assalaamu’alaikum wr. wb.
Salah satu nasihat almarhum Papa yang saya ingat benar – yang kemudian menjadi salah satu pondasi terkuat dalam pemikiran saya perihal kepemimpinan – adalah bahwa jika kita tidak bisa melakukan dengan lebih baik, maka jangan kritisi orang yang berbuat salah. Setelah saya tumbuh dewasa, saya menjadi semakin yakin bahwa prinsip ini adalah salah satu titik pembeda utama antara seorang yang berjiwa pemimpin (baik ia sudah menjadi pemimpin atau belum) dengan seorang pecundang.
Di sini, saya tidak membedakan antara pemimpin dan yang dipimpin, melainkan seorang yang berjiwa pemimpin dengan seorang pecundang. Tentu tak semua orang bisa setiap saat menjadi pemimpin, namun Islam mewajibkan kita untuk berjiwa pemimpin.
Di masa kecil dulu, karena sifat saya yang temperamental, tidak jarang saya bertengkar dengan teman karena telinga ini merasa tidak nyaman mendengar kritik darinya. Seringkali orang menghindar ketika ada tanggung jawab yang harus diambil. Akan tetapi ketika tanggung jawab itu diambil oleh orang lain, tiba-tiba saja mereka yang menghindar menjadi komentator handal. Seharusnya dia begini, seharusnya dia begitu, masak begini nggak bisa, masak begitu saja nggak ngerti, dan seterusnya. Otak saya, yang sudah terprogram oleh prinsip emas almarhum Papa, biasanya akan menyuruh lisan untuk meledakkan kata-kata: “Kalau lu bisa kenapa tadi diem aja?”
Banyak bentuk kepecundangan yang sering menjadi bahan pemikiran saya. Pada saat ujian, ada seorang teman yang mencoba-coba menyontek dari lembar jawaban saya. Karena tidak mau repot, saya beritahukan saja jawabannya. Tapi setelah diberitahu, dia malah protes, dan protesnya berlanjut hingga ujian selesai, hingga akhirnya saya cukup kehilangan konsentrasi. Di luar kelas, saya bentak dia, “Udah nanya, protes lagi! Kalo bego nggak usah sok tau!”
Please notice that I wasn’t – and am not – proud of my temper. And you DEFINITELY shouldn’t help your friend cheating.
Semasa kuliah dulu, saya kagum sekali mendengar penuturan pengalaman ust. Rahmat Abdullah rahimahullaah ketika menjabat sebagai anggota DPR. Pada suatu saat, adzan berkumandang, tapi pimpinan rapat tidak peduli. Karena melihat tak ada orang yang bereaksi, maka ust. Rahmat berinisiatif meminta rapat diskors untuk shalat. Di jalan menuju tempat shalat, seseorang dari parpol Islam lain menyalami ust. Rahmat. Katanya, selama ini di DPR tak pernah ada yang berani meminta rapat diskors ‘hanya’ untuk shalat. Sebagaimana semua anak muda yang mendengar kisah ini saat itu, saya pun terpukau dan berjanji kalau suatu hari menghadapi kasus serupa insya Allah akan bersikap sama pula.
Tapi itulah ust. Rahmat Abdullah. Keliru betul kalau saya atau Anda atau siapa pun mengasosiasikan diri dengan beliau atau dengan orang lain. Prestasinya adalah miliknya sendiri, bukan milik orang lain. Maka keteguhan hati ust. Rahmat tidak bisa otomatis kita copy-paste ke dalam hati kita hanya karena kita sudah mendengarkan ceritanya dengan khidmat, bahkan dengan bercucuran air mata sekalipun.
Di dunia kerja, saya lihat sendiri betapa sulitnya menempatkan diri di posisi ust. Rahmat. Dalam suatu rapat penting, saya mendampingi atasan untuk menghadapi customer yang sebagiannya adalah orang asing. Mereka jelas tidak mengerti urgensi shalat bagi seorang Muslim. Mereka tidak tahu kapan adzan berkumandang, meskipun bisa dipastikan semua orang yang tinggal di DKI Jakarta pastilah pernah mendengar suara adzan, karena Masjid ada di mana-mana. Syahdan, saking serunya, rapat yang dimulai pukul 1 siang belum menunjukkan tanda-tanda akan menemukan titik temu pada pukul 5 sore. Waktu Ashar sudah hampir habis, sedangkan para ekspat ini masih asyik berdiskusi.
“Sir, could we have a few-minutes break? We have to pray. It won’t take very long.”
Apa susahnya? Susah sekali!
Jika sesama anggota DPR saja banyak yang merasa sungkan untuk meminta rapat diskors, maka tentu saja posisi kami saat itu lebih runyam, karena rapat tersebut menentukan dilanjutkan atau tidaknya proyek yang sedang kami tangani. Jika sampai kehilangan proyek ini, maka perusahaan akan terancam. Maklum, perusahaan masih sangat kecil dan proyeknya hanya satu-dua. Kehilangan satu proyek, beberapa pegawai mungkin harus diberhentikan. Saya bisa membayangkan pikiran-pikiran semacam ini berkecamuk dalam benak atasan saya saat itu. Dia pun sudah berulang kali melakukan kontak mata dengan saya, dan saya bisa lihat sendiri betapa gugupnya ia memikirkan waktu Ashar yang sebentar lagi akan lewat.
Sebagai bawahan yang diajak rapat hanya untuk menambah wawasan, saya mendapat rejeki. Atasan memberi kode agar saya pergi saja agar bisa mengejar shalat Ashar. Saya pun bergegas ke Mushola, menunaikan shalat Ashar hanya dua puluh menit sebelum waktu Maghrib.
Setelah shalat, saya sempat istirahat sebentar. Dari kejauhan, saya lihat atasan saya berlari tergopoh-gopoh dan buru-buru wudhu. Syukur alhamdulillaah, akhirnya rapat selesai juga. Naas, setelah ia selesai wudhu, adzan Maghrib berkumandang. Saya lihat ia hampir menangis dan agak kebingungan mesti berbuat apa. Akhirnya ia shalat Ashar, kemudian shalat Maghrib bersama jama’ah di Mushola. Saya, atasan saya, dan mungkin sebagian besar dari Anda yang membaca tulisan ini, memang tidak sekaliber ust. Rahmat Abdullah. Perbedaan antara saya dan atasan saya hanyalah saya diuntungkan karena jabatannya lebih rendah, sedangkan ia disusahkan oleh kedudukannya yang lebih penting.
Berinteraksi dengan para ekspat, tentu saja saya pun mengalami dilema yang sama sebagaimana yang dihadapi oleh ust. Tifatul Sembiring tempo hari. Kebanyakan orang tidak berani menolak ketika ada perempuan (bule atau tidak bule) menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Kita orang Muslim sudah dilatih untuk tidak membuat orang tersinggung, apalagi perempuan, yang umumnya lebih menjaga sikap di depan umum. Jangankan yang mengajak bersalaman, perempuan bule yang langsung melingkarkan tangannya ke bahu pun saya sudah pernah bertemu (tapi korbannya bukan saya, alhamdulillaah).
Fenomena ‘penyerangan’ terhadap ust. Tifatul belakangan ini sangat menarik, karena motifnya berbeda-beda. Ada yang mencela bukan karena setuju bahwa salaman dengan perempuan non-mahram itu tidak boleh, melainkan karena senang melihat ust. Tifatul akhirnya gagal menjaga prinsipnya. Ada juga yang pemikirannya langsung melanglang buana sehingga menyebut ust. Tifatul tidak konsisten dalam beragama, seolah-olah ‘bersalaman atau tidak bersalaman dengan Michelle Obama’ hanyalah satu-satunya bab dalam beragama. Padahal, yang bersangkutan telah mengakui bahwa insiden itu tidak disengaja olehnya; artinya, ia sendiri mengakui bahwa bersalaman dengan perempuan non-mahram itu tidak boleh (sebagai catatan, Syaikh al-Qaradhawi memiliki pendapat yang agak berbeda dalam hal ini).
Bisa jadi, ust. Tifatul kelihatan begitu kontroversial hanya karena kehidupannya ‘ada di depan kamera’. Semua tweet-nya dianggap penting, semua tulisan statusnya di Facebook begitu diperhatikan orang, bahkan posisi tangannya pun bisa jadi bahan pembicaraan sampai ke surat kabar di luar negeri. Bagaimana jika semua perhatian itu dipindahkan pada kita? Akan terlihat imej yang lebih baikkah, atau malah lebih memalukan?
Ada juga kawan yang sempat nyeletuk, “Masak ustadz menolak salaman aja nggak mampu!” Sambil tertawa, saya bertanya, “Lu udah pernah meeting sama bule belum?” Seperti yang sudah diperkirakan, jawabannya adalah: “Ya belum, lah!” Ya, begitulah!
Memang mudah mengomentari orang kalau kita selalu menghindar dari tanggung jawab. Kita takkan dipermalukan selama kita tak berdiri di bawah lampu sorot itu. Kita bisa bilang ini-itu gampang, yang ini sudah jelas aturannya, yang itu sudah pasti keharamannya, tapi mungkin saja kita telah mengalami delusi setelah mendengar kehebatan orang lain, seolah-olah kehebatan itu adalah milik kita. Kemudian kita pun marah ketika orang lain tak mampu memiliki kehebatan yang sama, seolah-olah semuanya itu adalah perkara gampang. Mudah menghindari korupsi kalau bisnisnya cuma jualan sari kurma di rumah sendiri. Gampang melewati jeram-jeram pemikiran sekuler kalau pergaulannya hanya di pesantren. Tidak akan terkilir kalau tak pernah bermain bola, takkan tertembak musuh kalau tak ikut berjuang. Jalan yang licin memang membuat banyak orang tergelincir, kecuali mereka yang memutuskan untuk mengurung diri di dalam rumah.
Keluar dari zona nyaman, pasti adakalanya kita berbuat salah. Keberanian untuk keluar dari zona nyaman – atau keberanian untuk menguji kemampuan sendiri di luar zona nyaman - itulah yang membedakan antara seorang yang berjiwa pemimpin atau pecundang.
wassalaamu’alaikum wr. wb.  | waktu zaman umar, rakyatnya aku (ALI) :D: |
 | ulict wrote on Nov 11, '10 aq suka keluar dari zona nyaman...:)
walau sering bertemu hal2 yang tidak sesuai dengan hati nurani, disitulah qta diuji untuk menentukan sikap...dan disitulah karakter aseli tiap orang akan terlihat...malah pernah temen akhwat lagi tugas di LN diajak keluar untuk makan malem...eh malah masuk club dimana temen2 laennya pada mabok...walau geregetan...tapi jadi pengalaman menarik...:D
nice posting uda...^__^ |
 | dan seringkali.. tulisan kang akmal, bikin saya adem................
pandangan bagus dan manusiawi kang.......... susah rasanya meniru qiyadah kita di zaman dulu untuk direfleksikan di kehidupan kita sehari2... apakah karena azzam dan visi mereka begitu kuat? dan polanya jelas? |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 waktu zaman umar, rakyatnya aku (ALI) :D:  hehe salah satu sisi dari masalah ini... :) |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 aq suka keluar dari zona nyaman...:)
walau sering bertemu hal2 yang tidak sesuai dengan hati nurani, disitulah qta diuji untuk menentukan sikap...dan disitulah karakter aseli tiap orang akan terlihat...malah pernah temen akhwat lagi tugas di LN diajak keluar untuk makan malem...eh malah masuk club dimana temen2 laennya pada mabok...walau geregetan...tapi jadi pengalaman menarik...:D
nice posting uda...^__^  nice experience... :) |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 likes this bang.....
 emangnya FB hehehehe :D |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 dan seringkali.. tulisan kang akmal, bikin saya adem................
pandangan bagus dan manusiawi kang.......... susah rasanya meniru qiyadah kita di zaman dulu untuk direfleksikan di kehidupan kita sehari2... apakah karena azzam dan visi mereka begitu kuat? dan polanya jelas?  bukan masalah qiyadah atau bukan, atau jaman dulu dan jaman sekarang sih, ini cuma masalah simpel: Kita bisa atau nggak?
Adakalanya hal yg gampang buat org lain ternyata susah buat kita. Itu hebatnya tarbiyah Rasulullah saw., sampai2 (kalo gak salah) Ibnu Mas'ud ra. bilang "Dahulu kami susah menghapal Qur'an dan ringan mengamalkannya, sedangkan kalian mudah menghapal Qur'an dan susah mengamalkannya." Jadi semua teori harus dibuktikan di lapangan dulu, baru kita bisa menyebut diri kita BISA. Pada posisi itu, mungkin kita sudah pada posisi yg tepat utk menasihati org lain yg belum bisa. Itu pun harus dgn cara yg baik, kan?
Parahnya, banyak yang belum bisa (atau bahkan belum berani mencoba) tapi sudah mengolok2 mereka yang berani mencoba tapi belum berhasil. |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 nah pengalaman di lapangan inilah yang banyak tidak dialami oleh yang memiliki visi yang sama dengan kita tapi berbeda jalan....  .....exactly :) |
 | nabun wrote on Nov 11, '10 Please notice that I wasn’t – and am not – proud of my temper.  hahaha. yah memang untuk yang ini gua pun harus mengakui. semoga sekarang nggak mudah meledak lagi ya. XD |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 hahaha. yah memang untuk yang ini gua pun harus mengakui. semoga sekarang nggak mudah meledak lagi ya. XD  paling nggak gw gak terjebak dlm tahap denial wkwkwkwkwk |
| pak tif jadi terkenal di dunia internasional (*eh emang sudah terkenal kan yaks :D ) |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 pak tif jadi terkenal di dunia internasional (*eh emang sudah terkenal kan yaks :D )  tapi pemberitaannya beda. di Indonesia, beliau diolok2 karena 'gak konsisten'. Di luar negeri, beliau dibicarakan krn dianggap radikalis-fundamentalis krn gak mau salaman ama Michelle... :p |
| tapi pemberitaannya beda. di Indonesia, beliau diolok2 karena 'gak konsisten'. Di luar negeri, beliau dibicarakan krn dianggap radikalis-fundamentalis krn gak mau salaman ama Michelle... :p  haghaghag.. kadang berkomentar itu terlalu gampang ya bang :) |
 | setuju akh. memang begitulah keadaannya. dan seakan-akan ust. telah melakukan hal yang amat sangat biadab. sepertinya memang kesukaan orang yang saking perhatiannya (baca:benci) dengan beliau, yang sampai seperti itu bergembira diatas kekhilafan ust.
|
 | akmal wrote on Nov 11, '10 haghaghag.. kadang berkomentar itu terlalu gampang ya bang :)  itulah inti dr artikel ini :) |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 setuju akh. memang begitulah keadaannya. dan seakan-akan ust. telah melakukan hal yang amat sangat biadab. sepertinya memang kesukaan orang yang saking perhatiannya (baca:benci) dengan beliau, yang sampai seperti itu bergembira diatas kekhilafan ust.  yg jelas beliau mengakui perbuatan itu salah dan ia tdk ingin melakukannya dgn sengaja... harusnya dari situ sudah clear... dulu Ka'ab ra. malah pernah tidak pergi jihad, lebih nista daripada salaman dgn perempuan non-mahram, tapi kesalahan beliau sudah dihapus dgn hukuman dari Rasulullah saw., dan setelah itu tidak ada lagi yg membicarakan aibnya... kalaupun ada yg membicarakannya, itu demi kepentingan sejarah dan pelajaran utk pemberian hukum bg yg menolak pergi jihad di masa depan, bukan dalam rangka mencela Ka'ab ra... |
 | Kemarin sy terima tamu 2 org bule (1 pr 1 lk) yg dtg ke kantor...spt biasa, pertama2 mereka ngajak salaman...klo salaman dg yg pr sih ga masalah ya, langsung jabat erat...
Nah, pas mau salaman dg si lk, tiba2 dia menyodorkan tangannya...refleks sy pun tangkupkan tangan ke dada...karena rada gugup, sy cuma bs bilang "...I'm sorry...I'm moslem...I can't do it...". Si bule lk cuma bengong2, dan ketika pulang dia ga ngajak salaman lg, alhamdulillah....Dan kejadian spt ini, sdh beberapa kali terjadi, alhamdulillah...msh bisa diatasi :D
Ngasih komentar memang lbh gampang dibanding jd pelakunya :D
|
 | Manusia mempunyai kecenderungan untuk mencari kesalahan manusiamanusia yang memiliki citra yang baik. Sehingga kesalahan atau sesuatu yang tidak umum pun menjadi luar biasa. Sedangkan manusiamanusia yang sudah distigma sebagai manusiamanusia tidak baik seringkali terhindar dari pencarian kesalahan itu. Kesalahan kecil manusia yang tercitra baik dianggap dosa besar, dan sebaliknya, kesalahan besar manusia yang terstigma buruk dianggap kesalahan kecil. |
 | pernah ada kejadian sama Big Boss bule dikantorku, pertama kali ngajak salaman, aku langsung menangkupkan tangan didada, memberi isyarat kalo aku gak salaman dengan laki2. Dengan tersenyum beliau mengerti dan bilang "oh... it's okey", tapi tanpa sadar dia nepuk pundakku... GUBRAKS.... jiyaaa.... mana sempat menghindar kalo gitu.....fiuuhhh... |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 Kemarin sy terima tamu 2 org bule (1 pr 1 lk) yg dtg ke kantor...spt biasa, pertama2 mereka ngajak salaman...klo salaman dg yg pr sih ga masalah ya, langsung jabat erat...
Nah, pas mau salaman dg si lk, tiba2 dia menyodorkan tangannya...refleks sy pun tangkupkan tangan ke dada...karena rada gugup, sy cuma bs bilang "...I'm sorry...I'm moslem...I can't do it...". Si bule lk cuma bengong2, dan ketika pulang dia ga ngajak salaman lg, alhamdulillah....Dan kejadian spt ini, sdh beberapa kali terjadi, alhamdulillah...msh bisa diatasi :D
Ngasih komentar memang lbh gampang dibanding jd pelakunya :D
 Tambahan Mbak, kalo utk ikhwan posisinya terasa lebih berat. Laki2 biasanya ngerasa nggak enak kalau harus bikin perempuan merasa nggak enak. Jadi kalau ada perempuan ngulurin tangan duluan, trus kita menolak, udah kebayang tuh biasanya perempuannya jadi keliatan nggak enak, nah ini yg bikin posisi jadi agak susah. Bukan cari pembenaran, tapi masalah kayak gini benar2 muncul di pikiran laki2. Dalam hal ini, perempuan biasanya lebih diuntungkan, karena biasanya perempuan sih cuek aja bikin laki2 nggak enak hahahahaha :D |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 Kesalahan kecil manusia yang tercitra baik dianggap dosa besar, dan sebaliknya, kesalahan besar manusia yang terstigma buruk dianggap kesalahan kecil.  ini diaaaaa.... :) |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 tapi tanpa sadar dia nepuk pundakku... GUBRAKS....  hahaha itu namanya serangan dari arah yg tak diduga2 :D |
 | saya termasuk yg demen kasih komentar, maksudnya komentar di MP :)
|
 | akmal wrote on Nov 11, '10 saya termasuk yg demen kasih komentar, maksudnya komentar di MP :)  boong ah, belakangan ini dah jarang :p |
 | Terkadang kalau menterapi orang lain dgn teknik SEFT/EFT perlu juga menyentuh, walau bukan bagian yang kurang etis kalau disentuh .. :D |
 | akmal wrote on Nov 11, '10, edited on Nov 11, '10 Terkadang kalau menterapi orang lain dgn teknik SEFT/EFT perlu juga menyentuh, walau bukan bagian yang kurang etis kalau disentuh .. :D  untung terapis SEFT/EFT gak disoroti media dan gerakan2 dakwah... :D |
 | ini mah dari pengalaman saya sendiri. kalau saya berhadapana dengan seorang dokter yang mau memeriksa saya - saya tida mmempunyai kebebasan unttuk memilih dolter yan akan memeriksa saya - kalau mengulurkan tangannnya untuk bersalama saya SAMBUT. ya dia sendiri malah khan mau melihat semua bahagian dari saya pula khan?
tapi...... kalau dalam upacara2 misalnya azza di ka be er i, ada perempuan BULE 2 mau nyolonongg salaman dengan saya maka saya ankat dua2 tangan saya seperti mo menyembah, sambil bergumam "begini azza yach!"
kalau dengan perempuan2 indo tanpa gumaman, lansung tangan2 saya tarik ke hidung saya!
sampe sekaran selamat! . |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 ini mah dari pengalaman saya sendiri. kalau saya berhadapana dengan seorang dokter yang mau memeriksa saya - saya tida mmempunyai kebebasan unttuk memilih dolter yan akan memeriksa saya - kalau mengulurkan tangannnya untuk bersalama saya SAMBUT. ya dia sendiri malah khan mau melihat semua bahagian dari saya pula khan?
tapi...... kalau dalam upacara2 misalnya azza di ka be er i, ada perempuan BULE 2 mau nyolonongg salaman dengan saya maka saya ankat dua2 tangan saya seperti mo menyembah, sambil bergumam "begini azza yach!"
kalau dengan perempuan2 indo tanpa gumaman, lansung tangan2 saya tarik ke hidung saya!
sampe sekaran selamat! .  Hehehe kalau dengan sesama orang Melayu, biasanya langsung mengerti... :) |
 | semakin licin semakin mudah terpelicin.. dan org yg paling seimbang bjalan dtempat licin,biasanya jadi pusat perhatian,sekali badan terlihat goyah,bahkan oleh terpaan angin,jadi sorotan,diangkat mbabi buta,agar yg seimbang tadi jatuh,atau pergi...
*gak nyambung ah... ahahaha :D *ngacir |
 | masih berada pada zona aman. maybe satu saat harus menghadapi yg seperti ini juga... tfs ya pak akmal ^^ |
 | argumen yg cukup bagus..., saya sepenuhnya setuju, hanya kadang yg saya sering sesalkan kenapa pak tifatul sering sekali mengeluarkan statement yang "gak penting banget' seperti yang dia tulis di tweet-nya dan menjadi blunder sendiri buat beliau. Menurut saya sebagai seorang publik figur , yang banyak orang akan mencari2 kesalahan, adalah lebih bijak jika kita dapat menahan diri untuk mengeluarkan statement yg bisa jadi blunder. Kadang-kadang memang diam itu emas.... |
 | himma wrote on Nov 11, '10 Ditempat licin itu harus extra hati-hati...harus punya pegangan kuat.. Ditempat licin itu lebih mudah jatuh terpeleset. Bagaimana kalau memilih tempat yg tidak licin saja...kan lebih aman. klau tempatnya licin berarti harus sering disikat biar gak terlalu licin.
Lebih baik pak mentri di balas dosa di dunia gak papa mal,dicemooh di hina ditertawakan jd bahan omongan..kan ngurangin dosanya...jadi buat motivator biar besok tak ulangi lagi dan yang lainpun juga.
apalah lagi pak mentri yg secara mmg salah?..lagi AA gym sajah yg nikah dg halal dibabat habis sama masya ..... |
 | himma wrote on Nov 11, '10 argumen yg cukup bagus..., saya sepenuhnya setuju, hanya kadang yg saya sering sesalkan kenapa pak tifatul sering sekali mengeluarkan statement yang "gak penting banget' seperti yang dia tulis di tweet-nya dan menjadi blunder sendiri buat beliau. Menurut saya sebagai seorang publik figur , yang banyak orang akan mencari2 kesalahan, adalah lebih bijak jika kita dapat menahan diri untuk mengeluarkan statement yg bisa jadi blunder. Kadang-kadang memang diam itu emas  YUNI HANAFI LIKE IT...*KY FB AJA* |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 semakin licin semakin mudah terpelicin.. dan org yg paling seimbang bjalan dtempat licin,biasanya jadi pusat perhatian,sekali badan terlihat goyah,bahkan oleh terpaan angin,jadi sorotan,diangkat mbabi buta,agar yg seimbang tadi jatuh,atau pergi...
*gak nyambung ah... ahahaha :D *ngacir  hahaa lumayan nyambung kok :D |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 masih berada pada zona aman. maybe satu saat harus menghadapi yg seperti ini juga... tfs ya pak akmal ^^  tfr ya... :) |
 | Manteph banget ni tulisan! Logis dan bisa diterima ga cuma sama yang satu ideologi. Sebenernya kerangka teorinya cuma satu ya? "Gajah di seberang lautan tampak, kuman di pelupuk mata tiada tampak" "Talk less, do more..." Hehehehe
|
 | akmal wrote on Nov 11, '10, edited on Nov 11, '10 argumen yg cukup bagus..., saya sepenuhnya setuju, hanya kadang yg saya sering sesalkan kenapa pak tifatul sering sekali mengeluarkan statement yang "gak penting banget' seperti yang dia tulis di tweet-nya dan menjadi blunder sendiri buat beliau. Menurut saya sebagai seorang publik figur , yang banyak orang akan mencari2 kesalahan, adalah lebih bijak jika kita dapat menahan diri untuk mengeluarkan statement yg bisa jadi blunder. Kadang-kadang memang diam itu emas....  saya secara pribadi sudah menyampaikan hal yg kurang lebih sama kepada ust Tifatul... sebenarnya gaya beliau yg ceplas-ceplos itu adalah kelebihan sekaligus kekurangannya... kita tdk boleh lupa bahwa beliau dahulu adalah penanggung jawab dakwah di seluruh sumatera sebelum mendapat tanggung jawab sbg presiden PKS, dan prestasinya luar biasa... knp? ya karena gaya ceplas-ceplosnya itu...
singkat kata, gaya ini adalah kelebihan beliau ketika berinteraksi secara LANGSUNG di tengah-tengah masyarakat, tapi akan menjadi kelemahan beliau ketika berinteraksi DI DUNIA MAYA... sebab interaksi di dunia maya bagaimanapun kekurangan alat utk mengungkap ekspresi, sehingga ucapan2 seseorang di Twitter atau FB kadang sulit dipahami oleh orang lain... kadang kita dibikin bingung, pak menteri ini becanda atau serius, padahal kalau ia bicara langsung kita langsung bisa tahu apa maksudnya... ucapan yg sama, jika disampaikan secara langsung secara berhadapan muka, seringkali lebih mudah utk diterima... |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 Ditempat licin itu harus extra hati-hati...harus punya pegangan kuat.. Ditempat licin itu lebih mudah jatuh terpeleset. Bagaimana kalau memilih tempat yg tidak licin saja...kan lebih aman. klau tempatnya licin berarti harus sering disikat biar gak terlalu licin.
Lebih baik pak mentri di balas dosa di dunia gak papa mal,dicemooh di hina ditertawakan jd bahan omongan..kan ngurangin dosanya...jadi buat motivator biar besok tak ulangi lagi dan yang lainpun juga.
apalah lagi pak mentri yg secara mmg salah?..lagi AA gym sajah yg nikah dg halal dibabat habis sama masya .....  aamiin, semoga jadi penghapus dosa beliau... :) |
 | akmal wrote on Nov 11, '10 Manteph banget ni tulisan! Logis dan bisa diterima ga cuma sama yang satu ideologi. Sebenernya kerangka teorinya cuma satu ya? "Gajah di seberang lautan tampak, kuman di pelupuk mata tiada tampak" "Talk less, do more..." Hehehehe  hehe ya bisa juga nyambung ke pepatah yg satu itu... :) |
 | Para komentator, kalau kita tahu aslinya, paling juga tdk lebih baik dgn yg di komentari, Da. Krn itu, mereka kebanyakan misteri di dunia online:) |
 | tfr = thanks for reply :) |
 | Bagus Mal, dalem, jujur dan mengena. Khas postingan Akmal...  |
 | Hmmm kebetulan bule2 yang gw pernah temuin di real cukup moderat dan sudah ngerti 'budaya' di Indonesia :p
Tapi di dunia virtual kadang memang terasa sedikit aneh, karena pendapat yang hitam dan yang putih atas Islam dua duanya pasti ada dan dikemukakan secara gamblang, cobalah ngaku Arab atau Islam di forum game Internasional... reaksinya akan... menarik :D |
 | akmal wrote on Nov 15, '10 tfr = thanks for reply :)  tfr = thanks for reading kaleee :D |
 | akmal wrote on Nov 15, '10 Para komentator, kalau kita tahu aslinya, paling juga tdk lebih baik dgn yg di komentari, Da. Krn itu, mereka kebanyakan misteri di dunia online:)  iya, memang biasanya org sembunyi kalau ada yg disembunyikan... tanya aja Gayus wkwkwkwk :D |
 | akmal wrote on Nov 15, '10 waduh..telat saya..  lapor ke guru piket dulu ya... :p |
 | akmal wrote on Nov 15, '10 |
 | akmal wrote on Nov 15, '10 cobalah ngaku Arab atau Islam di forum game Internasional... reaksinya akan... menarik :D  Haha kalo ente ngaku Arab atau ngaku Islam bro? wkwkwkwk :p |
 | Di luar tatar Jawa/Indonesia, challenge nya bisa dobel mal; bukan cuma client nya bule, tapi kadangkala co-workersnya juga non-muslim jadi kurang ngeh soal perlunya muslim buat sholat :).
Tapi Alhamdulillah di perusahaan saya sih walau lokasi di Bali tapi aturan2nya lebih muslim-friendly secara walau bossnya bule, tapi sebagian besar staffnya wong jowo. |
 | *manggut... Serba salah juga ya, toh kita memang tidak bisa memanage kondisi. Sekalipun tanpa sengaja, bukan berarti merusak fundamental keyakinan. Gak semua orang mau berpikir positif, memaklumi. |
 | keren...inspiratif...salam kenal:) |
 | muqs wrote on Dec 11, '10 betul Banget Bang....gara2 rapat aja sholat bisa bablas. Sepertinya berat bgt cuman bilang ijin sholat lagi meeting sama atasan Expat. |
 | Ass wr wb Punya pengalaman juga selama kerja di lapangan sama bule (Cina), terutama lagi solat jumat, sementara kita sibuk ambil data dan kejar target deadline dan situasinya rieweuh kalo di lapangan orang gampang lupa; Biasanya, beberapa menit-30 menit sebelum azan (jam stgh 12 atau 12 kurang) saya langsung minta izin jumatan "lin, I take friday pray first yaa, 45-60 minutes, then we continue our work" atawa, dari jam 10 pagi udah saya ingetin "before 12 I go to pray haa, 45-60 minute laaa, u can have lunch also meanwhile I pray yaa, I will take my lunch later laaa". Ada juga dia berargumen, kenapa solat jumat harus lama2 (sebelumnya dia pernah berargumen kenapa kamu harus sebentar2 solat, siang sore malam), tidak seperti solat2 lainnya dimana saya cuma menghabiskan waktu 10-15 menit.... "friday is a special day for muslim to take pray together in mosque and must follow also the speech, besides it is held on lunch time, so it is a break time for us also when we take a pray" Pada intinya saya coba menjelaskan bahwa solat bagi orang muslim untuk sarana beristirahat sejenak dan tidak akan merugikan orang lain yang bukan muslim.... For non moslem they take a break by drinking coffee, cappuccino, etc, .....for moslem praying is enough to take a break.....
Dan adalah hak kita untuk meminta istirahat sejenak....untuk perut kita dengan makan dan juga jiwa kita dengan solat......
Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari dosa dan memberkahi kita dengan kecerdasan bersikap sebagai muslim.
|
| |