Blog EntryKatakanlah!Aug 15, '05 11:34 PM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

 

Kita semua harus belajar untuk berbicara.  Kita harus belajar menyampaikan apa yang ada dalam benak kita dengan baik agar orang lain mengerti.  Kita harus berhenti menutup mulut jika memang ada yang harus disampaikan.  Kita tidak boleh takut atau malu menyatakan pendapat kita, apalagi jika memang pendapat tersebut harus disampaikan demi kebenaran.

 

Tentunya setiap pendapat harus diajukan dengan argumen yang kuat agar pembicaraan menjadi lebih berbobot dan bukan sekedar basa-basi.  Sudah pasti kita pun harus belajar merangkai kata demi kata agar lawan bicara kita mampu memahami sepenuhnya (atau paling tidak hampir sepenuhnya) maksud pembicaraan itu.  Akan tetapi, sekarang sudah bukan waktunya lagi untuk bungkam dan berdiam diri di barisan terbelakang.  Kita harus berebut shaf terdepan agar kita bisa menyampaikan apa yang ingin kita sampaikan!

 

Kita adalah orang merdeka.  Allah-lah yang telah memerdekakan kita.  Lalu kenapa kita membiarkan orang lain membungkam mulut kita?  Mengapa kita menutup apa yang telah Allah buka, dan mencegah apa yang Allah biarkan?  Mengapa kita masih berdiam diri sementara semua kesempatan itu terbuka begitu lebar? 

 

Banyak sekali kesempatan untuk bicara yang seringkali kita sia-siakan.  Malu, takut dianggap cerewet, takut dicap idealis, takut disebut fundamentalis, atau khawatir dijauhi teman.  Alasan-alasan semacam inilah yang membuat kita berpikir ratusan kali hanya sekedar untuk menyuarakan kebenaran.  Kalau bukan kita yang menyampaikannya, lalu siapa lagi?

 

Aroma feodal masih begitu akrab tercium di Indonesia.  Dengan cara itu, semua orang diajarkan untuk merasa segan untuk saling menegur dan menasihati.  Kita diajarkan untuk menyimpan pendapat kita di dalam benak sendiri, apalagi jika pendapat tersebut dikhawatirkan akan memancing perdebatan yang seru.  Perdebatan dianggap lebih tabu daripada pelacuran.  Pelacuran dilokalisasi, sementara perdebatan dilarang sama sekali.  Inilah ajaran moral yang diajarkan di sekolah-sekolah.  Inilah strategi yang disukai oleh para penguasa, cocok bagi raja-raja, diktator dan para provokator-komprador yang menjadi kaki-tangannya.

 

Kita takut untuk berbeda pendapat karena intelegensi kita sudah diatur sedemikian rupa untuk selalu berada di titik terendah.  Seolah-olah semua perbedaan pendapat harus diselesaikan dengan hunusan pedang.  Seolah-olah semua orang harus dipaksa untuk menjadi sama dan seragam.  Seolah-olah kita tidak boleh berbeda.

 

Suatu hari diantara tahun 1995-1996 di sebuah SMP favorit di Bogor, kelas saya dibagi dua oleh seorang guru PPKn.  Kami akan belajar berdebat.  Setengah kelas harus mempertahankan hak-hak untuk merokok, sementara setengah lainnya harus berusaha untuk melarang rokok.  Saya ‘dipaksa’ untuk berada pada kelompok yang pertama, hanya karena lokasi tempat duduk saya.

 

Saya termasuk siswa yang paling ‘ribut’ di kelas.  Tidak pernah ada masalah dalam mempergunakan lisan.  Kalau ditanya, saya akan selalu menjawab sebisanya.  Saya tidak takut untuk berbicara, tapi hari itu saya hanya bisa diam.

 

Akhirnya, guru saya melihat kejanggalan itu, kemudian bertanya mengapa saya diam saja.  Saya menjawab, “Saya tidak mungkin membela hak-hak perokok, karena menurut saya mereka sama sekali tidak punya hak untuk merokok dan merusak hidup orang lain.  Mereka tidak punya hak untuk merusak bumi ini seenak perutnya sendiri.  Pendapat saya ini tidak mungkin diubah tanpa sebab yang jelas, walaupun hanya untuk dua jam pelajaran.”  Akhirnya sisa waktu dihabiskan untuk meluluhkan prinsip saya.  Untungnya saya ini keras kepala sejak lahir.

 

Tidak, saya tidak akan melacur hanya untuk sebuah nilai PPKn yang tidak ada manfaatnya sama sekali.  Selama ini nilai-nilai saya pada mata pelajaran PMP, PPKn, dan sejenisnya selalu bagus.  Apa susahnya?  Tinggal merangkai kalimat-kalimat indah bernada euforia dan menuliskannya di atas kertas.  Kita tidak perlu idealis.  Tidak ada yang membaca kertas ulangan kecuali saya dan guru.  Akan tetapi, jika saya harus menyuarakan pendapat saya di depan kelas, maka saya akan katakan sejujurnya.

 

Pada tahun yang sama, pada pelajaran yang sama pula, seorang teman saya mengacungkan tangannya ketika guru bertanya mengenai pendapat kami soal demokrasi.  Sementara orang lain sibuk menjilat dengan kata-kata indah tentang demokrasi, dia malah berbuat sebaliknya.  “Menurut saya, demokrasi itu lucu.  Dengan demokrasi, kita tidak lagi bertanya-tanya soal kebenaran, tapi soal keinginan mayoritas manusia.  Kalau mayoritas manusia menginginkan pelacuran, maka dihalalkanlah pelacuran.”  Saya angkat topi untuk keberaniannya itu.

 

Saya yakin semua orang punya pendapat sendiri-sendiri mengenai hal ini.  Tapi toh pendapat mereka tidak penting, karena mereka tidak pernah menyampaikannya.  Sama saja dengan orang-orang yang ditimpa kemalangan lalu berkata, “Padahal saya sudah ada firasat akan terjadi yang begini ini.”  Tidak ada yang mau mendengar kata-kata mereka karena hanya menambah kekesalan saja.  Kalau sudah tahu dari dulu, kenapa tidak bilang-bilang? 

 

Saya yakin semua orang punya setumpuk ide dalam benaknya.  Hanya saja ia tidak pernah berlatih untuk mengungkapkannya.  Mereka terlalu takut.  Padahal orang-orang besar selalu mengasah akalnya dengan memikirkan segala sesuatunya, mulai dari yang mikro sampai yang raksasa.  Mereka pun menyampaikan apa pendapat mereka dalam segala hal.  Kalau kemudian ia menemukan pendapat lain yang lebih baik, dengan besar hati ia akan meninggalkan pendapat lamanya itu.  Orang-orang intelek selalu sportif, dan mereka yang tidak sportif selalu tidak intelek.

 

Sampai hari ini, begitu susahnya Indonesia untuk melarang rokok, paling tidak di tempat-tempat umum.  Semua orang sudah tahu – kecuali barangkali mereka yang tidak pernah makan bangku sekolah – bahwa rokok itu tidak ada manfaatnya dan tidak ada gunanya selain untuk merusak diri dan lingkungan.  Berbagai data telah diajukan.  Memang banyak orang yang hidup dari industri rokok, tapi lebih banyak lagi yang mati karena rokok.  Bermilyar-milyar rupiah didapatkan dari industri rokok, tetapi puluhan milyar harus dikeluarkan oleh rakyat Indonesia untuk berobat.

 

Begitu susahnya pemerintah menerapkan larangan untuk merokok ini, karena memang rakyat Indonesia ini jarang mengeluh.  Mereka ewuh-pakewuh dan supersegan karena yang merokok memang bukan sembarang orang.  Pak polisi, bupati, menteri, orang tua dan para ulama pun merokok.  Bagaimana mungkin kita-kita yang masih bau kencur dan masih kurang makan asam garam ini bisa mengritik mereka? 

 

Katakanlah memang benar setiap orang berhak untuk merokok, tapi di sisi lain, orang lain pun berhak untuk tidak terganggu oleh asap rokoknya.  Jadi, kalau mau merokok, merokoklah jauh-jauh ke tempat tidak ada manusia lain di sekitarmu! 

 

Kalau saja setiap orang yang merasa terganggu pada asap rokok mau menyuarakan pendapatnya, barangkali para perokok pun akan kesal sendiri dan memilih untuk berhenti merokok saja.  Kalau kita terganggu oleh asap rokok di angkot, mintalah padanya untuk mematikan rokoknya.  Kalau seorang istri terganggu dengan asap rokok di rumah – juga mengkhawatirkan kesehatan anak-anaknya yang masih bayi – maka cegahlah suaminya merokok.  Arogansi para perokok harus dihentikan sekarang juga karena perbuatan itu tidak lebih dari sekedar egoisme belaka.

 

Terlalu sering kita mencegah lidah kita dari mengatakan kebenaran.  Kita tidak boleh diam saja menyaksikan begitu banyak kerusakan di sekitar kita.  Kita tidak perlu berdiam diri menyaksikan betapa rendahnya kualitas acara-acara televisi.  Di antara gosip, sinetron-sinetron yang hanya bercerita tentang orang-orang kaya atau anak-anak muda yang hidup sehari-harinya hanya seputar pacaran, film-film india dan mandarin yang selalu bertema balas dendam, telenovela yang sama sekali tidak nyata, reality show yang makin lama makin basi, kuis-kuis plagiat dari luar negeri, acara musik yang tidak jelas apa maksudnya, apa lagi yang tersisa?  Bahkan acara-acara berita pun sudah disunting oleh musuh-musuh Islam.

 

Media pun tidak lagi steril.  Tidak pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa berita tentang wafatnya alm. Rahmat Abdullah sedikit sekali diliput di koran-koran?  Kakak saya hadir di sana dan ikut melayat.  Beliau adalah seorang tokoh besar, terlihat jelas dari jumlah jamaah yang datang melayatnya.  Sedemikian banyak jamaah yang meneteskan air mata untuknya, tapi hanya secuil saja tempat baginya di koran-koran.  Bahkan Republika pun hanya menyediakan sebuah bagian kecil di sebuah pojokan di halaman belakang.  Musuh-musuh Islam tidak ingin umat Islam tahu bahwa kita besar dan (bisa) bersatu.

 

Koran-koran tidak pernah berpihak pada kebenaran.  Mereka tidak pernah bercerita soal keanehan-keanehan peristiwa pada saat runtuhnya WTC.  Tidak ada yang mempertanyakan kebenaran tentang berbagai peristiwa di dunia ini.  Sebenarnya banyak yang sudah curiga, tapi mereka tidak juga bicara.  Entah kenapa.

 

Sudah saatnya kita akhiri kebiasaan diam ini.  Sudah waktunya kita bicara lantang untuk membela kebenaran.  Jika kita tidak berbicara, maka para pembela kesesatanlah yang akan bicara duluan.  Jika kita malu-malu, maka musuh-musuh Islam akan semakin berani.  Dan jika kita ­takut, maka mereka tidak akan ragu-ragu lagi. 

 

Sudah saatnya kita ungkapkan kekesalan kita pada para perokok.  Sudah saatnya Pengadilan Tinggi Jabar dan hakim-hakimnya itu diberitahu bahwa kita tidak mudah dibohongi.  Sudah saatnya kita berdiri dan berteriak sekeras-kerasnya ke kuping para penjajah dan antek-anteknya.  Sudah saatnya mereka tahu bahwa kita telah merdeka.  Kita telah merdeka sejak dulu.  Apa lagi yang membuatmu bungkam?

 

Katakanlah apa pendapatmu, karena Allah telah menciptakan akal yang brilian di dalam tengkorak kepalamu itu.  Kalau kau tidak menyampaikannya, maka dunia akan kehilangan kesempatan untuk menyaksikan kejeniusanmu!

 

wassalaamu’alaikum wr. wb.



11 CommentsChronological   Reverse   Threaded
farranasir wrote on Aug 16, '05
tulisan yang idealis...
namun perlu hikmah untuk meruntuhkan ketidakidealan
perlu mau'izhoh dan mujadalah untuk meruntuhkannya
bukan sekadar tindakan membabibuta
akmal wrote on Aug 16, '05
tulisan yang idealis...
namun perlu hikmah untuk meruntuhkan ketidakidealan
perlu mau'izhoh dan mujadalah untuk meruntuhkannya
bukan sekadar tindakan membabibuta
tulisan ini memang tidak bermaksud bicara soal benar atau salah, logis atau tidak logis... maksud saya, kita harus belajar utk menyatakan pendapat kita... kalau ternyata pendapat kita salah, ya tinggal diralat saja... yg jelas kalau kita tdk mau bicara, yg ada hanya prasangka buruk, dendam dan emosi yg tdk terlampiaskan... makanya, dgn tulisan ini, saya menghimbau semuanya utk bicara kalau memang ingin bicara... soal cara dan landasan berpikirnya, itu soal lain lagi...

contoh gampangnya bisa dilihat di kelas-kelas... kalau diminta pendapatnya, berapa anak sih yg akan mengacungkan tangan? anak-anak Indonesia, sadar atau tidak, sudah dilatih utk ewuh-pakewuh dan serba takut utk menyatakan pendapatnya...
ladymotts wrote on Aug 16, '05
akmal said
Suatu hari diantara tahun 1995-1996 di sebuah SMP favorit di Bogor, kelas saya dibagi dua oleh seorang guru PPKn. Kami akan belajar berdebat. Setengah kelas harus mempertahankan hak-hak untuk merokok, sementara setengah lainnya harus berusaha untuk melarang rokok. Saya ‘dipaksa’ untuk berada pada kelompok yang pertama, hanya karena lokasi tempat duduk saya.



Saya termasuk siswa yang paling ‘ribut’ di kelas. Tidak pernah ada masalah dalam mempergunakan lisan. Kalau ditanya, saya akan selalu menjawab sebisanya. Saya tidak takut untuk berbicara, tapi hari itu saya hanya bisa diam.



Akhirnya, guru saya melihat kejanggalan itu, kemudian bertanya mengapa saya diam saja. Saya menjawab, “Saya tidak mungkin membela hak-hak perokok, karena menurut saya mereka sama sekali tidak punya hak untuk merokok dan merusak hidup orang lain. Mereka tidak punya hak untuk merusak bumi ini seenak perutnya sendiri. Pendapat saya ini tidak mungkin diubah tanpa sebab yang jelas, walaupun hanya untuk dua jam pelajaran.” Akhirnya sisa waktu dihabiskan untuk meluluhkan prinsip saya.
Aku ngga pernah setuju sama model debat kayak gini ...
Debat kok pake pemaksaan pendapat ... jadi debat boong2an ...
Setau aku sih kl lomba debat selalu kayak gini (at least jaman2 sekolahan dulu) ...
Satu kelompok harus pro, kelompok yang lain harus kontra ... ck ck ck...
akmal wrote on Aug 16, '05
Setau aku sih kl lomba debat selalu kayak gini (at least jaman2 sekolahan dulu) ...
hah? lomba debat kayak gini? wah, baru tau nih... maklum gak pernah ikutan lomba debat sih...
indrayogi wrote on Aug 16, '05
akmal said
maklum gak pernah ikutan lomba debat sih...
kalo lomba karung pernah ngga ? besok 17an nih hehehehe....btw tulisannya menarik pak !
ladymotts wrote on Aug 16, '05
akmal said
hah? lomba debat kayak gini? wah, baru tau nih... maklum gak pernah ikutan lomba debat sih...
setahuku sih ... aku juga ga pernah ikut ... nggak diajak sih, hehehe ...
akmal wrote on Aug 16, '05
kalo lomba karung pernah ngga ? besok 17an nih hehehehe....btw tulisannya menarik pak !
masak sih? berarti mas indra ketarik-tarik donk? apanya yg ketarik? kerahnya atau rambutnya? hahaha...

kalo ada lomba lawan kucing di dalam karung kayaknya lucu juga hoho...
indrayogi wrote on Aug 16, '05
akmal said
apanya yg ketarik? kerahnya atau rambutnya? hahaha...
hatiku yang ketarik ! hayoo serem kan hahahaha
akmal wrote on Aug 16, '05
hatiku yang ketarik !
idih hororrrrrrrrrrrrrr...........
rikaadinda wrote on Dec 30, '05
baru baca nih mal... tapi kayaknya aku dah juga pernah baca dulu deh. aku sependapat ama kamu, juga harus di ingat ttg cara kita menyampaikannya sperti yg kamu bilang itu loh : "kebenaran itu ga ada yang pahit, lidah yg menyampaikannya itu yg pahit" iya kan?
akmal wrote on Dec 31, '05
baru baca nih mal... tapi kayaknya aku dah juga pernah baca dulu deh. aku sependapat ama kamu, juga harus di ingat ttg cara kita menyampaikannya sperti yg kamu bilang itu loh : "kebenaran itu ga ada yang pahit, lidah yg menyampaikannya itu yg pahit" iya kan?
hohohoho.... (bukan sinterklas lho)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help