Blog EntrySBY-Boediono ? Saya Dukung PKS !May 19, '09 8:44 PM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.


Kalau Pilpres 2004 dianggap monumental karena merupakan kali pertamanya Presiden dan Wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat, maka Pilpres 2009 juga tidak kalah serunya.  Begitu banyak intrik, saling sindir, bahkan ‘saling ancam’, termasuk diantara sesama peserta koalisi.


Sejak Partai Demokrat (PD) kelihatan di atas angin, secara alamiah bibit-bibit koalisi pun terbentuk.  Yang tidak mungkin berkoalisi dengan PD adalah PDIP, yang sejak awal sudah punya harga mati : Megawati for President!  Pada awalnya Golkar masih berusaha meneruskan koalisi dengan PD, namun menemukan dua ganjalan besar.  Pertama, penolakan dari partner utama PD lainnya, yaitu PKS.  Kedua, antara SBY dan Jusuf Kalla sendiri memang sudah ada kerikil-kerikil tajam, sisa-sisa ‘pertempuran’ di Pileg yang baru saja berlalu.  Pada akhirnya, Golkar – yang tak pernah terbiasa jadi ‘pengikut’ – memilih hengkang dari koalisi dan membentuk koalisinya sendiri, berpartner dengan Hanura.  Dengan memasangkan Jusuf Kalla dengan Wiranto, sebenarnya sudah cukup banyak ego yang ditekan.  Sebab, dulu Jusuf Kalla ‘membangkang’ dari ketentuan resmi Golkar yang mencalonkan Wiranto sebagai Presiden, sedangkan Wiranto sendiri adalah kader Golkar yang hengkang dari kepemimpinan Jusuf Kalla dan membentuk partainya sendiri.  Wiranto pun harus rela menjadi Cawapres setelah lima tahun yang lalu sempat mencalonkan diri untuk menjadi Presiden.


Di kedua kubu lainnya pun terjadi tarik-ulur yang memaksa banyak pihak untuk mengalah, kecuali bagi PD dan PDIP.  SBY dan Megawati tetap jadi Capres, sedangkan rekan-rekan koalisi PD harus terkaget-kaget menerima Boediono sebagai Cawapres pilihan SBY, dan Prabowo harus melupakan kampanyenya sebagai calon Presiden yang sudah digelar sejak jauh-jauh hari.  Akhirnya terwujudlah tiga pasang peserta Pilpres : SBY-Boediono, JK-Wiranto, dan Mega-Prabowo.


Macan dan Godzilla

Sejak bertahun-tahun yang lalu, kalau bicara soal idealisme, maka Presiden pilihan saya adalah ust. Hidayat Nur Wahid.  Sampai detik ini, pendapat itu belum berubah.  Tapi bukan kader dakwah namanya kalau hanya bisa bicara soal idealisme, tanpa memperhatikan realita.  Kenyataannya, kalau ingin memenangkan beliau sebagai Presiden, masih membentang pekerjaan rumah yang harus kita kerjakan bersama-sama.


Sekian banyak tawaran di Facebook untuk mengikuti group mendukung SBY-HNW sebagai pasangan unggulan di Pilpres 2009.  Saya mengerti betul keinginan dan niat baik mereka.  Tidak dapat RI-1, RI-2 pun jadilah!  Toh, dengan hengkangnya Golkar dari koalisi, maka PKS sudah resmi menjadi partner utama PD.  Apa salahnya mengusung kader terbaik untuk menjadi Cawapres?  Ya memang, ini sudah lebih realistis daripada memaksakan mengusung HNW ke kursi Presiden, tapi mungkin masih kurang juga.  Masih bisa lebih realistis lagi.


Sejak awal saya sudah tidak yakin SBY akan mau bersanding dengan ust. Hidayat.  Belakangan, kecurigaan saya terbukti juga, ketika SBY menolak Hatta Radjasa.  Beberapa pengamat menilai bahwa SBY tidak mau menjadikan Hatta sebagai wakilnya karena takut ‘memelihara anak macan’.  Nah, kalau Hatta Radjasa pun sudah dianggap ‘macan’, maka ust. Hidayat barangkali bisa disebut ‘Godzilla’, dan sudah jelas tidak akan diterima oleh SBY / PD sebagai Cawapres.  Politik memang tidak selalu bicara tentang kompetensi.  Selama 5 tahun, SBY nampaknya sudah cukup disusahkan oleh Jusuf Kalla, yang meskipun kurang populer di mata masyarakat, namun membawa massa Golkar yang sangat besar di belakangnya.  Kini, nampaknya SBY tidak ingin mengulang pengalaman semacam itu lagi.  Dengan gaya politiknya yang selalu ‘jaga imej’ itu, SBY tidak akan ambil resiko dengan menjadikan orang yang imej-nya lebih santun, bersih dan ramah daripada dirinya sebagai Wakil Presiden.


Boediono dan Ekonomi Kapitalis

Dalam hitungan hari setelah nama Boediono muncul ke bursa Cawapres, bertebaranlah e-mail yang mengulas tentang pribadinya, terutama seputar ‘madzhab ekonomi’-nya.  Kata orang, ia adalah ekonom kapitalis-liberalis sejati yang hanya akan mempersulit kehidupan orang miskin di tanah air.  Dana bantuan akan mengucur, tapi bukan pada rakyat kecil, melainkan pada para pengusaha-pengusaha besar yang punya banyak utang.  Begitulah kata orang.


Tapi tidak sedikit juga yang bicara sebaliknya.  Tidak lama setelah artikel-artikel bernada miring itu dirilis, muncul pula artikel-artikel lain.  Konon, perbankan syariah juga mulus jalannya berkat Boediono.  Jadi, yang punya idealisme menghidupkan ekonomi syariah pun tidak perlu khawatir.  Begitulah kata orang.


Ketimbang menilai kasus ini berdasarkan artikel-artikel itu, saya lebih suka dengan berita yang bisa kita ‘pegang’.  Ust. Tifatul, dalam hal ini, sudah menjelaskan bahwa SBY telah menandatangani kontrak politik yang mencakup beberapa item utama, antara lain soal ekonomi negara yang tidak boleh disetir oleh kekuatan asing.  Dengan demikian, tidak soal madzhab ekonomi Boediono seperti apa, toh sudah ada kesepakatan.  Lagipula, mau bicara apa pun, SBY tetap akan maju bersama Boediono.  Mengikat dengan kontrak politik adalah alternatif terbaik, kecuali jika kita mempertimbangkan untuk berkoalisi dengan JK-Wiranto atau SBY-Prabowo.


Ingat Trauma Persepsi

Ingat kontrak politik SBY, ingat ust. Hilmi Aminuddin.  Ingat ust. Hilmi, ingat trauma persepsi.  Ya, drama kontrak politik ini memang mengingatkan saya pada poin-poin penting dalam buku Menghilangkan Trauma Persepsi karya beliau (saya merekomendasikan buku ini kepada semua kader dakwah).  Para qiyadah PKS yang masih muda-muda nampaknya masih terlalu reaktif dalam menanggapi pencalonan Boediono, sebagaimana kritik Sapto Waluyo beberapa waktu yang lalu.  Tapi cara ust. Hilmi menangani masalah ini, betapa pun nampak sederhana, seolah ingin memperlihatkan sisi teknis dari hal-hal yang dibahas dalam bukunya.  Trauma persepsi inilah yang dengan sangat terpaksa akan saya bahas agak panjang lebar.


Menurut beliau, kader dakwah harus membersihkan (tathahhur) dirinya sendiri dari tujuh macam trauma persepsi.  Pertama, al-‘uqdah al-inhizamiyyah, atau trauma persepsi merasa selalu kalah kalau bertarung.  Munculnya nama Boediono (dan tidak munculnya nama ust. Hidayat, misalnya) sama sekali bukan berarti PKS sudah kalah.  Menang-kalahnya dakwah tidak ditentukan dari satu-dua nama atau satu-dua kursi saja.  Masih banyak pertempuran yang harus dilalui sebelum memenangkan sebuah perang.  Kenyataannya, PKS masih memiliki posisi tawar yang tinggi di hadapan PD.  Itu dibuktikan dengan kontrak politik yang akhirnya ditandatangani SBY, yang sebelumnya kontrak tersebut enggan ditandatanganinya.  Seperti Pilkada DKI Jakarta yang lalu, media menulis : Foke unggul, PKS menang.  Kita pun kini bisa membangun visi : Boediono terpilih, tapi PKS masih jauh dari kalah.


Kedua, al-‘uqdah al-istihdaafiyyah, atau trauma persepsi yang membuat kita merasa selalu menjadi objek.  Ust. Hilmi berpesan agar kita memahami bahwa jaman sudah berubah.  Jangan terus merasa dikepung.  Dakwah sudah besar, tidak dihimpit seperti di jaman Orde Lama dan Orde Baru.  Tidak perlu merinding kalau ketemu Hansip, melewati kantor Koramil, atau ketemu Pangdam sekalipun.  Ust. Hilmi pun menunjukkan bahwa PKS yang hanya 8% pun tak perlu takut memaksa SBY yang partainya dapat 20% untuk menandatangani kontrak politik.  Presiden PKS tidak menggigil kalau bernegosiasi dengan Presiden RI.  Dan memang tidak perlu.  Beginilah pesan ust. Hilmi dalam bukunya : “Kepada ketua-ketua DPD saya katakan, antum ini sejajar dengan Bupati, Kapolres, Walikota, Dandim, Ketua Kejaksaan Negeri, Ketua Pengadilan Negeri, bahkan insya Allah lebih, bitaqwakum.  Begitu juga kepada ketua DPC, DPRa.”


Ketiga, al-‘uqdah al-muamaraatiyyah, atau selalu merasa orang-orang sedang bersekongkol melawan kita.  Kader dakwah harus berani menghadapi tantangan.  Konspirasi memang ada, namun perasaan dikepung kalau sudah menjadi ‘uqdah akan membuat kita tidak mampu menghadapinya.  Akhirnya konspirasi menjadi besar karena persepsi kita sendiri.  Ada yang bilang, PKS dijebak.  Boediono diangkat, take it or leave it.  Tapi menurut saya, itu tergantung persepsi masing-masing.  Kontrak politik sudah ditandatangani.  Bisa saja melanggar perjanjian hitam di atas putih, tapi yang demikian tak akan selamat dari penghakiman masyarakat dan media.  Dijebak atau tidak, pada akhirnya kelihaian kita juga yang menentukan.


Keempat, al-‘uqdah ar-raj’iyyah, yaitu merasa bahwa kita ini terbelakang.  Sumbernya adalah perasaan rendah diri, seolah-olah para penjajah belum angkat kaki dari negeri ini.  Padahal di daerah-daerah sudah terbukti bahwa kader dakwah telah diakui oleh masyarakat secara luas.


Kelima, al-‘uqdah salbiyyah, yaitu trauma yang menyebabkan kita selalu berpikiran negatif.  Melihat orang lain belum apa-apa sudah curiga.  Melihat saudara sendiri dengan sejuta kecurigaan.  Ada ikhwan atau akhwat salah sedikit langsung berkata, “Wah, jamaah dakwah ini hancur, sekarat, mau ambruk!”  Padahal ini adalah jamaah manusia, bukan malaikat.  Allah mencintai orang-orang yang membersihkan diri, bukan yang bersih, sebab tak ada yang terus-menerus bersih.  Ada saja kekurangan dalam diri kita; akan ada saja masalah dalam dakwah.  Jangan berharap bertemu jalan tol yang lowong dan tanpa saingan.  Itu mimpi.  Kalau ada masalah, harus segera cari solusinya, bukan bermelankoli ria.  Kalau yang jadi cawapres madzhab ekonominya kapitalis, ikat tangannya dengan kontrak politik!


Keenam, al-‘uqdah al-kamaaliyyah, yaitu sikap yang cenderung perfeksionis.  Tidak ada untungnya bersikap perfeksionis.  Hope for the best, plan for the worst!  Pintu satu ditutup, pintu lain harus dicari.  Kalau perlu tembok boleh dijebol, bikin pintu yang baru.  Jangan mau didesak terus.  Jangan mati langkah.  Kiamat tidak terjadi sebelum benar-benar terjadi.  Kata Rasulullah saw., kalau sudah tahu besok akan kiamat pun, kebajikan menanam sebutir biji pun masih tetap layak untuk dilakukan.


Ketujuh, al-‘uqdah at-tabaa’iyyah, yaitu traumanya orang-orang yang tidak kreatif, maunya mengikuti.  Orang yang begini gemarnya berkalau-kalau.  Kalau saja kayak jamaah itu, kalau saja kita bisa kayak begini dan begitu, kalau saja kita seperti mereka, dan seterusnya.  Dakwah akan mandul kalau kader-kader dakwah akalnya sudah mandul.  Masak mencalonkan ust. Hidayat, lalu tak punya backup plan?


Ilusi Kepemimpinan

Rasulullah saw. mengatakan, kita semua adalah pemimpin.  Pernyataan ini secara efektif telah membersihkan konsep kepemimpinan Islam dari ilusi-ilusi di sekitarnya.  Kepemimpinan bukan soal jabatan, tapi tanggung jawab.  Bukan tergantung siapa yang membuat surat perintah, tapi tergantung pada mereka yang menyukseskan kerja tim.


Hemat saya, kita tidak perlu terjebak dalam ilusi kepemimpinan.  Kita harus bisa memandang masalah dari banyak sisi dan menjaga diri dari sikap ekstrem.  Kita berpolitik agar kursi-kursi strategis tidak dipegang oleh orang-orang yang salah.  Tapi yang mengendalikan negara ini bukan hanya yang duduk di kursi.  Suksesnya dakwah tidak selalu diukur dari keberhasilan kita menduduki posisi-posisi tertentu.  Kita tidak mesti selalu di depan; tidak harus ditunjuk jadi ketua.  Kalau selalu ingin jadi yang di depan, itu sudah egoisme yang bicara, tidak ada lagi visi dakwahnya.


Masih dari buku Menghilangkan Trauma Persepsi :


“Saat ini level pergaulan kita sudah level tanah air, level kebangsaan secara institusional.  Kita dituntut untuk lebih mampu bergaul dengan aneka golongan, aneka partai, aneka jamaah, aneka kelompok.  Harus mampu bekerja sama dengan seluruh komponen bangsa.  Yang penting dalam bekerja sama itu ada titik temu.  Kalau titik temu aqidah, fikroh dan manhaj ya adanya di dalam jamaah.  Kalau di luar jamaah biasanya titik temunya adalah aktifitas.  Sepakat melakukan aktifitas kerja.  Bisa jadi ada unsur kepentingan dalam kerja.  Tidak apa-apa, yang penting kerja.  Yang repot itu, kepentingan ingin terpenuhi tapi tidak mau kerja.  Yang penting itu kerja.  Makanya kita mengembangkan koalisi dengan multi partai di seluruh Indonesia, komitmennya adalah kerja.  Kerja membangun daerah, mensejahterakan daerah, memberantas KKN.  Kerja-kerja itu yang jadi komitmen dan jadi titik temu.  Atau dalam kata lainnya ‘kalimatun sawaa’ bainanaa wa bainakum’.”


Yang penting dakwah menang.  Kita hanya prajurit.  Jangan seperti Naga Bonar; mau perang harus dirancang-rancang dulu pangkatnya.  Langsung ambil senjata, lalu ambil tanggung jawab.  Itu baru prajurit bermental pemimpin.


The Worst ?

Tadi sudah disebutkan, plan for the worst.  Sekarang bagaimana?  Ya tinggal diprediksi skenario terburuknya.  Kontrak politik dilanggar, PKS dicampakkan dari koalisi.  Apa yang harus dilakukan?


Sejak dahulu kala, yang namanya perjanjian memang terbuka kemungkinan untuk dilanggar.  Tidak bermoral memang, but it can be done, dan hal ini tidak jarang terjadinya.  Islam memuji mereka yang menepati perjanjian, dan merendahkan mereka yang melanggarnya.  Ini sudah sesuai dengan fitrah manusia.  Berapa banyak pahlawan bangsa yang dijebak oleh para penjajah, bahkan ditawan sampai mati.  Tapi siapa yang namanya abadi?  Sang pahlawan, atau sang penipu?  Tapi tentu saja kita tidak boleh berdiam diri kalau ditikam dari belakang.  Lagipula, SBY dan PD pasti paham bahwa PKS sudah menjaga jarak karena komunikasi politik di masa-masa awal koalisi sudah tercederai.


Yang jelas, sejak awal saya ingin meluruskan satu hal : Saya mendukung PKS!  SBY-Boediono adalah pilihan yang jauh dari ideal.  Namun sebagaimana PKS mendukung SBY-Boediono dengan segepok catatan, maka saya pun bisa menerima, tentunya dengan berbekal catatan pula.  Partai dakwah tidak mungkin jadi bulan-bulanan terus.


wassalaamu’alaikum wr. wb.


131 CommentsChronological   Reverse   Threaded
salimdarmadi wrote on May 19, '09
TFS Bang, SBY-Berboedi masih yang paling mengena buat saya... :)
akmal wrote on May 19, '09
TFS Bang, SBY-Berboedi masih yang paling mengena buat saya... :)
pilihannya cuma 4 : SBY-Boediono, JK-Wiranto, Mega-Prabowo, atau golput...

kalau mau golput ya sejak awal gak usah bikin partai, jadi opsi keempat dihapus saja...

Mega-Prabowo is not an option for me, karena fatwa haramnya Presiden perempuan masih berlaku, dan di PDIP sekarang bersarang banyak orang2 sekularis-liberalis... Hamid Basyaib, pentolan JIL, kemarin jadi caleg no 3 utk Jawa Barat...

banyak yg bilang JK-Wiranto lebih cocok daripada SBY-Boediono, tapi saya masih ingat bagaimana sikap JK ketika mengomentari buku2 Sayyid Quthb, juga komentarnya tentang gerakan jihad di Poso... menurut saya JK malah lebih berbahaya daripada SBY...

ya dengan sangat terpaksa, ditambah lagi faktor kontrak politik dengan para qiyadah PKS, ujung2nya saya balik ke SBY-Boediono deh... :)
ariomuhammad wrote on May 19, '09
Ya Allah... mau pergi lagi...
Bacanya entar..
Syukron akh..

Dah ditunggu2...
Buku trauma Persepsi ana dihilangin teman sebelum saya baca.. :((
akmal wrote on May 19, '09
Ya Allah... mau pergi lagi...
Bacanya entar..
Syukron akh..

Dah ditunggu2...
Buku trauma Persepsi ana dihilangin teman sebelum saya baca.. :((
beli lagi aja bos, insya Allah gak rugi... :)
vi3nzz wrote on May 19, '09
jadi termotivasi untuk buru-buru nuntasin buku "Trauma persepsi" nih...:)
akmal wrote on May 19, '09
vi3nzz said
jadi termotivasi untuk buru-buru nuntasin buku "Trauma persepsi" nih...:)
semangat!!! :D
pandakeadilan wrote on May 19, '09
mantap....
akmal wrote on May 19, '09
mantap....
patnam... :p
peduli wrote on May 19, '09, edited on May 19, '09
Baca poin 2, jadi inget cerita temen...ada seorang anggota dewan yg bangga diri seraya berucap : "...saya anggota DPR...", yang kemudian ditanggapi oleh lawan bicaranya :"...saya ketua DPRa...", hihi :)
akmal wrote on May 19, '09
peduli said
Baca poin 2, jadi inget cerita temen...ada seorang anggota dewan yg bangga diri seraya berucap : "...saya anggota DPR...", yang kemudian ditanggapi oleh lawan bicaranya :"...saya ketua DPRa...", hihi :)
wah mantabs, itu baru sesuai dengan arahan ketua Majelis Syuro... :D
antohermawan wrote on May 22, '09
hehe
akmal wrote on May 25, '09
hehe
huhu :p
akmal wrote on May 19, '09
salah satu bug-nya Multiply, kalo blog diedit, jarak antar paragrafnya pasti ilang... jadi ujung2nya harus diedit lagi... cape deee... :(
catatankecil wrote on May 20, '09
akmal said
salah satu bug-nya Multiply, kalo blog diedit, jarak antar paragrafnya pasti ilang... jadi ujung2nya harus diedit lagi... cape deee... :(
mending sebelum direplace di bodytext, masukin dulu ke notepad, brow. Biasanya sih manjur ngilangin bug dalam hal userinterface.
akmal wrote on May 20, '09
mending sebelum direplace di bodytext, masukin dulu ke notepad, brow. Biasanya sih manjur ngilangin bug dalam hal userinterface.
masalahnya gini... tadinya udah diupload, gak masalah, antar paragrafnya tetap ada jarak... lalu baru inget mo nambahin link utk bukunya ust. Hilmi, akhirnya diedit deh... :D

kalo gak diedit sih gak ada masyalah...
akmalludin wrote on May 19, '09
Assalamu 'alaykum...
akmal wrote on May 20, '09
Assalamu 'alaykum...
wa'alaikumussalaam wr. wb.... :)
kangbayu wrote on May 19, '09
Nggak suka dengan komposisi yang diajukan PD, tapi lebih ngeri lagi ngeliat komposisi yang diajukan dua koalisi lain... JK - Wiranto? Ini mah "Golkar TNG" judulnya (The Next Generation), sedangkan Mega - Prabowo dua2nya besar karena image dan romantisme, bukan / belum karena kinerja...

Jadi keliatannya SBY-B bakalan tetep jadi favorit... semata-mata daripada pilihan ke-4 (Golput).

Tapi still hope for the best lah... =)
akmal wrote on May 20, '09
Nggak suka dengan komposisi yang diajukan PD, tapi lebih ngeri lagi ngeliat komposisi yang diajukan dua koalisi lain... JK - Wiranto? Ini mah "Golkar TNG" judulnya (The Next Generation), sedangkan Mega - Prabowo dua2nya besar karena image dan romantisme, bukan / belum karena kinerja...

Jadi keliatannya SBY-B bakalan tetep jadi favorit... semata-mata daripada pilihan ke-4 (Golput).

Tapi still hope for the best lah... =)
hehehe ya gitu deh Bos... :)
ferryferd wrote on Jun 8, '09
hehehe...
memamngnya Demokrat bukan Golkar ya oom..
nulisaja wrote on May 19, '09
TFS. Boleh di-link ke milis dan Facebook?
akmal wrote on May 20, '09
TFS. Boleh di-link ke milis dan Facebook?
silakan... :)
frachman wrote on May 19, '09
Assalamualaikum wr wb,
Terus terang saya sudah menunggu artikel-nya ...
saya ingin ada komentar uda Akmal tentang istri2 JK-Win yg berjilbab, apakah tidak relevan bila dibandingkan dengan komentar JK tentang buku Sayyid Qutb dan jihad di Poso ?
apakah ada dasar kita milih SBY-B selain karena PKS telah setuju untuk bergabung ?
Afwan, pertanyaan ini untuk menjawab tuduhan bahwa Kader PKS taqlid buta terhadap partai-nya ...
JKK
akmal wrote on May 20, '09, edited on May 20, '09
Assalamualaikum wr wb,
Terus terang saya sudah menunggu artikel-nya ...
saya ingin ada komentar uda Akmal tentang istri2 JK-Win yg berjilbab, apakah tidak relevan bila dibandingkan dengan komentar JK tentang buku Sayyid Qutb dan jihad di Poso ?
apakah ada dasar kita milih SBY-B selain karena PKS telah setuju untuk bergabung ?
Afwan, pertanyaan ini untuk menjawab tuduhan bahwa Kader PKS taqlid buta terhadap partai-nya ...
JKK
saya rasa masalah soal istri JK-Wiranto gak relevan sama sekali ya... masalahnya, di Qur'an pun Allah memuji istri Fir'aun... istrinya baik, suaminya? ntar dulu...

eh tapi bukan berarti saya nyamain JK-Wiranto dengan Fir'aun lho ya... jauh banget lah... :D

cuma sekedar menunjukkan bahwa masalah jilbab istri bukanlah ukuran yang baik utk memilih pemimpin... :)

dari milis INSISTS, ada pertimbangan lain : Siti Musdah Mulia, seorang profesor IAIN, juga pakai jilbab yang rapat, tapi pemikirannya aneh2, sampai menghalalkan homoseksualitas segala...

Soal alasan memilih SBY-Boediono bukan semata2 karena didukung PKS donk, kan saya udah bicarakan panjang lebar pertimbangannya di atas... intinya sih : kontrak politik! :)
ferryferd wrote on Jun 8, '09
kontrak politik khan bisa dibuat dengan siapa saja..
pertanyaannya kenapa PKS menolak ketika JK ingin menggandeng HNW jadi Cawapres
nazzier wrote on May 20, '09
assalamu alaikum..

Sedikit memaparkan opini saya tentang Fenomena politik yang terjadi ditanah air, terutama mengenai pasangan Capres-Cawapres ( SBY-Boediono ) dengan PKS. Terus terang saya sangat kecewa dengan keputusan-keputusan dari pihak PKS yang menurut saya kurang tegas mengambil sebuah sikap, bahkan terkesan plin-plan. ada satu yang sangat saya sayangkan, ketika SBY mengumumkan cawapresnya sepontan terlihat sangat jelas penolakan dari kubu PKS, bahkan mereka sempat cabut dari koalisi dengan PD dan dalam dialognya, terlihat jelas PKS sangat menentang pencalonan Cawapres Boediono dengan alasan bahwa dia itu adalah ekonomi kapitalis-liberalis bahkan ada klaim bahwa dia itu kaki tangan IMF. Namun ketika tiba waktu Deklarasi SBY-Boediono, saya kaget dengan sikap PKS, yang seakan-akan mati kutu ketika berhadapan langsung dengan Pak SBY, bahkan ketika SBY minta maaf akan keterlambatan informasi tentang pencalonan cawapres B, PKS hanya menjawab tidak apa-apa, sebenarnya kami tidak mempermasalaskan Pak Boediononya tapi ini hanya sebuah kesalahan Misskomunikasi. Nah dari pernyataan ini, PKS terkesan sebuah partai yang sangat gampang di goyang dan dikendalikkan yang ujung-ujungnya mencoreng nama PKS itu sendiri sebagai sebuah partai dakwah.

Sebenarnya saya sendiri tidak terlalu mempermsalahkan PKS itu mau koalisi dengan siapa, mau PD, mau Golkar, mau Gerindra itu tidak masalah bagi saya, asalkan ada ketegasan dalam mengambil sebuah keputusan misalnya, kalo memang ingin koalisi dengan PD tidak ada masalah, cuman yang saya sayangkan kenapa harus bersikap seperti itu ketika terdengar bahwa Pak SBY mencalokan Boediono untuk menjadi pendapingnya. PKS termaksud yang pertama menentang nama itu, padahal ujung2nya mereka tetep kembali ke PD, inikan bisa merusak imej PKS sebagai partai dakwah menjadi sebuah partai kekuasaan.

sekali lagi, saya mohon pencerahan dari akh Akmal karena trus terang saya juga tidak terlalu mengerti soal politik hehehe...saya cuman tidak tahan mendengar omongan temen-temen disini yang menanggapi sikap PKS pasca Deklarasi SBY.
akmal wrote on May 20, '09
nazzier said
assalamu alaikum..

Sedikit memaparkan opini saya tentang Fenomena politik yang terjadi ditanah air, terutama mengenai pasangan Capres-Cawapres ( SBY-Boediono ) dengan PKS. Terus terang saya sangat kecewa dengan keputusan-keputusan dari pihak PKS yang menurut saya kurang tegas mengambil sebuah sikap, bahkan terkesan plin-plan. ada satu yang sangat saya sayangkan, ketika SBY mengumumkan cawapresnya sepontan terlihat sangat jelas penolakan dari kubu PKS, bahkan mereka sempat cabut dari koalisi dengan PD dan dalam dialognya, terlihat jelas PKS sangat menentang pencalonan Cawapres Boediono dengan alasan bahwa dia itu adalah ekonomi kapitalis-liberalis bahkan ada klaim bahwa dia itu kaki tangan IMF. Namun ketika tiba waktu Deklarasi SBY-Boediono, saya kaget dengan sikap PKS, yang seakan-akan mati kutu ketika berhadapan langsung dengan Pak SBY, bahkan ketika SBY minta maaf akan keterlambatan informasi tentang pencalonan cawapres B, PKS hanya menjawab tidak apa-apa, sebenarnya kami tidak mempermasalaskan Pak Boediononya tapi ini hanya sebuah kesalahan Misskomunikasi. Nah dari pernyataan ini, PKS terkesan sebuah partai yang sangat gampang di goyang dan dikendalikkan yang ujung-ujungnya mencoreng nama PKS itu sendiri sebagai sebuah partai dakwah.

Sebenarnya saya sendiri tidak terlalu mempermsalahkan PKS itu mau koalisi dengan siapa, mau PD, mau Golkar, mau Gerindra itu tidak masalah bagi saya, asalkan ada ketegasan dalam mengambil sebuah keputusan misalnya, kalo memang ingin koalisi dengan PD tidak ada masalah, cuman yang saya sayangkan kenapa harus bersikap seperti itu ketika terdengar bahwa Pak SBY mencalokan Boediono untuk menjadi pendapingnya. PKS termaksud yang pertama menentang nama itu, padahal ujung2nya mereka tetep kembali ke PD, inikan bisa merusak imej PKS sebagai partai dakwah menjadi sebuah partai kekuasaan.

sekali lagi, saya mohon pencerahan dari akh Akmal karena trus terang saya juga tidak terlalu mengerti soal politik hehehe...saya cuman tidak tahan mendengar omongan temen-temen disini yang menanggapi sikap PKS pasca Deklarasi SBY.
soal itu, sebenarnya tadinya mo saya masukin di sini juga, tapi artikelnya dah kepanjangan (5 halaman A4!) hehehe... jadi saya putuskan disambung di artikel berikutnya aja yah... mohon sabar, insya Allah beberapa hari lagi diupload, setelah popularitas artikel ini meredup... hahahaha :D
wirdayanti wrote on May 20, '09
akmal said
disambung di artikel berikutnya
Jangan lama2 Son..
akmal wrote on May 20, '09
Jangan lama2 Son..
besok, insya Allah...
amaliyah wrote on May 22, '09
akmal said
soal itu, sebenarnya tadinya mo saya masukin di sini juga, tapi artikelnya dah kepanjangan (5 halaman A4!) hehehe... jadi saya putuskan disambung di artikel berikutnya aja yah... mohon sabar, insya Allah beberapa hari lagi diupload, setelah popularitas artikel ini meredup... hahahaha :D
waah... jangan kelamaan dong.. penasaran juga sama sambungannya.
btw, ijin copas ke fb juga.
akmal wrote on May 25, '09
waah... jangan kelamaan dong.. penasaran juga sama sambungannya.
btw, ijin copas ke fb juga.
waduh maaf, masih sibuk bgt, belum sempet upload... insya Allah siang ini deh... :)
inibadu wrote on Jun 7, '09
akmal said
sebenarnya tadinya mo saya masukin di sini juga, tapi artikelnya dah kepanjangan (5 halaman A4!) hehehe... jadi saya putuskan disambung di artikel berikutnya aja yah... mohon sabar, insya Allah beberapa hari lagi diupload
Ditunggu sambungannya mas... saya salah satu simpatisan/suporter PKS yg juga masih banyak pertanyaan mengenenai sikap PKS yang mulai perhitungan pileg (quick count) sikapnya mulai tidak pasti, bimbang, gundah gulana.

Pernah dalam satu acara politik di tv, bersanding wakil dari PDIP, GOLKAR, PKS dan PD... kubu PKS pernah berkata akan koalisi dengan partai selain PD,... saat itu PDIP dan PD saling serang masalah siapa yang akan jadi oposisi... dari wakil PKS justru ikut mengatakan bahwa PKS akan dukung untuk membuat PD manjadi partai oposisi (baca: koalisi dengan lawan-lawan PD).

Tapi belakangan malah terbalik-balik -> malah mendukung PD -> begitu cawapres yang dipilih SBY Boediono -> ngambek -> negoisasi -> rujuk lagi....... lieur kita-kita yang ngeliat nih.
siipot wrote on May 20, '09
nazzier said
ada satu yang sangat saya sayangkan, ketika SBY mengumumkan cawapresnya sepontan terlihat sangat jelas penolakan dari kubu PKS, bahkan mereka sempat cabut dari koalisi dengan PD dan dalam dialognya, terlihat jelas PKS sangat menentang pencalonan Cawapres Boediono dengan alasan bahwa dia itu adalah ekonomi kapitalis-liberalis bahkan ada klaim bahwa dia itu kaki tangan IMF. Namun ketika tiba waktu Deklarasi SBY-Boediono, saya kaget dengan sikap PKS, yang seakan-akan mati kutu ketika berhadapan langsung dengan Pak SBY,
Kayaknya gak ada deh pernyataan keberatan awal PKS yg bicara ttg Boediono itu kaki tangan IMF,
dari awal PKS hanya tidak suka keputusan sepihak dari PD (SBY) thd pengangkatan Boediono sgb cawapres....
jsattaubah wrote on May 20, '09
nazzier said
cuman yang saya sayangkan kenapa harus bersikap seperti itu ketika terdengar bahwa Pak SBY mencalokan Boediono untuk menjadi pendapingnya. PKS termaksud yang pertama menentang nama itu, padahal ujung2nya mereka tetep kembali ke PD, inikan bisa merusak imej PKS sebagai partai dakwah menjadi sebuah partai kekuasaan.
id nazzier, pertanyaan inimah ada di web http:pk-sejahtera.org

Tapi, kalau mau nunggu tulisan Kang Akmal sih, silahkan.
siipot wrote on May 20, '09
sip...
akmal wrote on May 20, '09
siipot said
sip...
sop... :)
pitra13 wrote on May 20, '09
sepakat!!!
akmal wrote on May 20, '09
dua pakat!!! :p
catatankecil wrote on May 20, '09
dengan prinsip musyarokah muhtamal rojih fauzuhu, tulisan ini menjadi sup ayam yang nyaman ;). Hatur nuhun, brow :D
akmal wrote on May 20, '09
dengan prinsip musyarokah muhtamal rojih fauzuhu, tulisan ini menjadi sup ayam yang nyaman ;). Hatur nuhun, brow :D
nyam nyam... sop dari mana ya? perasaan tadi mesen rendang... :p
catatankecil wrote on May 20, '09
sup kok, bukan sop :D
akmal wrote on May 20, '09
sup kok, bukan sop :D
sep...? :p
ariomuhammad wrote on May 20, '09
akmal said
Yang jelas, sejak awal saya ingin meluruskan satu hal : Saya mendukung PKS! SBY-Boediono adalah pilihan yang jauh dari ideal. Namun sebagaimana PKS mendukung SBY-Boediono dengan segepok catatan, maka saya pun bisa menerima, tentunya dengan berbekal catatan pula. Partai dakwah tidak mungkin jadi bulan-bulanan terus.
Syukron Pa..

Allah Akbar..
Ana copas di FB ya akh...
akmal wrote on May 20, '09
Syukron Pa..

Allah Akbar..
Ana copas di FB ya akh...
silakan... moga2 semua tau bahwa PKS bukan oportunis... SBY-Boediono pun didukung dengan banyak catatan... kalau tidak memuaskan, kami bisa meninggalkan koalisi kapan saja... :)
kandhiyya wrote on May 28, '09
akmal said
silakan... moga2 semua tau bahwa PKS bukan oportunis... SBY-Boediono pun didukung dengan banyak catatan... kalau tidak memuaskan, kami bisa meninggalkan koalisi kapan saja... :)
Afwan, keluar-masuk koalisi memang lazim dan mudah dilakukan. Tetapi bagaimana dengan resiko dari jatuhnya posisi strategis wakil presiden ke pihak lain, yang harus diterima sebagai konsekuensi dari keputusan untuk berkoalisi ?

Dalam kondisi tertentu, wakil presiden bisa naik menjadi presiden. Misalnya saat presiden berhalangan tetap. Atau jika prosedur penggantian gus Dur dengan ibu Megawati dulu masih bisa diaplikasikan pada presiden hasil sistem pemilihan langsung sekarang ini.

Bila pak SBY menang pada pemilu presiden 2009 mendatang, mudah-mudahan antum siap dan bisa menerima, kalau suatu saat Pak Boediono (dengan segala plus minusnya), tiba-tiba menjadi presiden (pemimpin) antum.
akmal wrote on May 31, '09
Afwan, keluar-masuk koalisi memang lazim dan mudah dilakukan. Tetapi bagaimana dengan resiko dari jatuhnya posisi strategis wakil presiden ke pihak lain, yang harus diterima sebagai konsekuensi dari keputusan untuk berkoalisi ?

Dalam kondisi tertentu, wakil presiden bisa naik menjadi presiden. Misalnya saat presiden berhalangan tetap. Atau jika prosedur penggantian gus Dur dengan ibu Megawati dulu masih bisa diaplikasikan pada presiden hasil sistem pemilihan langsung sekarang ini.

Bila pak SBY menang pada pemilu presiden 2009 mendatang, mudah-mudahan antum siap dan bisa menerima, kalau suatu saat Pak Boediono (dengan segala plus minusnya), tiba-tiba menjadi presiden (pemimpin) antum.
PKS sejak awal memang tidak terlalu mengincar posisi Cawapres, walaupun SBY memang minta PKS mengajukan nama, dan itu sudah dilakukan... PKS dan SBY sama2 sepakat bahwa Wapres sebaiknya tidak mendominasi Presiden (belajar dari pengalaman 2004-2009), dan karenanya, PKS menganggap posisi Wapres memang tidak strategis... Lebih strategis mengejar kursi menteri, dan ini sudah dilakukan...

Kemungkinan Wapres naik jadi Presiden memang ada, tapi sangat kecil kemungkinannya, dan sangat jarang terjadi, bukan? Sejauh ini baru Gus Dur saja yg mengalaminya.
aburasyidin wrote on May 20, '09
sudah saatnya konstitusi membolehkan calon independen....
akmal wrote on May 20, '09
sudah saatnya konstitusi membolehkan calon independen....
sebelum pemilu kemaren sempet santer, masih ditolak aja ya bos? kasian Rizal Ramli... :D
lollytadiah wrote on May 20, '09
Alhamdulillah... dapet artikel yang menyejukkan, ditengah hingar bingar kader yang mempertanyakan banyak hal tenteng kebijakan koalisi ini..
TFS...:)
akmal wrote on May 20, '09
Alhamdulillah... dapet artikel yang menyejukkan, ditengah hingar bingar kader yang mempertanyakan banyak hal tenteng kebijakan koalisi ini..
TFS...:)
TFR... :)
jsattaubah wrote on May 20, '09
Kang, boleh copas kan:-)
Ulasannya membri persepsi lain buat yg lain.
Agar ada pembanding opini yg selama ini beredar.
akmal wrote on May 20, '09
Kang, boleh copas kan:-)
Ulasannya membri persepsi lain buat yg lain.
Agar ada pembanding opini yg selama ini beredar.
boleh donk, seperti biasa... :)
mochusni wrote on May 20, '09
intinya... selalu berpikir dan bereaksi positif
atas apapun yg kita hadapi.
akmal wrote on May 20, '09
intinya... selalu berpikir dan bereaksi positif
atas apapun yg kita hadapi.
bener banget... but it's easier said than done... :)
inimona wrote on May 20, '09
kayaknya udah baca bayanat nih si uda :D

jadi inget perjanjian Hudaibiyah dan umar yang sangat menentang dan menyampaikannya ke Rasulullah. Hemmm..tapi Alloh suka barisan yang rapi!
akmal wrote on May 20, '09
inimona said
kayaknya udah baca bayanat nih si uda :D

jadi inget perjanjian Hudaibiyah dan umar yang sangat menentang dan menyampaikannya ke Rasulullah. Hemmm..tapi Alloh suka barisan yang rapi!
sebenernya kalau menyimak baik2 penjelasan para qiyadah dari awal, plus baca buku ust. Hilmi (hehe promosi abis2an), gak perlu bayanat juga cukup clear kok... masalahnya kita memang suka berprasangka... antara fakta dan asumsi bercampur aduk, akhirnya kesimpulannya lemah... :)
nazzier wrote on May 20, '09
Postingan selanjutnya ditunggu Kang Akmal...
artikel yang ini ku kopas ya...:)
akmal wrote on May 20, '09
nazzier said
Postingan selanjutnya ditunggu Kang Akmal...
artikel yang ini ku kopas ya...:)
sippp, insya Allah besok artikel berikutnya diposting... :)
ekobs wrote on May 20, '09
Semoga nich ... ummat bisa terus bersatu di tengah badai politik. Dan bisa memahami bahwa sami'naa wa athonaa mempunyai strategic value bagi ummat.

Tapi buat yg gak setuju, kita bisa punya cara-cara agar ummat tetap bersatu.
Misal bersama-sama kita tunjukkan bahwa kita bisa membantu masyarakat kita tanpa menunggu bantuan asing ...

Saya lakukan beberapa riset untuk penyaluran beasiswa ke 3 titik. Ini bagian dari SKENARIO yg coba dijalankan Muslim Infocom Foundation. Doa ane sih antum semua, bisa jadi donatur :D Donasi bisa mulai dari Rp 1ribu per hari, bisa Rp 2ribu per hari ...

Cisarua : Riset online #1
http://ekobs.multiply.com/journal/item/153/Cisarua_Riset_online_1

Muara Angke : Riset online #1
http://ekobs.multiply.com/journal/item/152/Muara_Angke_Riset_online_1

Bantar Gebang : Riset online #1
http://ekobs.multiply.com/journal/item/151/Bantar_Gebang_Riset_online_1

Proyek beasiswa diharapkan juga akan mendampingi siswa dengan pelatihan komputer atau blogging, sehingga ke depan bermunculan blogger yg selain intelektual seperti antum semua, juga bisa mengisi kekosongan yg skrng masih belum terisi ... yaitu pemahaman kita akan masalah di tingkat grass root.

Silahkan reply di posting di atas kalau ada pertanyaan :)
akmal wrote on May 20, '09
ekobs said
Semoga nich ... ummat bisa terus bersatu di tengah badai politik. Dan bisa memahami bahwa sami'naa wa athonaa mempunyai strategic value bagi ummat.

Tapi buat yg gak setuju, kita bisa punya cara-cara agar ummat tetap bersatu.
Misal bersama-sama kita tunjukkan bahwa kita bisa membantu masyarakat kita tanpa menunggu bantuan asing ...
aaamiiin.... :)
restudessy wrote on May 20, '09
Indonesia masih perlu banyak belajr tentang demokrasi,,terutama bagaimana memahami Islam sebgai bagian penting dalm bernegara.contoh simple adalah mengapa tidk ada dlm daftar tes kesehatan BaCapres-Cawapres ttg tes kemampuan agama.??sesuatu yang sangat ironis :(...
PKS mencoba memberi gambaran kpd rakyat ttg cara berpolitik dlm Islam,bahwa bukan kekuasaan yg jadi tujuan,walau kl mengutip kalimat Imam Al Ghazali "Dunia adalh ladang akhirat,Agama tidak akan sempurna kecuali dg dunia.kekuasaan dan agama adl kembaran yg tdk dapat dipisahkan.Agama adl tiang sedang penguasa adlh penjaga.bangunan tanpa tiang akan rubuh dan apa yg tidak dijaga akan hilang.keteraturan dan kedisiplinan tidak akan terwujud kecuali dg penguasa".Dari sini jelas bahwa tujuan memimpin negara adl untuk menjaga agama (dakwah). Saya rasa PKS mencoba meberikan contoh ini,buktinya berkali dikatakn bahwa esensi dr koalisi g akan dibangun adalah kekuatan visi dan misi bernegara.bukan sekedar bagi2 kursi menteri or sebagainya.dan mnrt saya PKS lah yg paling konsisten ttg nilai2 ini..Sedikit masukn (mungkin) bg PKS,adl bagaimana mengkomunikasikn hasil koalisi yg dicapai (pasca gagalnya HNW jd cawapres) kpd kader smp level plng bawah..karena sosok Boediono memiliki byk sekli resistan (termasuk saya)..Walahu'alam bi shawab
akmal wrote on May 20, '09
Indonesia masih perlu banyak belajr tentang demokrasi,,terutama bagaimana memahami Islam sebgai bagian penting dalm bernegara.contoh simple adalah mengapa tidk ada dlm daftar tes kesehatan BaCapres-Cawapres ttg tes kemampuan agama.??sesuatu yang sangat ironis :(...
PKS mencoba memberi gambaran kpd rakyat ttg cara berpolitik dlm Islam,bahwa bukan kekuasaan yg jadi tujuan,walau kl mengutip kalimat Imam Al Ghazali "Dunia adalh ladang akhirat,Agama tidak akan sempurna kecuali dg dunia.kekuasaan dan agama adl kembaran yg tdk dapat dipisahkan.Agama adl tiang sedang penguasa adlh penjaga.bangunan tanpa tiang akan rubuh dan apa yg tidak dijaga akan hilang.keteraturan dan kedisiplinan tidak akan terwujud kecuali dg penguasa".Dari sini jelas bahwa tujuan memimpin negara adl untuk menjaga agama (dakwah). Saya rasa PKS mencoba meberikan contoh ini,buktinya berkali dikatakn bahwa esensi dr koalisi g akan dibangun adalah kekuatan visi dan misi bernegara.bukan sekedar bagi2 kursi menteri or sebagainya.dan mnrt saya PKS lah yg paling konsisten ttg nilai2 ini..Sedikit masukn (mungkin) bg PKS,adl bagaimana mengkomunikasikn hasil koalisi yg dicapai (pasca gagalnya HNW jd cawapres) kpd kader smp level plng bawah..karena sosok Boediono memiliki byk sekli resistan (termasuk saya)..Walahu'alam bi shawab
mohon doanya ya... :)
umuazzam wrote on May 20, '09
subhanllah sebuah analisa yg bagus pak..ijin copas utk ditempel diblognya PKS Kudus ya..jazakallah..
akmal wrote on May 20, '09
subhanllah sebuah analisa yg bagus pak..ijin copas utk ditempel diblognya PKS Kudus ya..jazakallah..
silakan, jgn malu-malu... :p

halah! :D
sya2 wrote on May 20, '09
dari kmren2 dah nungguin tulisan Akmal tentang ini, akhirnya..muncul juga..TFS pencerahannya
akmal wrote on May 20, '09
sya2 said
dari kmren2 dah nungguin tulisan Akmal tentang ini, akhirnya..muncul juga..TFS pencerahannya
punten, sampe hari ini koneksi internet di kantor masih gak jelas, soalnya blum pasang speedy (petugasnya kok gak dateng2 ya?)... beberapa blogger PKS yg udah kirim biodata juga blum sempet saya kirim email nih.. :(
pitra13 wrote on May 20, '09
bang saya ikutan copas juga ya... :D
akmal wrote on May 20, '09
pitra13 said
bang saya ikutan copas juga ya... :D
mangga atuh... :)
zonjonggol wrote on May 20, '09, edited on May 20, '09
Maaf akh Amal saya ikut mengomentari pemikiran bagian

Sebab, dulu Jusuf Kalla 'membangkang' dari ketentuan resmi Golkar yang mencalonkan Wiranto sebagai
Presiden, sedangkan Wiranto sendiri adalah kader Golkar yang hengkang dari
kepemimpinan Jusuf Kalla dan membentuk partainya sendiri. Wiranto pun harus
rela menjadi Cawapres setelah lima tahun yang lalu sempat mencalonkan diri
untuk menjadi Presiden.

Seperti orang kebanyakan, selalu melihat apa yang tampak di luar.
Pa Jusuf Kalla "membangkang" mungkin saja karena beliau memegang teguh prinsip beliau.
Begitu juga setelah beliau memutuskan "hengkang" dari kemungkinan koalisi dengan PD mungkin saja karena beliau juga memegang teguh prinsip.
Begitu juga keberhasilan pa Wiranto "rela" menjadi cawapres, mungkin saja beliau sebagai mukmin yang bisa mengendalikan hawa nafsu dan memegang teguh prinsip yang dianut.

Sedangkan qiyadah partai yang awalnya saya simpatik, memperlihatkan nilai-nilai yang terombang-ambing.
Mereka bersandar pada mahluk. Pada PD yang jelas-jelas mereka menyatakan sebagai partai nasionalis, bercampur antara hak dan bathil. Pemimpin yang rela memperkarakan ustadz Habib Rizieq hanya semata-mata karena hak asasi manusia. Pemimpin yang rela mengeksekusi Amrozi cs hanya semata-mata karena hak asasi manusia tanpa memperhatikan apa nilai-nilai dibalik perjuangan mereka. Pemimpin yang rela merajalelanya sekuler, liberalisme dan pluralisme kebablasan.
Padahal sesungguhnya demokrasi Pancasila, meletakkan hak asasi manusia dibawah hak asasi Tuhan dimana kemanusian yang adil dan beradab berlandaskan Ketuhanan yang Maha Esa.

Taatlah pada Allah dengan Tuntunan Nabi Muhammad SAW.
Taatlah pada Ulama sejauh sesuai dengan Al-Qur'an dan hadist
Taatlah pada Umara sejauh sesuai dengan Al-Qur'an dan hadist

Wassalam

baca juga,
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/05/19/rezeki/
akmal wrote on May 20, '09
Maaf akh Amal saya ikut mengomentari pemikiran bagian

Sebab, dulu Jusuf Kalla 'membangkang' dari ketentuan resmi Golkar yang mencalonkan Wiranto sebagai
Presiden, sedangkan Wiranto sendiri adalah kader Golkar yang hengkang dari
kepemimpinan Jusuf Kalla dan membentuk partainya sendiri. Wiranto pun harus
rela menjadi Cawapres setelah lima tahun yang lalu sempat mencalonkan diri
untuk menjadi Presiden.

Seperti orang kebanyakan, selalu melihat apa yang tampak di luar.
Pa Jusuf Kalla "membangkang" mungkin saja karena beliau memegang teguh prinsip beliau.
Begitu juga setelah beliau memutuskan "hengkang" dari kemungkinan koalisi dengan PD mungkin saja karena beliau juga memegang teguh prinsip.
Begitu juga keberhasilan pa Wiranto "rela" menjadi cawapres, mungkin saja beliau sebagai mukmin yang bisa mengendalikan hawa nafsu dan memegang teguh prinsip yang dianut.

Sedangkan qiyadah partai yang awalnya saya simpatik, memperlihatkan nilai-nilai yang terombang-ambing.
Mereka bersandar pada mahluk. Pada PD yang jelas-jelas mereka menyatakan sebagai partai nasionalis, bercampur antara hak dan bathil. Pemimpin yang rela memperkarakan ustadz Habib Rizieq hanya semata-mata karena hak asasi manusia. Pemimpin yang rela mengeksekusi Amrozi cs hanya semata-mata karena hak asasi manusia tanpa memperhatikan apa nilai-nilai dibalik perjuangan mereka. Pemimpin yang rela merajalelanya sekuler, liberalisme dan pluralisme kebablasan.
Padahal sesungguhnya demokrasi Pancasila, meletakkan hak asasi manusia dibawah hak asasi Tuhan dimana kemanusian yang adil dan beradab berlandaskan Ketuhanan yang Maha Esa.

Taatlah pada Allah dengan Tuntunan Nabi Muhammad SAW.
Taatlah pada Ulama sejauh sesuai dengan Al-Qur'an dan hadist
Taatlah pada Umara sejauh sesuai dengan Al-Qur'an dan hadist

Wassalam

baca juga,
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/05/19/rezeki/
Soal Jusuf Kalla, saya masih ingat bagaimana beliau dengan mudahnya termakan fitnah soal buku-buku Sayyid Quthb... Masih segar dalam ingatan bagaimana Jusuf Kalla begitu benci pada gerakan jihad di Poso, sehingga semua isu miring soal umat Islam langsung dianggapnya benar... Maaf, saya rasa bagi umat Islam, Jusuf Kalla lebih bahaya daripada SBY...

Karakter ikhwah tarbiyah adalah 'kalau nggak bisa dapat 10, dapat 5 pun sudah lumayan'... Jadi saya rasa bukannya oportunis, hanya saja kami menyesuaikan dengan kondisi. Seperti saya tulis dalam artikel di atas, idealnya sih ust. Hidayat jadi Presiden. Tapi kalau gak bisa, jadi Wapres pun gpp. Ternyata gak bisa juga, ya kita coba dapatkan yang terbaik saja, misalnya dgn mengikat SBY-Boediono dengan kontrak politik.

Saya heran pada antum yg menganggap PD demikian nistanya, sehingga menyebut PD mencampuradukkan yg haq dan yg bathil. Lantas Golkar itu apa? Hanura itu apa? Menjelang Pemilu legislatif kemarin, dimana-mana ada cerita bakal caleg Hanura yg marah2 lantaran pemilihan caleg di tubuh internalnya gak fair. Apa ini bukan indikasi minimnya keikhlasan dalam berjuang lewat jalur politik?

Rasulullah saw. siap bekerja sama dgn siapa saja, asal utk kebaikan. Dengan PD, PDIP, Golkar, siapa pun, PKS bisa bekerja sama. Tentunya bukan dalam hal memenjarakan Habib Rizieq, atau membiarkan Ahmadiyah, atau menghambat UU Pornografi dan semacamnya.
ukhtirusda wrote on May 20, '09
Izin coppas :D
Baru sekali ini saya minta izin, biasanya mah main coppas ajah.
Ga pa pa ya kan? Asal nyebutin sumbernya.
Syukran bang Akmal. Saya tunggu sekuelnya, hehehe
akmal wrote on May 20, '09
Izin coppas :D
Baru sekali ini saya minta izin, biasanya mah main coppas ajah.
Ga pa pa ya kan? Asal nyebutin sumbernya.
Syukran bang Akmal. Saya tunggu sekuelnya, hehehe
silakan... :)
wanevi wrote on May 20, '09
Alhamdulillaah...izin copas ya mas...
akmal wrote on May 20, '09
wanevi said
Alhamdulillaah...izin copas ya mas...
monggo... :)
Comment deleted at the request of the author.
wisnuhuhu wrote on May 20, '09
Mahfudz Siddiq mengatakan bahwa power sharing itu baru akan dibicarakan setelah pasangan yang mereka dukung memenangkan pilpres. Namun ia tidak membantah mengenai delapan nama yang diajukan PKS kepada SBY untuk menduduki posisi menteri yang berbasis pelayanan. Misalnya Menteri Sosial, Menteri Pendidikan, Menteri Pertanian, serta Menteri Usaha Kecil dan Menengah.

Beberapa nama yang disodorkan itu adalah Hidayat Nurwahid, Tifatul Sembiring, Anis Matta, Salim Segaff Al-Jufri, dan Irwan Prayitno. Menurut Mahfudz Abdurrahman, anggota Majelis Syura PKS, PKS hanya minta empat hingga lima kursi menteri. Optimistis terpenuhi? ''Kalau soal janji-janji, kami sudah biasa (diingkari), karena kontrak politik nggak punya kekuatan hukum,'' kata Mahfudz Abdurrahman.


(ngutip dari berita kantor).
akmal wrote on May 25, '09
Mahfudz Siddiq mengatakan bahwa power sharing itu baru akan dibicarakan setelah pasangan yang mereka dukung memenangkan pilpres. Namun ia tidak membantah mengenai delapan nama yang diajukan PKS kepada SBY untuk menduduki posisi menteri yang berbasis pelayanan. Misalnya Menteri Sosial, Menteri Pendidikan, Menteri Pertanian, serta Menteri Usaha Kecil dan Menengah.

Beberapa nama yang disodorkan itu adalah Hidayat Nurwahid, Tifatul Sembiring, Anis Matta, Salim Segaff Al-Jufri, dan Irwan Prayitno. Menurut Mahfudz Abdurrahman, anggota Majelis Syura PKS, PKS hanya minta empat hingga lima kursi menteri. Optimistis terpenuhi? ''Kalau soal janji-janji, kami sudah biasa (diingkari), karena kontrak politik nggak punya kekuatan hukum,'' kata Mahfudz Abdurrahman.


(ngutip dari berita kantor).
thx for the update... :)
wahyu25 wrote on May 21, '09
Alhamdulillah ... setelah kemarin sempat kena tsunami ... nunggu bayan gak dapet-dapet (lha minggu kemarin pertemuannya libur euy) ... akhirnya dapat pencerahan ... ijin di print dan di foto copy untuk teman-teman yang sama-sama kena tsunami
akmal wrote on May 25, '09
wahyu25 said
Alhamdulillah ... setelah kemarin sempat kena tsunami ... nunggu bayan gak dapet-dapet (lha minggu kemarin pertemuannya libur euy) ... akhirnya dapat pencerahan ... ijin di print dan di foto copy untuk teman-teman yang sama-sama kena tsunami
silakan, jgn malu2... :p
friewan wrote on May 21, '09
akmal said
Foke unggul, PKS menang.  Kita pun kini bisa membangun visi : Boediono terpilih, tapi PKS masih jauh dari kalah.
Tulisan yang bagus, tapi saya edit sikit ya kayaknya lebih manis dan positif.
Boediono terpilih, tapi PKS makin dekat dari kemenangannya.
akmal wrote on May 25, '09
friewan said
Tulisan yang bagus, tapi saya edit sikit ya kayaknya lebih manis dan positif.
Boediono terpilih, tapi PKS makin dekat dari kemenangannya.
hehe boleh juga... tapi artikelnya gak saya edit ya... :)
kandhiyya wrote on May 21, '09
Bagi kaum awam (utamanya non-PKS), tidak berbeda antara hubungan SBY-PKS saat ini dan PakHarto(Alm.)-PPP di zaman OrBa. Yang satu ingin melanggengkan kekuasaan (setidaknya untuk 5 tahun ke depan), yang satu lagi ingin ikut dalam kekuasaan itu (insyaAllah, sebagai bagian dari perjuangan dakwah).
akmal wrote on May 25, '09
Bagi kaum awam (utamanya non-PKS), tidak berbeda antara hubungan SBY-PKS saat ini dan PakHarto(Alm.)-PPP di zaman OrBa. Yang satu ingin melanggengkan kekuasaan (setidaknya untuk 5 tahun ke depan), yang satu lagi ingin ikut dalam kekuasaan itu (insyaAllah, sebagai bagian dari perjuangan dakwah).
insya Allah tetap komitmen dengan dakwah... :)
kitamanusia wrote on May 22, '09
Pertama, al-‘uqdah al-inhizamiyyah, atau trauma persepsi merasa selalu kalah kalau bertarung.
=====

Hmm, kalu gitu kenapa tidak bertarung aja mengusulkan capres untuk menantang SBY, JK dan Mega?
akmal wrote on May 25, '09
Pertama, al-‘uqdah al-inhizamiyyah, atau trauma persepsi merasa selalu kalah kalau bertarung.
=====

Hmm, kalu gitu kenapa tidak bertarung aja mengusulkan capres untuk menantang SBY, JK dan Mega?
jgn dipertentangkan dengan sikap realistis donk, kan ada juga larangan utk bersikap perfeksionis (baca lagi deh artikelnya)... :)

kalau sudah bikin perhitungan, sudah memperhitungkan segalanya secara realistis, barulah kita harus membersihkan diri dari trauma persepsi merasa selalu kalah... larangan utk merasa selalu kalah hendaknya jgn dipertentangkan dengan perhitungan yg berdasarkan akal sehat...
ikatanilmu wrote on May 22, '09
assalaamu'alaikumWrWb, rindu moslem blogger, baik sebelum imb terbentuk maupun sesudahnya. salam ukhuwah n salam ciaattt... v(=^_^=)/
akmal wrote on May 25, '09
assalaamu'alaikumWrWb, rindu moslem blogger, baik sebelum imb terbentuk maupun sesudahnya. salam ukhuwah n salam ciaattt... v(=^_^=)/
wa'alaikumussalaam wr wb... :)
si294r wrote on May 22, '09
hmmm, gitu ya... kalo menurutku SBY-Boediono malah lebih berbahaya dari JK-Wiranto... selama SBY berkuasa hutang negeri ini malah bertambah sktr 30% kalo tidak salah... apalagi kalo nanti ditambah berpasangan dgn Boediono... ga kebayang deh... mungkin menurut pandangan Kang Akmal, masalah hutang itu bukan masalah yg paling besar.... tapi menurut saya itu masalah yg paling besar... hutang atau saya lebih suka menyebutnya "riba" adalah sumber masalah dari semua masalah yg ada di negeri ini... kalo SBY-Boediono jadi pemimpin negeri ini 5 tahun kedepan, takutnya negeri ini akan semakin terjerat riba/hutang....

hmmm... saya lebih cenderung JK-Wiranto.... hmmm... lihat saja dulu, jangan cepat menilai... lihat secara menyeluruh baru buat penilaian.
wahyu25 wrote on May 23, '09
si294r said
hmmm, gitu ya... kalo menurutku SBY-Boediono malah lebih berbahaya dari JK-Wiranto... selama SBY berkuasa hutang negeri ini malah bertambah sktr 30% kalo tidak salah... apalagi kalo nanti ditambah berpasangan dgn Boediono... ga kebayang deh... mungkin menurut pandangan Kang Akmal, masalah hutang itu bukan masalah yg paling besar.... tapi menurut saya itu masalah yg paling besar... hutang atau saya lebih suka menyebutnya "riba" adalah sumber masalah dari semua masalah yg ada di negeri ini... kalo SBY-Boediono jadi pemimpin negeri ini 5 tahun kedepan, takutnya negeri ini akan semakin terjerat riba/hutang....

hmmm... saya lebih cenderung JK-Wiranto.... hmmm... lihat saja dulu, jangan cepat menilai... lihat secara menyeluruh baru buat penilaian.
kalau ada calon presiden yang berani berjanji demi Allah di depan publik, selama 5 tahun mendatang tidak akan menambah hutang sama sekali ... saya pilih dia .. kalau ada satu, satu yang saya contreng, kalau tiga-tiganya berjanji demi Allah tidak akan menambah hutang, saya contreng 3-3nya deh .. peace :P
akmal wrote on May 25, '09
si294r said
hmmm, gitu ya... kalo menurutku SBY-Boediono malah lebih berbahaya dari JK-Wiranto... selama SBY berkuasa hutang negeri ini malah bertambah sktr 30% kalo tidak salah... apalagi kalo nanti ditambah berpasangan dgn Boediono... ga kebayang deh... mungkin menurut pandangan Kang Akmal, masalah hutang itu bukan masalah yg paling besar.... tapi menurut saya itu masalah yg paling besar... hutang atau saya lebih suka menyebutnya "riba" adalah sumber masalah dari semua masalah yg ada di negeri ini... kalo SBY-Boediono jadi pemimpin negeri ini 5 tahun kedepan, takutnya negeri ini akan semakin terjerat riba/hutang....

hmmm... saya lebih cenderung JK-Wiranto.... hmmm... lihat saja dulu, jangan cepat menilai... lihat secara menyeluruh baru buat penilaian.
bahaya platform ekonomi SBY-Boediono memang ada, makanya ada kontrak politik dgn item ekonomi itu... tapi JK-Win juga berbahaya... ingat, Jusuf Kalla sering bertindak terlalu reaktif berdasarkan info intelijen, sehingga dgn info minim pun dia langsung menyuruh intel utk mewaspadai buku2 Sayyid Quthb, demikian jg dalam kasus Poso...

silakan googling deh dgn keyword "Jusuf Kalla Sayyid Quthb", insya Allah ketemu banyak sekali artikel... saya rasa itu cukup utk menjelaskan hostility Jusuf Kalla thd dakwah... :)
frachman wrote on May 25, '09
akmal said
bahaya platform ekonomi SBY-Boediono memang ada, makanya ada kontrak politik dgn item ekonomi itu... tapi JK-Win juga berbahaya... ingat, Jusuf Kalla sering bertindak terlalu reaktif berdasarkan info intelijen, sehingga dgn info minim pun dia langsung menyuruh intel utk mewaspadai buku2 Sayyid Quthb, demikian jg dalam kasus Poso...
Mohon penjelasan, "menyuruh utk mewaspadai buku2 Sayyid Qutb" ? ... saya belum baca buku2-nya, tetapi menurut saya dengan pak JK menyuruh mewaspadai justru semakin banyak yg baca malah bagus bukan? semakin terbuka pemikiran2 beliau bahwa tidak ada yg berbahaya dengan pemikiran Sayyid Quthb ...
akmal wrote on May 26, '09
Mohon penjelasan, "menyuruh utk mewaspadai buku2 Sayyid Qutb" ? ... saya belum baca buku2-nya, tetapi menurut saya dengan pak JK menyuruh mewaspadai justru semakin banyak yg baca malah bagus bukan? semakin terbuka pemikiran2 beliau bahwa tidak ada yg berbahaya dengan pemikiran Sayyid Quthb ...
ya secara gak langsung mungkin efeknya begitu, tapi that's not the kind of attention that we want... orang2 harusnya baca buku2 Sayyid Quthb bukan karena diawali dengan rasa curiga, karena memang nggak ada yg mencurigakan... :)
greennida wrote on May 23, '09
Tujuan politik memang mencari kekuasaan, karena dengan kekuasaan iyu kita bisa berbuat lebh banyak untuk umat, kalau ga cari kekuasaan ga usah buat partai politik, buat yayasan aja banyak-banyak....afwan
agusnur wrote on May 24, '09
Sepokat...eh, Sepakat........!!!
akmal wrote on May 25, '09
agusnur said
Sepokat...eh, Sepakat........!!!
dua pakat, tiga pakat, empat pakat... :p
akmal wrote on May 25, '09
Tujuan politik memang mencari kekuasaan, karena dengan kekuasaan iyu kita bisa berbuat lebh banyak untuk umat, kalau ga cari kekuasaan ga usah buat partai politik, buat yayasan aja banyak-banyak....afwan
sabar... sabar... :)
sangelang wrote on May 24, '09
Lanjutkan..he..he..hee
akmal wrote on May 25, '09
Lanjutkan..he..he..hee
siap! :)
keluargazulkarnain wrote on May 25, '09
Ijin Copas ya mas...
akmal wrote on May 25, '09
Ijin Copas ya mas...
silakan... :)
cahayahidayah wrote on May 25, '09
izin copas bang ... ditunggu2 akhirnya keluar juga neeh artikel...jazakallah khair...:)
akmal wrote on May 25, '09
izin copas bang ... ditunggu2 akhirnya keluar juga neeh artikel...jazakallah khair...:)
silakan... sama2... :)
melyda wrote on May 25, '09
subhanalloh membaca tulisan di atas bagi saya seperti menemukan lagi penguatan untuk terus berada di dalam barisan jundy yang bisa menyikapi segala keputusan jamaah dengan arif. Jzkllh.
akmal wrote on May 25, '09
melyda said
subhanalloh membaca tulisan di atas bagi saya seperti menemukan lagi penguatan untuk terus berada di dalam barisan jundy yang bisa menyikapi segala keputusan jamaah dengan arif. Jzkllh.
glad u like it... :)
melyda wrote on May 26, '09
subhanalloh, taujih yang bagus untuk meredam perpecahan jamaah.
akmal wrote on May 26, '09
melyda said
subhanalloh, taujih yang bagus untuk meredam perpecahan jamaah.
aamiin, yaa rabbal 'aalamiin... :)
telagaalkautsar wrote on May 26, '09
emg JK udah pernh baca buku-bukunya Syayid Quthb Rahimahumullah ????

klo bisa mengkritik kenapa ulama mengharamkan PBS walau blm nonton tapi kenapa bisa memprovokasi orang tdk membaca karya pemikr besar like Sayyid Quthb sementara doi sendiri blm pernah membacanya ???

ketauan lah yang gak dewasa .......................

btw in your opinion mana yang lebih strategis menajdi oposisi atau masuk ke kabinet ??
akmal wrote on May 26, '09
btw in your opinion mana yang lebih strategis menajdi oposisi atau masuk ke kabinet ??
nanya ke saya bos?

hmmm susah juga menjawabnya, saya cenderung mempercayakan pada para qiyadah aja dalam hal ini, karena saya kurang paham peta kekuatan politik yg sebenarnya... ya kita bisa aja sih bikin analisis masing2, tapi kan yg ngerti dalem-dalemnya ya mereka yg berkecimpung di sana... yg jelas PKS jadi oposisi siap, masuk ke kabinet pun siap... insya Allah bisa kasi kebaikan di mana pun berada... Aamiin... :)
telagaalkautsar wrote on Jun 5, '09
akmal said
nanya ke saya bos?

hmmm susah juga menjawabnya, saya cenderung mempercayakan pada para qiyadah aja dalam hal ini, karena saya kurang paham peta kekuatan politik yg sebenarnya... ya kita bisa aja sih bikin analisis masing2, tapi kan yg ngerti dalem-dalemnya ya mereka yg berkecimpung di sana... yg jelas PKS jadi oposisi siap, masuk ke kabinet pun siap... insya Allah bisa kasi kebaikan di mana pun berada... Aamiin... :)
tapi tulisan Om Akmal ini dah berbau2 analisa juga koq

aaah merendah neeeh hehehehehhehe
asheranima wrote on May 27, '09
Numpang copas mal
akmal wrote on May 27, '09
Numpang copas mal
boleh, boleh... :)
ukhtikiki wrote on May 27, '09
alhamdulillah.. mencerahkan.. TFS
akmal wrote on May 27, '09
alhamdulillah.. mencerahkan.. TFS
kebetulan di luar emang lagi cerah nih...

*halah!* :p
muqs wrote on May 28, '09
Dah mulai gelisah yach Uda Akmal.

akmal wrote on May 31, '09
muqs said
Dah mulai gelisah yach Uda Akmal.

kata siapa tuh? gosip kaleeee... :p
benwal wrote on May 28, '09
jika SBY memilih PKS sbg wapresnya, sy kok lebih suka perpaduan SBY-Tifatul ketimbang SBY-HNW... akhirnya malah Boediono, ya sudah kita doakan saja supaya tetap konsisten membela bangsa negara dan agama... :)
akmal wrote on May 31, '09
benwal said
jika SBY memilih PKS sbg wapresnya, sy kok lebih suka perpaduan SBY-Tifatul ketimbang SBY-HNW... akhirnya malah Boediono, ya sudah kita doakan saja supaya tetap konsisten membela bangsa negara dan agama... :)
like I said, PKS emang gak terlalu ngejar posisi Wapres... :)
Comment deleted at the request of the thread owner.
Comment deleted at the request of the thread owner.
mrnoxious wrote on May 30, '09
Dan defacenya pun hilaangg...from such a coward so-called anti thoghut hehe
akmal wrote on May 31, '09
Dan defacenya pun hilaangg...from such a coward so-called anti thoghut hehe
hehe thx for the tips, bro... :D
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
frachman wrote on Jun 1, '09
akmal said
Yang jelas, sejak awal saya ingin meluruskan satu hal : Saya mendukung PKS!  SBY-Boediono adalah pilihan yang jauh dari ideal.  Namun sebagaimana PKS mendukung SBY-Boediono dengan segepok catatan, maka saya pun bisa menerima, tentunya dengan berbekal catatan pula.  Partai dakwah tidak mungkin jadi bulan-bulanan terus.
Afwan uda Akmal, sebagaimana yg saya kutip diatas, antum bilang mendukung dengan catatan, bolehkah disebutkan catatan-nya ? soalnya sekarang sedang ada polemik Jilbab istri presiden (yg antum bilang tidak pengaruh ?) dan yg menurut saya cukup berat adalah penyataan Ruhut Sitompul bahwa bangsa Arab ngga pernah menolong Indonesia ...
Apakah PKS bisa mengancam kalo ruhut tidak dikeluarkan dari tim sukses, PKS akan mundur ? sementara saya lihat Muhaimin (PKB) lebih cepat dan sangat baik menanggapi hal ini ...
hambamusujud wrote on Jun 8, '09
Mgawati - Prabowo itu sudah pasti!!
SBY - Budiono pasti juga.....
JK - Wiranto,lebih cepat lebih baik!!!
jadi bingung neh!!!
klu aq milih nasi campur bleh ga??he3X....
Sebenarnya sy fan berat SBY!!tp ga mau lagi...aq punya alasan sendiri!!!
Siapapun pilihan MU yg penting DAMAI selalu!!
tagorbaladhikakarya wrote on Jun 9, '09
mmmmm..coba nanti kita lihat apakah ada manuver baru di pilpres putaran 2. Semoga isi kontrak politik dengan SBY bisa dijabarkan secara terperinci. Bagaimana kalau setiap capres-cawapres mengumumkan sejak dini kabinetnya sebelum pilpres?biar jelas semuanya.
Ane mau tau sapa aja, terutama menko perekonomian,menteri perdagangan,menteri keuangan,menteri ESDM, kepala BAPPENAS, Menteri BUMN.
qqcakep wrote on Jun 14, '09
Semoga Indonesia bisa menjadi lebih baik setelah ini.
superhelmi wrote on Jun 16, '09
sebetulya saya lebih condong yg jadi wakil itu pak Tifatul... tapi pasti akan menimbulkan pertentangan dari koalisi yg lain,.. dan perjuangan PKS akan tersendat dalam memperjuangkan partainya. kalo pak SBY mengambil pak budiyono sebagai wapres itu bisa diterima, tinggal kedepan bagaimana calon presiden dari PKS akan berperan, mungkin inilah kesempatan bwt PKS untuk siap memimpin negeri ini, karena dalam koalisi ini bisa dimanfaatkan untuk membentuk koalisi yg kedepannya akan menjadi sebuah koalisi yg permanen,.. itu mudah2 an bisa terjadi...dari partai2 koalisi sebagian besar berazaskan Islam , kecuali mungkin demokrat yg mungkin masih bisa diraih kedapannya... tp yg terpenting adalah kalo di jumlahkan suara koalisi sangat besar dan itu akan menjadi modal yg sangat berharga buat partai Islam untuk memimpin negeri ini kelak...dan mudah2an koalisi ini bulat suaranya...untuk mendukung pemerintahan yg adil dan sejahtera seperti yg dicita-citakan flatform dari koalisi2 yg terjadi. amiin....
Add a Comment
   



Ingin mengadakan kajian Pemikiran Islam di sekolah, kampus, atau di masjid lingkungan Anda? Hubungi INSIGHTS (Institute for Islamic Thoughts) melalui e-mail di islam.insights@gmail.com