ReviewReviewAyat-Ayat Cinta (The Movie)Mar 5, '08 3:50 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama

Ya, ya, barangkali inilah the most anticipated Indonesian movie in 2008. Bukan salah siapa-siapa kalau banyak orang menanti-nanti film ini dengan harap-harap cemas. Selain karena novelnya yang laris manis bagai kacang sukro, juga karena industri layar perak tanah air yang tidak pernah jauh dari suster ngesot, pocong, atau ide-ide plagiat yang diambil seenaknya dari karya orang lain. Karena novelnya sangat orisinil, maka kita pun bisa mengharapkan film Ayat-Ayat Cinta ini memiliki nilai orisinalitas yang cukup tinggi.

Hanung Bramantyo memang telah menawarkan ide yang cukup segar di film-filmnya yang lain, yang juga cukup laris. Yang paling pantas mendapat pujian, menurut saya, adalah film Jomblo. Sebagai mantan mahasiswa ITB, saya bisa mengkonfirmasikan bahwa film yang satu itu berhasil membawa 'aroma ITB' ke layar film. Pengarang cerita Jomblo (Aditya Mulya) juga mantan mahasiswa ITB, dan kalau baca novelnya, kelihatan jelas bahwa ia telah menjadikan lingkungan ITB sebagai background ceritanya.

Di situlah letak kesulitan mengadaptasi sebuah novel ke dalam film. Sutradara harus mendalami novel dan mampu memahami apa yang ingin disampaikan oleh sang penulis cerita, sehingga penonton akan mampu menangkap suasana yang digambarkan di dalam novelnya. Trilogi The Lord of The Rings, misalnya, adalah film kolosal yang sangat hebat dan sulit dicari bandingannya. Akan tetapi para pembaca novelnya tetap saja belum puas. Banyak plot yang dengan sangat terpaksa tidak diceritakan di dalam film demi durasi waktu. Padahal, setiap film dalam trilogi itu durasinya sampai tiga jam.

Bagaimana dengan Ayat-Ayat Cinta?

Kalau soal keindahan visual, sutradara-sutradara Indonesia tak perlu diragukan lagi. Sudah banyak film yang menawarkan keindahan alam yang rasanya susah dicari di dunia nyata. Sebutlah, misalnya, film Banyu Biru atau Heart. Saking indahnya, kadang-kadang aspek lainnya pun terabaikan. Hanung Bramantyo termasuk sutradara yang saya percaya mampu memanjakan mata penonton dengan pemandangan-pemandangan yang segar dan apik.

Pemandangan 'Mesir' yang ditampilkan cukup baik, apalagi jika mengingat sebagian syuting terpaksa dilakukan di Indonesia lantaran biaya yang terlalu besar. Secara keseluruhan, aspek visual sudah OK, meskipun saya masih saja menggarisbawahi kecenderungan film Indonesia untuk menampilkan tokoh-tokohnya dalam sosok yang 'terlalu sempurna', tanpa noda, tanpa debu secuil pun, seolah-olah mereka selalu telaten memperbaiki make up-nya. Scene yang paling saya suka adalah di tepi Sungai Nil. Sebab, kita belum mampir ke Mesir kalau belum melihat Sungai Nil, bukan?

Nilai minus pada film ini terlihat pada pemilihan aktor dan aktrisnya. Secara keseluruhan, mereka belum berhasil 'meyakinkan' saya bahwa karakter Fahri dikelilingi dan merupakan bagian dari komunitas intelektual Universitas Al-Azhar, Mesir. Perlu diingat bahwa Fahri (yang diperankan di film ini oleh Fedi Nuril) adalah mahasiswa yang tengah sibuk kuliah pascasarjana, saleh, rajin mengaji, pandai agama, dan juga punya setumpuk pekerjaan sebagai penerjemah freelance. Frankly, I don't get that kind of 'vibe' from Fedi Nuril's act.

Sejak mendengar kabar akan dibuatnya film Ayat-Ayat Cinta, saya sudah bertanya-tanya : "Wow, siapa yang bisa memerankan Fahri?". Ini memang tugas berat bagi Hanung, dan barangkali Fedi Nuril adalah pilihan terbaik yang ada dalam daftar casting-nya. Saya bisa memahami kesulitannya, namun hal itu tidak bisa dijadikan pembelaan dalam review ini.

Yang cukup pas 'auranya' justru tokoh Maria yang diperankan oleh Carissa Putri. Dinamis, ceria, talkative, semua kualitas itu ada dalam aktingnya. Hanya saja ia memiliki tubuh yang terlalu tinggi untuk bayangan saya terhadap tokoh Maria. Tapi tak mengapalah, karena novelnya pun tak menekankan tinggi badan Maria.

Entah mengapa saya merasa begitu terganggu dengan tokoh Aisha yang diperankan oleh Rianti Cartwright. Bagi saya, Rianti belum memiliki pesona sebagaimana tokoh Aisha dalam novelnya. Dalam novel, selain anggun dan kaya raya, Aisha juga cerdas. Sangat sepadan dengan Fahri. Lagi-lagi saya terpaksa berempati pada beratnya tugas Hanung, karena jika mencari pemeran Fahri berat, maka mencari pemeran Aisha pun kurang lebih sama susahnya.

Kelemahan lainnya adalah pendeknya durasi film, sehingga banyak detil cerita yang terabaikan. Kehilangan paling besar terasa dalam menggambarkan proses menurunnya kesehatan Maria, baik sebelum maupun sesudah menikah dengan Fahri. Waktu juga berlalu begitu cepat ketika Fahri dijebloskan ke penjara hingga akhirnya Aisha rela Fahri menikah lagi dengan Maria. Bagaimana pun, keputusan untuk ridha terhadap poligami suami rasanya perlu pemikiran yang lebih lama daripada yang ditampilkan di film, meskipun yang memikirkannya adalah Muslimah yang salehah dan cerdas seperti Aisha.

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, kelemahan utama dari film ini adalah pada pemilihan pemeran Fahri dan Aisha. 'Lubang' yang satu ini terasa sangat berpengaruh, karena justru di situlah letak kekuatan utama dari novel Ayat-Ayat Cinta. Dalam pandangan saya, kesuksesan terbesar Kang Abik (nama panggilan Habiburrahman El-Shirazy) adalah membuat para pembacanya merasa ridha terhadap poligami. Bukankah tema ini adalah tema yang selalu mengundang perdebatan dan membuat marah kaum perempuan? Kenyataannya, novel Ayat-Ayat Cinta bukan hanya lolos dari jeratan kritik pedas kaum feminis, malah justru didaulat sebagai salah satu novel paling romantis yang pernah ditulis oleh penulis Indonesia.

Tentu saja kesuksesan Kang Abik ini terutama disebabkan oleh kepandaiannya dalam bertutur kata, sehingga mampu meyakinkan pembaca bahwa Fahri memang lelaki yang pantas untuk melakukan poligami. Nah, itulah alasan mengapa 'lubang' yang ditimbulkan oleh ketidakcocokan Fedi Nuril dalam memerankan Fahri menjadi sangat terasa pengaruhnya. Fahri dalam film gagal meyakinkan penontonnya bahwa ia memiliki kualitas seperti di novelnya.

Kekecewaan saya bersumber dari fakta bahwa saya amat menikmati novelnya. Perlu dicatat bahwa novel Ayat-Ayat Cinta adalah novel kedua yang bisa saya habiskan dalam dua hari saja (yang pertama adalah The DaVinci Code). Biasanya, saya malah jarang menyelesaikan membaca novel. Karena mendapat kesan yang sangat kuat dari novelnya, maka kekurangan dalam versi filmnya menjadi begitu terasa. Di sisi lain, film ini juga diuntungkan oleh novelnya, karena mereka yang menonton banyak yang sudah khatam membaca kisahnya duluan. Dengan demikian, tidak ada yang mempermasalahkan mengapa Aisha bisa rela dimadu, tidak banyak juga yang protes, "Emang apa hebatnya sih si Fahri, sampai ditaksir segitu banyak cewek?"



79 CommentsChronological   Reverse   Threaded
kopiradix wrote on Mar 5
akmal said
sampai ditaksir segitu banyak cewek?"
Di dunia nyata ada enggak ya? Kalo ada pasti banyak yang iri, he he he
akmal wrote on Mar 5
Di dunia nyata ada enggak ya? Kalo ada pasti banyak yang iri, he he he
insya Allah ada :)
tantodikdik wrote on Mar 5
Ya, kalo baca di novelmya, kita jadi bisa membayangkan sendiri sesuai versi masing-masing. Kondisi paling ideal dari apa yang digambarkan penulis.
jonru wrote on Mar 5
saya belum nonton film-nya nih
mungkin nunggu VCD-nya beredar aja kali ya... :)
faridrifai wrote on Mar 5
yup, fedi nuril terpilih sudah hasil seleksi sekian banyak aktor indonesia...pada saat adegan fahri menjelaskan islam ke alicia, sang wartawan amerika, fedi cukup bisa membawa fahri yang cerdas....:)
trasyid wrote on Mar 5
akmal said
insya Allah ada :)
bukan mas pastinya.. hehehe.. di buku "Ketika Cinta Bertasbih" juga sama Azzam disukai banyak perempuan..
ydiani wrote on Mar 5
ada kelebihan dan kekurangan :D
akmal wrote on Mar 5
trasyid said
bukan mas pastinya.. hehehe.. di buku "Ketika Cinta Bertasbih" juga sama Azzam disukai banyak perempuan..
hahaha sudah pasti bukan saya, karena saya gak pernah kepikiran poligami... ribet kayaknya euy... :p
elqassam wrote on Mar 5
film yang aneh... :D
akmal wrote on Mar 5
Ya, kalo baca di novelmya, kita jadi bisa membayangkan sendiri sesuai versi masing-masing. Kondisi paling ideal dari apa yang digambarkan penulis.
itulah kelebihan sebuah karya tulis... membuat pembaca larut dlm fantasinya sendiri... :)
andips wrote on Mar 5
akmal said
"Emang apa hebatnya sih si Fahri, sampai ditaksir segitu banyak cewek?"
Temen saya ada Pak, yang ditaksir sama banyak "cewek." Bahkan ada seorang wanita yang sangat ridho menjadi istri kedua, padahal kawan saya itu sudah menikah. Jadi memang bukan hanya Fahri seorang yang ditaksir banyak wanita
akmal wrote on Mar 5
jonru said
saya belum nonton film-nya nih
mungkin nunggu VCD-nya beredar aja kali ya... :)
kalo bajakan kayaknya dah ada bos... :p
akmal wrote on Mar 5
yup, fedi nuril terpilih sudah hasil seleksi sekian banyak aktor indonesia...pada saat adegan fahri menjelaskan islam ke alicia, sang wartawan amerika, fedi cukup bisa membawa fahri yang cerdas....:)
wah saya malah gak terkesan sama adegan yg itu... yah namanya jg selera masing2... :p
ahmadtaufiq wrote on Mar 5
akmal said
insya Allah ada :)
kang akmal salah satu nya...!!
akmal wrote on Mar 5
ydiani said
ada kelebihan dan kekurangan :D
pastinya... :)

kalo saya sutradaranya, dijamin lebih ancurrrrrrrrrrrrrrrrrr hahahaha :D
akmal wrote on Mar 5
film yang aneh... :D
komentar yg aneh... :p
akmal wrote on Mar 5
andips said
Temen saya ada Pak, yang ditaksir sama banyak "cewek." Bahkan ada seorang wanita yang sangat ridho menjadi istri kedua, padahal kawan saya itu sudah menikah. Jadi memang bukan hanya Fahri seorang yang ditaksir banyak wanita
quote yg ente bikin seolah-olah saya yg mempertanyakan hal itu hehehe... :D
akmal wrote on Mar 5
kang akmal salah satu nya...!!
nah ini namanya tuduhan tanpa dasar.... kekekekeke :p
rinrinjamrianti wrote on Mar 5
akmal said
"Emang apa hebatnya sih si Fahri, sampai ditaksir segitu banyak cewek?"
kehebatannya hanya bisa dilihat dan dirasakan sama cewek2 om :DD

ahmadtaufiq wrote on Mar 5
akmal said
nah ini namanya tuduhan tanpa dasar.... kekekekeke :p
klo masalah akhlaq insya 4WI dah yakin...
tsaqofah...? hmm jangan ditanya
sama2 kul S2....
yg terakhir....
mirip fedi nuril
hehehe...
ahmadtaufiq wrote on Mar 5
klo masalah akhlaq insya 4WI dah yakin...
tsaqofah...? hmm jangan ditanya
sama2 kul S2....
yg terakhir....
mirip fedi nuril
hehehe...
oya tambahan....
headshot dan cover film sama...

kaburrr...*
banyumili wrote on Mar 5
iya tokoh Fahri kurang pas yaa..
ahmadtaufiq wrote on Mar 5
iya tokoh Fahri kurang pas yaa..
iya... protes yuk... biar film diproduksi ulang...
pemeran Fachri-nya diganti Kang Akmal... hehe...
akmal wrote on Mar 5
kehebatannya hanya bisa dilihat dan dirasakan sama cewek2 om :DD

ya, kalo versi novelnya bisa kebayang kok... maksud saya yg versi filmnya.
akmal wrote on Mar 5
iya... protes yuk... biar film diproduksi ulang...
pemeran Fachri-nya diganti Kang Akmal... hehe...
provokator ieu mah....

CIAAAAT...!!! DZIGDZIGDZIGDZIGDZIGDZIGDZIGDZIGDZIG !!!!

:D
ahmadtaufiq wrote on Mar 5, edited on Mar 5
akmal said
provokator ieu mah....

CIAAAAT...!!! DZIGDZIGDZIGDZIGDZIGDZIGDZIGDZIGDZIG !!!!

:D
wadaw....
sakiit....
kalo gitu... gimana kalo dg pemeran alternatif...
Silakan Klik Di sini:
http://ahmadtaufiq.multiply.com/reviews/item/29
hehe
mohon maaf bg yg g berkenan
okalaksana wrote on Mar 5
Akmal cocok kok jadi Fahri, tinggal berperan rendah hati aja ha ha ha
Aku juga ngeresensi film ini, aku sih positif dengan film ini.
jonru wrote on Mar 5
akmal said
kalo bajakan kayaknya dah ada bos... :p
ini sih gak usah pake "kayaknya" mas
hehehehe... :)
ekakurnia wrote on Mar 5
sudah sunnatullahnya kali yah ketika membaca novel dengan melihat pelemnya kudu berbeda imajinasi kita?
ahmadtaufiq wrote on Mar 5
berbeda imajinasi
lebih pasnya... berbeda dimensi....
itulah yg sama2 disepakati kang abik dan hanung bramantyo
andips wrote on Mar 5
akmal said
quote yg ente bikin seolah-olah saya yg mempertanyakan hal itu hehehe... :D
Oh bukan Bang Akmal yang nanya ya? Kalo gitu tolong terusin aja ke yang nanya yah...Terima kasih Bang...hehehe
akmal wrote on Mar 5
Akmal cocok kok jadi Fahri, tinggal berperan rendah hati aja ha ha ha
Aku juga ngeresensi film ini, aku sih positif dengan film ini.
lho kurang rendah hati gimana, kan peran jadi Fahri udah saya tolak dari tadi? kekekeke :p
akmal wrote on Mar 5
sudah sunnatullahnya kali yah ketika membaca novel dengan melihat pelemnya kudu berbeda imajinasi kita?
maybe... :)
dewayanie wrote on Mar 5
klo masalah akhlaq insya 4WI dah yakin...
tsaqofah...? hmm jangan ditanya
sama2 kul S2....
yg terakhir....
mirip fedi nuril
hehehe...
lebih ganteng deh kayaknya................:)
akmal wrote on Mar 5
lebih ganteng deh kayaknya................:)
parah pisan ieu mah... kekekekekeke :D
ahmadtaufiq wrote on Mar 5
lebih ganteng deh kayaknya................:)
siipp.... manteppp... setuju...
droppingzone wrote on Mar 5
ReviewReviewReview
Wah sepertinya laris sekali film ini. Di beberapa bioskop, tiket penuh? Kemarin (Ahad - sehabis troubleshoot sistem di Menara BDN/Syariah Mandiri) saya lihat di DJakarta Theater juga tertulis tiket habis (ke DT situ padahal cuma mau numpang ke toilet huehehe, eh udah beberapa kali saya ke DT situ lho bukan DT Bdg, huehehe), bahkan ada catatan bahwa hari itu bisa beli tiket untuk hari-hari selanjutnya sampai Selasa. Wah seperti tiket pulkam waktu mau Lebaran ya? Ada tiket tanpa tempat duduk ga ya? :D
Comment deleted at the request of the author.
yudimuslim wrote on Mar 5
Nilai minus pada film ini terlihat pada pemilihan aktor dan aktrisnya. Secara keseluruhan, mereka belum berhasil 'meyakinkan' saya bahwa karakter Fahri dikelilingi dan merupakan bagian dari komunitas intelektual Universitas Al-Azhar, Mesir. Perlu diingat bahwa Fahri (yang diperankan di film ini oleh Fedi Nuril) adalah mahasiswa yang tengah sibuk kuliah pascasarjana, saleh, rajin mengaji, pandai agama, dan juga punya setumpuk pekerjaan sebagai penerjemah freelance. Frankly, I don't get that kind of 'vibe' from Fedi Nuril's act.
================================================
yudi setuju ama kk..
ada masukan gitu kak..:D
so far yudi masih ogah nonton karena masalah ini..:)
yudimuslim wrote on Mar 5
salut untukmu kak yang sangat spesifik memperhatikan sebuah karya..:)
dewacint4 wrote on Mar 5
saiya udah nonton :)
and 1/2 kecewa dibanding novel na :)
kangbayu wrote on Mar 5
Syuting katanya banyak di Indihe, Mesirnya cuma dikit. Gimana dengan tokoh Rudi Wowor? Katanya melenceng juga, Mesir koq kayak londo...
etika wrote on Mar 5
walaupun ada minusnya, film ini bakalan jadi film yang paling banyak ditonton tahun ini ...
wirdayanti wrote on Mar 5
Bunda belum nonton..
Rekomendasi Akmal gimana nih? Cuma 2 bintang yaa.. :D
nafi12 wrote on Mar 5
akmal said
Dalam pandangan saya, kesuksesan terbesar Kang Abik (nama panggilan Habiburrahman El-Shirazy) adalah membuat para pembacanya merasa ridha terhadap poligami. Bukankah tema ini adalah tema yang selalu mengundang perdebatan dan membuat marah kaum perempuan? Kenyataannya, novel Ayat-Ayat Cinta bukan hanya lolos dari jeratan kritik pedas kaum feminis, malah justru didaulat sebagai salah satu novel paling romantis yang pernah ditulis oleh penulis Indonesia.
Iyaa.... aku jadi berpikir ulang setelah baca novel Ayat-ayat Cinta (dan Test Pack). 2 Novel ini menjadi inspirasiku dalam meletak prioritas2 tujuan2ku utk menikah. Tujuan2nya memang masih sama, tapi urutan prioritasnya aku coba ubah. Dan bersiap2 seandainya nanti dipoligami (*halaaahh... siap gak ya???)
Two thumbs up buat Kang Abik. Sepakat dg kata2 Mas Akmal yang aku 'quote' itu... ^_^v
akmal wrote on Mar 5
salut untukmu kak yang sangat spesifik memperhatikan sebuah karya..:)
wohohohoho kemarin nulis asal2an aja, tau-tau udah panjang gini... :p
akmal wrote on Mar 5
saiya udah nonton :)
and 1/2 kecewa dibanding novel na :)
1/2 kecewa atau 1/2 puas? :D
akmal wrote on Mar 5
Syuting katanya banyak di Indihe, Mesirnya cuma dikit. Gimana dengan tokoh Rudi Wowor? Katanya melenceng juga, Mesir koq kayak londo...
hehehe berhubung saya blum pernah ke Mesir, jadi saya tidak terlalu mengkritisi lokasinya... nggak tau juga mirip Mesir atau nggak... :p
akmal wrote on Mar 5
etika said
walaupun ada minusnya, film ini bakalan jadi film yang paling banyak ditonton tahun ini ...
ya, dan bagaimana pun film ini masih jauh lebih baik daripada pocong-pocongan atau ngesot-ngesotan... :D
akmal wrote on Mar 5
Bunda belum nonton..
Rekomendasi Akmal gimana nih? Cuma 2 bintang yaa.. :D
hehehe pelit ya ngasi bintangnya? sebenarnya kekurangannya cuma pada karakternya aja, sayangnya dalam kasus ini 'lubang' itu cukup fatal Bun... :)
akmal wrote on Mar 5
nafi12 said
Iyaa.... aku jadi berpikir ulang setelah baca novel Ayat-ayat Cinta (dan Test Pack). 2 Novel ini menjadi inspirasiku dalam meletak prioritas2 tujuan2ku utk menikah. Tujuan2nya memang masih sama, tapi urutan prioritasnya aku coba ubah. Dan bersiap2 seandainya nanti dipoligami (*halaaahh... siap gak ya???)
Two thumbs up buat Kang Abik. Sepakat dg kata2 Mas Akmal yang aku 'quote' itu... ^_^v
herannya, prestasi Kang Abik dlm menyebarluaskan konsep yg benar tentang poligami yg benar justru jarang dibahas... :)
dbye wrote on Mar 5
yups,promo nya nih film lebih bagus dari film nya sendiri
nafi12 wrote on Mar 5
herannya, prestasi Kang Abik dlm menyebarluaskan konsep yg benar tentang poligami yg benar justru jarang dibahas... :)

Iyaa.... hiks..hiks... Saking pada terseponanya (eh terpesonanya) sm kisah2 yang lain kali yaa...
albirru wrote on Mar 5
cinta2annya yang keambil orang hehe
inimona wrote on Mar 5
suka novelnya karna setting dan latarnya :)
filmnya? belum nonton...mesti nabung dulu...
pitra13 wrote on Mar 6
Halo..halo.. ada yang lebih "gak gaul" dari saya....
hehehe..belum pernah tau isi novelnya... dan gak niat nonton juga,,, :)
emang ini film dari novel terkenal ya???
arvenda wrote on Mar 6
Om Akmal mah cocoknya jadi bokapnya Noura, waktu adegan nyiksa orang pasti top dah! jurus2simpanannya kluar smua. Kekekeke....
izziary wrote on Mar 6
Bisa dibilang aku kurang menikmati filmnya. Gimana ya? Rasanya kok kering gitu. Kalo novelnya dapet bintang tiga setengah dari lima, filmnya cuma dapat satu setengah *lebih parah*. Yah... pendapat personal aja sih.

Menurutku kok "dramatis" sekali gitu. Itu juga yang bikin novelnya cuma dapet tiga setengah, sementara temen-temenku histeris sekali.

Nilai plusnya, jelas apa yang bisa diambil. Dari mulai bahasa jerman, bahasa arab, kebudayaan sana, tentang islam... pokoknya kelihatan nulisnya ndak asal pengen nyari sensasi. Tapi justru di filmnya ndak banyak bisa dilihat.

Okelah, mungkin ada yang cerita yang setragis AAC, tapi waktu aku bilang aku kurang bisa suka sama kisah yang rumit dan dramatis, mau apa lagi?

Just a personal thought, once again ^_^

gilzblue wrote on Mar 6
ReviewReviewReviewReview
dari sekian bnyk komentar mengenai AAC dr komunitas muslim, ini deh yg plg bagus!well done akmal well done
artoflove wrote on Mar 15
ReviewReviewReviewReviewReview
Belum lihat AAC? Silahkan Download gratis: http://artoflove.multiply.com/journal/item/3/Download_Gratis_Film_Ayat-Ayat_Cinta

always love every day
daustory wrote on Mar 21
ReviewReviewReview
Filmnya bgus, gw ama cewe gw aja sampe terharu nontonnya...Sayang du dunia sekarang, jarang ada orang baik kayak fahri
sherryfreddy wrote on Mar 21, edited on Mar 21
ReviewReviewReviewReviewReview
Saya belum baca bukunya tapi udah nonton dan nangis bombay..mungkin lebih baik gini buatku, jadi saya ga protes..hehehe,
Karena buat aku yg ga baca buku duluan, aku bisa dapet aura kalau yg jadi temen fahri mhsw pinter walau yg kebayang malah anak ugm. Dan adegan saat fahri minta nasihat yg pusing punya 2 istri, rada khas anak ugm/itb diskusi . Juga bisa ngerasain kenapa fahri patut di cintai...
Wah, kalau udah baca buku-nya juga seperti mas Akmal, aku pasti protes juga, krn biasanya buku bagus ga bisa diterjemahkan ke film dgn bagus juga..Seperti Contact-nya Jodie Foster , wah sebel berat.
Kecuali Harry Potter, lumayan bagus deh.
solekha wrote on Mar 22
Buat saya pribadi,,ngga usah nnton,,
aibnu wrote on Mar 24
Ass…
SUTRADARA HANUNG BRAMANTYO BERMENTAL “JIL”
MARI KITA MENGKRITISI FILM AYAT-AYAT CINTA (AAC)

Kamis malam tgl. 13/3/08 dalam suatu acara bincang-bincang pada TV…, dgn topik film AAC ketika sesion pertanyaan moderator kepada Sutradara Hanung Bramantyo kurang lebih “ Apakah niat anda membuat film ini untuk berdakwah ?”, maka dia berkata “ Ohh tidak…, kalau dakwah itukan berarti kita merasa diri kita sudah paling benar dan paling suci dan orang lain yang salah ..bla..bla “. Ingat tidak kalian kita pernah berdebat dgn mereka di planet Multiply ini atau planet lain di Dunia Maya ini , itu ciri2 ucapan mereka , ini adalah gaya pemikiran dan bicara hasil idiologi kaum JIL dan antek atheis FFI. Memang ucapan tsb intinya ditujukan kepada Islam, tetapi secara tidak langsung adalah telah melecehkan semua agama. Saya tidak menujukan tulisan ini pada buku AAC-nya atau pengarang bukunya, dan saya belum pernah membaca bukunya ( semoga Allah meridhoinya). Mereka hanya memanfaatkan eksistensi atmosfir religius Islami bangsa Indo yang tinggi untuk meraih uang dan poluleritas….waspadalah !!, hai Generasi Muda Islam negri ini orang2 muda seperti kalian adalah target mereka...ok

Diatas memang saya sangaja BERSUARA KERAS guna letupan kejutan SHOCK THERAPY kepada umat Muslim agar mengalihkan perhatian sebentar, karena kaum jahil juga telah membuat kejutan lebih dahulu dengan mengobsesi umat Islam Ind dgn film AAC tsb. Lihat, mereka telah membuka jubah dan memperlihatlkan taringnya . Umat Islam terobsesi film tsb dan telah membuat kebanyakan umat Islam terkecoh. Bagi yang ingin menonton silahkan kritisi film tsb , agar terkuak panah-panah polemik beracun yang diarahkan kepada Islam dan di sosialisasikan kepada umat muslim Ind khususnya. Percayalah apapun tipu daya mereka tetapi banyak fakta memperlihatkan Invisible Hands menciptakan hal yang sebaliknya.

Qs al'Mukminun 110-111 :" Tetapi kamu (kaum kafir/munafikun) jadikan mereka (mumin) bahan olok-olokan, sehingga kamu lupa mengingat Ku... waktu kamu mentertawakan mereka…sesungguhnya mereka itu orang-orang yg menang".

QS. Ali Imran 54 : “ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. “

Ini bukti POSITIFNYA :
http://www.detikhot.com/
Rabu, 19/03/2008 08.05 WIB :
Rianti Paham Islam Berkat ‘Ayat-ayat Cinta’
Film Ayat-ayat Cinta meraih sukses , Rianti ikut membintangi film bernuansa relegi kental. Gara-gara film itu, ia jadi lebih memahami agama Islam……Rianti malah memperdalam ajaran agama Islam yang telah dianutnya…..Rianti tengah memproses kewarganegaraannya itu kini jauh lebih mengerti wawasan Islam. Namun bukan begitu saja , VJ MTV itu mengenakan cadar bak tokoh Aisah yang diperankannya di AAC…..
Aisah sama Rianti sehari-hari berbeda. Pernah lihat Rianti pakai cadar ke mall...

Ini bukti NEGATIFNYA :
lihat http://aneshusen.multiply.com/
aneshusen wrote on Mar 21:

nuhun mas Aibnu atas informasinya. dah ane delete. :) jazakillah....
soal Ayat2-ayat Cinta emang deh tuh melenceng banget dari novel aslinya yg indah itu. (meski gw sama2 dibikin nangis... hihihi).
mau ditinjau dari sisi sinematografi atau dari sisi esensi nih mas? :) eh, ada postingan yg cukup fair untuk disimak soal ini, silahkan klik : http://akmal.multiply.com/reviews/item/79
Soal esensi, Sy sendiri pernah baca di koran, kalo Hanung Bramantyo sang sutradara sedikit kecewa dgn terlalu banyaknya campur tangan produser dan pihak2 kapitalis dalam pembuatan film tersebut... (MD entertainment, klan Punjabi. catatan : bukan muslim!). jadi wajar kalo dalam film tsb kita temukan banyak nilai2 yg tdk mungkin dilakukan sekelas mahasiswa Al Azhar. spt berdua2an dlm ruangan, minum/makan sembari berdiri. Atau keanehan lain spt seorg islam "radikal" yg begitu kejam marah membabi buta hingga tak peduli ia mau memukul seorg wanita di dalam kereta karena melindungi "kafir" amerika, padahal dalam novelnya ga seheboh itu deh...
atau begitu "anehnya" perkawinan poligami serumah & beda agama yg terjadi dlm film, padahal dalam novel ga gitu banget kisahnya...
ini penilaianku apa adanya lho, bukan berarti apatis, tapi kritis... kita harus tetap konsisten dgn prinsip meski Konspirasi purba senantiasa mempermainkan perasaan kita sembari menanamkan nilai2nya tanpa kita sadari... oh ya..ngomong2 soal klan Punjabi sy gatel pengen bilang sesuatu tentang mereka, berhubngan dgn gerakan freemasonry dan sejenisnya, tapi takut dibilang mencemarkan nama baik..nanti aja deh disimpen dulu... heuheu :)
akmal wrote on Mar 25
Belum lihat AAC? Silahkan Download gratis: http://artoflove.multiply.com/journal/item/3/Download_Gratis_Film_Ayat-Ayat_Cinta

always love every day
piracy is a crime :)
akmal wrote on Mar 25
Filmnya bgus, gw ama cewe gw aja sampe terharu nontonnya...Sayang du dunia sekarang, jarang ada orang baik kayak fahri
kalau dibandingkan dgn film2 indonesia lainnya memang diatas rata2... :)
akmal wrote on Mar 25
Saya belum baca bukunya tapi udah nonton dan nangis bombay..mungkin lebih baik gini buatku, jadi saya ga protes..hehehe,
Karena buat aku yg ga baca buku duluan, aku bisa dapet aura kalau yg jadi temen fahri mhsw pinter walau yg kebayang malah anak ugm. Dan adegan saat fahri minta nasihat yg pusing punya 2 istri, rada khas anak ugm/itb diskusi . Juga bisa ngerasain kenapa fahri patut di cintai...
Wah, kalau udah baca buku-nya juga seperti mas Akmal, aku pasti protes juga, krn biasanya buku bagus ga bisa diterjemahkan ke film dgn bagus juga..Seperti Contact-nya Jodie Foster , wah sebel berat.
Kecuali Harry Potter, lumayan bagus deh.
well, harus diakui memang mengadaptasi novel ke film bukan pekerjaan gampang... :)
akmal wrote on Mar 25
solekha said
Buat saya pribadi,,ngga usah nnton,,
memang gak wajib kok :)
akmal wrote on Mar 25
aibnu said
Diatas memang saya sangaja BERSUARA KERAS guna letupan kejutan SHOCK THERAPY kepada umat Muslim agar mengalihkan perhatian sebentar, karena kaum jahil juga telah membuat kejutan lebih dahulu dengan mengobsesi umat Islam Ind dgn film AAC tsb.
niat membuat shock therapy hendaknya jangan sampe nyerempet-nyerempet fitnah...

kalau Ulil Abshar Abdalla sudah jelas sesatnya karena ia belajar agama secara khusus tapi menolak mentah2 ajaran Islam yg benar... Hanung Bramantyo - jika memang benar konsepnya tentang dakwah seperti dlm wawancara yg Anda tuliskan itu - memang salah total... tapi bisa jadi kesalahannya hanya karena keawamannya saja, karena kesalahan konseptual semacam ini banyak terjadi di kalangan masyarakat awam... saya juga sangat concern dengan kesesatan JIL, tapi mereka yg mengadopsi pemikiran JIL belum tentu benar-benar berideologi liberal... sebab, pendidikan agama di sekolah memang sangat rendah levelnya, sehingga mau tidak mau pasti ada saja yg mengalami kesalahan konseptual seperti ini...

saya pribadi tidak mau langsung menuduh Hanung begini-begitu, karena sejauh ini track recordnya cukup bagus, apalagi jika dibandingkan dgn insan perfilman yg lain (at least, sejauh pengetahuan saya lho ya)... dlm film Jomblo, meskipun film itu tidak dikategorikan 'islami' atau 'religius', namun ada nilai-nilai moral yg sangat bagus yg jarang sekali dimunculkan di film, dan utk itu saya rasa Hanung pantas dapat pujian, meskipun bukan hanya dia saja yg berperan dalam jalannya cerita...

slow down please, jgn terburu-buru... lebih baik salah dalam prasangka baik daripada salah dalam prasangka buruk... itulah sebabnya Rasulullah saw. mengajarkan kita utk mengucap salam kepada siapapun yg tdk kita kenal... sebab, keliru menganggap orang lain sbg Muslim (padahal ia non-Muslim) itu jauh lebih baik daripada keliru menuduh seseorang sebagai kafir...
pondokkata wrote on Apr 5
"Perlu dicatat bahwa novel Ayat-Ayat Cinta adalah novel kedua yang bisa saya habiskan dalam dua hari saja (yang pertama adalah The DaVinci Code)"

sudah baca laskar pelangi?
untuk generasi muda saya pikir lebih baik untuk menikmati novel-novel yang penuh semangat dan menumbuhkan semangat...

salam...
Comment deleted at the request of the author.
lutfielitbbo wrote on Apr 7, edited on Apr 7
Perasaan udah diklarifikasi tuh, mal.. kalo AAC the movie nggak ngadopsi 100 % dari novelnya, termasuk karakter si Fahri. Kalo di novelnya, si Fahri jagoan banget agamanya, tapi di filmnya agak lugu, sampe mesti dijelasin soal taaruf.. Aku baca di koran republika.. kalo tak salah lho.

btw, ada yang tau kapan vcdnya keluar? ncan nonton euy :p
Comment deleted at the request of the author.
lutfielitbbo wrote on Apr 7
akmal said
hehehe pelit ya ngasi bintangnya? sebenarnya kekurangannya cuma pada karakternya aja, sayangnya dalam kasus ini 'lubang' itu cukup fatal Bun... :)
yang udah baca novel, cuma 2 bintang. yang belum baca kira2 berapa ya?
satria248 wrote on Apr 8
akmal said
karena saya gak pernah kepikiran poligami... ribet kayaknya euy... :p
Masa' sih Kang?...;))
utara19 wrote on Apr 30
Di dunia nyata ada enggak ya? Kalo ada pasti banyak yang iri, he he he
kalau di dunia nyata sih banyak kayak si Fahri...

yang susah itu mencari Fahri di dalam pemerintahan kita, yang berani memberantas kemungkaran, Ada kagak yang berani menangkapein koruptor, Mafia-mafia bisnis, ilegal loging, dan lain sejenisnya ?
Tuh lihat orang-orang KPK, berani-berani, gue lebih salut sama mereka daripada sama orang kayak Fahri...

kalau cuma sekedar jidad item, kagak susah menemukannya..
almisky wrote on May 1
"Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, kelemahan utama dari film ini adalah pada pemilihan pemeran Fahri dan Aisha."

Mungkin saya lebih cocok jadi aisha (tapi siapa fahrinya ya?) hehehe .... bcanda.

Ok lah kl soal filmnya banyak sekali kelemahannya. Saya keberatan dengan pemerannya, tapi saya lebih keberatan pada beberapa adegannya, seperti ketika aisyah mengambil tasbih dari tangan fahri di bus, loh fahri ga mau salaman, tapi ko mau bersentuhan tangan ama aisyah (yg waktu itu blum jadi istrinya), juga standing party, dan ketika fahri bersama temannya makan bareng maria, waah kok ikhtilath? dan yang paling parah setelah abis nikah, mestinya kan sholat jamaah dulu dan sunnah2 yang lain, laah kok malah ... *sensor* Untungnya dari film ini orang awam bisa melihat proses taaruf tanpa pacaran itu seperti apa sebenarnya. *biar lebih adil ga ngomongin kelemahan saja*
Tapi soal hanung, sebagai alumni itb jg (eh bapak alumni itb jurusan apa angkatan brapa?), saya kebetulan lagi ke kampus buat legalisir ijazah waktu itu, dan ngeliat dia didemo habis2an ma mhsw itb waktu shooting di sana, makanya nama kampusnya jadi disamarkan. Tapi membawa2 suasana itb di filmnya bener2 mengesalkan kl menurut saya, terlepas emang benar banyak mhsw itb hedon kayak di jomblo itu.

Kalau soal novelnya, ok kang abik sangat pandai membawakan pesona mesir sehingga pembacanya begitu terhanyut, bahkan abis baca saya bertekad suatu saat saya harus ke mesir, meski harus backpackeran :p Ini ngga ada di filmnya, jelas bikinnya kan ga di mesir. Tapi ada beberapa hal yang saya ga sreg. Fahri mungkin bukan tipe saya (dan sepertinya saya juga bukan tipenya fahri, hehe nyadar diri :p). Kalau hafidz quran sih jelas tipe saya hehe ... tapi sebagai ikhwan menurut saya fahri di novel juga tidak tegas *standard ikhwan yg banyak fansnya*, kl memang dia suka ke nurul mestinya dia tidak takut akan status yg anak orang biasa dsb, bukankah ikhwan tidak perlu memandang hal semacam itu? Lalu ketika dia gamang dengan aisyah, setelah ketemu dia menjadi mantap hanya gara2 melihat wajahnya, nah loh ... knapa yang dipuji2 dan membuatnya mantap pertama kali adalah wajahnya bukan akhlaknya, kecerdasannya dan lain2? *bahkan kl di film kesannya Aisyah tidak sepintar Maria*, ketiga waktu nulis itu kan kang abik lom nikah, ko bisa2nya nulis malam zahaf sedetil itu? waaah gawat tuh ... palagi ikhwan2 yang lom nikah baca itu bisa mimpi buruk :p ke empat, bahasa inggris fahri saya temukan ada beberapa ksalahan dari segi grammar, ok mungkin itu tidak teliti, tapi bahasa jermannya sangat aneh dan tidak lazim, seperti bukan bahasa jerman sehari2 tapi bahasa jerman hasil translete kamus web bgitu. Soal Aisyah, waah kalau ada akhwat kayak gitu di dunia nyata, misal dia nikah, saya akan sujud syukur beneran deeh hehe, masak ada akhowat seperfect itu :D

Soal da vinci code, ok yang ini juga bagus penggambaran sejarahnya, meski kriptografi yg dipakai sangats ederhana, yaitu kriptografi klasiknya caesar, heran kriptografi klasik kayak gitu dipakai ngamanin rahasia sebesar itu, nah pernah baca Dan Brown yang Digital Fortress? Waduhhhh, dia mencoba memakai kriptografi modern tapi nyaris nol besar, dari novelnya justru banyak sekali konsep2 kriptografi modern yang dia tidak mengerti, bacanya jd gregetan. Untung tulisannya sangat dinamis dan selalu membuat kejutan yang sangat cepat, sheingga pembaca enggan meninggalkannya sebelum benar2 tamat membacanya.
aibnu wrote on May 6
......Lihat tidak dialog/ debat dalam TV one (?) antara wakil dari Achmadiyah dengan wakil dari MUI ?.
Perhatikan mimik wajah wakil dari Achmadiyah dari sejak awal hingga achir acara !! (bergaja senyum dan berseri memperlihatkan PD/ yakin banyak beking dan rasa sombong), berbeda dengan mimik wajah wakil MUI yang serius terus....., Terbukti , kita hanya termakan janji angin surga, konspirasi makhluk2 sejenis mereka telah menancap kuat di pemerintahan...ok
Add a Comment
How would you rate this movie? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help