Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryJan 22, '10 4:19 AM
for everyone
assalaamu’alaikum wr. wb.

Pernikahan beda agama adalah topik yang selalu ‘panas’ untuk beberapa kalangan.  Menurut sebagian orang, menikah tak perlu pandang agama, yang penting ada cinta dan saling menghormati.  Lalu muncul retorika: "Buat apa menikah dengan sesama Muslim, kalau ujung-ujungnya saling menyakiti?"  Retorika ini pun kemudian ditarik lebih lentur lagi: "Buat apa menikah dengan lawan jenis, kalau tak ada kebahagiaan?"  Mungkin besok-besok akan muncul lagi sanggahan mereka: "Buat apa menikah dengan manusia, kalau binatang lebih menarik?"

Kata mereka, agama apa pun, yang penting orangnya baik.  Bukan hanya yang beragama, yang atheis pun banyak yang baik.  Tapi orang lupa bahwa "baik" itu pun relatif, dan dalam urusan agama akan selalu muncul pertanyaan: "untuk siapa?"

Ada kisah menarik tentang seorang pegawai pabrik yang setiap hari datang paling duluan, kerjanya paling cepat, tidak pernah mengeluh, tidak membuat kesalahan kecuali yang sifatnya manusiawi belaka, prestasinya tidak pernah di bawah target, dan seterusnya.  Di akhir bulan, ia kebingungan karena gajinya tidak diberi.  Tapi bagian human resource malah lebih bingung lagi menghadapinya, karena ia bukanlah pegawai pabrik tersebut.

Sebaik-baiknya seorang pegawai, tentu tidak wajar jika ia meminta upah dari perusahaan selain tempat ia bekerja.  Demikian juga seorang anak yang nilai di rapornya bagus tidaklah wajar meminta hadiah dari tetangga.  Sebaliknya, ilmuwan pengembang senjata di Amerika Serikat bisa jadi mendapat tanda jasa di negerinya, namun dimaki-maki di Irak atau Afghanistan.  Rakyat Cina pun marah jika Kaisar Jepang melayat ke pemakaman tentara Jepang dari masa Perang Dunia II, karena di mata rakyat Cina, mereka bukanlah pahlawan, tapi penjahat biadab.

Dulu, orang-orang miskin dari kalangan sahabat Rasulullah saw. melancarkan protes.  Mereka yang banyak hartanya bisa mendulang pahala banyak-banyak dengan bersedekah.  Lalu bagaimana dengan yang miskin?  Tapi dalam Islam, pintu amal terbuka luas bagi siapa saja.  Mulai dari berdzikir, menebar senyum, mengucap salam, membuang paku dari jalan, menshalatkan jenazah, semuanya bisa dilakukan tanpa perlu biaya.  Manusia bebas mencari-cari ladang amalnya sendiri, dan amal sekecil apa pun pasti akan dibalas oleh Allah SWT, asalkan amal-amal itu dilakukan untuk Allah, bukan yang lain.

Sudah barang tentu penganut agama selain Islam tidak beramal untuk Allah, bahkan mungkin mereka tak kenal sama sekali pada Allah.  Karena itu, balasan dari amal-amal mereka hendaknya dimintakan kepada yang mereka sembah, seandainya memang sembahan-sembahan mereka itu bisa memberi ganjaran.  Tantangan ini sudah sejak lama diajukan oleh Nabi Ibrahim as., dan hingga kini masih berlaku.

Jangan hiraukan dagelan yang mengatakan bahwa Tuhan yang disembah semua agama adalah Tuhan Yang Satu, karena deskripsi yang mereka gunakan sama sekali berbeda.  Kalau ada yang bilang bahwa si fulan beranak dan yang lain mengatakan sebaliknya, tahulah kita bahwa salah satunya pasti berbohong.

Banyak yang takut dengan rasa percaya diri umat Muslim.  Dalam sebuah orasi ilmiah yang disampaikan di hadapan para profesor doktor dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan, Syed M. Naquib al-Attas secara gamblang mengatakan bahwa agama yang benar hanyalah Islam.  Beranjak dari podium, datanglah para profesor yang merasa grogi karena agamanya tidak diakui sebagai agama yang benar.  Tapi menurut Prof. al-Attas, seorang Muslim tidak berhak membenarkan agama yang lain.  Adapun ketidaksetujuan umat lain, itu adalah sepenuhnya hak mereka.  Toh, umat Islam tak pernah meminta umat lain untuk membenarkan agama Islam.  Umat Islam sudah cukup percaya diri tanpa perlu mengemis-ngemis pengakuan orang lain.

Gelombang ekonomi syariah yang muncul belakangan ini tidak lahir tiba-tiba, melainkan dengan sebuah perjuangan panjang dan serius.  Banyak yang menggugat, kenapa ekonomi harus dikait-kaitkan dengan agama.  Sebagai argumen terakhir, ust. Didin Hafidhuddin pun mengajukan solusi: umat Islam tak memaksa umat lain untuk menjalankan ekonomi syariah.  Kalau mau (dan mampu), silakan umat Kristiani membangun konsep ekonomi Kristen, umat Hindu membangun ekonomi Hindu, dan umat Budha membangun ekonomi Budha.  Umat Islam menyadari sepenuhnya bahwa ajaran Islam juga mencakup bidang ekonomi.  Jika umat lain merasa kecil hati menghadapi kenyataan ini, itu urusannya sendiri.

Fenomena di atas hanya sebagian kecil dari bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bahwa tidak ada agama yang netral.  Masing-masing memiliki standar kebenarannya sendiri-sendiri.

Dalam bukunya yang berjudul Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam, ust. Adian Husaini mengkompilasi berbagai pandangan pemuka agama Islam pada saat Republik Indonesia baru berdiri, seputar penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta.  Menurut para tokoh tersebut, tuntutan penghapusan tujuh kata itu benar-benar tindakan keji yang dilakukan oleh orang-orang yang membenci Islam.  Betapa tidak, Piagam Jakarta adalah hasil kesepakatan founding fathers Indonesia.  Tujuh kata yang diminta untuk dihapus itu pun tidak menindas hak siapa pun (kecuali kalau memurtadkan umat Muslim dianggap sebagai haknya umat lain).  Tiba-tiba muncul ultimatum sepihak (yang konon) dari Indonesia Timur, dengan ancaman akan memisahkan diri jika ultimatumnya tidak dituruti.  Pada saat itu, Jepang belum benar-benar hengkang, sedangkan pasukan Sekutu sudah siap-siap menyerbu masuk.  Kalau pemerintah Indonesia tidak solid, maka lenyaplah Republik ini.  Maka umat Islam pun mengalah dengan menerima penghapusan tersebut, demi berdirinya pemerintahan Republik Indonesia yang berdaulat.  Inilah pengorbanan pahit yang dilakukan oleh umat Islam demi tegaknya negara ini.  Sayangnya, hingga kini masih ada saja yang mempertanyakan nasionalisme umat Muslim, dan tak ada yang mempertanyakan nasionalisme para pembuat ultimatum tersebut.  Perlu dicatat, hingga kini kebenaran ultimatum itu pun masih simpang siur, karena saksinya hanya Bung Hatta, dan opsir Jepang yang disebut-sebut telah mengantar pesan itu pun sebelum wafatnya sudah pernah mengaku bahwa ia tak pernah membawa pesan kepada Bung Hatta.

Ketika ada artis perempuan yang menikah dengan seorang lelaki Non-Muslim, banyak yang mempertanyakan berita ini pada Buya Hamka.  Menurut beliau, larangan bagi Muslimah untuk menikahi lelaki Non-Muslim memiliki hikmah yang sangat mendalam.  Kalau seorang lelaki Muslim menikahi perempuan Ahli Kitab, maka menjadi kewajiban bagi suaminya untuk menjamin sang istri menjalankan agamanya dengan benar, termasuk mengantarkannya ke rumah ibadahnya, jika perlu.  Akan tetapi, apa jaminannya seorang lelaki Non-Muslim akan membiarkan istrinya menjadi Muslimah yang baik?  Kenyataannya, tak ada satu agama pun di dunia ini yang secara gamblang menjamin hak-hak umat beragama lainnya sebagaimana agama Islam.

Serangkaian masalah akan muncul belakangan.  Anak-anak akan dibiarkan memeluk agama apa?  Menurut Islam, setiap anak yang lahir ke dunia pastilah Muslim.  Kalau sampai memeluk agama lain, maka orang tuanyalah yang telah menjerumuskannya.  Maka orang tua yang Muslim pasti tak rela anaknya menjadi kafir.  Tapi ketidakrelaan ini juga bisa mengakibatkan ketersinggungan oleh pasangan hidupnya yang bukan Muslim.  Bahkan sebelum ia menikahi seorang Non-Muslim, seharusnyalah bertanya kepada diri sendiri: “Relakah jika di akhirat kelak dipisahkan dengannya?”  Sampai hatikah kita melihat anak-anak, istri atau suami kita dijebloskan ke neraka, karena hidup mereka bukan untuk Allah?  Tentu saja ada catatan lain yang harus kita camkan baik-baik: ada kemungkinan istri, suami dan anak-anak kitalah yang justru akan menyeret kita ke neraka.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

46 CommentsChronological   Reverse   Threaded
masridwan wrote on Jan 22, '10
Terima kasih banyak atas tulisannya. Saya dapat pelajaran bagus lagi hari ini.
tripunya wrote on Jan 22, '10
akmal said
Buat apa menikah dengan manusia, kalau binatang lebih menarik?"
masih mending binatang, ada makhluknya. di jepang sudah ada pernikahan seorang lelaki dengan tokoh anime yang hanya sebentuk gambar
*tapi saya ndak menyetujui nikah dengan binatang lho, amit2 dah
ajii wrote on Jan 22, '10
akmal said
karena saksinya hanya Bung Hatta, dan opsir Jepang yang disebut-sebut telah mengantar pesan itu pun sebelum wafatnya sudah pernah mengaku bahwa ia tak pernah membawa pesan kepada Bung Hatta.
*nah lho...siapa tuh yg krm pesan...hiii...syelem....

Nice artikel Pak Akmal,
Memang sekarang gelombang pemikiran yang mengaku pluralisme nda jelas itu selalu mengagungkan boleh2 saja menikah beda agama, krn mereka menganggap semua agama sama... Naudzubillah..

Semoga kita dan keluarga terhindar dari paham menyesatkan ini..
Amiinn...
akmal wrote on Jan 22, '10
Terima kasih banyak atas tulisannya. Saya dapat pelajaran bagus lagi hari ini.
alhamdulillaah... :)
akmal wrote on Jan 22, '10
di jepang sudah ada pernikahan seorang lelaki dengan tokoh anime yang hanya sebentuk gambar
kacoooooowwwwwwwwww aya aya wae japanese teh... :p
akmal wrote on Jan 22, '10
ajii said
Memang sekarang gelombang pemikiran yang mengaku pluralisme nda jelas itu selalu mengagungkan boleh2 saja menikah beda agama, krn mereka menganggap semua agama sama... Naudzubillah..

Semoga kita dan keluarga terhindar dari paham menyesatkan ini..
Aamiin yaa rabbal 'aalamiin....
hadynur wrote on Jan 22, '10
Bagus sekali pak akmal...terima kasih pencerahannya..apalagi sekarang sedang gencarnya pernikahan beda agama......kalo beda negara sih gak apa :)

Parahnya, hampir semua media mainstream menjadi pelopor...tau sendiri lah :)
trasyid wrote on Jan 22, '10
makasih Uda... :-) gak minat nikah beda agama kok.. hehe
plutonit165 wrote on Jan 22, '10
Ada teman saya yang gagal menikah karena orangtua calon istri tidak setuju. Alasannya karena temen sy itu ayahnya islam ibunya kristen. Yang mau nikah beda agama ya pikir dulu gmana masa depan anak.
fanofgie wrote on Jan 22, '10
bolakbalik reloading krn banyak sejarah indonesianya..
chifururu wrote on Jan 22, '10
saya sendiri masih heran dengan pemikiran para pengusung sephilis...mengaku Islam dan moderat tapi pemikirannya secara kasat mata udah bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Mungkinkah mereka ingin membuat "syariah" versi mereka?
akmal wrote on Jan 22, '10
hadynur said
Bagus sekali pak akmal...terima kasih pencerahannya..apalagi sekarang sedang gencarnya pernikahan beda agama......kalo beda negara sih gak apa :)

Parahnya, hampir semua media mainstream menjadi pelopor...tau sendiri lah :)
bener mas, media mainstream justru dikuasai oleh pemikiran2 yg kayak gini... makanya umat Islam gak boleh mudah terpengaruh sama mereka... :)
akmal wrote on Jan 22, '10
trasyid said
makasih Uda... :-) gak minat nikah beda agama kok.. hehe
hehehe saya yakin 99% pembaca setia blog saya gak minat yg kayak gituan kok, tapi wajib tau fenomena pemikiran yg kayak gini... :)
akmal wrote on Jan 22, '10
Ada teman saya yang gagal menikah karena orangtua calon istri tidak setuju. Alasannya karena temen sy itu ayahnya islam ibunya kristen. Yang mau nikah beda agama ya pikir dulu gmana masa depan anak.
hmmm sebenernya kalo menikah dengan orang yg orangtuanya beda agama gak terlarang jg, kecuali kalau memang kondisi ortu (dan biasanya memang) berimbas pada kondisi anaknya itu... biasanya sih, kalo ortu beda agama, anaknya kurang serius jg dalam beragama...
akmal wrote on Jan 22, '10
bolakbalik reloading krn banyak sejarah indonesianya..
huehehe jgn alergi ama sejarah yah... :)
akmal wrote on Jan 22, '10
Mungkinkah mereka ingin membuat "syariah" versi mereka?
embeeeeer..... :)
arifah89 wrote on Jan 22, '10
Pak Akmal buku2 kr Buya Hamka selain tafsir Al Azhar yg bgs judulnya apa sj ya pingin py nih
akmal wrote on Jan 22, '10
Pak Akmal buku2 kr Buya Hamka selain tafsir Al Azhar yg bgs judulnya apa sj ya pingin py nih
Pelajaran Agama Islam -- Penerbit Bulan Bintang, 90% kemungkinan gak akan ketemu lagi di toko buku, harus nyamperin penerbitnya. Alamat penerbit bisa googling, penerbitnya punya homepage kok. (most recommended)

Dari Hati ke Hati -- Penerbit Pustaka Panjimas, kecil jg kemungkinannya nemu di toko buku, walaupun penerbitnya masih aktif. Mungkin ada kalau di toko buku Wali Songo, Jakarta, tapi saya belum ngecek.

Ya gt deh masalahnya, buku2 Buya Hamka kebanyakan diterbitkan oleh dua penerbit ini, dan dua2nya susah dicari di toko buku. Solusi terbaik adalah menghubungi via penerbitnya langsung. Kalau di FB, saya baru nemu cucu Buya Hamka yg kerja di Pustaka Panjimas, namanya Yusran Rusydi. Sayang kenalannya setelah tesis udah beres, kalo waktu masih ngerjain tesis kan enak buat cari referensi. :)
fanofgie wrote on Jan 22, '10
dulu saya alergi sama sejarah indonesia yang diajarin di sekolah.. karena yang ditekankan dan harus dihapal adalah "tahun2" kejadian peristiwa, sedikit sekali hikmah peristiwanya..
sekarang ga alergi lagi om, tapi ngerasa minim aja sama sejarah sendiri, sering juga di complan sama teman2 yang nasionalis, sejarah bangsa sendiri koq g paham. okeh, saya akan belajar terus om ustadz! arigato..
arifah89 wrote on Jan 22, '10
akmal said
Alamat penerbit bisa googling
syukron inponya Pak Akmal
mengapakudisini wrote on Jan 23, '10
Numpang baca :D
akmal wrote on Jan 23, '10
dulu saya alergi sama sejarah indonesia yang diajarin di sekolah.. karena yang ditekankan dan harus dihapal adalah "tahun2" kejadian peristiwa, sedikit sekali hikmah peristiwanya..
sekarang ga alergi lagi om, tapi ngerasa minim aja sama sejarah sendiri, sering juga di complan sama teman2 yang nasionalis, sejarah bangsa sendiri koq g paham. okeh, saya akan belajar terus om ustadz! arigato..
yup memang masalah dari pelajaran sejarah ya karena yg harus dihapalkan justru gak kena esensinya... :)
unisa99 wrote on Jan 24, '10
tfs pak
gilanggumilang wrote on Jan 24, '10
"Kalo binatang lebih menarik"
JIakakakakak :-) Gak bisa bayangin kalo kambing pake bedak sama lipstik. Setuju, nikah beda agama emang bikin ribet nantinya, wong wanita seagama aja masih banyak :-). Ni kerjaannya si Ulil nih hehehe :-)
fsiekonomi wrote on Jan 24, '10
likes this.
fsiekonomi wrote on Jan 24, '10
akmal said
Kalau seorang lelaki Muslim menikahi perempuan Ahli Kitab, maka menjadi kewajiban bagi suaminya untuk menjamin sang istri menjalankan agamanya dengan benar, termasuk mengantarkannya ke rumah ibadahnya, jika perlu.
tolong dijelaskan lebih jauh uda?
worotarie wrote on Jan 25, '10
seyem baca kalimat terakhirnya... walopun keluarga kita muslim semua juga bs jadi mereka menyeret kita juga ke neraka.... hiksss.....
akmal wrote on Jan 25, '10
unisa99 said
tfs pak
tfr bu :)
akmal wrote on Jan 25, '10
JIakakakakak :-) Gak bisa bayangin kalo kambing pake bedak sama lipstik.
hahaha kenyataannya di bbrp daerah di dunia ini ada jg adat yg membiarkan manusia menikah dengan hewan lho... hiiiiiii...
akmal wrote on Jan 25, '10
tolong dijelaskan lebih jauh uda?
jelaskan gmn ya? ya memang begitu kata Buya... kesalahpahaman orang thd syariat Islam itu terutama kan soal kebebasan beragama, mereka pikir kalau syariat Islam diterapkan, agama lain akan ditekan... padahal justru bagian dari syariat Islam itu adalah mewajibkan kebebasan bagi umat lain utk menjalankan ajaran agamanya masing2... termasuk jika ada lelaki Muslim yg menikah dgn perempuan ahli kitab (terlepas dari perdebatan apakah orang Yahudi dan Nasrani masa kini dianggap sbg ahli kitab ya), maka adalah kewajiban sang suami utk memastikan istrinya bisa beribadah dengan baik...
akmal wrote on Jan 25, '10
seyem baca kalimat terakhirnya... walopun keluarga kita muslim semua juga bs jadi mereka menyeret kita juga ke neraka.... hiksss.....
sebaliknya, kita jg bisa menyeret anggota keluarga kita ke neraka... :(
hidayata wrote on Jan 25, '10
huhuy...muantaf. yg ini jg gpp di jadiin tema akh
akmal wrote on Jan 25, '10
huhuy...muantaf. yg ini jg gpp di jadiin tema akh
huehehe boleh... tp kalo bulan april apa gak lebih enak tentang feminisme, biar pas dgn momen Kartini? terserah aja sih... :)
telagaalkautsar wrote on Jan 25, '10
Buya Hamka Lovers hehehehe
yeon1986 wrote on Jan 26, '10
waw tulisan hebat kang, terima kasih
bellaferta wrote on Jan 29, '10, edited on Jan 29, '10
jempoll
yang sepilis, gerah.
akmal wrote on Jan 29, '10
Buya Hamka Lovers hehehehe
aren't we all? :)
akmal wrote on Jan 29, '10
waw tulisan hebat kang, terima kasih
semoga bermanfaat... :)
akmal wrote on Jan 29, '10
jempoll
yang sepilis, gerah.
kasi kelingking, menaaaaaang! :D
telagaalkautsar wrote on Jan 29, '10
akmal said
aren't we all? :)
although Tazkia library content Buya Hamka's books too ..until now i'm not read all his book yet
jalanjalandingin wrote on Feb 8, '10
banyak pencerahannya nih bang, salam kenal :D
akmal wrote on Feb 8, '10
banyak pencerahannya nih bang, salam kenal :D
salam kenal jg... :)
republikradikal wrote on Feb 15, '10
bagus dan sejuk, hehehehehe... salam kenal ya... :)
banyak dpt pelajaran disini
akmal wrote on Feb 15, '10
bagus dan sejuk, hehehehehe... salam kenal ya... :)
banyak dpt pelajaran disini
salam kenal jg... :)
melisaoktavia wrote on Jun 23, '10
Bagus tulisannya,...TFS
akmal wrote on Jun 28, '10
Bagus tulisannya,...TFS
TFR... :)
Add a Comment