun tak pelak lagi saya merasa sangat tidak respect dengan JIL, AKKBB, dan kawan-kawannya. Terkesan seolah-olah mereka mengorbankan Usman Hamid dan Abdul Moqsith Ghozali. Sampai akhirnya acara dimulai, jumlah kontingen sangat tidak berimbang. Kubu anti-Ahmadiyah berjubel sampai-sampai sebagian terpaksa tidak duduk di tribun, sementara tribun di seberangnya kosong melompong, dan hanya terisi hampir separuh saja. Mereka benar-benar dikorbankan. Sungguh tindakan yang sangat tidak ksatria dari kalangan pro-Ahmadiyah. Argumen Kacangan Yang sangat saya sesalkan adalah munculnya argumen-argumen kacangan di forum debat yang ilmiah dan superserius seperti ini. Sebagai contoh, FPI dan MUI dituduh merasa benar sendiri karena berusaha membubarkan Ahmadiyah. Yang bicara itulah yang sebenarnya merasa benar sendiri. Pertama, karena pendapatnya didasarkan pada selera pribadinya sendiri, sedangkan FPI dan MUI tidak menggunakan standar masing-masing, melainkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan al-Hadits. Dengan demikian, jelaslah bahwa kalangan pro-Ahmadiyahlah yang merasa benar sendiri, sementara kubu yang berseberangan tidak pernah menisbahkan kebenaran pada dirinya sendiri. Kedua, dan ini blundernya, adalah karena pihaknya adalah minoritas yang jumlahnya sangat sedikit sekali. Adapun pihak yang ingin mengenyahkan Ahmadiyah bukan terbatas pada FPI dan MUI saja, melainkan juga berbagai ormas Islam lainnya dan forum ulama nasional maupun internasional. Bahkan kalau mau mengkritik MUI, maka MUI justru harus dikritik karena terlambat memberikan fatwa sesat terhadap Ahmadiyah. Jauh sebelumnya, Rabithah ‘Alam Islami, organisasi ulama internasional, sudah menjatuhkan fatwa yang sama. Karena sedemikian banyak umat Islam menyepakati kesesatan Ahmadiyah, sementara yang membela hanya secuil, maka tentu yang pro-Ahmadiyah itulah yang pantas disebut ‘merasa benar sendiri’. Bahkan Abdul Moqsith Ghozali pun tidak selamat dari argumen kacangan. Ia menyatakan Ahmadiyah memiliki aqidah yang berbeda, bukannya salah. Kalau tidak salah tentu benar. Sementara kaum sepilis sendiri selalu memaksa-maksa orang untuk mengakui kebenaran setiap agama, maka mengapa mereka tidak mengakui kebenaran Ahmadiyah saja? Lucunya, Abdul Moqsith Ghozali sendiri menyatakan dirinya tidak sepakat dengan kepercayaan Ahmadiyah. Kontradiksinya sudah terlihat jelas, dan kelihatannya segala konflik dalam akal mereka memang hanya bisa didamaikan dengan dolar. Menghindar Kedua narasumber dari kalangan pro-Ahmadiyah (yaitu Usman Hamid dan Abdul Moqsith Ghozali) sama-sama memalukan. Pada sesi pertama, yang ‘diadu’ adalah Usman Hamid dan Mahendradata. Gampang ditebak, pokok pembicaraan pada sesi pertama adalah soal hukum. Konyolnya, Usman Hamid malah dengan gegabah memasuki pembicaraan tentang Sirah Nabawiyah. Menurutnya, Rasulullah saw. pun tidak membasmi nabi-nabi palsu pada jamannya. Argumen murahan semacam ini sudah dibantah oleh saudara saya, ust. Ahmad Rofiqi, di sini dan di sini. Sebaliknya, ketika Abdul Moqsith Ghozali – peraih gelar doktor di bidang tafsir Qur’an dari UIN Syarif Hidayatullah – dihadapkan dengan ust. Adnin Armas, yang dibicarakannya justru soal hukum dan hak-hak sipil jamaah Ahmadiyah. Ia tidak ingin melangkah ke dalam pembahasan teologis, fiqih, syariah, bahkan pembicaraan soal tafsir Qur’an pun ditolaknya mentah-mentah. Doktor tafsir Qur’an yang menolak diskusi soal tafsir Qur’an kurang lebih sama konyolnya dengan dokter yang malas membicarakan soal pentingnya mengkonsumsi antibiotik sesuai anjuran dokter. Alhasil, argumen dari kedua narasumber utama kubu pro-Ahmadiyah selalu berputar-putar tak tentu arah dan pada akhirnya hanya mempertunjukkan betapa rendahnya intelektualitas mereka. Rajin Membaca Adalah Kuncinya Beberapa kali kubu anti-Ahmadiyah terpancing untuk menyoraki kubu lawannya dengan kata-kata “Baca dulu, baru komentar!”, atau “Makanya, banyak belajar, biar pinter!” Sebenarnya saya kurang suka dengan tindakan menyoraki orang lain seperti itu. Hanya saja, memang sulit menahan keinginan untuk mengucapkan kata-kata seperti itu, terutama setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kebodohan lawan debat. Sebagai contoh, ada yang berkomentar, “Anda kok tahu banyak soal Ahmadiyah?” Maksudnya, ia meragukan pengetahuan kami tentang Ahmadiyah. Padahal memang hanya mereka sajalah yang jarang mengkaji Ahmadiyah. Mereka membela Ahmadiyah, padahal mereka tak tahu apa-apa tentangnya. Sebaliknya, kubu anti-Ahmadiyah justru membawa kitab Tadzkirah sehingga bisa diperlihatkan dengan jelas betapa nistanya kitab yang dianggap suci oleh kaum Ahmadiyah itu. Lagipula, di era internet ini, tidak ada alasan untuk mengatakan tidak punya akses untuk mengenal Ahmadiyah. Saya sendiri telah men-download begitu banyak buku Ahmadiyah (termasuk Tadzkirah dalam bahasa Inggris) dari salah satu situs resmi Ahmadiyah. Yang sangat menggelikan adalah wajah mereka yang nampak tegang, bahkan ada yang pucat, ketika ust. Amidhan menjelaskan secara gamblang betapa Tadzkirah menistakan orang-orang yang tidak beriman pada Ghulam Ahmad al-kadzdzab dengan menyamakan mereka dengan babi dan pelacur. Saya pun heran mengapa mereka baru tahu mengenai hal yang sangat mencolok seperti ini. Sungguh memalukan. Minimnya Logika Logika yang mereka gunakan dalam membela Ahmadiyah benar-benar pantas untuk dikasihani. Betapa kasihannya guru-guru di sekolah jika harus melihat anak didiknya terjerumus dalam kekacauan metodologi berpikir seperti ini. Dalam sebuah kesempatan, Abdul Moqsith Ghozali mengatakan bahwa Polisi dan hukum tak bisa menghukum iman yang ada dalam dada, dan karenanya, orang yang menganut ajaran Ahmadiyah tak bisa dihukum. Ini adalah pernyataan yang sangat memalukan, apalagi jika datang dari lisan seorang doktor. Hukum, baik yang syariat maupun yang sekuler, memang sejak awal diciptakan tidak untuk menghukum apa yang ada dalam dada, melainkan apa yang lahir dari lisan dan perbuatan. Itulah sebabnya hukum pidana tidak membedakan antara pelaku kejahatan yang bertaubat maupun yang tidak. Bertaubat atau tidak, menyesal atau tidak, hukuman tetap dijalankan. Tidak ada hubungannya dengan isi hatinya. Ada pula yang memberi argumen bahwa penistaan yang dilakukan oleh Ahmadiyah tidak akan membuat Rasulullah saw. berkurang kemuliaannya. Ini adalah argumen yang sangat menyedihkan. Dalam benak saya, masalah ini bisa dianalogikan dengan cara sederhana saja. Anggaplah seseorang menuduh ibu kita sebagai pelacur, padahal beliau tidaklah demikian. Apakah tuduhan kacau itu membuat kemuliaan ibu kita menjadi berkurang? Tentu tidak. Akan tetapi, kita sebagai anak yang berbakti juga punya hak untuk marah. Demikian pula Rasulullah saw. tidak berkurang kemuliaannya hanya karena difitnah oleh kaum orientalis, dituduh sebagai plagiat oleh Guntur Romli, atau disamakan dengan manusia biasa oleh Ulil Abshar Abdalla. Akan tetapi, orang-orang yang mencintai beliau berhak dan wajib untuk marah. Allaahu akbar !!! Bubarkan Ahmadiyah !!! wassalaamu’alaikum wr. wb.
 | Akh, link ke Ust. Ahmad Rofiqi kok tidak bisa di-klik ?
Afwan bisa diperjelas dimana dan kapan diskusi tsb dilaksanakan..? Maklum, akses berita dari tanah air kadang tersendat krn kesibukan. *alasan.com*
Pasti seru sekali ya ketika itu...Diskusi seperti ini bagus banget jika disosialisasikan. Karena banyak kalangan muslim hanya tahu dari mediamassa yang notabene mengedepankan berita kekerasan yang dilakukan golongan anti Ahmadiyah. Sehingga malah menimbulkan rasa tidak simpati pada sesama muslim dan mengasihani yang jelas kesesatannya. |
 | setuju! disini jg lagi demo menuntut ahmadiyah dibubarkan.. |
 | ahmadiyah bubar jil bubar akkbb bubar sampah+dkk bubar smua ! Allohuakbar! |
 | kapan tayang of airnya kang? pasti seru, diedit nggak ya? |
 | siran tundanya nanti malam ya? penasaran,,, semoga cerdas debatnya.. |
 | bubarkan ahmadiyah sekarang juga... ! ! ! |
 | sepanjang memakai nama Islam, Ahmadiyah harus "diganjang".
tapi apakah membubarkan Ahmadiyah akan menutup ajarannya? esensinya akan ajaran Ahmadiyah bukan? |
 | hehehe seru... jadi kapan tayangnya mal? |
 | Akhir dan kesimpulan debat ini bagaimana mas akmal?
Semoga mereka kembali ke Islam dan meninggalkan Ahmadiyah.. amiiiinn
|
 | duh mal, ternyata kita tidak sependapat. but, it's ok la..yang penting damai2 ajah. hohoho.
-yk- |
 | nazzier wrote on Jun 11, edited on Jun 11 apasih maunya mereka............????? hmmmmm...dengar2...ada campur tangan orang asing ya maslaah ini....
|
 | Allah Akbar... Jujur... Saluut sama orang2 yang mendalami pemikiran islam.. semoga saya terus belajar.. jazakallah bang Akmal.. terus berjuang.. doa ummat muslim bersama teman2 semua... |
| ga ada yang bisa rekamin ya..terus posting...ihik...susah sekali cari TV one...:( |
 | mas akmal, saya lagi liat siarannya nih,,
baru awal tapi saya udah takut,, takut kalo pendapat pembela ahmadiyah diterima sama pihak2 lain,,
Ya Allah berilah petunjuk-Mu kepada kami dan mereka. Kepada kami untuk meluruskan mereka, dan kepada mereka untuk menjadi lurus.. amiinn |
 | debat sama penganut/pendukung aliran sesat memang ngeselin rakyat dikadalin TV TV. demo ribuan umat di istana menuntut SKB BUbar Ahmadiah tidak diblowup diberitakan sedikit dan gak jelas oleh produser2 TV TV rese kutipan dari hidayatullah.com Pelajaran “Berharga” Peristiwa Monas [2] Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail Rabu, 11 Juni 2008 “Tidak ada asap, jika tidak ada api, “ujar KH. Cholil Ridwan melihat kasus Monas. Ada hegemogi media dan dukungan LSM pada AKKBB. Peristiwa ini harus menjadi pelajaran umat Islam. “Sisi lain” di balik kasus Monas Oleh: Fahmi Amhar * Prolog: Ketidadilan media massa, provokasi kalangan liberal yang diback-up TV dan “adu-domba” antar ormas Islam membuat umat Islam “tak berdaya” dalam kasus Monas. Untugnya, kalangan Muslim cepat sadar. Sebuah pelajaran yang sangat berharga! Ahmadiyah Akar Persoalan Untungnya, umat Islam segera cepat sadar. Ketika provokasi “adu-domba” umat ini berlangsung massif dengan difasilitasi media massa dan TV, ormas-ormas Islam mengembalikan persoalan yang sesungguhnya. Ketua MUI, KH. Cholil Ridwan mengatakan, insiden Monas Ahad, (1/6), lalu cuma “asap”. Untuk menghilangkan asap tersebut, maka apinya harus dipadamkan. Yang dimaksud “api”, kata KH. Cholil adalah, segala tindak kekerasan terhadap akidah umat Islam serta penodaan terhadap Al-Quran. Setelah di beberapa tempat kelompok-kelompok organisasi “onderbow” NU melakukan pembalasan, tiba-tiba ormas Islam, seperti; Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, Garda Bangsa, Pemuda Anshor, Pergerakan Mahasiswa (PMII), Forum Umat Islam (FUI), Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), Tim Pengacara Muslim TPM), Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Persatuan Umat Islam (PUI), dan Keluarga Muslim se-kota Bogor melakukan “Ikrar”. Di Balaikota Bogor, Jabar, mereka membuat "Ikrar Ukhuwah", guna menjaga situasi Kota Bogor tetap kondusif. Di beberapa tempat juga dilakukan hal sama. Termasuk di Jabar dan di Kalimantan. Ketua PBNU, KH. Hasyim Muzadi menyatakan, “Sebenarnya, masalah Ahmadiyah ini bukan masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan, tetapi masalah penodaan agama tertentu, dalam hal ini adalah Islam.” Beliau juga menyesalkan sikap Pemerintah yang tidak tegas terhadap persoalan Ahmadiyah. (Republika.co.id, 3/6/2008). Rois Syuriah PWNU Jawa Timur, KH Miftahul Akhyar, juga menyatakan insiden Monas membuktikan SKB Ahmadiyah mendesak dikeluarkan (RCTI, 3/6/2008). Islam sebagai Sasaran Melihat pola arus informasi atas insiden ini, sepertinya mirip dengan pola yang digunakan di masa lalu. Dimana bisa diprediksi akan melahirkan beberapa hal; Pertama: Adanya pengalihan isu. Semula isu yang dominan adalah tuntutan kenaikan harga BBM dan pembubaran Ahmadiyah yang telah dinyatakan menyimpang oleh Bakorpakem, juga kekerasan polisi di kampus UNAS. Kini, isu seakan bergeser menjadi isu pembubaran ormas Islam tertentu. Ketua Lembaga Penyuluh Bantuan Hukum PBNU, M Sholeh Amin mengingatkan jangan sampai pengalihan isu demikian dibiarkan. (Republika.co.id, 3/6/2008). Kedua: Adanya Stigmatisasi ormas Islam. Dari banyak komentar dan opini media massa digambarkan betapa buruknya wajah kaum Muslim yang sebenarnya justru membela kemurnian akidahnya. Ketiga: Menghancurkan organisasi Islam yang memperjuangkan syariah Islam dan secara terbuka menentang pornografi-pornoaksi, dan kemungkaran. Lihatlah, pasca Insiden Monas, Opini yang semua hanya mengecam “kekerasan” FPI, tiba-tiba bergeser pembubaran FPI lalu lebih meluas ke pembubaran MUI dan ormas-ormas Islam “garis keras”, istilah yang sering digunakan kaum liberal. Adnan Buyung Nasution dan Goenawan Mohamad menuntut pembubaran beberapa ormas Islam yang sesungguhnya tidak terkait sama sekali dengan insiden tersebut. Bahkan mereka mendesak Menteri Hukum dan HAM untuk mengajukan permohonan ke pengadilan lalu meminta hakim untuk membubarkan Majelis Ulama Indonesia (Hidayatullah.com, 2/6/2008). Keempat: Ada pengendalian arus informasi. Di mana, aparat lebih cenderung bergerak atas “tekanan” media massa dan sekelompok kecil pakar yang tak merepresentasikan mayoritas orang. Inilah rupanya hal yang disadari kaum liberal yang tergabung dalam AKKBB. Pemanfaatan media sebatas ingin menunjukkan, bahwa publik setuju dengan pendapatnya. Sementara, pihak media massa –yang selama ini dianggap sebagai lembaga independent dalam teori-teori yang dipelajari di buku-buku—nyatanya juga berlaku subyektif dan tidak fair. Liputan TV One dan beberapa stasiun TV lebih cenderung “mengarahkan” orang membela Ahmadiyah dan menyudutkan kelompok penentangnya. Syukur, peristiwa ini disadari umat Islam. Ketua Aliansi Damai Anti Penistaan Islam (ADA-API) KH Noer Muhammad Iskandar, beserta ulama dan tokoh Islam langsung melakukan aksi “perlawanan” dengan membalas aksi lebih besar, sekitar 9000 orang “mengepung” Istana. (Hidayatullah.com, 9/6/2008). Tetapi, sekali lagi, media seperti Metro TV, TV One, TransTV, Trans-7, SCTV dan RCTI tak terlalu tertarik menjadikan liputan “LIVE”, sebagaimana saat menggerebek FPI. Sebab bagi media, besar atau kecil jumlah orang, itu hanyalah image (citra). Gerakan ribuan orang berpakaian putih-putih “mengepung” Istana tak terlalu menarik dibanding segelintir aktivis AKKBB. Sekali lagi, ini soal image (cintra)!. Jadi, yang sedang terjadi sebenarnya adalah upaya “membungkam” orang dan organisasi yang secara tegas menyuarakan Islam. Lantas siapa yang diuntungkan? Tentu, mereka yang tidak menginginkan Islam kuat dan mereka yang tidak menginginkan Indonesia kuat. Mereka yang diuntungkan adalah kaum imperialis dan para kompradornya. Menarik dicatat, sebagian tokoh pendukung Ahmadiyah itu adalah para tokoh penting di balik Reformasi 1998 yang mendapat bantuan dana 26 juta dolar AS dari USAID untuk menjalankan agenda AS. Bantuan dana ini dapat dilihat dalam The New York Times (20 Mei 1998). Kedekatan AS dengan para tokoh AKKBB ini juga ditunjukkan dengan kedatangan Kuasa Usaha Kedubes AS untuk Indonesia, John Heffrn menjenguk anggota AKK-BB yang menjadi korban insiden Monas 1 Juni. Bahkan, salah satu rekomendasi The Rand Corporation ( http://www.rand.org) dalam menundukkan Islam adalah mencegah aliansi antara kaum tradisionalis dan kaum fundamentalis. Caranya adalah dengan "mengadu-domba". Karena itu, sungguh bijak pernyataan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi yang menyesalkan penggunaan dan pelibatan nama NU dan kelompok NU dalam masalah ini. “Karena relevansinya tidak ada antara NU dan Monas, NU dan FPI. Tapi, kenapa lalu ditulis korban itu adalah orang NU?” ujarnya. Oleh karena itu, KH Hasyim mengingatkan pihak-pihak yang ingin menggiring NU, terutama badan otonom NU seperti GP Ansor, Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa, Lakpesdam NU agar menghentikan provokasinya. (Detik.com, 3/6/2008). Penutup Meski SKB tiga Menteri –yang berupa surat peringatan dan perintah-- telah keluar, setidaknya, ke depan, umat Islam harus mulai belajar dari pengalaman buruk ini. Ke depan, umat Islam tak harus selalu diam. Apalagi menghadapi sikap otoritarianisme media massa yang sering tidak berlaku fair. Bandingkan dengan cara kerja kalangan liberal seperti AKBB. Beberapa menit peristiwa, mereka sudah menggelar jumpa pers. Koran, radio dan TV mendukungnya. Tokoh-tokoh yang senantiasa dianggap pembela HAM langsung serempak berteriak dan semua menekan pemerintah. Harus diakui, cara kerja kalangan liberal melalui AKKBB meski hanya segelintir orang –sebab mereka tak mewakili umat Islam mainstream— patut diacungi jempol. Hubungan antara AKKBB, LSM dan media massa adalah hubungan simbiosis saling menguntungkan yang melahirkan “kepentingan politik dan bahan berita.” Alhamdulillah, sikap para ulama, tokoh masyarakat hingga para artis yang menjenguk Ketua FPI, Habib Rizieq, setidaknya “membalik” opini tidak fair yang telah dibangun media massa. Umat Islam sudah mulai cerdas. Ormas-ormas Islam juga cepat paham dan tak mau berlama-lama terkena umpan “provokasi” murahan. Wahai kaum Muslim, hendaknya kita tidak mudah terprovokasi dan diadu-domba oleh kafir penjajah yang memang sangat ingin memecah-belah kesatuan umat Islam. Kita pun jangan sampai terdorong untuk memprovokasi dan mengadu-domba sesama Muslim karena Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu-domba.” (Mutaffaq ‘alaih). Rasulullah saw pernah mengingatkan, bahwa umat Islam tidak akan pernah hancur oleh kekuatan luar yang berasal atau musuh-musuh Islam, kecuali ketika kita sudah saling menghancurkan satu sama lain: «وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي ِلأُمَّتِي أَنْ لاَ يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ َلا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لاَ يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ ِلأُمَّتِكَ أَنْ لاَ أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ َلاَ أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ مَنْ بَيْنَ أَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا» Sungguh, aku telah memohon kepada Tuhanku bagi umatku agar mereka tidak binasa karena wabah kelaparan dan agar musuh dari kalangan selain mereka sendiri tidak dapat menguasai mereka hingga masyarakat mereka terjaga. Sungguh, Tuhanku kemudian berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku telah menetapkan suatu putusan maka putusan itu tidak dapat ditolak. Sungguh, Aku telah memberimu bagi umatmu bahwa mereka tidak dibinasakan oleh wabah kelaparan dan musuh selain dari kalangan mereka tidak dapat menguasai mereka sehingga masyarakat mereka terjaga sekalipun dikepung dari berbagai penjuru, hingga mereka saling menghancurkan satu sama lain dan saling menawan satu sama lain.” (HR Muslim). Mudah-mudahan, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk semakin matang, dewasa dan semakin cerdas di masa depan. [habis/www.hidayatullah.com] * Penulis adalah alumnus Vienna University of Technology |
 | Baca paragraf terakhir, mereka bener2 kebangetan ya! TV memang kebanyakan sudah tidak mewakili suara hati kita. Mereka bela rame-rame kebebasan seakan itu suara masyarakat pada umumnya, padahal masyarakat kita masih berbudaya, masih memegang ajaran agama, dan masih membelanya. TV bagi kita orang awam seperti menggaungkan suara alien, sering mereka menjudge sesuatu yang tak seperti kata hati kita, ntah mereka mewakili siapa, yang jelas bukan diri kita, bukan budaya kita. Semoga mereka yang membela Ahmadiyah, semoga diberi insyaf. Mereka itu kena apa sih ya? (geleng-geleng kepala, ngurut dada, astaghfirullah) |
 | Makasih, makasih Mal... Gimana penayangannya? Apakah adil atau dipotong-potong agar menguntungkan kubu pro-Ahmdyh?
|
 | ternyata di Tipi, ente gak senarsis aslinya..??!! hue..huek..!! |
 | eh ditipi semalam ya kak? nonton.. sangat mudah untuk dibantah argumen dari pro ahmadiyah..
*kak akmal hadir ya.. kok ga liat.... :) |
 | seru juga acara debatnya cuma memang ga imbang kalah argumen akkb . salah satu yg seru adalah ketika kubu akkb menyatakan bahwa negara ga usah ikut campur masalah ketuhanan,,, dijawab mahendradatta :jelas2 pembukaan UUD 45 menyatakan bahwa kemerdekaan indonesia adalah rahmat Allah... he..he..mantabs btw..wah ada yg masuk tipi (kebetulan sy rekam di komp) nih dia.>>>> klik1klik2klik3klik4 |
 | oh ya.. kak akmal.. saya copy boleh? |
 | sepertinya perlu kita masukkan dalam kurikulum pendidikan agama di sekolah-sekolah tentang timbulnya aliran2 sesat semcam ahmadiyah ini dsb. untuk membentengi anak-anak muslim sejak dini. |
 | para tumbal pro ahmadiyah yg hadir di sana sepertinya ndak "bergigi", apa memang sengaja dihadirkan seperti itu? |
 | pengen nonton tapi nggak ada tivi kak..:( |
 | acara malam itu begitu mengesankan... Allahu akbar!!! tp bagaimana dengan yang ini (hmm... kerrreen):   |
 | kayaknya kenal tuh *nunjuk gambar di atas* |
 | debby ada di palembang, dek.. |
 | thanks for sharing ...gak mungkin bisa lihat siarannya..kecuali ada yang upload. |
 | memangnya siapa sich di belakang Ahmadiyah dkk ... |
 | tuh kan bener... aku lg nonton itu jg dg miswa trus ngeliat kok diantara pendukung pembubaran ahmadiyah itu ada yg pake jaket trus muka2nya familiar.. eh aku blg ke suami itu sih si akmal kayanya... benul kan... |
 | Gimana caranya agar kami yang di luar negeri bisa ngeliat rekamannya ya....:( |
 | buang akidah ahmadiyah ke tempat sampah.... dan rangkul pengikutnya kedalam Islam....... bersihkan mereka.......selamatkan mereka selagi kita bisa....... |
 | Simple aja, orang mau percaya atau tidak percaya Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi adalah urusan orang itu sendiri.
Gitu aja kok repot.
|
 | Bahwa agama adalah suatu cara/wayoflife/petunjuk/penuntun umat manusia yang disampaikan melalui nabi/rasul/orang yang diberi petunjuk. Sejatinya manusia diselubungi oleh (encompassed by) agama, dengan demikian agama bukanlah suatu teritory atau kawasan, sehingga manusia tidak dapat memiliki agama.
Kenyataan nya saat ini banyak orang yang merasa memiliki agama sehingga faktor yang melekat pada kepemilikan/teritory akan menjadi issue, seperti ketersinggungan, penghinaan, pelecehan, penyerangan, dll. Penghinaan hanya mungkin terjadi terhadap manusia sebagai pemeluk agama, dan ukurannya jelas ukuran-ukuran sosial manusia.
Saya setuju perbedaan dalam beragama adalah perbedaan penafsiran, dan itu lumrah terjadi. Perbedaan penafsiran tidak dapat dihakimi sepanjang dia tidak mengganggu penganut penafsiran lain (manusia).
Alangkah indahnya kalau ethos ini yang dimiliki bangsaku. |
 | soal menghina agama, saya kok merasa ada yang salah ketika menuduh Ahmadiyah sebagai kelompok yeng "menghina agama". menghina atau mencoreng itu maknannya, yang saya tangkap, melakukan penghinaan ataua melakukan pencorengan. nah, buat saya aneh bila ahmadiyah ketika meyakini sesuatu, berarti melakukan penghinaan. kalo kita bandingkan dengan film "fitna" Wilders, memang dia membuat film itu untuk propaganda. ya, itu bisa kita katakan sebagai penghinaan. atau karikatur Nabi di media masa Denmark, itu penghinaan. Ahmadiyah, hanya meyakini sesuatu. menghinakah? malah, saya merasa FPI dll. itu sudah membuat citra islam di mata dunia internasional menjadi lebih buruk. mereka itulah yang menghina Islam dari dalam. Islam itu ingin membawa rahmat ke seluruh alam. eh..mereka menampilkan kalau islam membawa malapetaka ke seluruh alam. bukankah ini sedang menghina islam. merusak citra islam. semangat yang melatari catatan saya ini bukan ingin menyerang balik. tapi, saya merasa aneh kenapa meyakini sesuatu dianggap menghina. dan sampai sekarang belum ngerti mereka itu benar-benar merasa ada masalah dengan teologi ahmadiyah, atau sebagaimana Irshad Manji katakan, ada neo-kolonoialisasi Islam padang pasir (ARAB)? tentu arab yang dimaksud wahabisme |
 | http://richieoct.multiply.com/journal/item/21Salah satu masalah yang muncul dalam debat itu, lagi-lagi, adalah masalah penghinaan agama. Ahmadiyah dianggap menghina agama Islam karena beranggapan bahwa ada nabi "baru" setelah Nabi Muhammad. Ahmadiyah juga dianggap melakukan "kekerasan" yang jauh lebih berbahaya ketimbang kekerasan fisik yang dilakukan oleh FPI dalam tragedi Monas. Sangat menyedihkan sekali bahwa di masyarakat Islam terus dikembangkan paham bahwa perbedaan tafsir bisa dianggap sebagai penghinaan atas agama. Paham ini dalam jangka panjang akan mempersempit ruang diskusi dalam masyarakat Islam. Masyarakat akan dihantui kekhawatiran "mengina agama" karena mengajukan tafsir yang berbeda dengan umumnya pandangan umat. Perbedaan interpretasi tidak bisa menjadi alasan untuk menuduh kelompok lain menghina suatu agama. Jika alasan ini diterima, maka akan terjadi kekacauan dalam umat agama, sebab masing-masing sekte dalam setiap agama selalu punya daftar "kelompok sesat"-nya masing- masing, juga daftar ajaran dan tafsir yang dianggap menyimpang dari ajaran yang dianggap "benar". Jika menyimpang dari tafsir resmi bisa dianggap menghina agama bersangkutan, maka betapa banyaknya tindakan penghinaan atas agama. Jika penghinaan atas agama karena perbedaan tafsir bisa dihakimi oleh pengadilan, maka ha ini akan membiarkan negara untuk mencampuri urusan akidah dan kepercayaan warga negara. Kita semua tahu bahwa Ahmadiyah hanya mengajukan interpretasi yang berbeda saja tentang konsep kenabian dalam Islam. Seluruh keyakian mereka sama dengan sekte-sekte lain dalam Islam. Mereka beribadah dan menjalankan ritual yang sama dengan golongan Islam yang lain. Mungkin saja dalam Ahmadiyah ada sikap-sikap eksklusif yang memandang kelompok di luar Ahmadiyah sebagai "sesat". Kalau sikap semacam ini benar-benar ada dalam Ahmadiyah, maka tugas para "pemikir" di jamaah itu untuk melakukan kritik atas eksklusivisme semacam itu. Tetapi adanya sikap semacam itu tidak bisa menjadi alasan bagi kelompok lain untuk membubarkan Ahmadiyah. Dalam debat itu, Adnin Armas, anggota Majlis Tarjih Muhammadiyah, membaca suatu kutipan dari Tazkirah, kitab yang dipercayai sebagai kumpulan ucapan Mirza Ghulam Ahmad, di mana di sana ditegaskan bahwa barangsiapa tidak mempercayai "wahyu" yang datang pada Ghulam Ahmad, dia adalah kafir. Kalau benar ada penegasan ini dalam kitab itu, maka saya tentu tak sepakat, dan pihak Ahmadiyah harus melakukan penafsiran yang "liberal" atas kutipan itu. Taruhlah kutipan itu memang benar-benar ada di kitab tersebut, bukankah sikap saling mengkafirkan sudah ada dari sejak dulu dalam hampir semua sekte dalam Islam? Ini bukan sikap yang khas dalam Ahmadiyah. Sikap saling mengkafirkan ini harus dikritik terus karena hanya menimbulkan kekacauan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Ajaran tentang "takfir" sudah seharusnya pelan-pelan ditinggalkan, digantikan dengan sikap yang terbuka untuk melakukan dialog dan menerima perbedaan tanpa penghakiman. Masa depan agama-agama di Indonesia akan sangat suram sekali jika sikap saling menyesatkan dan mengkafirkan serta saling menuduh "menghina agama" karena perbedaan tafsir itu terus berkembang. Ada hal yang menarik dalam acara debat itu. Kelompok "Islam fundamentalis" yang hadir sebagai penonton dalam debat itu cenderung "rusuh", teriak-teriak "Allahu Akbar", dsb. Ini adalah indikasi yang kasat mata bahwa kelompkpok ini memang cenderung bertindak kasar dan kekerasan jika ada kesempatan. Perangai kelompok Islam fundamentalis selalu sama di mana-mana, yaitu "violent". Dalam sebuah diskusi yang saya ikuti dengan kelompok-kelompok "fundamentalis" saya melihat corak audiens yang serupa. Sama sekali tak kelihatan mereka mengerti "adab diskusi". Mereka memang tak merasa perlu terikat dengan "adab diskusi", apalagi terhadap kelompok yang mereka anggap sesat dan "kafir". Bukankah mereka selalu, selama ini, gembar-gembor mengutip ayat yang terkenal itu, "asyidda'u 'ala al-kuffar ruhama'u bainahum", orang-orang beriman berlaku "keras" kepada orang kafir dan saling mengasihi antar mereka. Ayat ini menjadi pembenar bagi mereka untuk bersikap "rusuh" dan "tak beradab" terhadap lawan-lawan diskusi mereka. Barangsiapa pernah mendengarkan tabligh akbar, ceramah atau khutbah kelompok-kelompok fundamentalis itu, akan tahu bagaimana "ajaran kekerasan" sudah ditanamkan dalam setiap acara keagamaan yang mereka adakan. Sosialisasi "doktrin kekerasan" berjalan terus tanpa henti. Tak heran jika mereka dengan mudah melakukan kekerasan. Yang mengherankan adalah kelompok seperti didukung oleh beberapa tokoh Islam yang terdidik yang mestinya mengerti bahaya kekerasan yang selalu akan muncul dari kelompok-kelompok yang oleh Buya Syafii Maarif disebut sebagai "preman berjubah" ini. |
 | buat richieoct, setidaknya ini pendapat (garis besar) saya..
- "sayangnya" islam bukan agama individualis, artinya setiap orang yang beragama islam harus saling mengingatkan kepada jalan "kebenaran sejati dalam islam". - Penghinaan... penghinaan yang dilakukan oleh ahmadiyah adalah penghinaan dengan menghadirkan nabi baru selain Nabi Muhammad SAW, dan menghadirkan Kitab lain selain Al Quran. mengapa terhina, karena mereka mengaku islam. - kekerasan bukan yang terbaik. TAPI Terkadang kekerasan perlu dilakukan ketika polisi yang seharusnya menertibkan tempat maksiat bungkam oleh lembaran hijau, ketika harga diri umat islam di injak oleh paham baru yang bertentangan dengan Ketentuan Allah (Muhammad adalah Rasul terakhir) dan mulut pemerintah terkunci oleh sebuah kata kabur berlabel "HAK ASASI"
mungkin pernyataan saya kurang tepat karena saya kurang mampu menuangkan apa yg dipikirkan kedalam tulisan, tapi saya cuma yakin, saya lebih paham dari anda tentang apa yg terjadi... mungkin anda harus banyak hadir dalam majelis islam yang benar... atau setidaknya harus mampu membaca ayat-ayatNYA dengan baik.. anda di Gorontalo kan? deket kan... |
 | begitulah kalau Islam sudah dianggap HANYA menjadi urusan individu...... Islam hanya hadir ketika lahir, nikah, dan kematian...... selebihnya, kebebasan pribadi dan hak asasi menjadi agama |
 | anew juga liat...emang seru.. tapi ga jelas.. bikin pusing.. dan yg duduk ditribun yg pro ahmaduyah begitu emosional malah rame ga puguh..gandeng.. bikin ga simpati..padahal seharusnya ga kayak gitu ya.. |
 | Simple aja, orang mau percaya atau tidak percaya Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi adalah urusan orang itu sendiri.
Gitu aja kok repot.  begitulah kalau uswah-nya adalah Gus Dur, beda dgn kami yg uswah-nya adalah Rasulullah saw.... utk memahami sikap Rasulullah saw. yg sebenarnya terhadap nabi palsu silakan cek di sini : http://pemikiranislam.multiply.com/journal/item/26 dan http://pemikiranislam.multiply.com/journal/item/27itulah sebabnya dalam diskusi di Debat-Debat di TV One Mahendradata meng-cut omongan Usman Hamid yg hendak mengulang-ulang dusta alias cerita karangan yg menyebutkan bahwa Rasulullah saw. sendiri tidak bersikap keras thd nabi palsu... silakan baca artikelnya baik2 ya, biar jelas siapa yg pembohong sebenarnya... pilihannya sederhana saja : Gus Dur atau Rasulullah saw.??? gitu aja kok repot... :p |
 | Bahwa agama adalah suatu cara/wayoflife/petunjuk/penuntun umat manusia yang disampaikan melalui nabi/rasul/orang yang diberi petunjuk. Sejatinya manusia diselubungi oleh (encompassed by) agama, dengan demikian agama bukanlah suatu teritory atau kawasan, sehingga manusia tidak dapat memiliki agama.
Kenyataan nya saat ini banyak orang yang merasa memiliki agama sehingga faktor yang melekat pada kepemilikan/teritory akan menjadi issue, seperti ketersinggungan, penghinaan, pelecehan, penyerangan, dll. Penghinaan hanya mungkin terjadi terhadap manusia sebagai pemeluk agama, dan ukurannya jelas ukuran-ukuran sosial manusia.
Saya setuju perbedaan dalam beragama adalah perbedaan penafsiran, dan itu lumrah terjadi. Perbedaan penafsiran tidak dapat dihakimi sepanjang dia tidak mengganggu penganut penafsiran lain (manusia).
Alangkah indahnya kalau ethos ini yang dimiliki bangsaku.  memang beda umat Muslim macam kami dengan umat liberal... jika Rasulullah saw. dihina, tentu kami marah... sebaliknya umat liberal seperti Anda yg jelas2 tidak mencintai beliau ya wajar saja tidak marah... Al-Qur'an disebut sbg kitab porno saja gak marah kok... :D
ya Allah, saksikanlah bahwa kami mencintai Rasul-Mu, sedangkan mereka berdiam diri menyaksikan penghinaan terhadap beliau... |
 | soal menghina agama, saya kok merasa ada yang salah ketika menuduh Ahmadiyah sebagai kelompok yeng "menghina agama". menghina atau mencoreng itu maknannya, yang saya tangkap, melakukan penghinaan ataua melakukan pencorengan. nah, buat saya aneh bila ahmadiyah ketika meyakini sesuatu, berarti melakukan penghinaan. kalo kita bandingkan dengan film "fitna" Wilders, memang dia membuat film itu untuk propaganda. ya, itu bisa kita katakan sebagai penghinaan. atau karikatur Nabi di media masa Denmark, itu penghinaan. Ahmadiyah, hanya meyakini sesuatu. menghinakah? malah, saya merasa FPI dll. itu sudah membuat citra islam di mata dunia internasional menjadi lebih buruk. mereka itulah yang menghina Islam dari dalam. Islam itu ingin membawa rahmat ke seluruh alam. eh..mereka menampilkan kalau islam membawa malapetaka ke seluruh alam. bukankah ini sedang menghina islam. merusak citra islam. semangat yang melatari catatan saya ini bukan ingin menyerang balik. tapi, saya merasa aneh kenapa meyakini sesuatu dianggap menghina. dan sampai sekarang belum ngerti mereka itu benar-benar merasa ada masalah dengan teologi ahmadiyah, atau sebagaimana Irshad Manji katakan, ada neo-kolonoialisasi Islam padang pasir (ARAB)? tentu arab yang dimaksud wahabisme  itulah kalau gak pernah baca kitab Tadzkirah... sama dgn pro-Ahmadiyah yg hadir di acara Debat-Debat yang dengan tololnya berkata : "ANDA KOK TAU BANYAK TENTANG AHMADIYAH?" dan langsung dijawab oleh ust. Adnin Armas (yg waktu itu masih duduk di podium) dengan mengacungkan kitab Tadzkirah tinggi-tinggi...
nah, saya sarankan, supaya Anda tidak melulu menjadi orang bodoh, kalau mau bela Ahmadiyah ya silakan belajar dulu yg banyak... baca dulu kitab Tadzkirahnya, dan saksikan sendiri kata2 penghinaan terhadap Allah dan para Rasul-Nya di dalam kitab itu... kitab Tadzkirah downloadable kok di internet... masak sih musti saya bantu cariin? makanya, internet jgn dipake buat friendster, chatting dan situs porno doank donk... sekali2 dipakai utk nambah ilmu... :) |
 | http://richieoct.multiply.com/journal/item/21 Salah satu masalah yang muncul dalam debat itu, lagi-lagi, adalah masalah penghinaan agama. Ahmadiyah dianggap menghina agama Islam karena beranggapan bahwa ada nabi "baru" setelah Nabi Muhammad. Ahmadiyah juga dianggap melakukan "kekerasan" yang jauh lebih berbahaya ketimbang kekerasan fisik yang dilakukan oleh FPI dalam tragedi Monas.
Sangat menyedihkan sekali bahwa di masyarakat Islam terus dikembangkan paham bahwa perbedaan tafsir bisa dianggap sebagai penghinaan atas agama. Paham ini dalam jangka panjang akan mempersempit ruang diskusi dalam masyarakat Islam. Masyarakat akan dihantui kekhawatiran "mengina agama" karena mengajukan tafsir yang berbeda dengan umumnya pandangan umat.
Perbedaan interpretasi tidak bisa menjadi alasan untuk menuduh kelompok lain menghina suatu agama. Jika alasan ini diterima, maka akan terjadi kekacauan dalam umat agama, sebab masing-masing sekte dalam setiap agama selalu punya daftar "kelompok sesat"-nya masing- masing, juga daftar ajaran dan tafsir yang dianggap menyimpang dari ajaran yang dianggap "benar". Jika menyimpang dari tafsir resmi bisa dianggap menghina agama bersangkutan, maka betapa banyaknya tindakan penghinaan atas agama. Jika penghinaan atas agama karena perbedaan tafsir bisa dihakimi oleh pengadilan, maka ha ini akan membiarkan negara untuk mencampuri urusan akidah dan kepercayaan warga negara.
Kita semua tahu bahwa Ahmadiyah hanya mengajukan interpretasi yang berbeda saja tentang konsep kenabian dalam Islam. Seluruh keyakian mereka sama dengan sekte-sekte lain dalam Islam. Mereka beribadah dan menjalankan ritual yang sama dengan golongan Islam yang lain. Mungkin saja dalam Ahmadiyah ada sikap-sikap eksklusif yang memandang kelompok di luar Ahmadiyah sebagai "sesat". Kalau sikap semacam ini benar-benar ada dalam Ahmadiyah, maka tugas para "pemikir" di jamaah itu untuk melakukan kritik atas eksklusivisme semacam itu. Tetapi adanya sikap semacam itu tidak bisa menjadi alasan bagi kelompok lain untuk membubarkan Ahmadiyah.
Dalam debat itu, Adnin Armas, anggota Majlis Tarjih Muhammadiyah, membaca suatu kutipan dari Tazkirah, kitab yang dipercayai sebagai kumpulan ucapan Mirza Ghulam Ahmad, di mana di sana ditegaskan bahwa barangsiapa tidak mempercayai "wahyu" yang datang pada Ghulam Ahmad, dia adalah kafir. Kalau benar ada penegasan ini dalam kitab itu, maka saya tentu tak sepakat, dan pihak Ahmadiyah harus melakukan penafsiran yang "liberal" atas kutipan itu.
Taruhlah kutipan itu memang benar-benar ada di kitab tersebut, bukankah sikap saling mengkafirkan sudah ada dari sejak dulu dalam hampir semua sekte dalam Islam? Ini bukan sikap yang khas dalam Ahmadiyah. Sikap saling mengkafirkan ini harus dikritik terus karena hanya menimbulkan kekacauan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Ajaran tentang "takfir" sudah seharusnya pelan-pelan ditinggalkan, digantikan dengan sikap yang terbuka untuk melakukan dialog dan menerima perbedaan tanpa penghakiman.
Masa depan agama-agama di Indonesia akan sangat suram sekali jika sikap saling menyesatkan dan mengkafirkan serta saling menuduh "menghina agama" karena perbedaan tafsir itu terus berkembang.
Ada hal yang menarik dalam acara debat itu. Kelompok "Islam fundamentalis" yang hadir sebagai penonton dalam debat itu cenderung "rusuh", teriak-teriak "Allahu Akbar", dsb. Ini adalah indikasi yang kasat mata bahwa kelompkpok ini memang cenderung bertindak kasar dan kekerasan jika ada kesempatan. Perangai kelompok Islam fundamentalis selalu sama di mana-mana, yaitu "violent". Dalam sebuah diskusi yang saya ikuti dengan kelompok-kelompok "fundamentalis" saya melihat corak audiens yang serupa. Sama sekali tak kelihatan mereka mengerti "adab diskusi".
Mereka memang tak merasa perlu terikat dengan "adab diskusi", apalagi terhadap kelompok yang mereka anggap sesat dan "kafir". Bukankah mereka selalu, selama ini, gembar-gembor mengutip ayat yang terkenal itu, "asyidda'u 'ala al-kuffar ruhama'u bainahum", orang-orang beriman berlaku "keras" kepada orang kafir dan saling mengasihi antar mereka. Ayat ini menjadi pembenar bagi mereka untuk bersikap "rusuh" dan "tak beradab" terhadap lawan-lawan diskusi mereka.
Barangsiapa pernah mendengarkan tabligh akbar, ceramah atau khutbah kelompok-kelompok fundamentalis itu, akan tahu bagaimana "ajaran kekerasan" sudah ditanamkan dalam setiap acara keagamaan yang mereka adakan. Sosialisasi "doktrin kekerasan" berjalan terus tanpa henti. Tak heran jika mereka dengan mudah melakukan kekerasan.
Yang mengherankan adalah kelompok seperti didukung oleh beberapa tokoh Islam yang terdidik yang mestinya mengerti bahaya kekerasan yang selalu akan muncul dari kelompok-kelompok yang oleh Buya Syafii Maarif disebut sebagai "preman berjubah" ini.  gak usah berpanjang lebar ya...
Anda bilang perbedaan tafsir? coba saya tanya, bisa gak menjelaskan penafsiran Ahmadiyah yg mengatakan Allah itu seperti gurita, Allah bersetubuh dengan Ghulam Ahmad, atau Allah melakukan shalat dan shaum... silakan jelaskan dari mana penafsiran ini berasal, apa metodologi yg dia gunakan, dan kalau memang bisa diterima oleh akal, baru kita nyatakan ini sebagai perbedaan tafsir...
atau jgn2 Anda gak tau bahwa Ahmadiyah memang berpendapat seperti yg saya tulis di atas? lagi-lagi kebodohan Anda sendirilah yg jadi masalah...
riset...riset.... makanya, riset.... :p |
 | abis riset...trus re-set pemahaman ya bang.. :)
|
 | buat richieoct, saya sarankan untuk belajar pada ulama yang tepat, yang kaffah di jalan Allah, jangan dengar orang2 seperti gusdur, syafii ma'arif, komaruddin hidayat, jalaludin rahmat, ulil, dkk.
|
 | mas penafsiran ahmadiyah ttg "Allah itu seperti gurita, Allah bersetubuh dengan Ghulam Ahmad, atau Allah melakukan shalat dan shaum... "itu dari mana?? kitab tazkirah ya??trus Tazkirah itu sendiri baru ada transletan bahasa inggris aja??kalo gak salah aslinya bahasa urdu kan??mohon penjelasaanya.. thanks, |
|
|