 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Ya, ya, barangkali inilah the most anticipated Indonesian movie in 2008. Bukan salah siapa-siapa kalau banyak orang menanti-nanti film ini dengan harap-harap cemas. Selain karena novelnya yang laris manis bagai kacang sukro, juga karena industri layar perak tanah air yang tidak pernah jauh dari suster ngesot, pocong, atau ide-ide plagiat yang diambil seenaknya dari karya orang lain. Karena novelnya sangat orisinil, maka kita pun bisa mengharapkan film Ayat-Ayat Cinta ini memiliki nilai orisinalitas yang cukup tinggi.
Hanung Bramantyo memang telah menawarkan ide yang cukup segar di film-filmnya yang lain, yang juga cukup laris. Yang paling pantas mendapat pujian, menurut saya, adalah film Jomblo. Sebagai mantan mahasiswa ITB, saya bisa mengkonfirmasikan bahwa film yang satu itu berhasil membawa 'aroma ITB' ke layar film. Pengarang cerita Jomblo (Aditya Mulya) juga mantan mahasiswa ITB, dan kalau baca novelnya, kelihatan jelas bahwa ia telah menjadikan lingkungan ITB sebagai background ceritanya.
Di situlah letak kesulitan mengadaptasi sebuah novel ke dalam film. Sutradara harus mendalami novel dan mampu memahami apa yang ingin disampaikan oleh sang penulis cerita, sehingga penonton akan mampu menangkap suasana yang digambarkan di dalam novelnya. Trilogi The Lord of The Rings, misalnya, adalah film kolosal yang sangat hebat dan sulit dicari bandingannya. Akan tetapi para pembaca novelnya tetap saja belum puas. Banyak plot yang dengan sangat terpaksa tidak diceritakan di dalam film demi durasi waktu. Padahal, setiap film dalam trilogi itu durasinya sampai tiga jam.
Bagaimana dengan Ayat-Ayat Cinta?
Kalau soal keindahan visual, sutradara-sutradara Indonesia tak perlu diragukan lagi. Sudah banyak film yang menawarkan keindahan alam yang rasanya susah dicari di dunia nyata. Sebutlah, misalnya, film Banyu Biru atau Heart. Saking indahnya, kadang-kadang aspek lainnya pun terabaikan. Hanung Bramantyo termasuk sutradara yang saya percaya mampu memanjakan mata penonton dengan pemandangan-pemandangan yang segar dan apik.
Pemandangan 'Mesir' yang ditampilkan cukup baik, apalagi jika mengingat sebagian syuting terpaksa dilakukan di Indonesia lantaran biaya yang terlalu besar. Secara keseluruhan, aspek visual sudah OK, meskipun saya masih saja menggarisbawahi kecenderungan film Indonesia untuk menampilkan tokoh-tokohnya dalam sosok yang 'terlalu sempurna', tanpa noda, tanpa debu secuil pun, seolah-olah mereka selalu telaten memperbaiki make up-nya. Scene yang paling saya suka adalah di tepi Sungai Nil. Sebab, kita belum mampir ke Mesir kalau belum melihat Sungai Nil, bukan?
Nilai minus pada film ini terlihat pada pemilihan aktor dan aktrisnya. Secara keseluruhan, mereka belum berhasil 'meyakinkan' saya bahwa karakter Fahri dikelilingi dan merupakan bagian dari komunitas intelektual Universitas Al-Azhar, Mesir. Perlu diingat bahwa Fahri (yang diperankan di film ini oleh Fedi Nuril) adalah mahasiswa yang tengah sibuk kuliah pascasarjana, saleh, rajin mengaji, pandai agama, dan juga punya setumpuk pekerjaan sebagai penerjemah freelance. Frankly, I don't get that kind of 'vibe' from Fedi Nuril's act.
Sejak mendengar kabar akan dibuatnya film Ayat-Ayat Cinta, saya sudah bertanya-tanya : "Wow, siapa yang bisa memerankan Fahri?". Ini memang tugas berat bagi Hanung, dan barangkali Fedi Nuril adalah pilihan terbaik yang ada dalam daftar casting-nya. Saya bisa memahami kesulitannya, namun hal itu tidak bisa dijadikan pembelaan dalam review ini.
Yang cukup pas 'auranya' justru tokoh Maria yang diperankan oleh Carissa Putri. Dinamis, ceria, talkative, semua kualitas itu ada dalam aktingnya. Hanya saja ia memiliki tubuh yang terlalu tinggi untuk bayangan saya terhadap tokoh Maria. Tapi tak mengapalah, karena novelnya pun tak menekankan tinggi badan Maria.
Entah mengapa saya merasa begitu terganggu dengan tokoh Aisha yang diperankan oleh Rianti Cartwright. Bagi saya, Rianti belum memiliki pesona sebagaimana tokoh Aisha dalam novelnya. Dalam novel, selain anggun dan kaya raya, Aisha juga cerdas. Sangat sepadan dengan Fahri. Lagi-lagi saya terpaksa berempati pada beratnya tugas Hanung, karena jika mencari pemeran Fahri berat, maka mencari pemeran Aisha pun kurang lebih sama susahnya.
Kelemahan lainnya adalah pendeknya durasi film, sehingga banyak detil cerita yang terabaikan. Kehilangan paling besar terasa dalam menggambarkan proses menurunnya kesehatan Maria, baik sebelum maupun sesudah menikah dengan Fahri. Waktu juga berlalu begitu cepat ketika Fahri dijebloskan ke penjara hingga akhirnya Aisha rela Fahri menikah lagi dengan Maria. Bagaimana pun, keputusan untuk ridha terhadap poligami suami rasanya perlu pemikiran yang lebih lama daripada yang ditampilkan di film, meskipun yang memikirkannya adalah Muslimah yang salehah dan cerdas seperti Aisha.
Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, kelemahan utama dari film ini adalah pada pemilihan pemeran Fahri dan Aisha. 'Lubang' yang satu ini terasa sangat berpengaruh, karena justru di situlah letak kekuatan utama dari novel Ayat-Ayat Cinta. Dalam pandangan saya, kesuksesan terbesar Kang Abik (nama panggilan Habiburrahman El-Shirazy) adalah membuat para pembacanya merasa ridha terhadap poligami. Bukankah tema ini adalah tema yang selalu mengundang perdebatan dan membuat marah kaum perempuan? Kenyataannya, novel Ayat-Ayat Cinta bukan hanya lolos dari jeratan kritik pedas kaum feminis, malah justru didaulat sebagai salah satu novel paling romantis yang pernah ditulis oleh penulis Indonesia.
Tentu saja kesuksesan Kang Abik ini terutama disebabkan oleh kepandaiannya dalam bertutur kata, sehingga mampu meyakinkan pembaca bahwa Fahri memang lelaki yang pantas untuk melakukan poligami. Nah, itulah alasan mengapa 'lubang' yang ditimbulkan oleh ketidakcocokan Fedi Nuril dalam memerankan Fahri menjadi sangat terasa pengaruhnya. Fahri dalam film gagal meyakinkan penontonnya bahwa ia memiliki kualitas seperti di novelnya.
Kekecewaan saya bersumber dari fakta bahwa saya amat menikmati novelnya. Perlu dicatat bahwa novel Ayat-Ayat Cinta adalah novel kedua yang bisa saya habiskan dalam dua hari saja (yang pertama adalah The DaVinci Code). Biasanya, saya malah jarang menyelesaikan membaca novel. Karena mendapat kesan yang sangat kuat dari novelnya, maka kekurangan dalam versi filmnya menjadi begitu terasa. Di sisi lain, film ini juga diuntungkan oleh novelnya, karena mereka yang menonton banyak yang sudah khatam membaca kisahnya duluan. Dengan demikian, tidak ada yang mempermasalahkan mengapa Aisha bisa rela dimadu, tidak banyak juga yang protes, "Emang apa hebatnya sih si Fahri, sampai ditaksir segitu banyak cewek?" 
 | Ya, kalo baca di novelmya, kita jadi bisa membayangkan sendiri sesuai versi masing-masing. Kondisi paling ideal dari apa yang digambarkan penulis. |
 | saya belum nonton film-nya nih mungkin nunggu VCD-nya beredar aja kali ya... :) |
 | yup, fedi nuril terpilih sudah hasil seleksi sekian banyak aktor indonesia...pada saat adegan fahri menjelaskan islam ke alicia, sang wartawan amerika, fedi cukup bisa membawa fahri yang cerdas....:) |
 | ada kelebihan dan kekurangan :D |
 | iya tokoh Fahri kurang pas yaa.. |
 | provokator ieu mah....
CIAAAAT...!!! DZIGDZIGDZIGDZIGDZIGDZIGDZIGDZIGDZIG !!!!
:D  wadaw.... sakiit.... kalo gitu... gimana kalo dg pemeran alternatif... Silakan Klik Di sini: http://ahmadtaufiq.multiply.com/reviews/item/29hehe mohon maaf bg yg g berkenan |
 | Akmal cocok kok jadi Fahri, tinggal berperan rendah hati aja ha ha ha Aku juga ngeresensi film ini, aku sih positif dengan film ini. |
 | sudah sunnatullahnya kali yah ketika membaca novel dengan melihat pelemnya kudu berbeda imajinasi kita?
|
Comment deleted at the request of the author.
 | Nilai minus pada film ini terlihat pada pemilihan aktor dan aktrisnya. Secara keseluruhan, mereka belum berhasil 'meyakinkan' saya bahwa karakter Fahri dikelilingi dan merupakan bagian dari komunitas intelektual Universitas Al-Azhar, Mesir. Perlu diingat bahwa Fahri (yang diperankan di film ini oleh Fedi Nuril) adalah mahasiswa yang tengah sibuk kuliah pascasarjana, saleh, rajin mengaji, pandai agama, dan juga punya setumpuk pekerjaan sebagai penerjemah freelance. Frankly, I don't get that kind of 'vibe' from Fedi Nuril's act. ================================================ yudi setuju ama kk.. ada masukan gitu kak..:D so far yudi masih ogah nonton karena masalah ini..:) |
 | salut untukmu kak yang sangat spesifik memperhatikan sebuah karya..:) |
 | saiya udah nonton :) and 1/2 kecewa dibanding novel na :)
|
 | Syuting katanya banyak di Indihe, Mesirnya cuma dikit. Gimana dengan tokoh Rudi Wowor? Katanya melenceng juga, Mesir koq kayak londo... |
 | walaupun ada minusnya, film ini bakalan jadi film yang paling banyak ditonton tahun ini ... |
 | Bunda belum nonton.. Rekomendasi Akmal gimana nih? Cuma 2 bintang yaa.. :D |
 | yups,promo nya nih film lebih bagus dari film nya sendiri |
 | herannya, prestasi Kang Abik dlm menyebarluaskan konsep yg benar tentang poligami yg benar justru jarang dibahas... :)
Iyaa.... hiks..hiks... Saking pada terseponanya (eh terpesonanya) sm kisah2 yang lain kali yaa... |
 | cinta2annya yang keambil orang hehe |
 | suka novelnya karna setting dan latarnya :) filmnya? belum nonton...mesti nabung dulu...
|
 | Halo..halo.. ada yang lebih "gak gaul" dari saya.... hehehe..belum pernah tau isi novelnya... dan gak niat nonton juga,,, :) emang ini film dari novel terkenal ya??? |
 | Om Akmal mah cocoknya jadi bokapnya Noura, waktu adegan nyiksa orang pasti top dah! jurus2simpanannya kluar smua. Kekekeke.... |
 | Bisa dibilang aku kurang menikmati filmnya. Gimana ya? Rasanya kok kering gitu. Kalo novelnya dapet bintang tiga setengah dari lima, filmnya cuma dapat satu setengah *lebih parah*. Yah... pendapat personal aja sih.
Menurutku kok "dramatis" sekali gitu. Itu juga yang bikin novelnya cuma dapet tiga setengah, sementara temen-temenku histeris sekali.
Nilai plusnya, jelas apa yang bisa diambil. Dari mulai bahasa jerman, bahasa arab, kebudayaan sana, tentang islam... pokoknya kelihatan nulisnya ndak asal pengen nyari sensasi. Tapi justru di filmnya ndak banyak bisa dilihat.
Okelah, mungkin ada yang cerita yang setragis AAC, tapi waktu aku bilang aku kurang bisa suka sama kisah yang rumit dan dramatis, mau apa lagi?
Just a personal thought, once again ^_^
|
 | Buat saya pribadi,,ngga usah nnton,, |
 | Ass… SUTRADARA HANUNG BRAMANTYO BERMENTAL “JIL” MARI KITA MENGKRITISI FILM AYAT-AYAT CINTA (AAC) Kamis malam tgl. 13/3/08 dalam suatu acara bincang-bincang pada TV…, dgn topik film AAC ketika sesion pertanyaan moderator kepada Sutradara Hanung Bramantyo kurang lebih “ Apakah niat anda membuat film ini untuk berdakwah ?”, maka dia berkata “ Ohh tidak…, kalau dakwah itukan berarti kita merasa diri kita sudah paling benar dan paling suci dan orang lain yang salah ..bla..bla “. Ingat tidak kalian kita pernah berdebat dgn mereka di planet Multiply ini atau planet lain di Dunia Maya ini , itu ciri2 ucapan mereka , ini adalah gaya pemikiran dan bicara hasil idiologi kaum JIL dan antek atheis FFI. Memang ucapan tsb intinya ditujukan kepada Islam, tetapi secara tidak langsung adalah telah melecehkan semua agama. Saya tidak menujukan tulisan ini pada buku AAC-nya atau pengarang bukunya, dan saya belum pernah membaca bukunya ( semoga Allah meridhoinya). Mereka hanya memanfaatkan eksistensi atmosfir religius Islami bangsa Indo yang tinggi untuk meraih uang dan poluleritas….waspadalah !!, hai Generasi Muda Islam negri ini orang2 muda seperti kalian adalah target mereka...ok Diatas memang saya sangaja BERSUARA KERAS guna letupan kejutan SHOCK THERAPY kepada umat Muslim agar mengalihkan perhatian sebentar, karena kaum jahil juga telah membuat kejutan lebih dahulu dengan mengobsesi umat Islam Ind dgn film AAC tsb. Lihat, mereka telah membuka jubah dan memperlihatlkan taringnya . Umat Islam terobsesi film tsb dan telah membuat kebanyakan umat Islam terkecoh. Bagi yang ingin menonton silahkan kritisi film tsb , agar terkuak panah-panah polemik beracun yang diarahkan kepada Islam dan di sosialisasikan kepada umat muslim Ind khususnya. Percayalah apapun tipu daya mereka tetapi banyak fakta memperlihatkan Invisible Hands menciptakan hal yang sebaliknya. Qs al'Mukminun 110-111 :" Tetapi kamu (kaum kafir/munafikun) jadikan mereka (mumin) bahan olok-olokan, sehingga kamu lupa mengingat Ku... waktu kamu mentertawakan mereka…sesungguhnya mereka itu orang-orang yg menang". QS. Ali Imran 54 : “ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. “ Ini bukti POSITIFNYA : http://www.detikhot.com/Rabu, 19/03/2008 08.05 WIB : Rianti Paham Islam Berkat ‘Ayat-ayat Cinta’ Film Ayat-ayat Cinta meraih sukses , Rianti ikut membintangi film bernuansa relegi kental. Gara-gara film itu, ia jadi lebih memahami agama Islam……Rianti malah memperdalam ajaran agama Islam yang telah dianutnya…..Rianti tengah memproses kewarganegaraannya itu kini jauh lebih mengerti wawasan Islam. Namun bukan begitu saja , VJ MTV itu mengenakan cadar bak tokoh Aisah yang diperankannya di AAC….. Aisah sama Rianti sehari-hari berbeda. Pernah lihat Rianti pakai cadar ke mall... Ini bukti NEGATIFNYA : lihat http://aneshusen.multiply.com/aneshusen wrote on Mar 21: nuhun mas Aibnu atas informasinya. dah ane delete. :) jazakillah.... soal Ayat2-ayat Cinta emang deh tuh melenceng banget dari novel aslinya yg indah itu. (meski gw sama2 dibikin nangis... hihihi). mau ditinjau dari sisi sinematografi atau dari sisi esensi nih mas? :) eh, ada postingan yg cukup fair untuk disimak soal ini, silahkan klik : http://akmal.multiply.com/reviews/item/79Soal esensi, Sy sendiri pernah baca di koran, kalo Hanung Bramantyo sang sutradara sedikit kecewa dgn terlalu banyaknya campur tangan produser dan pihak2 kapitalis dalam pembuatan film tersebut... (MD entertainment, klan Punjabi. catatan : bukan muslim!). jadi wajar kalo dalam film tsb kita temukan banyak nilai2 yg tdk mungkin dilakukan sekelas mahasiswa Al Azhar. spt berdua2an dlm ruangan, minum/makan sembari berdiri. Atau keanehan lain spt seorg islam "radikal" yg begitu kejam marah membabi buta hingga tak peduli ia mau memukul seorg wanita di dalam kereta karena melindungi "kafir" amerika, padahal dalam novelnya ga seheboh itu deh... atau begitu "anehnya" perkawinan poligami serumah & beda agama yg terjadi dlm film, padahal dalam novel ga gitu banget kisahnya... ini penilaianku apa adanya lho, bukan berarti apatis, tapi kritis... kita harus tetap konsisten dgn prinsip meski Konspirasi purba senantiasa mempermainkan perasaan kita sembari menanamkan nilai2nya tanpa kita sadari... oh ya..ngomong2 soal klan Punjabi sy gatel pengen bilang sesuatu tentang mereka, berhubngan dgn gerakan freemasonry dan sejenisnya, tapi takut dibilang mencemarkan nama baik..nanti aja deh disimpen dulu... heuheu :) |
 | Saya belum baca bukunya tapi udah nonton dan nangis bombay..mungkin lebih baik gini buatku, jadi saya ga protes..hehehe, Karena buat aku yg ga baca buku duluan, aku bisa dapet aura kalau yg jadi temen fahri mhsw pinter walau yg kebayang malah anak ugm. Dan adegan saat fahri minta nasihat yg pusing punya 2 istri, rada khas anak ugm/itb diskusi . Juga bisa ngerasain kenapa fahri patut di cintai... Wah, kalau udah baca buku-nya juga seperti mas Akmal, aku pasti protes juga, krn biasanya buku bagus ga bisa diterjemahkan ke film dgn bagus juga..Seperti Contact-nya Jodie Foster , wah sebel berat. Kecuali Harry Potter, lumayan bagus deh.  well, harus diakui memang mengadaptasi novel ke film bukan pekerjaan gampang... :) |
 | Diatas memang saya sangaja BERSUARA KERAS guna letupan kejutan SHOCK THERAPY kepada umat Muslim agar mengalihkan perhatian sebentar, karena kaum jahil juga telah membuat kejutan lebih dahulu dengan mengobsesi umat Islam Ind dgn film AAC tsb.  niat membuat shock therapy hendaknya jangan sampe nyerempet-nyerempet fitnah...
kalau Ulil Abshar Abdalla sudah jelas sesatnya karena ia belajar agama secara khusus tapi menolak mentah2 ajaran Islam yg benar... Hanung Bramantyo - jika memang benar konsepnya tentang dakwah seperti dlm wawancara yg Anda tuliskan itu - memang salah total... tapi bisa jadi kesalahannya hanya karena keawamannya saja, karena kesalahan konseptual semacam ini banyak terjadi di kalangan masyarakat awam... saya juga sangat concern dengan kesesatan JIL, tapi mereka yg mengadopsi pemikiran JIL belum tentu benar-benar berideologi liberal... sebab, pendidikan agama di sekolah memang sangat rendah levelnya, sehingga mau tidak mau pasti ada saja yg mengalami kesalahan konseptual seperti ini...
saya pribadi tidak mau langsung menuduh Hanung begini-begitu, karena sejauh ini track recordnya cukup bagus, apalagi jika dibandingkan dgn insan perfilman yg lain (at least, sejauh pengetahuan saya lho ya)... dlm film Jomblo, meskipun film itu tidak dikategorikan 'islami' atau 'religius', namun ada nilai-nilai moral yg sangat bagus yg jarang sekali dimunculkan di film, dan utk itu saya rasa Hanung pantas dapat pujian, meskipun bukan hanya dia saja yg berperan dalam jalannya cerita...
slow down please, jgn terburu-buru... lebih baik salah dalam prasangka baik daripada salah dalam prasangka buruk... itulah sebabnya Rasulullah saw. mengajarkan kita utk mengucap salam kepada siapapun yg tdk kita kenal... sebab, keliru menganggap orang lain sbg Muslim (padahal ia non-Muslim) itu jauh lebih baik daripada keliru menuduh seseorang sebagai kafir... |
 | "Perlu dicatat bahwa novel Ayat-Ayat Cinta adalah novel kedua yang bisa saya habiskan dalam dua hari saja (yang pertama adalah The DaVinci Code)"
sudah baca laskar pelangi? untuk generasi muda saya pikir lebih baik untuk menikmati novel-novel yang penuh semangat dan menumbuhkan semangat...
salam...
|
Comment deleted at the request of the author.
 | Perasaan udah diklarifikasi tuh, mal.. kalo AAC the movie nggak ngadopsi 100 % dari novelnya, termasuk karakter si Fahri. Kalo di novelnya, si Fahri jagoan banget agamanya, tapi di filmnya agak lugu, sampe mesti dijelasin soal taaruf.. Aku baca di koran republika.. kalo tak salah lho.
btw, ada yang tau kapan vcdnya keluar? ncan nonton euy :p |
Comment deleted at the request of the author.
 | "Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, kelemahan utama dari film ini adalah pada pemilihan pemeran Fahri dan Aisha."
Mungkin saya lebih cocok jadi aisha (tapi siapa fahrinya ya?) hehehe .... bcanda.
Ok lah kl soal filmnya banyak sekali kelemahannya. Saya keberatan dengan pemerannya, tapi saya lebih keberatan pada beberapa adegannya, seperti ketika aisyah mengambil tasbih dari tangan fahri di bus, loh fahri ga mau salaman, tapi ko mau bersentuhan tangan ama aisyah (yg waktu itu blum jadi istrinya), juga standing party, dan ketika fahri bersama temannya makan bareng maria, waah kok ikhtilath? dan yang paling parah setelah abis nikah, mestinya kan sholat jamaah dulu dan sunnah2 yang lain, laah kok malah ... *sensor* Untungnya dari film ini orang awam bisa melihat proses taaruf tanpa pacaran itu seperti apa sebenarnya. *biar lebih adil ga ngomongin kelemahan saja* Tapi soal hanung, sebagai alumni itb jg (eh bapak alumni itb jurusan apa angkatan brapa?), saya kebetulan lagi ke kampus buat legalisir ijazah waktu itu, dan ngeliat dia didemo habis2an ma mhsw itb waktu shooting di sana, makanya nama kampusnya jadi disamarkan. Tapi membawa2 suasana itb di filmnya bener2 mengesalkan kl menurut saya, terlepas emang benar banyak mhsw itb hedon kayak di jomblo itu.
Kalau soal novelnya, ok kang abik sangat pandai membawakan pesona mesir sehingga pembacanya begitu terhanyut, bahkan abis baca saya bertekad suatu saat saya harus ke mesir, meski harus backpackeran :p Ini ngga ada di filmnya, jelas bikinnya kan ga di mesir. Tapi ada beberapa hal yang saya ga sreg. Fahri mungkin bukan tipe saya (dan sepertinya saya juga bukan tipenya fahri, hehe nyadar diri :p). Kalau hafidz quran sih jelas tipe saya hehe ... tapi sebagai ikhwan menurut saya fahri di novel juga tidak tegas *standard ikhwan yg banyak fansnya*, kl memang dia suka ke nurul mestinya dia tidak takut akan status yg anak orang biasa dsb, bukankah ikhwan tidak perlu memandang hal semacam itu? Lalu ketika dia gamang dengan aisyah, setelah ketemu dia menjadi mantap hanya gara2 melihat wajahnya, nah loh ... knapa yang dipuji2 dan membuatnya mantap pertama kali adalah wajahnya bukan akhlaknya, kecerdasannya dan lain2? *bahkan kl di film kesannya Aisyah tidak sepintar Maria*, ketiga waktu nulis itu kan kang abik lom nikah, ko bisa2nya nulis malam zahaf sedetil itu? waaah gawat tuh ... palagi ikhwan2 yang lom nikah baca itu bisa mimpi buruk :p ke empat, bahasa inggris fahri saya temukan ada beberapa ksalahan dari segi grammar, ok mungkin itu tidak teliti, tapi bahasa jermannya sangat aneh dan tidak lazim, seperti bukan bahasa jerman sehari2 tapi bahasa jerman hasil translete kamus web bgitu. Soal Aisyah, waah kalau ada akhwat kayak gitu di dunia nyata, misal dia nikah, saya akan sujud syukur beneran deeh hehe, masak ada akhowat seperfect itu :D
Soal da vinci code, ok yang ini juga bagus penggambaran sejarahnya, meski kriptografi yg dipakai sangats ederhana, yaitu kriptografi klasiknya caesar, heran kriptografi klasik kayak gitu dipakai ngamanin rahasia sebesar itu, nah pernah baca Dan Brown yang Digital Fortress? Waduhhhh, dia mencoba memakai kriptografi modern tapi nyaris nol besar, dari novelnya justru banyak sekali konsep2 kriptografi modern yang dia tidak mengerti, bacanya jd gregetan. Untung tulisannya sangat dinamis dan selalu membuat kejutan yang sangat cepat, sheingga pembaca enggan meninggalkannya sebelum benar2 tamat membacanya. |
 | ......Lihat tidak dialog/ debat dalam TV one (?) antara wakil dari Achmadiyah dengan wakil dari MUI ?. Perhatikan mimik wajah wakil dari Achmadiyah dari sejak awal hingga achir acara !! (bergaja senyum dan berseri memperlihatkan PD/ yakin banyak beking dan rasa sombong), berbeda dengan mimik wajah wakil MUI yang serius terus....., Terbukti , kita hanya termakan janji angin surga, konspirasi makhluk2 sejenis mereka telah menancap kuat di pemerintahan...ok |
 | muqs wrote today at 7:41 AM |
| |