assalaamu'alaikum wr. wb.
Sekali-sekali, ijinkanlah saya untuk memperlihatkan sedikit dari tumpukan oceh-ocehan saya yang saya sebut puisi itu. Harap jangan ditertawakan kalo kualitasnya jauh di bawah standar ya hehehe...
...just a refreshment...
Mahsyar
ketika matahari tidak lagi terbit, datanglah suatu masa
ketika daging dan tulang yang telah lama ditelan bumi
bangkit dalam sunyi
dan tersusun kembali
kemudian mereka pun bertanya-tanya :
duhai, di manakah setetes embun berada
di tengah gurun yang mati mengering ini
di antara wajah-wajah yang tidak lagi saling peduli ?
ketika angin tidak lagi berhembus, kita pun dihalau ke dalam keheningan
maka tahulah kita bahwa inilah awal dari segala yang abadi
waktu terus berlalu, namun tidak hendak melepasmu pergi, sahib….
Bandung, 24 November 2002
Ka'ab
Hari-hari itu,
pohon, gunung dan batuan membisu
lima puluh malam telah lewat
membawa pergi napas yang penghabisan
Ke manakah kaki ini diayunkan
jika bumi menjadi demikian sempit ?
Ke manakah pikiran mengembara
jika langit pun begini sesak ?
Duhai, ke manakah jiwa mengadu
jika hamba dibiarkan seorang diri ?
Ke manakah seorang hamba harus lari
jika kemanapun ia berpaling
ia hanya melihat
wajah-Nya ?
Bandung, 30 April 2003
Puisi Untuk Yang Terakhir Kalinya
apa yang akan kau ucapkan pada ibumu
jika ini untuk yang terakhir kalinya?
apa yang terlintas dalam pikiranmu
jika ini adalah hari-hari terakhirmu?
siapa yang akan kau ingat
jika ini adalah detik-detik yang terakhir?
bagaimana kau akan lari
jika pijakanmu adalah hal terakhir yang dapat engkau rasakan?
ke mana kau akan pergi
jika kau tahu persis kemana kau akan dibawa?
apa yang kau ingin keluargamu dengar
jika kau tahu
kau takkan sempat menemui mereka kembali?
apa yang akan kau tulis
dalam surat untuk istri dan anak-anakmu
jika kau tahu
mereka takkan pernah menerimanya?
apa yang akan kau ucapkan pada ibumu
jika ini untuk yang terakhir kalinya?
Bandung, 27 September 2003
Curhat
/ 1 /
“Permisi, di mana saya bisa bertemu Tuhan?”
seorang pemuda bertanya pada loper koran
yang sejak pagi tidak laku dagangannya
“Entahlah. Kalau tahu, akankah begini nasib saya?”
ia menjawab acuh tak acuh
separuh penasaran, separuh putus asa
yah, dia hanya seorang loper koran
dan dagangannya tidak laku-laku
jawaban apa lagi yang bisa ia berikan?
“Kau lihat telepon umum itu?” katanya lagi
sang pemuda mengangguk-angguk
“Cobalah kautelepon Dia.”
terheran-heran, pemuda itu bertanya lagi,
“Anda tahu nomer teleponnya?”
terkekeh-kekeh, loper itu menjawab,
“Kalau tahu, akankah begini nasib saya?”
/ 2 /
Kriiiiiing….!
telepon diangkat
seorang wanita cantik menjawab,
“Operator. Ada yang bisa saya bantu?”
“Halo, saya ingin bicara dengan Tuhan.”
“Maaf pak, tidak ada telepon yang bisa
menjangkau Tuhan,” jawab wanita cantik itu
“Kenapa? Terlalu jauh?”
“Bukan pak, justru karena terlalu dekat.”
/ 3 /
seorang pemuda berjalan kesana kemari tak tentu arah
sampai akhirnya takluk oleh lelah dan lapar
di ujung kesadarannya, ia menemukan apa yang dicarinya
“Ya Tuhan, akhirnya aku menemukan Engkau!”
“Aku tahu kau mencari-Ku. Aku tahu
loper koran yang di sana mencari-Ku. Dia menuntunmu
ke telepon umum, tapi si operator tahu lebih banyak
daripada kalian berdua.”
“Tuhan, apakah Engkau mengamati kami dari tadi?”
“Aku mengenalmu lebih baik daripada ibumu
mengenali tahi lalat di lehermu. Aku mengamatimu lebih awas
daripada dua malaikat di kanan-kirimu. Dan Aku ada
di dekatmu, lebih dulu daripada nama yang diberikan orang tuamu.”
“Tuhan, apakah Engkau marah?”
“Tidak pernahkah terpikir olehmu bahwa Aku cemburu?
Aku mencintaimu dengan tulus, tapi kau hanya datang kepada-Ku
dalam keadaan sempit dan terpaksa.
Kaujerumuskan dirimu sendiri
lalu kau datang pada-Ku dengan penuh luka.
Ku-belai jiwamu dengan penuh kasih sayang,
tapi kaugores wajah dan tubuhmu tanpa ampun.
Tidak pernahkah terpikir olehmu bahwa Aku ingin mendengar
kau bercerita tentang hal-hal yang membuatmu bahagia?
Aku ingin mendengar kebahagiaan yang telah Ku-berikan
muncul dari lidahmu.
Aku menunggu-nunggu cerita darimu hingga akhir malam,
tapi kau tidak pernah datang. Aku menyaksikan
setiap detik hidupmu, tapi Aku ingin kau datang pada-Ku.
Itu saja.
Aku tidak ingin terus-menerus menyaksikanmu terluka,
tapi kau tak pernah mendengar kata-kata-Ku.
Aku tidak ingin mendengarmu selalu dalam kesusahan,
tapi kau tak pernah mengingat-Ku.
Tidak pernahkah terpikir olehmu bahwa Aku dekat?”
Bandung, 21 Desember 2004
...and once again, it's just a refreshment...
wassalaamu'alaikum wr. wb.