assalaamu’alaikum wr. wb.
Manusia tidak dapat memilih bagaimana ia memulai hidupnya di dunia, namun kadang mereka memiliki kesempatan untuk memilih bagaimana ia harus mengakhiri hidupnya. Ada saat-saat tertentu di mana hidup terasa begitu murah, begitu ringan untuk dilepaskan. Entah bagaimana, pada suatu titik tertentu dalam hidup manusia, mereka tidak merasa sayang dengan nyawanya.
Belum lama ini, seorang pria di Korea Selatan tewas setelah bermain online multiplayer game. Tidak tanggung-tanggung, ia memainkannya nyaris non-stop selama 80 jam. Setelah puas bermain, ia sempat beristirahat sejenak. Sayang, otaknya sudah tidak mampu menahan beban. Ia mengalami kerusakan otak dan menemui kematian secara mendadak.
Pernahkah terpikir olehnya bahwa suatu hari hidupnya yang gemilang dan penuh warna-warni itu akan diakhiri dengan sebuah permainan komputer? Bagaimana ia bisa bertahan selama 80 jam itu, nyaris tanpa istirahat, dan kemudian dijemput malaikat maut begitu saja? Inikah pilihan yang diambilnya?
Permainan komputer pun bisa membuat nyawa seorang bayi nampak begitu murah. Sepasang suami-istri di Taiwan memiliki seorang anak yang sedang lucu-lucunya. Bayi itu baru belajar membalikkan tubuhnya dari posisi terlentang ke posisi tengkurap. Ia belum bisa melakukan hal sebaliknya. Suatu hari, ayah ibunya meninggalkannya dalam posisi tengkurap. Kedua orangtuanya larut dalam permainan komputer selama 4 jam. Selama itu pula mereka lupa dengan anaknya. Anak yang malang itu akhirnya meninggal karena sesak napas akibat terlalu lama dalam posisi tengkurap. Beberapa minggu ini, saya tidak melihat berita lain yang lebih menyedihkan hati saya daripada yang satu ini.
Sang ayah kemudian dituntut hukuman penjara selama beberapa tahun oleh jaksa. Akan tetapi, jika ia memang masih manusia, saya rasa ia akan dihukum oleh perasaannya sendiri sepanjang hidupnya. Saya tidak paham bagaimana sepasang suami-istri bisa melupakan anaknya yang masih bayi selama 4 jam. Saya benar-benar tidak paham.
Akhir-akhir ini, kita pun semakin sering dibuat tercengang oleh inisiatif anak-anak muda bau kencur dalam mengakhiri hidupnya. Cuma karena tidak mampu bayar SPP – dan hal tersebut sama sekali bukan tanggung jawabnya – seorang anak menggantung diri di dalam kamarnya. Siapa yang salah? Semuanya. Termasuk kita, barangkali.
Amerika Serikat pun pernah geger akibat ulah dua orang remaja tanggung yang pendiam, antisosial dan selalu berpakaian serba hitam. Suatu hari mereka datang ke sekolahnya seperti hari-hari lainnya, namun masing-masing membawa senapan. Tanpa ragu-ragu mereka menembaki siapa saja yang dijumpainya di sekolah. Mereka menembak beberapa orang temannya sendiri di kantin. Bahkan dengan senang hati mereka menembaki beberapa orang siswi yang tengah bersembunyi di bawah meja kantin. Akhir cerita? Mereka menembak kepalanya sendiri setelah puas ‘menyampaikan pesannya’.
Masih banyak cara mengakhiri hidup yang dapat kita pilih. Saya masih selalu ingat dengan sebuah film perjuangan dulu yang mengisahkan tentang peristiwa Bandung Lautan Api. Seorang lelaki dengan gagah berani meledakkan gudang senjata milik Belanda dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Entah cerita ini benar atau tidak, tapi yang jelas semua yang menonton film tersebut akan jatuh cinta pada orang itu. Betapa jantan caranya memilih kematian.
Di tengah suasana gawat yang menguras adrenalin, jangan heran kalau tiba-tiba saja muncul seorang pahlawan yang rela mengorbankan kepentingannya demi orang lain. Orang-orang yang kelihatannya ‘biasa-biasa saja’ sekonyong-konyong mendapatkan ilham dari langit, kemudian Allah mengangkat derajatnya sebagai seorang syuhada.
Sayyid Quthb menemui ajalnya di tiang gantungan. Ia dikhianati oleh para pemimpin Mesir pada masa itu. Permintaan terakhirnya adalah agar diberikan kesempatan melaksanakan shalat dua rakaat. Sujud terakhirnya sangat lama, namun tiba-tiba saja ia bangkit dari sujud. Setelah shalat, ia berkata kurang lebih begini : “Demi Allah, sujudku yang terakhir tadi adalah yang paling nikmat yang pernah kurasakan. Sekiranya aku tidak khawatir kalian akan menganggapku takut menghadapi kematian, maka pasti akan kuperpanjang sujudnya.” Ia pun pergi menuju tiang gantungan dengan kepala tegak. Ia bukan pria bertubuh besar dan kekar, namun ia telah membuktikan keperkasaannya di akhir hidupnya.
Ada pula orang-orang yang menemui ajalnya ketika tengah bekerja. Mereka bekerja sedemikian keras demi kepentingan banyak orang hingga tubuhnya kelelahan. Mendadak tubuhnya roboh begitu saja, dan dalam hitungan menit malaikat maut telah usai mencabut nyawanya. Kematiannya begitu ringan. Begitulah akhir hidup yang telah dipilihnya. Mereka bekerja tanpa henti demi umat, dan menemui ajal dalam keadaan demikian.
Tentu saja kita tidak sepenuhnya mampu menentukan akhir hidup kita, namun kita bisa berusaha. Seorang Muslim diperintahkan untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, apalagi yang tercela. Betapa buruk hidup kita jika kita harus mengakhirinya dalam keadaan demikian. Sebaliknya, betapa indah jika hidup kita diakhiri dengan bercucuran keringat di jalan dakwah, membanting tulang demi umat, atau bersimbah darah di jalan syuhada. Adakah cara lain yang lebih indah untuk mengakhiri hidup yang gemilang ini?
Satu-satunya cara untuk menemui kematian dengan cara yang indah adalah dengan menjalani hidup dengan cara yang indah pula. Kita tidak tahu kapan malaikat maut diberi perintah untuk menjemput kita. Karena itu, jangan sampai kita menemuinya dalam keadaan yang ‘biasa-biasa saja’. Berhentilah melakukan hal yang biasa-biasa saja, dan mulailah mengukir hidup yang luar biasa. Karena kematian itu adalah sebuah keniscayaan, maka jemputlah ia dengan cara yang luar biasa!
Wahai
wahai jiwa yang kelelahan,
kembalilah bagai seorang anak
yang lelah bermain
lalu tertidur di pangkuan ibunda
wahai tubuh yang letih,
pulanglah ke peraduanmu
berbaringlah di sini
dan segeralah terlelap
wahai akal yang tak henti bekerja,
pulanglah kemari, ke tempat asalmu
menetaplah di sini
dan jangan pergi lagi
wahai hati yang digurat-gurat oleh waktu
kemarilah engkau, tenangkanlah dirimu
di tempat yang hanya ada kedamaian ini
di mana burung-burung bebas beterbangan
wahai diri yang terus merindu
datangilah tempat di mana segalanya berasal
dan segalanya akan berakhir di sana pula
hampirilah akhir perjalananmu
dan tulislah sendiri akhir kisahmu
Bandung, 24 Agustus 2005
wassalaamu’alaikum wr. wb.